Part 39 " Pasukan Khusus "
Sejumlah negara mulai
meragukan tindak tanduk
Sementara itu PM
Australia Dubbront dan Presiden Amerika Frank Carlton semakin mempererat
hubungan mereka untuk bekerja sama menghancurkan
hal itu dubuktikan dengan
kedatangan tim kecil dari pasukan khusus Delta force US Army ke
Royal Australian Navy
(RAN) basecamp,
Commander Australian
Fleet Rear Admiral Deckker Wallaby menyambut kedatangan Major O'Connor dan ke-4
anggota terbaiknya menyusul kedua rekan mereka yang telah datang terlebih
dahulu 2 hari sebelumnya.
Tanpa banyak basa-basi
Major O'Connor tampak langsung menyusun strategi bersama Admiral Deckker.
Entah apa yang
direncanakan, namun tampaknya ada semacam Deadline yang dikejar oleh pasukan
Khusus Amerika tersebut, baru saja tiba mereka sudah langsung menyusun
strategi.
Sementara dirumah
persembunyiannya Elang dan Jim beserta Heru tampak sibuk mempersiapkan sesuatu
setelah mereka mendapat telepon dari Jendral Purnomo.
"Apa yang mereka
katakan..?", tanya Jim.
"..tadi itu seorang
Jendral, dia satu-satunya komandan ku.. Kita harus bersiap, ada suatu rencana
yang akan melibatkan kita.., tapi aku meragukan dia..", sahut Elang
melirik Heru yang sedang membereskan sejumlah peralatan Mahda dan Adam yang
juga akan mereka bawa.
"Kenapa
dengannya?", tanya Jim.
" Entahlah.., aku
tak tau..", kata Elang menahan suatu hal yang sedang dipikirkannya.
Tak lama kemudian sebuah
mobil kijang berwarna biru berplat militer menjemput mereka, segera saja mereka
berlalu pergi menaiki mobil suruhan Jendral Purnomo itu.
Sesaat sebelumnya Jendral
Purnomo beserta Lettu Adam dan Mahda sibuk membicarakan suatu rencana untuk
membersihkan nama Elang dan menggulingkan Jend.Irwan dari kepemimpinannya di
BPN, dan itu membutuhkan otorisasi Panglima Rokhim.
Setelah berbicara panjang
lebar dengan Panglima itu, Jendral Purnomo mendapatkan Otorisasi tingkat
'sangat rahasia' dari Panglima Rokhim.
"Berarti kau yang
bertanggung jawab atas kejadian di BPN??!?", kata Panglima Rokhim terkejut
begitu mendengar penjelasan Jendral Purnomo tentang semua kejadian sebelumnya
secara detil.
"Kau sudah
keterlaluan..!, saya akan melaporkan ini ke Presiden", tambah Pang.Rokhim
beranjak hendak menghubungi pihak Provost dengan telepon disudut meja kerjanya.
"..panglima..,
apakah tidak benar jika seorang prajurit seperti saya dan mereka berusaha
membela negara ini..?", ucap Jend.Purnomo.
"..tentu saja itu
benar..", jawab Pang.Rokhim sambil mulai menekan tombol teleponnya.
"Anda harusnya bisa
melihat kejanggalan yang terjadi sebelumnya setelah presiden melarang Jendral
Irwan untuk terlibat.., agen itu sedang dalam perjalanan kesini bersama
beberapa temannya, anda bisa mengetahui kebenaran tentang negara ini, anda
takkan menyangka bahwa anda tidak mengetahui setengah kegiatan militer kita di
dunia internasional padahal anda adalah seorang panglima besar..., Dan anehnya
agen kita itu mengetahui semuanya..", jelas Jend.Purnomo dengan mimik
serius.
" ... , apa yang
sedang kau bicarakan..? Apa maksudmu banyak kegiatan atau misi rahasia yang tak
ku ketahui atau tanpa persetujuanku..?", tanya Pang.Rokhim tertegun.
"Ya panglima.., saya
pertaruhkan jabatan dan harga diri saya serta nyawa saya untuk ini.., jadi
biarkanlah saya dan mereka melakukannya sebelum semua terlambat, sebelum negara
ini hancur..", terang Jend.Purnomo.
Panglima Rokhim terhenyak
mendengarnya, ia ragu.. Namun hati kecilnya merasa bahwa ia harus mempercayai
Jendralnya ini.
Segera Panglima Rokhim
mengurungkan niatnya melaporkan Jendral Purnomo ke Polisi Militer.
4 oktober 2012
19.25 wib
Kantor Duta besar
Dua mobil pabrikan Jepang
tampak memasuki kantor Dubes Australia untuk indonesia tersebut dan enam orang
berjas hitam turun dari mobil-mobil itu, Dubes Australia untuk indonesia sir
Robbert Hawkins menyambut ke 6 orang tamunya itu dengan ramah disela-sela
kesibukannya.
Tak jauh dari situ tampak
seorang penjual kopi keliling mengamati situasi tersebut, dia adalah salah satu
anggota inteligen dari unit 1 kopassus yang ditugaskan mengamati kantor Sir
Robbert Hawkins itu karena situasi yang menegang antar kedua negara akibat
peristiwa di perbatasan laut sebelumnya.
"Bagaimana
perjalanan kalian..? Sebaiknya kalian bersiap, saya yakin kita tak punya waktu
banyak dalam kondisi seperti ini..", ucap Sir Robbert kepada ke-6 orang
tamunya itu.
"Yah semuanya baik
saja pak Dubes, kami mengerti..", sahut salah seorang tamunya yang
ternyata adalah Liutenant Jones, Chief dari tim Alpha-2 pasukan khusus Amerika
Delta force bersama ke lima anak buahnya yaitu Sergeant Major Bradley, Sergeant
David, Sergeant joey, Corporal Luis, dan Corporal Hopkins.
"Ternyata tak sulit
untuk masuk ke negara ini..", kata sgt.David setelah memikir ulang
perjalanan mereka dengan menyamar sebagai pengusaha-pengusaha Australia yang di
undang Sir Robbert Hawkins selaku Dubes Australia untuk Indonesia.
" Maaf, sebaiknya
kita tidak menganggap remeh negara ini.., bukan tidak mungkin kalian telah
diamati oleh satuan khusus negara ini tapi mereka membiarkan kalian karena
kalian belum melakukan apa-apa..", sahut Sir Robbert mengingatkan.
"Itu benar, ingat..
Kita berada di negara yang mempunyai pasukan khusus yang hebat..", sambung
Lt.Jones.
"Apa itu
Kopassus..?", tanya Cpl.Hopkins sebagai anggota tim ini yang paling
bungsu.
"Yah.., mereka
pasukan yang sangat hebat, saya yakin kalian belum pernah berhadapan dengan
mereka..", sahut Lt.Jones serius.
"Maksud anda
chief..?", tanya Sgt.David, sementara sir Maloney hanya diam mendengarkan.
"Saya punya
cinderamata dari mereka..", kata Lt.Jones sembari membuka bajunya
memperlihatkan sesuatu.
Kelima anak buahnya
terkejut melihat ada bekas luka sayatan pisau di dada kiri dan satu bekas luka
tembak di lengan kanan Chief mereka.
"..apakah
itu..", sgt.Joey hendak bertanya.
"Yah, ini dari salah
satu dari mereka..", jawab Lt.Jones mengingat kembali peristiwa tersebut.
Papua Barat..
23 februari 2000
01.00
Disebuah perbukitan kecil
ditengah hutan lebat Liutenant Jones yang kala itu masih berpangkat Private
tampak berjongkok diam diantara rimbun semak belukar disekelilingnya.
Saat itu ia dan seorang
atasannya yang berpangkat Sergeant Major disisipkan diantara 6 orang dari SAS
Australia untuk menjaga titk 'Dropping' yang dilakukan Australia untuk
men-suplai senjata-senjata untuk para pemberontak dikawasan itu.
Semua berlangsung lancar
meskipun rintik hujan terus mengguyur tak henti-henti, paket telah sampai
dengan aman dan setelah 3 hari berlalu kini saatnya mereka kembali.
Pvt.Jones masih diam
mengamati daerah sekitar yang gelap itu, guyuran hujan semakin menyulitkan
matanya untuk melihat sekitarnya, sesekali ia menggunakan teropong Night vision
yang ia bawa, namun ia tetap saja merasa kesulitan.
Ia melirik jam kecilnya
yang menunjukan sudah pukul 3 pagi dan jemputan belum juga datang, disaat-saat
ia mulai didera kantuk ia seperti melihat pergerakan tak jauh darinya.
Yah, Pvt.Yakin bahwa itu
adalah sebuah pergerakan dan semakin jelas ketika tampak berbentuk seperti
beberapa orang yang sedang tiarap diantara semak belukar.
"Sial.., terlalu
jauh..", gumam Pvt.Jones ketika berniat memanggil rekan-rekannya yang
sedang tertidur di balik mantel-mantel mereka sekitar 6 meter darinya.
Pvt.Jones melirik M16A2
nya yang tergeletak disebelahnya beserta seluruh peralatannya namun kauh dari
jangkauan tangannya, ia tidak ingin bergerak agresif karena ia memperkirakan
beberapa orang didepannya itu pasti sedang mengamati, dan itu berbahaya.
"Mereka semakin
dekat.., sungguh sialan..!", umpat Pvt.Jones dalam hati menyadari sejumlah
musuh sudah merayap tak kurang dari 15 meter didepannya, dengan bergerak pelan
ia mencoba meraih senjatanya.
Sesaat ia hampir meraih
senjatanya, secara mengejutkan seseorang tiba-tiba muncul dari semak
disebelahnya sambil mengarahkan pistol ke arahnya.
Menyadari itu ia
buru-buru meraih senjatanya, namun
"Tssshhh!"
Sebuah peluru menghantam
lengannya sehingga senjatanya terlepas dari tangannya.
Namun Pvt.Jones tak
menyerah, ia segera berbalik sambil melayangkan tangan kirinya membuat
seseorang itu menjatuhkan pistolnya, melihat posisi lawannya tertekan,
Pvt.Jones berniat melayangkan tinjunya.
Namun secara cepat
lawannya itu mencabut pisaunya dan menyabetkannya ke Pvt.Jones.
"CraSshhh"
Darah segar meluncur dari
balik seragam Pvt.Jones, Pvt.Jones mengerang kesakitan dan terjatuh terbaring,
ia kehabisan tenaga mengingat ia masih menahan perih luka tembak dilengannya.
"Lalu..bagaimana
anda bisa selamat Chief??", Sgt.Joey bertanya memotong cerita Lt.Jones.
"Itu tak perlu
kuceritakan.., aku yakin kalian tak ingin mengalaminya..", jawab Lt.Jones
dengan mimik tegang.
Kejadian itu masih segar
dalam ingatnnya, ia yakin tak akan bisa melupakannya.
"Yang paling saya
ingat saat itu adalah sebuah Emblem didada seseorang itu.., yang baru kuketahui
itu adalah emblem Kopassus indonesia 5 bulan setelahnya.., mereka bergerak
senyap, tak terbaca.., namun disaat kita mengetahui posisi mereka, salah
seorang dari mereka sudah sedari tadi berada disebelah kita.., itu sungguh
gila..", jelas Lt.Jones.
"Namun bukan berarti
kita tidak bisa mengalahkan mereka.., ingat kita adalah Delta Alpha..!",
seru Letnan berkulit hitam itu.
"Tentu saja
pak",sahut kelima anak buahnya tersebut, sementara Sir Robbert tampak
tercengang mendengar cerita letnan dari pasukan khusus tersebut.
