Part 38 " Delta siap diterjunkan dan kembalinya Sky Brain!"
30 menit kemudian..
Berita penembakan kapal
UN cepat merebak, ditambah lagi pihak Amerika mengklaim bahwa kapal itu adalah
kapal Amerika untuk UN yang berada dikawasan
"Semua tepat waktu
kapten, kapal-kapal UN kami sudah disini untuk memperkuat alibi rencana kita..,
bukankan sebaiknya Perdana Mentri anda pak Dubbront mengetahui rencana kita
berhasil?", ucap Ltn.Jones sumringah.
"Yah, kami sudah
menyampaikan berita ini.. Kita hanya tinggal menunggu petinggi-petinggi kita
melakukan sesuatu", sahut Capt.Willy.
Istana Merdeka,
Sebuah sedan hitam dengan
pengawalan ketat berhenti tepat didepan Istana, sedan berplat RI-1 itu membawa
orang nomor satu di nisantara ini Presiden Darwinsyah.
Tampak pula kehadiran
Panglima Rokhim dan Jendral Purnomo serta Lettu Adam yang terpaksa ikut dalam
rapat mendadak tentang peristiwa yang baru saja terjadi diperairan
Beberapa saat kemudian..
Ruang Pertemuan Kabinet
Maju Merdeka Presiden Darwinsyah..
"KRI kita
diperbatasan dikonfirmasi telah menenggelamkan sebuah kapal milik UN, saya
sendiri terkejut begitu mendengar berita ini, sepertinya ada sesuatu yang
terjadi disana dan kita tidak mengetahuinya, untuk itu saya minta bapak
Laksamana Agung Sucipto untuk menjelaskannya..", ucap Pres.Darwin seakan
tak ingin bertele-tele membuka rapat mendadak bersama para dewan dan
petinggi-petinggi negara ini.
"Terima kasih pak
presiden, hmmm.. Dari laporan yang saya terima setelah dikonfirmasi langsung
oleh Kapten KRI kita sendiri yaitu Kapten Kadek Ashar, dijelaskan bahwa kapal
UN itu masuk kedalam wilayah kita tanpa izin, seperti kita ketahui bahwa berita
mengenai kapal-kapal UN yang berada dikawasan perbatasan baru kita terima 30
menit setelah penembakan yang dilakukan Kapten Ashar KRI Malahayati... Juga
dilaporkan bahwa kapal itu memiliki tulisan 'UN' yang relatif kecil dan
berbendera Amerika, Kapten Ashar selaku kadek KRI Malahayati dinyatakan bersih,
ia hanya melakukan hal yang sesuai prosedur.., terima kasih", jelas
Laks.Agung Sucipto selaku petinggi dari TNI AL.
Semua orang yang hadir
diruangan itu tampak diam seolah mencoba menganalisa kronologi tersebut.
"Mereka menjebak
kita Jendral..", gumam Lettu Adam kepada Jend.Purnomo disebelahnya.
Jend.Purnomo tak
menjawab, sepertinya ia berniat menunggu keputusan Pres.Darwinsyah mengenai
ini.
"Panglima Rokhim..,
apa yang kita dapat dari ini..", tanya Pres.Darwinsyah sambil sesekali
memijit keningnya, sepertinya semua masalah yang sedang terjadi membuatnya
lelah terus berfikir.
Sesaat Panglima Rokhim
diam sejenak seakan menyusun kata-kata pendapatnya agar mudah dicerna semua
orang.
"Menurut saya ini
jelas sekali merupakan provokasi yang mereka lakukan, sepertinya Amerika dan
"Saya rasa itu ide
bagus, wakil kita untuk PBB pak Sutrisno telah saya utus untuk meloby disana,
semua yang disampaikan oleh Laksamana bapak Agung tolong untuk segera
diberitahukan kepada beliau untuk dijadikan bahan kepada PBB..", kata
Presiden Darwin lugas.
Pinggiran Jakarta Timur..
"Yang benar saja..
Angkatan laut kalian menembak kapal UN?? Apa itu tidak berlebihan?", ucap
Jim kaget.
"Begitu berita yang
sedang beredar, kejadiannya sekitar 2 jam yang lalu, mungkin itu yang
menyebabkan Adam belum bisa memberi kabar terhadap kita setelah ia menemui
Jendral Purnomo..", sahut Mahda.
"Mungkin untuk
beberapa waktu mereka kehilangan fokus terhadap aku dan Jim..", tanggap
Elang pelan sambil sesekali memperhatikan keadaan sekitar rumah kecil yang
mereka gunakan sebagai tempat bersembunyi, namun dengan santainya mereka duduk
diberanda rumah tersebut karena mereka tau perihal kaburnya mereka tak diangkat
ke media berita sedikitpun.
"Kalian tunggu saja
disini, aku juga akan melapor ke Jendral Purnomo.. Aku punya suatu rencana
bagus untuk kita..", ucap Mahda.
"Yah, itu lebih
baik.. Agar mereka tidak curiga atas tak kehadiran dirimu belakangan
ini..", sahut Elang.
"Baiklah, aku
pergi..", kata Mahda sembari melangkah pergi membawa sebuah ransel
sepertinya ia sudah merencanakan ini.
"Apa menurutmu
negaramu akan berperang lagi..?", tanya Jim pelan.
"Aku rasa tidak akan
begitu keadaannya.., mungkin akan terjadi semacam perang dingin..", sahut
Elang.
Delta Force basecamp..
Fort Bragg, California..
Di dalam suatu ruangan
tertutup tampak beberapa orang berseragam militer sedang membicarakan sesuatu,
diantara para anggota pasukan khusus tersebut juga terdapat Menhan sir Maloney.
"Setelah ini kalian
akan menjadi unit terdepan yang akan ke indonesia meskipun secara rahasia..,
ada suatu misi yang harus kalian lakukan..", terang Menhan Maloney dengan
mimik serius.
" Misi seperti apa
itu pak?", tanya Sergeant Major Bradley, dari penampilannya tampaknya
Sergeant Maj.Bradley telah banyak melakoni berbagai misi, bisa dilihat dari
banyaknya codet di lengannya.
"Seperti misi penyusupan
misalnya, atau bisa saja misi penculikan atau bahkan pengeboman", sahut
Menhan.Maloney enteng.
"Lalu apakah kami
harus bekerja sama dengan SASR(SAS) australia..?", sekarang giliran
Sergeant Joey bertanya.
"Itu belum bisa
dipastikan.., tapi sepertinya kalian tetap akan bergerak sendiri meskipun
kalian akan bermarkas sementara disana..", sahut Sir Maloney sambil
sesekali membolak balik berkas-berkas yang ia bawa.
"Major O'Connor
telah mengirim rekan kalian, mereka dari tim kecil kalian yaitu Liutenant Jones
dan Sergeant David ke Australia.. Jadi hanya tim kalian yang dirasa cocok
melakukan beberapa misi nanti..", tambah Menhan Maloney lagi.
"Maaf pak.., lalu
dimana kami akan menerima misi kami..? Di pentagon atau washington..",
giliran Sergeant Mathew bertanya.
"Kalian akan
mendapatkan misi kalian setelah kalian berada di Australia.., sekarang
bersiaplah.., mungkin tak lama lagi O'Connor akan menemui dan membawa kalian ke
Australia..", jelas Menhan Maloney tegas.
"Siap pak..b",
sahut Sergeant Maj.Bradley beserta yang lainnya.
Markas pusat Jakarta..
"Mahda..?",
seru Jendral Purnomo ketika menyadari Mahda memberi hormat padanya dan Lettu
Adam yang sedang bersamanya.
"Bagaimana dengan
Elang?", tanya Jend.Purnomo.
"Dia baik saja kami
melakukannya dengan mudah..", sahut Mahda.
"Dan..",
" Adam telah
menjelaskan semuanya pada saya selesainya kami menghadiri rapat mendadak oleh
presiden tadi.., jadi saya kira kalian punya rencana setelah ini..",
potong Jend.Purnomo.
"Yah Jendral, kami
ada rencana..", sahut Adam sambil melirik Mahda.
Cijantung,
"Besok Kembali
bertugas.. Kabarnya kali ini pihak Amerika dan
