Part 9 "Segmen terakhir"
Bagian 9 "Segmen Terakhir"
Di sebuah kawasan pesisir tak jauh dari markas mereka dahulu, Khao lak, Elang dan Jim tampak tiba-tiba jeep hitam mereka di sebuah jalan berbatu tak jauh dari jalan utama.
"Ayo..aku rasa disini tidak boleh,", ajak Jim selalu senter kecilnya dan berjalan masuk ke jalan setapak di hutan kecil itu di ikuti Elang, "emm..tempat ini sedikit bertambah angker, heh..he", gurau Jim ho sambil tumbuhan tumbuhan yang menelusuri jalan setapak di situ, di kanan kiri hanya ada pepohonan rimbun dan acap kali terdengar suara deburan dari lepas pantai yang tak jauh dari situ, "..." Elang hanya diam tak terkalahkan, "..heh.. kau juga tak punya selera humor ternyata.." Tambah Jim melihat Elang tak begitu memperdulikan gurauannya.
Tak berapa lama...
"Nah, itu
dia..ayo..!" Seru Jim ho merasa sudah sampai di tujuan mereka,
"..sepertinya tidak pernah ada yang menggunakannya..", sahut Elang
pelan melihat sebuah bunker terbuat dari kayu yang sudah terlihat usang, di
dindingnya banyak di tumbuhi tumbuhan menjalar,
"Sudah..ayo!"
Kata Jim ho yang tengah berusaha membuka pintu bunker itu,
"kreekk...", pintu berdecit menyambut mereka, "..dilihat dari
kondisinya, aku yakin masih ada..!", kata Jim sambil membuka sebuah pintu
yang berada di lantai, lebih tepatnya seperti pintu bawah tanah, "haha..!
Sudah ku bilangkan..?!?", seru Jim, "hmm...siapa yang mengumpulkan
ini?, ini terlalu banyak untuk kita berdua..", sambung Elang setelah
melihat tumpukan senjata lengkap dari pistol, senapan, senapan mesin, hingga
peluncur roket. Namun matanya segera melirik satu senjata laras panjang yang
menarik perhatiannya, "..Jim, aku mau memegang yang itu..", tunjuk
Elang, "sudah ku duga kau akan memintanya.", sahut Jim sambil
mengambil senjata yang Elang mau, "..ini senjata anti materil yang hebat,
beruntung ini versi kedua jadi lebih ringan..", jelas Elang sambil
memperhatikan senapan M82 baretta.
Lanud Abdurrahman Saleh,
1 jam sebelum
penyerangan...
Tampak para komando
petinggi pasukan berkumpul dalam sebuah briefing oleh Panglima besar Rokhim
beserta staff besar pusat Komando operasi, tampak hadir pula Jendral Irwan dan
Jendral Purnomo, juga Kasau Marsekal Bayu pradana.
"..mohon
perhatiannya saudara-saudara sekalian...", Pang.Rokhim membuka brifing,
"..penyerangan kita lakukan dalam 3 gelombang..gelombang penyerangan
pertama akan di pimpin oleh Kasau Marsekal bapak Bayu dengan skuadron
udaranya..setelah itu di ikuti penerjunan 100 prajurit Divisi Infanteri 1/Kostrad
yang sebentar lagi merapat kesini dari markasnya di depok.., dan juga 200
prajurit gabungan dari batalyon infanteri dari Sumatra yang di pimpin oleh
Jendral Angkatan Darat bapak Purnomo",,"..berselang kemudian
Gelombang kedua yang akan di pimpin oleh Kepala Staf Angkatan LautLaksamana
Agung sucipto dengan Armada laut dan KRI, kemudian di lanjutkan penurunan 200
prajurit Marinir di kawasan pantai, dan apabila di perlukan akan di lakukan
gelombang ke tiga yaitu bantuan Armada laut kapal selam dengan Kelas Cakra,
Kapal Selam KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402, juga pengerahan bantuan Udara
dengan Jet tempur yang kita miliki...,, ada pertanyaan?..", jelas
Pang.Rokhim,
"
45 menit sebelum penyerangan...
Belum terlihat ada
aktivitas persiapan apapun di seluruh pusat militer negara ini, Panlima Katsuun
mengira Indonesia Hanya menggertak, Sehingga hingga detik ini tak ada tau pasti
bahwa penyerangan oleh Indonesia akan segera berlangsung, suasana kota masih
seperti biasanya, di sekitar Istana kerajaan juga masih terlihat Lengang.
Jauh dari kepadatan tata
Elang dan Jim tengah
sibuk memasang dan memperbaiki sistem komunikasi mereka yang rusak, "biar aku
rekatkan.." Kata Elang sambil menaiki atap bunker dan berniat memasang
parabola satelit mini yang mereka punya, sejenak... Elang tertegun melihat
pemandangan lampu-lampu
"Hei, Itu hanya
kawasan sipil..!", kata Elang di balik teropong M40 nya dari sebuah bukit
tak berapa jauh dari pusat
"..astaga..!! Ini
sebuah kesalahan..!!!", seru Gondo panik, "ada apa..? Apa yang
sebenarnya yang terjadi?,,", tanya Elang, "pusat akan mengirimkan
F-16 sepuluh menit yang lalu untuk meledakkan tempat itu. . . ", jawab
Gondo berat,
"...ini tidak
benar!!!, kita harus lakukan sesuatu!!!, hubungi komandan...!", teriak
Elang panik setelah ia hanya melihat ratusan masyarakat sipil berada di daerah
itu, tudak ada tanda-tanda pangkalan musuh seperti yang di informasikan..
Gondo bergegas membuka
ranselnya, namun.. "Wusssshhhhhhhsssssswww!!!", deru jet tempur F-16
telah terdengar, 3 pesawat tempur pabrikan Amerika itu tampak menghiasi langit
gelap malam itu, tak lama salah satu F-16 itu keluar dari formasi dan memutar..
Elang kembali melihat
dengan teropongnya..
F-16 tadi menukik tajam..
"Tsshh!, dwissshhhhhssss:hhh..!" Sebuah rudal berukuran besar di
luncurkan F-16 tersebut, di susul 2 rudal lagi dari F-16 lainnya...
"KABOOOOOMMMMMmmmmmm...!!!!"
Ledakan besar terjadi,
membentuk gumpalan asap putih dan hitam berbentuk jamur,
"..ssshhhkk!", Elang memegangi kepalanya ketika tekanan udara Ledakan
sampai ke tempatnya..
Tak lama berselang,
"Hei..hei,
Elang..!!!",
"..!..", Elang
tersentak dari bayangan masa lalunya itu mendengar panggilan Jim, "mengapa
kau diam saja disitu..? Apa ada yang salah?", tanya Jim heran,
"tidak..aku hanya memikirkan bagaimana kita selesaikan ini..", jawab
Elang kaku, "..kau selalu saja bersikap aneh, itu membuatku takut..",
ungkap Jim ho.
Markas Besar Operasi,
30 menit sebelum
penyerangan...
Jendral Purnomo kembali
menemui Panglima TNI Rokhim maluda di temani ajudannya Letnan Vega,
"Pak, saya sudah
siapkan Tim itu..", lapor Jend.Purnomo, "berikan datanya, masukkan
mereka di salah satu pasukan penyerang Lepas pantai, minta Kordinasi kepada.
Laksamana Agung sucipto selaku staff angkatan laut...", perintah Panglima
Rokhim tegas, "Siap pak!", jawab Jend.Purnomo sembari berbalik badan
dan segera berlalu, "Letnan, siapa pemimpin tim pencari Elang? Dan siapa
saja anggotanya?", tanya Jend.purnomo, "tim pencari di pimpin oleh
Letnan Mahda dan Letnnan Hardi sebagai asisten pak, dengan dua orang prajurit
terbaik kita Sersan Tougar dan sersan Tari dari kopassus unit 2 pak..",
jelas Letnan Vega, "suruh mereka bersiap.. Mereka akan segera
berangkat..", sahut Jend.Purnomo, "baik pak, laksanakan..!",
letnan Vega yang cantik itu segera berlalu.
Lanud Udara, pusat
gelombang pertama,
10 menit sebelum
penyerangan...
Kesibukan telah tampak
beberapa jam yang lalu, namun kali ini sudah mendekati klimaks, pesawat-pesawat
penerjun telah berbaris siap lepas landas, begitu juga 4 jet tempur F-16 dan 2
Sukhoi SU-27 yang gagah siap untuk di terbangkan, sementara di Markas pusat
terlihat Panglima tengah mengkaji segala sesuatu mengingat tak lama lagi para
prajuritnya akan pergi ke medan tempur.
"Pusat ke Garuda
ganti..", Marsekal bayu menghubungi Komandan pilot Operasi Letnan Yudha di
kokpit SU-27 nya melalui radio,
"Garuda 1 terima,
ganti..", balas Letn,Yudha
"Siap mengudara,
Sandi Garuda, 10menit dari sekarang ganti,,", sahut Mars.bayu
"Dimengerti, di
lanjutkan, keluar..", jawab Letnan Yudha sembari menekan tombol-tombol di
kokpitnya.
"Teeeeetttt....teeeeeetttt.."
Sirene di lapangan udara
berbunyi, menandakan detik-detik tahap akhir persiapan, dan segera berpindah ke
tahap awal penyerangan, "nggggg,,,,", semua pesawat yang ada mulai
menyalakan mesinnya kembali, para prajurit penerjun telah berbaris di
kabin-kabin Hercules, Pilot Letnan Yudha beserta Co-pilot Letnan Wibowo
menempatkan SU-27 nya di jalur lepas landas bersiap sebagai pemimpin serangan
Gelombang pertaman di ikuti SU-27 dan F-16 lainnya.
Khao laq, kawasan pesisir
pantai,
2 menit sebelum
penyerangan...
"Berhasil..! kita
mendapatkan sinyal! Alat ini berhasil.,, kau bisa menghubungi markasmu, cepat
Elang..hahaha", teriak Jim ho kegirangan berhasil memperbaiki pemancar
satelit mereka, "bagus, kau memang hebat Jim,", sahut Elang sambil mulai
menekan beberapa tombol mulai mencari akses menghubungi markasnya, "bisa
kah..?", Elang bergumam, " yah, kita masuk..ayo kita sapa atasan ku
Jendral purnomo," tambah Elang senang mereka telah terkoneksi ke saluran
markasnya melalui komputernya, "hah..? ", Elang terdiam,
"
"..." Elang
menarik nafas berat,
"Negaraku sedang
dalam Siaga Satu, mode Penyerangan...".