Part 43 " Demi Negara "
Lembah Baliem Jaya wijaya, Papua
18.40
Sebuah Helikopter tampak
terbang rendah di atas hutan kecil yang tak begitu jauh dari kawasan perkotaan,
setelah beberapa kali melakukan refuel disejumlah titik, Helikopter bersimbol
TNI AU itu rencananya akan mengirim sejumlah peralatan komunikasi ke Lanud.
Lembah Baliem.
Heli tersebut masih
terbang rendah meliuk-liuk mengikuti kontur pucuk pepohonan dibawahnya.
Secara tiba-tiba lampu
penanda di bawah lambung Heli dimatikan, dan mengambang diatas sebuah celah
pepohonan.
Sebuah tali menjulur ke
bawah dan diikuti sejumlah orang menuruninya tak lama setelahnya, hanya
beberapa menit berselang Heli itu kembali melambung tinggi dan kembali
menyalakan lampu-lampu penanda dilambung maupun di ekornya dan melanjutkan
perjalanannya ke Lanud. Lembah Baliem.
"Ayo, sebaiknya kita
terus bergerak.., kontak kita mungkin sudah menunggu..", seru Adam pelan.
"Yah.. Ayo..",
sahut Mahda, sementara Elang hanya mengangguk saja.
Ketiga orang tersebut
langsung melanjutkan perjalanan mereka setelah Jendral Purnomo menyiasati
keberangkatan mereka dengan menggunakan Heli supplier TNI AU yang direncanakan
menuju ke Lanud.Lembah Baliem.
Setelah ini mereka
dijadwalkan menemui kontak mereka disini didekat perbatasan
Tak lama kemudian..
"Dimana kontak
kita..?", tanya Mahda mendekati Adam yang sedang mengamati sekitar dari
balik semak belukar tak jauh dari jalan utama di pinggiran hutan kecil yang
sepi dari hiruk pikuk.
"Entahlah,
seharusnya ia sudah berada disini..", sahut Adam.
"
Pick-up tersebut tak lama
berhenti hanya sekitar 6 meter dari Posisi Adam dan yang lainnya, seseorang
keluar dari pickup tersebut.
"Apa dia kontak
kita?"! Bisik Mahda sembari terus memperhatikan seseorang yang keluar dari
pickup tersebut.
"Tunggu dulu
sebentar..", sahut Adam seperti ingin melihat sesuatu.
"ingat penjelasan
Jendral..", gumam Elang kepada rekan-rekannya tersebut.
Sementara itu seseorang
tadi tampak berjalan kedepan truk pickup-nya dan membuka kap mobilnya, kemudian
dia membakar rokok kreteknya.
"Itu tanda kita..!
Ayo, Elang.. Siaga", seru Adam sebagai komandan tim kecil ini.
"Aku
mengerti..", sahut Elang mengeluarkan pistol dari balik jaketnya.
Sesaat kemudian Adam dan
Mahda perlahan keluar dari persembunyian mereka, sementara Elang tampak
mengarahkannya ke seseorang tersebut dari balik semak belukar.
"Numpang tanya
pak..?", Adam menyapa seseorang tersebut.
"Yah ada apa
ya..?", sahut seseorang itu, dari wajahnya ia berumur sekitar 30 atau 32
dengan wajah lugu tak ada unsur menyeramkan sedikitpun, lebih cocok dipanggil
pak tua karena garis keriput mulai memenuhi wajahnya.
"Wamena masih jauh
pak?", tanya Adam lagi.
"Tidak jika anda
bertanya dan menumpang pada saya..", sahut pak tua tersebut.
"Bagus, Elang.. Dia
kontak kita..", seru Adam.
Tak lama Elang muncul
melangkah mendekat sembari kembali menyimpan pistolnya.
"Wah, kalian sangat
berhati-hati..", sahut Pak tua tersebut melihat Elang keluar dari balik
semak belukar dengan pistol di tangannya.
"Yah, kami tidak
punya pilihan lain.., karena ini sangat rahasia..", sahut Adam.
"Perkenalkan, saya
Mohe.. Dan Baiklah, ayo segera ikut saya, saya yakin kalian tak punya banyak
waktu.. Nanti saja basa-basinya", kata Pak tua tersebut yang bernama Mohe
mempersilahkan mereka
menaiki truk-nya.
Lanud. Lembah Baliem 19.25
Seseorang tampak berjalan
keluar menuju sebuah mobil dengan sejumlah 'men in black' menjaga disekelilingnya,
mobil Patroli Polisi dari kepolisian Wamena juga tampak ikut membantu mengawal
seseorang itu yang tak lain adalah Mentri Pertahanan Amerika Sir Maloney.
Iring-iringan Sir Maloney
yang berjumlah 3 buah sedan hitam yang di kawal oleh 2 buah sedan patroli
kepolisian Wamena didepan maupun dibelakang konvoi Sir Malloney
tersebut langsung
meluncur menuju tempat dimana Sir Maloney akan menemui para pengusaha asal
Amerika dan Australia yang kebetulan tengah ada disana dalam rangka peninjauan
rutin mereka.
"30 menit lagi kita
sampai pak.., para pengusaha itu juga sudah menantikan bapak..", ucap
salah satu pengawal Sir Malloney yang berada satu mobil dengannya.
"Yah, kita tepat
waktu.. Setelah pertemuan ini saya ingin segera beristirahat.", sahut Sir
Malloney.
"Baik pak..",
jawab Pengawalnya tersebut.
Pentagon, Amerika
Serikat..
Presiden Amerika Frank
Carlton sibuk membolak balik semacam
Sementara dihadapannya Major
O'Connor tampak berdiri tegap menunggu instruksi setelah beberapa menit yang
lalu ia dipanggil untuk menghadap.
"Dasar, tidak ada
satupun berita yang masuk akal..", celoteh Pres.Frank.
"Lalu..Bagaimana
Connor? Apa tim-mu sudah mendapatkan sesuatu?", tanya Presiden Frank
Carlton sepertinya mulai bosan membaca surat kabar ditangannya.
"Negatif pak,
Militer indonesia sepertinya mengetahui keberadaan tim Letnan Jones
disana..", jawab Maj.O'Connor.
"Benarkah??? Apa kau
tidak sedang melucu..?", tanya Pres.Frank lagi sembari meletakkan surat
kabarnya.
"Tidak pak presiden,
Letnan Jones sendiri yang melaporkannya..", jelas Maj.O'Connor tegang, ia
mulai merasakan ketidaksenangan Presiden Frank atas kabar itu.
"Kalian baru di awal
sudah dikalahkan oleh militer indonesia..?? Bagaimana kalau sampai salah satu
dari kalian tertangkap atau bahkan mati ditangan mereka??? Itu bisa menjadi
berita terburuk sepanjang sejarah..!", Pres.Frank mulai gusar.
"Saya mengerti
pak..", sahut Maj.O'Connor.
"Kalau kau mengerti,
lakukanlah sesuatu..!", sambung Pres.Frank.
"Baik pak, saya akan
membereskan masalah ini segera.. Saya janji akan hal itu..", sahut
Maj.O'Connor.
"Bagus.., lakukan
apapun, gunakan cara apapun untuk membuat mereka tertekan.., sekarang pergilah
dan lakukan tugasmu..", kata Pres.Frank kembali merebahkan tubuhnya
dikursi kerjanya.
"Siap pak
presiden..!", jawab Maj.O'Connor sambari memberi hormat dan berbalik
meninggalkan ruangan Presiden Frank Carlton.
"Tidak ada jalan
lain..", gumam Maj.O'Connor dalam hati, sepertinya ia merencanakan
sesuatu.
Wamena, Papua..
19.45
Truk pick up yang
ditumpangi Elang dan yang Lainnya tampak terparkir didepan sebuah motel kecil
yang tak begitu jauh dari sebuah hotel yang lumayan besar meskipun jauh dari
kata mewah, namun terlihat penuh dengan penjagaan dari pihak kepolisian
setempat dan pihak asing.
"Target kalian
mungkin akan muncul tak lama lagi di hotel itu..", kata Mohe sembari
menunjuk dari jendela kamar motel yang mereka sewa.
"Penjagaannya cukup
ketat..", gumam Adam.
"Sepertinya kita tak
bisa membunuhnya saat pertemuan tersebut..", ucap Mahda menanggapi.
"Kita lakukan saat
mereka selesai, tepat saat target kita beristirahat..", sahut Elang.
"Bagaimana kalau
dengan tembakanmu..?", usul Mahda.
"Tidak bisa, posisi
tepat untuk menembak tak begitu banyak.. Lagipula kepolisian setempat atau para
pengawalnya pasti menempatkan para snipernya.., terlalu beresiko..", jelas
Elang.
"Benar.., kita
tunggu saja sambil mengamati lebih jauh..", sahut Adam mengangguk.
"Hey, mengapa
sesulit itu? Bukankah ia target negara? Apakah tidak ada orang dalam?",
sela Mohe bertanya.
Dari perawakannya tampak
ia adalah warga setempat yang menerima intensif negara dalam jumlah besar
sebagai mata-mata negara.
"Tidak, kami tak ada
orang dalam karena ini misi rahasia..", jawab Adam.
"Jadi kepolisian dan
bahkan militer di seluruh papua tak ada yang tau tentang misi
kalian..???", tanya Mohe.
Elang tampak melirik
Mohe.
"Sangat jelas tidak
ada.., karena itu kami sangat berhati-hati, ini bisa menjadi boomerang apabila
kami gagal..", jawab Mahda.
"Lalu.., apa kau
punya teman disini?", Elang mulai bertanya balik.
"Tidak, aku bekerja
sendirian.., haha, tenang saja, cuma aku yang tau tentang misi kalian, dan aku
belum membocorkannya karena Jendral kalian membayar cukup besar padaku..",
jawab Mohe tersenyum lebar.
"Jadi hanya kau yang
tau?", tanya Elang lagi.
"Kau yakin..",
Elang terus bertanya.
"Aku sangat
yakin..", jawab Mohe lagi.
Adam mulai merasakan
gelagat aneh Elang tapi..
"Bagus. . ."
"Taskkk !"
Elang menembak Mohe tepat
dikepalanya dengan pistol berperedamnya, Mohe tewas seketika.
"Apa yang kau
lakukan???", tanya Adam terkejut dengan tindakan Elang.
Sementara Mahda hanya
diam berusaha untuk tenang.
"Tidak ada, aku
hanya menjaga kerahasiaan misi ini.., lagipula aku tak suka dengan orang
ini..", sahut Elang enteng.
"Apa maksudmu..? Dia
mata-mata untuk kita dan negara..!", ucap Adam menarik kerah Elang.
"Hey sudah, Hentikan
Adam..", Mahda kali ini bangkit mencegah kesalahpahaman Elang dan Adam.
"Negara??? Orang ini
melakukannya demi uang..! Bukan negara..!", bentak Elang.
Sejenak Adam terdiam dan
perlahan melepaskan kerah baju Elang.
"Lambat laun, ia
akan membocorkannya.., ia bukan mata-mata.., ia hanya penjilat kertas yang
tertulis kata 'perang'..", jelas Elang sembari meninggalkan Adam dan
Mahda. . . "
"Dia itu... Sangat
berbeda dengan semua orang yang pernah aku kenal..", gumam Adam pelan.
"dia tipe yang akan
melakukan apapun demi negara, Biarkan saja.. lagi pula Insting-nya
menyelamatkan kita..", sahut Mahda.
"Maksudmu?",
tanya Adam.
"Lihat ini..",
ucap Mahda sembari menunjukan sebuah kartu nama yang terjatuh dari kantong
tubuh Mohe yang tergeletak tak bernyawa.
"Ini...?!?!",
seru Adam terkejut.
Tampak sebuah kartu nama
dengan nama seorang agen, dan yang paling penting..
Tertulis sebuah kata
"CIA", yang merupakan Badan Mata-mata Amerika.
"Bagaimana
sekarang?", tanya Adam.
"Sebaiknya kita
berdoa semoga saja bajingan ini belum membocorkan misi kita ini..", sahut
Mahda.
"Yah,
semoga..."
