Part 8 "rencana penyerangan"
Part 8 "rencana
penyerangan"
Burung-burung saling
berkejaran di lepas pantai itu, angin berhembus pelan memutai bibir pantai di
barengi deburan ombak silih berganti,
"Jaga dirimu kawan,
kami akan berangkat berjuang di negara kami dari sini.." Kata Smith di
ikuti anggukan kepala olah Bob dan Fallen, "Jim, berjanjilah kau akan
menjaga si Silent killer ini,,", tambah Fallen tersenyum, "..tentu
saja,, ingat..setelah menaiki boat ini dan sampai di pelabuhan, segera
bergabung dengan kapal Imigran gelap di disitu yang menuju Kamboja, setelah itu
kalian tau apa yang harus kalian lakukan
"..semoga kita
bertemu lagi..tapi dalam situasi yang berbeda,,", ungkap Elang dan di
sambut sebuah pelukan oleh semuanya.
"Baiklah..kami
pergi..sampai jumpa..", kata Bob, menaiki sebuah boat bersama Smith dan
Fallen, "brebebebbe...", mesin boat menyala. Mereka pun berangkat
meninggalkan secuil cerita.
Sementara itu,
Para petinggi Militer,
dewan dan para Mentri terlihat berkumpul di Aula istana kepresidenan indonesia,
Aula terdengar ricuh para petinggi itu yang tak tau mengapa Presiden
mengumpulkan mereka, keadaan berubah Hening ketika seorang paruh baya berkemeja
batik masuk ke Aula tersebut, dialah Orang nomor satu republik ini, Presiden
Ir.Darwinsyah.
Seakan tak ingin
berlama-lama pres.Darwin langsung menaiki singgasana kepresidenan di Aula
tersebut,
"Terima kasih
sebelumnya anda semua telah hadir disini, baiklah..kita semua tau bahwa negara
tetangga kita
"HOREE...!!!",
sorak para petinggi militer, mereka sudah lama menantikan ini semenjak para
Negara tetangga seenaknya mengusik bimi pertiwi mereka.
"..dan juga setelah
dukungan dari beberapa negara ASEAN lainnya seperti, kamboja dan singapura,
maka..hari ini.. 23 september, 2012..pukul..11,15wib,
"MERDEKA..,!!!!",
gemuruh semangat semua yang hadir di Aula tersebut,
"Mengenai perihal
Taktis dan strategi.. Akan di Koordinir penuh oleh Panglima besar TNI, Jendral
Rokhim Maluda, sekian terima kasih, Merdeka!", seru presiden dan segera
meninggalkan Aula tersebut mengingat banyak hal yang harus ia kerjakan.
Tak lama berselang,
Jend.Purnomo tampak membicarakan sesuatu dengan Panglima besar TNI bapak Rokhim
SE,
"Astaga..! Mengapa
saya baru mengetahui ini?", kata Pang.Rokhim terkejut, "bagaimana
situasinya?" Pang.Rokhim bertanya,
"Tidak di ketahui
posisi pasti Agen kita pak, tapi diketahui ia masih hidup..", jelas
Jend.Purnomo, "kita harus menyelamatkannya..! Dia satu-satunya orang yang
bisa menjerumuskan hal berbau penyalahgunaan kekuasaan di badan
keamanan..!", "kita akan bentuk tim khusus dan kita berangkatkan
diam-diam di antara prajurit yang menyerang kesana.., aku ingin kau membentuk
tim itu sekarang juga..! Aku tunggu beberapa jam lagi!", perintah
Pang.Rokhim, "Siap pak..!" Sahut Jend.Purnomo memberi hormat kemudian
berlalu pergi.
Jauh dari situ..
Perdana mentri
"...tidak ada
pilihan lain..
Perihal rencana invasi
penyerangan yang telah di berlakukan sejak tadi siang, pangkalan udara di
indonesia seperti Skuadron Udara 11 Lanud Hassanudin Makassar, Skuadron 21
Lanud Abdurrahman Saleh Malang, Skuadron udara 16 Pekanbaru Riau, dan Skuadron
udara di Lanud Iswahjudi Madiun, terlihat sibuk mempersiapkan segala taktis
teknis yang mungkin di perlukan untuk mendukung rencana penyerangan,
Perdana Mentri Ghoydee
terkejut begitu mendengar kabar itu dari pengawalnya, ia tak menyangka
Indonesia yang selama ini diam tak begitu ia hiraukan, tiba-tiba saja berencana
negara yang ia pimpim, ia segera memanggil Panglima Katsuun dan jajaran
militernya,
"..segera kita harus
bersiap akan serangan pak, setelah itu kita akan menyerang balik..!",
Pang.Katsuun memberi arahan, "...saya serahkan padamu..! Segera lakukan
yang dirasa perlu, aku tidak mau kita tampak terkesan terkejut..,!",
perintah PM.Ghoydee,
"Baik pak!"
Tegas Pang.Katsuun segera beranjak bersama para Jendral yang ada disitu.
"hei, Elang.. Apa
kau tak ingin memperjuangkan Hak mu di negaramu!", tanya Jim ho,
"..tidak..aku tak ingin memperkeruh keadaan di badan militer negaraku yang
pasti sedang kacau..." Jawab Elang ringan, mereka berdua tampak sedang
mempersiapkan sesuatu, "baiklah, ayo kita berangkat...!", ajak Jim ho
bersemangat, "Ayo.." Sahut Elang meraih Ransel besarnya, sepertinya
mereka belum mengetahui perang dunia ke III yang segera bergulir.
"Rencana awal
penyerangan kita di mulai malam ini, saya ingin seluruh Pemimpin Batalyon
angkatan darat, Laut, dan Udara berkumpul satu jam dari sekarang!",
perintah Panglima Rokhim menggema di setiap Radio komunikasi pemerintah, semua
petinggi militer satuan pemimpin sebuah cabang keprajuritan, semuanya kelabakan
mendengar perintah langsung Panglima pemegang kendali penuh rencana penyerangan
yang di umumkan presiden dan BPN selaku pemeran utama unsur keamanan Indonesia
setelah TNI.
Di kantornya, kepala BPN
Jendral Irwan tampak berbincang dengan tangan kanannya Letnan Jauhar,
"Letnan, sebaiknya
kita tetap fokus ke masalah Agen hitam dari pada rencana penyerangan
ini,," kata Jend.Irwan dengan mimik serius,
"Kau harus masuk ke
pusat taktis dan ikut berpartisipasi sambil mengawasi Jendral Purnomo, saya
yakin dia akan melakukan sesuatu..." Tambah kepala BPN itu, "siap
pak! Akan saya kerjakan..!" Jawab tegas letn.Jauhar.
Tak jauh dari itu,
Di markas Skuadron Udara
21 Lanud Abdulrahman Saleh (Malang), Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau)
Marsekal TNI Bayu pradana telah sampai dan membawa 12 jet tempur F-16 dari
skuadron 16 Riau, dan 4 jet pemburu Sukhoi SU-27 bersenjata lengkap untuk
mempersiapkan strategi penyerangan beberapa jam lagi.