Part 41 " Akhirnya kita pulang Jim..! "
"sepertinya Amerika sudah mulai bergerak.., sebaiknya kita harus waspada dan tetap megawasi pergerakan mereka..", ucap Panglima Rokhim dengan mimik serius.
"Lalu apa yang
menjadi target mereka..? Petinggi-petinggi negara inikah?", sela Jendral
Purnomo bertanya.
"Aku rasa begitu,
tapi masih banyak kemungkinan lain..", Mayjen Rizal menyahut.
"Saya rasa bukan itu
pak..", ucap Letnan Vega tegang.
"Maksudmu
Letnan?", tanya Mayjen Rizal.
"Panglima, apa
penyamaran mereka saat masuk ke
"Mereka menyamar
sebagai pengusaha..", jawab Panglima Rokhim.
"Sudah sangat jelas,
target mereka adalah bapak Wakil Presiden.. Bapak Haryono..", seru
Letn.Vega.
Semua orang yang ada
diruangan itu terkejut dengan pernyataan Letnan Cantik itu.
"Bagaimana kau bisa
menyimpulkan hal itu Letnan? Bukankah terlalu awal untuk menduga-duga seperti
itu?", tanggap Mayjen Rizal.
"Tidak pak, 3 hari
dari sekarang pak Haryono akan menghadiri seminar sekala internasional yang
dimotori oleh perusahaan dalam negri dalam merangkup pasar
"Masuk akal.., tapi
apa itu tak terlalu dini Letnan..?", sahut Panglima.
"Lapor Panglima,
saya rasa tidak..", potong Elang,
"Untuk apa negara
sebesar Amerika mengirim pasukan terbaiknya jika hanya misi penyusupan..? Saya
yakin mereka punya misi besar seperti yang dijelaskan oleh Letnan Vega..",
terang Elang.
Sejenak Panglima berfikir
mengerutkan dahinya, tampak Panglima berdiskusi dengan Mayjen Rizal dan Jendral
Purnomo setelah mendengar pengamatan Letnan Vega.
sementara Letnan Vega
tampak melirik Elang dengan seksama.
"Penjelasanmu
bagus..", ucap Letn.Vega pelan.
"Tidak sebagus
dirimu..,", sahut Elang.
"Sudah lama sekali
aku tak melihatmu..", ucap Letn.Vega lagi.
Namun Elang hanya diam
dan sejenak bangkit,
"Aku hendak keluar
sebentar, aku tak terbiasa dengan rapat seperti ini..", kata Elang
berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
"Kau selalu seperti
itu, tidak berubah sedikitpun..", Let.Vega menanggapi namun Elang tak
menghiraukannya.
Sementara itu..
Darah menetes dari
pergelangan tangan Jim karena terkena sabetan pisau Heru, Jim berusaha
menyeimbangkan badannya agar tak jatuh, sementara Heru kembali menyerangnya
dengan sebuah tendangan.
Menyadari itu Jim
menghindar dengan cara menunduk seraya memberikan tendangan balasan ke arah
perut Heru.
"Buk!"
Heru mementahkan
tendangan Jim dengan tangannya dan melangkah cepat mendekati Jim sambil
melayangkan tinjunya dan..
"Bamp!.."
Telak mengenai wajah Jim,
tidak sampai disitu Heru kembali menyerang dengan pisaunya..
"Tsskk!!!!"
"Siapa kau
sebe..narnya..???", rintih Jim ketika pisau Heru tertancap di perutnya,
darah segar mengalir.
"Tak disangka..,
tanpa disengaja aku menemukan kalian..!", sahut Heru sambil menusuk
dalam-dalam pisaunya.
Darah terus mengalir, Jim
mulai kehilangan tenaga.
"Astaga.. Kau
berkhia..nat pada negaramu, kau adalah mata-mata pihak asing..", tebak Jim
sambil menahan ngilu dari luka yang menganga di perut kirinya.
"Sungguh? Sudahlah
jangan ceramahi aku disaat kau akan mati..!", sahut Heru dengan nada
sombong.
Dilain tempat Elang baru
mengingat Jim sahabatnya ada diruangan tak jauh dari tempatnya berada sekarang,
segera saja ia menuju kesana untuk menemui sahabatnya tersebut..
Tak lama berselang ia
sudah berada didepan pintu ruangan, namun betapa terkejutnya Elang ketika ia
beranjak masuk dan mendapati Jim tergeletak bersimbah darah.
"Jim...!!!",
teriak Elang berlari mendekat ke rekannya itu.
"Ada apa ini?!? Apa
yang terjadi..?!?", tanya Elang meraih tubuh rekannya yang tak berdaya
itu.
"Ekh.. Anak I..tu..,
dia..", Jim kesulitan menyelesaikan kata-katanya.
"Sial..!
Bertahanlah..!", seru Elang sembari berlari keluar ruangan.
"Tolong..!
Panggilkan ambulan..!", teriak Elang ke arah para staf-staf yang berada di
markas tersebut.
Sontak orang berdatangan
dimana Jim berada dan berusaha memberikan pertolongan seadanya, salah satu dari
mereka sibuk menelpon ambulan.
" Kau lihat
seseorang keluar dari ruangan ini..?!?", tanya Elang pada seseorang staf
yang berada di dekat situ.
"Tadi ada seorang
pemuda dari ruangan itu dan berjalan keluar..", jawab orang itu sembari
menunjuk ke arah luar.
"Sial..!",
Elang berlari keluar, sejenak ia memperhatikan sekitar berusaha menemukan sosok
Heru.
Elang berputar-putar di
jalan tak jauh dari markas pusat itu masih berharap untuk menemukan sosok Heru.
Sesaat matanya melihat
sosok Heru sedang berjalan dengan tergesa-gesa di kawasan yang ramai tak begitu
jauh dari posisinya.
Segera Elang berlari
sembari merampas Senapan jenis SS-1 yang di sandang seorang prajurit yang
lewat.
"sebentar..!",
seru Elang dan langsung berlari dan langsung menempatkan sosok Heru di pijera
Senapan rampasannya.
Heru tampaknya tak
menyadari keberadaan Elang, ia tampak terus berjalan terburu-buru.
" Tak kusangka
kau..", gumam Elang bersiap menarik picu.
"Tash..!"
Sebuah tembakan
dilepaskan Elang, gemuruh suara tembakan membuat warga sipil yang tengah
berlalu-lalang berteriak panik.
Sementara para anggota
TNI yang berada disitu segera bersiaga dan mendekat ke arah Elang.
Sekitar 100 meter dari
situ tampak Heru terbaring dengan sebutir peluru bersarang dipaha kirinya.
"Ini..!", ucap
Elang sembari mengembalikan Senapan itu kepada pemiliknya, selanjutnya ia
berlari ke arah Heru.
Tapi tiba-tiba saja
sebuah sedan hitam berhenti tepat disebelah Heru, sesaat membuka pintu dan
tampak 2 orang membawa Heru masuk dan langsung tancap gas meninggalkan lokasi
tersebut.
"Sial...!",
geram Elang menyadari ia gagal menangkap Heru, tak ingin berlama-lama ia segera
kembali untuk melihat keadaan sahabatnya Jim.
Sudah ramai kerumunan
orang mengelilingi Jim, Elang membelah kerumunan orang di ruangan itu dan
mendapati sahabatnya tengah mendapat pertolongan seadanya dari seorang prajurit
medis yang sedang berada disana.
"Bagaimana
keadaannya?", tanya Elang panik.
"Dia kritis! terlalu
banyak darah yang keluar, saya rasa lukanya mengenai bagian vital tubuhnya,
sementara Ambulan masih dalam perjalanan kemari...", jelas prajurit medis
tersebut.
"Jim..! Jim
bertahanlah...!", teriak Elang.
Jim berusaha menyahut
namun suaranya tak keluar dari mulutnya yang bergerak.
Jim berusaha menggenggam
tangan Elang yang merangkulnya, namun sebelum jari-jarinya yang merah penuh
darah berhasil meraih tangan Elang... Ia tersentak dibarengi kedua tangannya
yang terkulai, saat itu juga Jim tertidur untuk selama-lamanya.
"Jangan...! Jangan
begitu..! Jangan begitu Jim...!", Elang histeris.
"Bangun...! Bangun
Jim..! Bangun!", Elang menggoncang tubuh sahabatnya itu yang sudah tak
bernyawa lagi.
Air matanya menyeruak
membanjiri pipinya, Elang tak bisa itu meski dengan sangat nyata dihadapannya
ia dapati sahabatnya tak lagi bergerak.
"Jim...! Jim..!
Tidaaaaakkkkk....!", Elang semakin histeris membuat orang-orang
disekitarnya ikut merasakan kesedihannya hari itu.
5 oktober 2012
17.25 wib
Pemakaman umum Jakarta
Jim dimakamkan hari itu
juga, tampak Elang tertunduk diam meratapi sahabatnya yang telah pergi untuk
selama-lamanya.
Tampak pula disitu,
Letnan Mahda, Lettu Adam dan Jendral Purnomo, serta sejumlah prajurit dibantu
warga sipil melaksanakan prosesi pemakaman tersebut.
Warga yang melewati
kawasan pemakaman tersebut dibuat heran melihat prosesi pemakaman hanya dihadri
puluhan orang berseragam militer, namun mereka juga bertanya-tanya kenapa
disemayamkan disini, bukan di makam para pahlawan.
Sore itu sebuah batu
nisan tanpa nama menjadi saksi bisu peristiwa hari ini, Elang sengaja meminta
agar nisan itu tak diberi nama, tapi digantikan dengan sebuah tulisan yang
berbunyi..
"Akhirnya kita
benar-benar pulang..."
