Part 44 "Kalah Tanpa Sebutirpun Peluru"
"Apa yang kau inginkan dariku..?", tanya seorang pria tua yang terduduk tak berdaya disebuah kursi kayu. Tubuh serta wajahnya penuh luka yang masih meneteskan darah segar di balik pakaiannya yang robek dibeberapa bagian.
"Tak ada yang
kuinginkan darimu, ini hanya sebuah misi..", jawab Elang dengan sebuah
pistol yang ia arahkan ke arah pria tua itu.
"Ekhhh, begitu ya?
Hanya sebuah misi..", kata pria tua itu.
Tampak disekitar pak tua
itu beberapa tubuh tak bernyawa tergeletak bersimbah darah.
"Sepertinya kau segera
akan menghabisiku.., walaupun sebenarnya kau tak ingin membunuh orang..
Sepertinya ada hal yang ingin kukatakan padamu wahai anak muda...", ucap
pria tua itu.
"Aku rasa itu tidak
perlu.. Dan jangan berlagak kau mengenalku", sahut Elang sambil mengokang
pistolnya.
"Baiklah.. Baiklah..
Aku mengerti, begini saja. . . suatu hari nanti kau akan tau jawabannya kenapa
kau harus membunuh seseorang yang tak kau kenal meskipun jauh didalam hatimu
kau tak ingin membunuh.., itu
"Hentikan omong
kosongmu, itu tak akan mempengaruhiku..", sela Elang bersiap menekan picu.
"Semakin kau
membunuh, semakin kau kehilangan jati dirimu.. Semakin kau kehilangan jati
dirimu, kau juga akan kehilangan teman-temanmu..", sambung pak tua itu.
"Aku rasa kau
terlalu banyak bicara..", sahut Elang dan..
"Tash...!!!"
"Hei.. Hei.."
Suara Mahda membangunkan
Elang dari lamunan masa lalunya.
"Bergegaslah..,
target kita sudah terlihat..", seru Mahda memberi tahu.
"Ya, baiklah..",
sahut Elang.
"Bagaimana
keadaannya Adam..?", tanya Mahda.
"Mereka sudah
memulai pertemuan mereka.., sebaiknya kita mulai menyusun rencana..",
jawab Adam.
"Elang.., maaf atas
kejadian tadi..", sambung Adam melirik Elang.
"Yah, aku
mengerti..", jawab Elang sembari mempersiapkan senjatanya.
"Apa yang kau
pikirkan..?", tanya Mahda melihat Elang sedang mengamati situasi Hotel
tempat Sir Malloney mengadakan pertemuan tak jauh dari mereka dengan teropong
M40-nya..
"Aku rasa.., kita
harus masuk dari atas.. Mereka hanya memfokuskan penjagaan dibawah..",
jawab Elang sembari menelusuri gedung lantai 3 itu dengan teropongnya.
"Bagaimana kita
melewati penjagaan disekitar hotel itu..?", tanya Adam.
"Bagian belakang
hotel itu adalah sebuah taman kecil, itu pintu masuk kita..", sahut Elang.
"Baiklah..,
sebaiknya kita lakukan persiapan terakhir.., aku rasa mereka tak akan lama
mengadakan pertemuan membosankan itu..", seru Mahda.
Tak jauh dari situ..
Wamena Hotel, Pertemuan
Sir Malloney.
21.15
Terlihat Sir Malloney telah
menutup acara pertemuan tersebut dan segera meninggalkan aula hotel menuju
kamarnya dilantai 2 ditemani dua orang pengawalnya.
"Bangunkan saya
pukul 6 pagi, saya mulai tak betah berada di tempat ini.. Lihat saja hotel
ini.., kau mengerti?", perintah Sir Malloney kepada kedua orang anak
buahnya.
"Baik pak..",
sahut salah satu pengawalnya.
"Oh ya..", Sir
Malloney menghentikan langkahnya.
"Ada apa pak?",
tanya pengawalnya.
"Apa kita sudah
mengabarkan keberadaan kita ke Pentagon?", tanya Sir Malloney.
"Belum pak..",
jawab pengawalnya.
"Kalau begitu besok
saja kita kabarkan.., kita butuh istirahat..", sahut Sir Malloney yang
sudah sampai didepan pintu kamarnya.
"Dimengerti
pak..", jawab kedua pengawalnya.
Kedubes
Lt.Jones tampak sedang berkumpul
dengan seluruh anggota tim-nya, sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu
hal penting.
"Semuanya.., ada
perubahan.. Major O'Connor tadi menghubungiku.. Dan aku yakin kalian akan
keberatan dengan ini", ucap Lt.Jones.
"O'Connor menarik
kita dari sini..", sambung Lt.Jones.
"Maksud anda
Chief?", Sgt.David bertanya.
"Misi kita
dibatalkan.., kita akan mundur...", jelas Lt.Jones.
"Apa anda sedang
bercanda?", tanya Cpl.Luis sambil mengerutkan dahinya.
"Tidak.., sepertinya
Major O'Connor telah mengetahui sesuatu, dan kita sementara akan diterbangkan
ke papua..", jawab Lt.Jones.
"Papua??? Apa
sebenarnya yang dipikirkan O'Connor..?!", gumam Sgt.David.
"Entahlah.., yang
jelas pasti ada sesuatu yang terjadi, dan kita dialihkan kesana..", tambah
Lt.Jones yang sebenarnya juga kecewa dengan penarikan tim-nya.
"Hmm, sepertinya
atasan kalian lebih mengetahui apa yang sedang terjadi di banding kalian
sendiri..", Dubes Sir Robbert tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Maksud anda?",
tanya Lt.Jones.
"Keberadaan kalian sudah
diketahui.., akan memalukan jika kalian terekpos gagal atau yang lebih parah
jika kalian tetangkap disini, itu akan menggagalkan usaha kita untuk
menghancurkan Indonesia, PBB akan mempertanyakan hal itu dan mengungkap
kebohongan kita..", jelas Sir Robbert mendekat ke Tim Lt.Jones.
"dan mungkin ada
sesuatu yang terjadi di papua sehingga kalian dikirim kesana..", tambah
Sir Robbert.
"Entahlah pak
Dubes.., aku juga berfikir begitu..", sahut Lt.Jones tertunduk lesu.
Saat ini mental pasukan
Lt.Jones sangat dalam keadaan tertekan, mereka benar-benar tidak mengira tanpa
ada satu butir peluru yang meledakpun mereka sudah dikalahkan, bagaimana dengan
pertempuran sesungguhnya?
"mereka juga
membatalkan acara wapres mereka yang menjadi target kalian bukan? Jelas sekali
mereka sudah mengalahkan kalian.. Hmm Tapi saya yakin, atasan kalian pasti
merencanakan sesuatu dengan memindahkan kalian..", tambah Dubes Sir
RoBbert.
Wamena Hotel, Papua..
21.45
Adam dan Mahda tampak
berjalan mengendap mendekati pagar bagian belakang hotel tersebut, sementara
Elang tampak menjaga kedua rekannya tersebut dari belakang dengan M40
berperedamnya.
"Aman, ayo
cepat...!", seru Adam kemudian memanjat pagar kawat tersebut dan segera
berlari merapatkan diri ke tembok hotel tersebut.
"Elang ayo..",
kata Mahda sembari memberi kode dengan tangannya kepada Elang yang jauh
dibelakang.
Elang berlari mendekat
dan kemudian memanjat pagar tersebut diikuti oleh Mahda.
"Bagaimana?",
tanya Mahda.
"Kita harus
menggunakan tangga koridor, aku rasa itu lebih aman..", sahut Elang
sembari menyandangkan senapannya dan menggantinya dengan pistol.
"Baiklah,
ayo..", sambung Adam sembari bergerak mendekati pintu.
"Terkunci..!"
Seru Adam setengah berbisik.
"Tunggu
sebentar..", sahut Mahda sembari mengeluarkan sebuah besi kecil yang
berbentuk seperti jarum dengan bengkokkan kecil diujungnya, ia menggunakan itu
untuk membuka pintu tersebut.
Semebtara itu tampak 2
orang penjaga hotel berjalan mendekat ke arah mereka, dari seragamnya merupakan
kepolisian setempat yang ditugaskan menjaga hotel tersebut.
"Cepatlah..! Ada
yang datang..", kata Elang menyadari ada 2 orang penjaga yang sedang
berpatroli mendekat dari arah samping.
"Sebentar
lagi..", sahut Mahda sembari terus mengotak-atik lubang kunci pintu
tersebut.
"Mereka semakin
dekat..", bisik Elang lagi.
2 orang penjaga tersebut
hanya terpaut tak lebih 10 meter dari posisi mereka.
"Cepatlah..!",
bisik Elang lagi, kali ini sembari memasang peredam ke pistolnya.
"Nah.., beres..
Ayo..!", ucap Mahda.
Mereka pun masuk dan
segera menutup pintu itu perlahan, sesaat pintu itu tertutup, saat itu juga 2
orang penjaga tadi lewat.
"Hampir
saja..,", gumam Mahda sembari berusaha memperhatikan sekitar.
"Kita belum masuk..,
ini cuma pelataran..", gumam Elang menyadari mereka hanya melewati pintu
luar hotel tersebut, saat ini mereka berada disemacam ruangan luas yang penuh
dengan tumpukan kardus-kardus dan barang-barang rusak.
"Lihat itu.. Tak
kukira mereka banyak sekali..", ucap Mahda yang berjalan mendekat ke
sebuah pintu lagi didepan mereka, tampak sejumlah penjaga dari balik kaca pintu
tersebut.
"Menurutmu dilantai
berapa target kita", tanya Adam.
"Entahlah, terlalu
beresiko untuk menebak-nebak, kita langsung saja ke atap..", jawab Mahda
sembari melangkah menuju tangga koridor yang melingkar menuju basement atas
yang berada disudut ruangan ini.
"Kalian segera ke
atas.., aku akan mencari tau dimana target kita berada..", ucap Elang
sembari menitipkan senapan serta peralatannya ke Adam..
"Baik..
Berhati-hatilah..", sahut Adam,
Elang menganggukkan
kepalanya.
Adam dan Mahda langsung
menuju ke basement lantai atas, karena memang tak ada akses masuk jika melalui
tangga koridor tersebut kecuali pintu masuk tadi yang penuh dengan penjagaan..
Dan Elang mengendap-endap
masuk melalui pintu tersebut dengan bersenjatakan sebuah pistol berperedam..
"Klek.."
Pintu itu Elang tutup
perlahan setelah ia masuk, kini tak jauh dari didepannya terdapat 5 orang
penjaga yang sedang bersantai diruangan yang penuh meja dan kursi tersebut,
tampaknya sebuah ruangan khusus untuk pekerja hotel yang ingin beristirahat
atau berkumpul, namun saat ini rauangan ini digunakan sebagai tempat para 'men
in black' bersantai..
