Part 7 "Titik peperangan dari masalah Agen hitam!"
Part 7 "Titik
peperangan dari masalah Agen hitam!"
Elang tersentak, baru ia
sadari bahwa ia sedang berdiri diam di sebuah basement sebelum bayang-bayang
masa lalu kembali menghantuinya, ia melihat sekitar, yah.. Cuma ada dia disitu.
Sementara itu..jauh di
seberang samudera yang membentang membelah daratan di sebuah pusat militer
sebuah negara republik, negara yang membesarkan Elang, tengah terjadi
kontroversi dalam suatu badan pertahanan negara antara Badan Inteligen Negara
dan Badan pertahanan Negara, seorang paruh baya mengenakan seragam militer
dengan dua bintang bersemat di pundaknya terlihat memukul meja rapat yang di
hadiri beberapa staf keamanan negara itu.
"Apa begini cara
leluhur kita bertindak!?! Apa tidak ada lagi yang bisa menghormati seseorang
yang membela negaranya!?!" Kata sang jendral berbintang dua tadi, dia
adalah Jendral Purnomo SH, komandan tinggi divisi mata-mata dari BIN, ia merasa
terkejut semenjak kehilangan kontak dengan agen terbaiknya Elang, malah sebuah
kabar mengejutkan seputar pembebas tugasan yang di lakukan secara tak bermoral
dengan memberikan data agennya sendiri kepada negara saingan yang di anggap
menyulut perang karena mengambil andil besar dalam pemasokan senjata gelap ke
sejumlah daerah nusantara.
"Ini, adalah jalan
terbaik yang harus di ambil..anda dan jajaran anda harus mengerti..!",
jawab seseorang berjas hitam yang diketahui adalah Jendral Ir.Marwan, menjabat
sebagai kepala staf Badan Pertahanan Negara (BPN), "apa presiden
mengetahui ini..?!?" Tanya Jend.Purnomo tegas, tak ada yang menjawab,
menandakan sedang terjadi suatu pergolakan wewenang komando operasi dalam
pertahanan negara ini.
"..."
Jend.Ir.Marwan hanya diam tak berkomentar, wajahnya menyiratkan sesuatu,
"Aku akan bicarakan ini dengan Panglima ..!" Tambah Jend. Purnomo
meninggalkan ruang pertemuan itu, ia berjalan di dampingi seorang ajudan wanita
berpangkat Letnan satu, Letnan Vega.
"Letnan, bagaimana
kabar terakhir yang kita dapat..?" Tanya sang jendral dengan terus
berjalan, "terakhir Agen kita di kabarkan bergabung dengan beberapa agen
dari
Disisi lain...
Tampak juga seorang
petinggi berseragam militer Thailand, negara yang disebut-sebut sebagai pemasok
senjata kepada para teroris dan pemberontak di seluruh Asia, kabar itu
menyeruak setelah tertangkapnya satu kapal berisi Ribuan senjata perang lengkap
di perbatasan Indonesia - Malaysia yang menuju ke suatu daerah konflik di
Indonesia, Thailand juga di kabarkan secara terbuka memiliki pabrik pembuat
Bom-bom Nuklir yang mereka kirimkan ke kawasan timur tengah, melihat itu,
beberapa negara di asia bahkan Eropa dan yang lainnya memata-matai negara
tersebut, bahkan bukan tak mungkin perang akan berkecamuk jika Thailand
terbukti bertanggung jawab atas semua tuduhan itu.
Panglima Katsuun,
petinggi militer
Elang, Smith, Bob dan
Fallen terlihat berkumpul di suatu ruangan..
Tak lama muncul Jim ho
membawa secarik kertas, "lihat ini..kabar terakhir di luar
"Smith, bob, dan juga
Fallen akan pulang ke negaranya, mengadu kepada badan yang membesarkan mereka
di negaranya menuntut keadilan dan hak sebagai pembela negara mereka..",
Smith, bob dan fallen menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Jim ho,
"dan kau sendiri..?" Elang balik bertanya, " aku..? Aku akan
terus mengawasimu teman..lagi pula, di kampung halamanku tidak ada yang
menantiku.." Jawab Jim ho tersenyum.