Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Part 45 " Kesalahan atau Kebaikan? "

Sesaat Elang berjalan mengendap-endap dari meja ke meja yang terdapat disudut ruangan, sementara para penjaga tersebut sibuk mengobrol dan sebagian sibuk menonton siaran TV yang menggunakan parabola, sehingga mereka bisa menonton acara luar.

"Hmm..?"

Elang melihat seorang penjaga baru datang ke ruangan tersebut dan bergegas masuk ke toilet disudut ruangan tersebut, sementara rekan-rekannya terlalu sibuk dengan urusan mereka sehingga tak memperdulikannya.

Elang merayap mendekati toilet tersebut dengan bergerak senyap.

"Hahahahaha..."

Gelak tawa tiba-tiba para penjaga yang menonton Tv memberikan Elang kesempatan bagus dan langsung masuk kedalam toilet tersebut.

di dalam Elang melihat penjaga tadi sedang buang air kecil, sejenak Elang menunggunya di balik dinding yang memisahkan ruang toilet dengan pintu masuknya.

"Klek..", Elang membuka pengaman pistolnya sesaat ia melihat penjaga tadi berjalan ke arahnya.

Penjaga itu terkejut kita Elang menarik dasinya dan melilitkan kelehernya, sementara Elang berputar dan berada dibelakangnya dengan menempelkan pistolnya ke kepalanya.

"Ekhhh... Siapa kau????", penjaga tersebut berusaha bertanya meskipun lehernya tercekik.

"Bukan siapa-siapa..", jawab Elang sembari menariknya kedalam bilik toilet, menyalakan keran air dan menarik kuat-kuat dasi yang ia lilitkan ke leher penjaga itu.

Tak berapa lama penjaga itu telah kehilangan nyawanya.

Sementara itu para penjaga diruangan tadi tampak sudah berkumpul menonton acara humor di Tv yang tergantung disudut ruangan tersebut.

Kemudian dengan tenang Elang keluar dari toilet dan berjalan santai melewati para penjaga tersebut ke arah pintu selanjutnya menuju bagian depan hotel.

Sesaat setelah Elang membuka pintu, salah satu dari para penjaga menegurnya.

"Hey, mau kemana? Bergabunglah kemari, jangan terlalu serius..", ucap penjaga tersebut.

Elang diam sejenak di tengah pintu yang terbuka.

"Sebentar.., aku harus melakukan sesuatu, aku segera kembali..", jawab Elang tanpa menolehkan wajahnya.

"Cepatlah kawan..", sahut penjaga tersebut.

Elang langsung masuk dan menutup pintunya, tampak kali ini Elang memakai setelan Jas hitam seperti yang para 'men in black' itu kenakan yang ia rampas dari seorang penjaga ditoilet tadi.

"Huhh, hampir saja..", gumam Elang yang Kali ini ia berada disebuah ruangan utama, tampak disudut jauh di hadapannya ruang resepsionis.

Sementara tampak juga para 'men in black' berjaga dipintu masuk tak jauh dari ruang resepsionis.

Elang pun berjalan pelan menuju meja resepsionis yang tampak dijaga oleh seorang wanita, sementara disekitar meja resepsionis tersebut hanya ada deretan sofa kosong tanpa seorang pun.

"Ada yang bisa saya bantu pak..?", resepsionis wanita itu bertanya dengan bahasa inggris ketika Elang mendekat ke arahnya.

"Emm.. Bisakah kau beritahu aku dimana bos saya berada..?", tanya Elang dengan juga berbahasa inggris untuk melengkapi penyamaran sementaranya.

"Umm, apakah tuan Malloney dari Amerika?", resepsionis itu balik bertanya.

"Ya.. Dia bos saya ", sahut Elang.

"Ia berada di lantai 2 kamar 14 pak..", ucap resepsionis tersebut.

"Terima kasih..", sahut Elang lagi sambil segera beranjak pergi meninggalkan meja resepsionis tersebut.

"Pak.., mengapa anda tak menanyakan kepada rekan-rekan anda?", resepsionis itu sepertinya mencurigai Elang, ditambah wajah Elang sama sekali berbeda dengan para pengawal lainnya.

Elang berbalik dan tersenyum..

"Maafkan aku, Aku junior disini, lagipula aku satu-satunya suku indian yang berhasil menjadi pengawal.. Dan kau tau? Mereka terkadang meributkan ras..", ucap Elang berusaha mengelabui, sesekali matanya melirik memperhatikan sejumlah penjaga didepan yang tampaknya belum menyadarinya.

"Oh, maafkan saya pak telah menanyakannya.. Semoga bapak baik-baik saja dalam pekerjaan ini..", sahut Resepsionis itu sedikit bersimpati.

"Terima kasih..", ucap Elang langsung meninggalkan resepsionis tersebut.

"Huhhhh.. Hampir saja..", gumam Elang sembari berjalan menaiki tangga menuju ke lantai 2.

"Adam masuk..", ucap Adam dari radionya.

"Yah diterima Elang..", sahut Adam.

"Target dilantai 2 kamar 14.., aku sedang dalam perjalanan.., mereka hanya terfokus di depan dan diluar, kalian bisa segera bergerak", jelas Elang.

"Baik, kami mengerti..", jawab Adam sembari menutup radionya.

 

"Ayo, kita harus cepat..", seru Adam mecari posisi jendela kamar nomor 14 dilantai dua dari atas, sementara Mahda sibuk mempersiapkan sebuah tali yang akan ia julurkan kebawah.

"Hmmm..disana..! Ayo bergegas..", ucap Adam menunjuk kesebuah jendela.

Mahda pun langsung bergeser dan menjulurkan 2 utas tali yang ia ikatkan diatas.

Sementara Elang tampak mengawasi dua orang penjaga didepan pintu kamar dimana Sir Malloney berada.

"Bagaimana dengan kalian?", ucap Elang melalui Radio.

"Kami bergerak sekarang..", sahut Adam.

Adam dan Mahda perlahan turun menggunalan tali yang terpaut di pinggang mereka, sejenak mereka memperhatikan sejumlah penjaga dibawah yang tidak menyadari kehadiran mereka.

"Jendela yang terbuka itu..!", bisik Adam.

"Baik..", Mahda mengayun mendekat.

"Elang, kami sudah diposisi..", sahut Adam sambil mengokang MP-5 berperedamnya ketika ia dan Mahda sudah berada didepan jendela kamar Sir Malloney yang kebetulan terbuka.

"Baiklah.. Aku bergerak..", sahut Elang keluar dari dari balik dinding dengan santai.

"Hey, ada perlu apa dan dari unit mana kau..?", tanya salah satu dari 2 orang pengawal Sir Malloney didepan pintu kamar tersebut.

Elang hanya diam dan terus berjalan dengan menundukkan kepalanya.

"Hey.. Jawab aku..!", bentak seorang dari pengawal tersebut sembari hendak mencabut pistolnya.

Elang berhenti dan menunjukkan wajahnya.

" ! "

"Dia bukan salah satu dari kita..!" Seru salah satu dari pengawal tersebut, namun Elang langsung melepaskan sejumlah tembakan ke arah mereka.

"Aku selesai.., bersiaplah.."

"Taskkk!", ucap Elang sambil menembak lagi salah seorang pengawal yang masih bergerak.

"Baik..!", sahut Adam dan langsung masuk ke kamar 14 itu diikuti Mahda.

"Taskk..Taskk!"

Adam menembak seorang penjaga lagi yang berada didalam, setelah itu Adam langsung membukakan pintu kamar untuk Elang.

Sesaat Elang masuk dengan menyeret kedua tubuh pengawal yang tewas itu.

"Dimana target kita?", gumam Mahda.

"Tunggu sebentar.., Mahda jaga pintu.. Elang ayo..", ucap Adam seperti mendengar suara dari ruangan lainnya dikamar bernomor 14 itu, Elang mengikutinya sembari membuka setelan Jas hitamnya.

Adam dan Elang berjalan perlahan memasuki ruangan yang gelap itu, sejenak suara seseorang semakin terdengar jelas, yah..suara seorang wanita bersama seorang pria.

Adam menemukan panel lampu ruangan dan disambut anggukan kepala oleh Elang.

"Tap "

Lampu dinyalakan, tampaklah Sir Malloney terkejut bersama dengan seorang teman wanitanya diatas ranjang.

"Siapa kalian?!?", tanya Sir Malloney panik dan berniat mengambil telepon disampingnya.

"Jangan coba-coba pak tua..", ucap Adam mengarahkan MP5-nya.

Elang memberi kode dengan jari dimulutnya agar wanita Sir Malloney yang tengah ketakutan itu tak berteriak.

"Pasti semua orang ingin menjadi sepertimu.. Berkeliling dunia, tidur dengan wanita cantik.. Heheh", ucap Elang.

"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan..? Kalian tau siapa aku??", sahut Sir Malloney.

"Yah sangat jelas..! Kau mentri pertahanan Amerika serikat..!", jawab Elang.

"Kalau kau tahu siapa aku.. Mengapa kau berani melakukan ini..???", kata sir Malloney membanggakan statusnya sebagai petinggi Amerika.

"Begitukah..??? Kami tak perduli kau siapa dan berasal dari mana.., yang jelas kau adalah target kami..", ucap Elang sembari mengarahkan pistolnya ke Sir Malloney.

"Tunggu..tunggu dulu.., siapa kalian sebenarnya..? Kita bisa bicarakan ini..!", Sir Malloney mulai panik.

"Tidak, terima kasih..", sahut Elang.

"Taskk..Taskk..!"

Dua tembakan melubangi dada dan kepala Sir Malloney.

Seorang wanita teman Sir Malloney hendak berteriak melihat itu, namun Adam telah membungkam mulutnya dengan tangan.

"Diam nyonya muda..", ucap Adam sembari melepas bekapan tangannya perlahan, Sepertinya wanita itu mengerti walaupun dengan air mata yang terus mengucur ia tampak berusaha agar tak bersuara.

Dari perawakannya, wanita itu adalah warga amerika, mungkin sekertaris pribadi Sir Malloney.

 

"Bagaimana dengan wanita ini..?", Adam bangkit mendekati Elang,

"Tidak berbeda, ini tetap misi rahasia.. dia sudah melihat kita..", ucap Elang dingin.

"... Baiklah..", sahut Adam sembari meninggalkan Elang bersama wanita tersebut yang tampak ketakutan.

"Maaf.. Tapi aku tak punya pilihan", ucap Elang.

"Kumohon.. Aku tak akan memberi tahu siapa kalian.., aku punya seorang anak yang menungguku..", sahut wanita itu menangis tersedu-sedu.

"Tasskk..!"

Elang tetap menembak dan meninggalkannya.

"Ayo kita pergi..", seru Elang.

Mahda dan Adam hanya mengiyakan saja.

Mereka segera kembali memanjat keatas menggunakan tali yang dipasang oleh Adam dan Mahda sebelumnya diluar Jendela.

"Ayo.., kita tidak punya banyak waktu..!", seru Elang ketika sampai diatas.

"Maksudmu?", tanya Adam.

"Sudahlah.. Ayo bergerak..", sahut Elang.

Mereka terus bergerak menyusuri kembali jalur mereka sebelumnya dengan menuruni tangga koridor.

Tak berselang lama mereka telah keluar dari areal hotel tersebut.

 

Sementara itu tampak seseorang berjalan mendekati kamar Sir Malloney, ia mulai siaga ketika menemukan sejumlah percikan darah didepan pintu dan ia mendobrak masuk.

Sesaat kemudian para 'men in black' tersebut Gempar dan meminta bantuan Polisi setempat.

"mereka belum jauh.. Cepat temukan mereka..!", seru Chief tim pengawal tersebut dengan seorang wanita dipelukannya yang tampak menangis tersedu.

"Sepertinya mereka mengetahui pasti keberadaan kita..?", ucap Mahda melihat para pengawal tersebut dari binocularnya.

"Elang..! Kau tak membunuh wanita itu..?!?!", seru Adam melihat sosok wanita tadi bersama seorang pengawal jauh didepan mereka.

"tidak.., ia punya seorang anak..", jawab Elang sambil mengingatnya kembali..

"Aku punya seorang anak..", ucap wanita itu sambil menangis tersedu-sedu dengan tubuh yang gemetaran.

"Taskk!"

Elang melepaskan tembakan, namun mengenai sebuah meja disebelah wanita tersebut.

Wanita itu menangis semakin menjadi-jadi, namun Elang menutup mulut wanita itu dengan tangannya.

"Pulanglah.., kembali bersama anakmu..", ucap Elang lalu meninggalkannnya dan bergabung dengan Adam dan Mahda.

Flashback selesai..

"Kau sungguh tak bisa ditebak.., ayo..!", ucap Adam seraya mengajak pergi setelah sayup-sayup mendengar sirine satuan polisi setempat.

"Ini gila.., mereka juga meminta bantuan militer kita..!", seru Mahda menyadari sebuah truk Reo lengkap dengan sejumlah pasukan TNI berada dilokasi tersebut.

"Mereka pintar.., mengatakan ini ulah teroris atau pemberontak anti amerika, dengan begitu mereka mendapat bantuan militer dari pos militer setempat..", jelas Elang.

"dan ini semua karena kau tak membunuh wanita itu..! Ayo sebaiknya kita segera pergi dari sini..", gumam Adam.

Sementara itu bantuan dari kepolisian setempat dan militer setempat terus berdatangan, tak lebih dari 100 personil gabungan melakukan pengejaran terhadap mereka.

Pentagon, Amerika..

"dasar bodoh!!! kau lihat itu??? mereka mendahului kita..!", Persiden Frank tampak membentak seseorang yang lagi-lagi adalah Major O'Connor.

"itu jelas-jelas ulah Kopassus indonesia..! kau dengar?!?! Kopassus..! bagaimana dengan delta kita disana hah?!?", Pres.Frank memaki tak karuan, mengingat Sir Malloney adalah seorang sahabatnya saat masa kuliah dulu membuatnya bak kebakaran jenggot.

"maaf pak..", jawab O'Connor pelan.

"maaf?!?! semudah itukah.. saat ini juga kau kupindahkan ke unit perbatasan..! enyahlah dari hadapanku..!", teriak Pres.Frank.

"siap pak..", sahut Major O'Connor dan segera meninggalkan ruangan tersebut.

"Jendral Jhon Bannet..?", ucap Pres.Frank memanggil sorang Jendral dari divisi Green Barret.

"siap pak presiden..", sahut Jend.Bannet menghadap.

"siapkan pasukanmu.., kita akan berperang diasia, khususnya nugini..", ucap Pres.Frank.

"siap pak..", sahut Jend.Bannet.