Part 37 " Jebakan kecil "
Dua orang berseragam militer tampak turun dari sebuah SUV pabrikan jerman yang dipelataran Markas pusat Jakarta,, beberapa prajurit tampak mengawal kedua orang itu hingga di ambang pintu masuk, selanjutnya hanya tinggal 2 orang prajurit saja yang ikut masuk.
Mereka adalah Panglima
Rokhim dan Jendral Purnomo.
"Bagaimana menurutmu
Jendral? Apa yang harus kita lakukan sekarang?", tanya Pang.Rokhim
sesampainya mereka diruangan khusus Perwira TNI itu.
"Sepertinya
menemukan kembali agen kita itu tidak terlalu penting sekarang.., kita punya
masalah yang lebih serius sekarang..", ucap Jend.Purnomo berusaha memberi
Elang dan yang lainnya sejumlah waktu dalam pelarian mereka karena Jendral
Purnomo sendiri tidak mengetahui keberadaan para anak didiknya tersebut.
"Apakah ini tentang
yang disampaikan Menhan?", tanya Pang.Rokhim lagi.
"..iya pak, saya rasa
kali ini kita tidak bisa menganggap sepele, karena kali ini yang mungkin kita
hadapi adalah negara sebesar Amerika..", jelas Jend.Purnomo dengan wajah
tegang.
Sesaat Panglima Rokhim
mengerutkan dahinya, begitu juga wajah dua prajurit pengawalnya yang berdiri di
depan pintu tampak tegang tanpa sengaja mendengar penjelasan Jend.Purnomo.
"Dan jika benar
terjadi, mungkin saja negara tetangga seperti
"Hmm... Saya rasa
kita bisa melakukan sesuatu terlebih dahulu", sahut Panglima Rokhim,
"Maksud anda
pak?", tanya Jend.Purnomo.
"Maksud saya,
mungkin saja Amerika telah mengirim mata-mata mereka kemari.., mengapa kita tidak
melakukan hal yang sama?", ucap Panglima besar TNI itu.
"Itu terlalu
beresiko pak..", sahut Jend.Purnomo.
"Jendral, aku ingin
kau memanggil prajurit dari Kopassus seperti Letnan Mahda atau Lettu Adam..,
aku ingin kau memanggil salah satu dari mereka", pinta Panglima Rokhim.
Jendral Purnomo tertegun,
ia sendiri saja tak tau dimana keberadaan kedua Letnan terbaiknya itu, bahkan
Danjen Kopassus Mayjen Rizal Harahap pasti akan sangat berang jika mengetahui
kedua anak buahnya itu tidak diketahui dimana keberadaannya, selama periode
perang dan beberapa saat kedepan Danjen Kopassus itu menyerahkan kedua
Letnannya itu kepada Jendral Purnomo karena itu permintaan khusus dari Jendral
Purnomo sendiri.
Jendral Purnomo diam
tertegun berusaha mencari alasan yang tepat.
Namun secara tiba-tiba
seorang prajurit yang mengenakan seragam doreng merah salah satu pasukan khusus
di
"Lapor ndan,
komandan pasukan khusus anti teror regu 4 melapor..!", ucap Lettu Adam
dengan gagah.
" Adam!?", Jendral
Purnomo terkejut mengetahui Adam tiba-tiba saja muncul.
"Diterima Letnan,
atas otoritas siapa kau menghadap kemari..?", tanya Panglima Rokhim.
"Siap Panglima, saya
menghadap untuk otorisasi dari Mayor Rizal kepada Jendral Purnomo..",
jawab Lettu Adam tegas.
"Sepertinya prajurit
kita ini mempunyai insting yang bagus Jendral, baru saja dibicarakan dia sudah
muncul..", ucap Panglima Rokhim.
Jendral Purnomo hanya
tersenyum kecil karena ia sendiri semakin menjadi bingung dengan apa yang
sedang terjadi karena kehadiran Lettu Adam secara tiba-tiba, ingin rasanya ia
bertanya kepada Lettu Adam dimana Mahda dan Elang sekarang, tapi ia
mengurungkannya.
Samudra Hindia, 10KM dari
perbatasan Laut Australia-Indonesia..
KRI Malahayati yang
dinahkodai oleh Kapten Laut Ashar Sudirman sedang dalam keadaan tegang ketika
melihat sebuah kapal kelas frigat tanpa nama berbendera dan Amerika mendekati
batas perbatasan laut antara
"Bagaimana bisa ada
kapal Amerika di perairan
"Cari frekuensinya
dan sambungkan..!", seru Kapt.Ashar lagi menyuruh seorang perwira
komunikasi untuk segera menyambungkan mereka ke kapal asing tersebut.
"Negativ kapten..!
Tidak bisa..", seru perwira komunikasi tersebut sambil berulang-ulang menekan
sejumlah tombol serta panel-panel alat pencari frekuensi komunikasi
dihadapannya.
"Ini aneh..",
gumam Kapt.Ashar.
"5 kilometer dan
terus mendekat kapten..!", periwira radar mengingatkan bahwa kapal itu
sudah sangat dekat dan terus mendekat.
"Siapkan persenjataan,
dan kau.. Acak ke seluruh frekuensi yang ada, katakan untuk menjauhi batas
wilayah kita atau kita tembak..!", perintah Kapt.Ashar kepada perwira
komunikasi tadi, kapten berumur 34 tahun itu tampak canggung dalam memimpin kRI
Malahayati ini, ini merupakan pengalaman pertamanya menghadapi situasi seperti
ini.
"Ini sangat aneh,
kita bahkan tak melihat kapal perang Australia.. Mengapa saat ini bisa ada
kapal berbendera amerika?", gumam Kapt.Ashar.
200km dari perbatasan
Laut Indonesia-Australia..
Sebuah kapal perang
berbendera Australia tampak tenang mengapung di perairannya sendiri, kapal itu
adalah HMAS YARRA-M87.
"Apakah tipuan
seperti ini bisa berhasil?", Capt.Willy shean selaku kapten dari HMAS
YARRA bertanya kepada dua orang yang berada disampingnya, dua orang itu memakai
seragam berwarna hitam, sebuah emblem bergambar pisau dengan bentuk segitiga
ditengahnya tampak angker menunjukan darimana ia berasal.
Mereka adalah Liutenant
Jones dan Sergeant David, mereka adalah anggota dari pasukan khusus Amerika,
Delta Force.
Sepertinya Major O'Connor
mengirim mereka untuk bekerja sama dengan AL Australia untuk memprovokasi
indonesia.
"Pasti bisa, mereka
sangat mudah untuk diprovokasi kapten..", jawab Lt.Jones yakin.
"Jika benar
begitu.., bagaimana dengan kapal angkatan Laut kalian itu..?", tanya
Capt.Willy ingin tau lebih detil apa yang sebenarnya pasukan Khusus Amerika ini
lakukan.
"Kami hanya
diperintahkan memprovokasi indonesia dengan kapal bekas itu kapten, kapal itu
akan terus melaju sampai ada yang menghentikannya.., tenang saja, kapal itu tak
berawak, kapal itu sengaja kami siapkan untuk dihancurkan oleh mereka..",
jawab Ltn.Jones tenang.
"Lalu orang-orang di
pentagon akan mempermasalahkan masalah ini sehingga kita bisa menyerang
indonesia.., hmmm ide yang bagus..", sahut Capt.Willy terkagum.
"Lapor Kapten..!
Mereka melebar frekuensi mereka yang berisi pesan agar menjauh dari wilayah
mereka atau ditembak..", perwira komunikasi memberi tahu Capt.Willy
setelah ia menerima pesan yang disebar melalui frekuensi secara acak oleh
Kapt.Ashar KRI Malahayati.
"Sebaiknya kita diam
saja agar rencana ini berhasil..", Ltn.Jones mengingatkan Capt.Willy.
"Mereka akan sangat
terkejut jika melihat dari dekat.. Mereka tidak tau kapal apa itu sebenarnya,
dan ada banyak kapal seperti itu yang sebentar lagi akan bergabung dengan
kalian kapten", tambah Ltn.Jones.
"Hmm? Rencana
seperti apa yang kalian lakukan?", gumam Capt.Willy heran.
Sementara itu sirine
tanda situasi siaga 1 terdengar meraung diseluruh anjungan KRI Malahayati yang
bernomor lambung 362 tersebut.
"1 kilometer
Kapten!", perwira Radar memberi tahu posisi kapal asing berbendera Amerika
tersebut dari garis perbatasan.
"Siapkan Rudal dan
kunci mereka..!", perintah Kapt.Ashar.
"Siap kapten!",
seluruh perwira pengoperasi sistem-sistem tempur kapal itu segera melakukan
tugas masing-masing.
Ketegangan jelas sekali
menumpuk di raut wajah Kapt.Ashar yang sebenarnya dia ragu akan apa yang dia
lakukan sekarang, namun akan sangat lebih berbahaya jika membiarkan kapal itu
lewat mengingat negara-negara seperti Amerika sangat menganggap remeh indonesia
sehingga Kapt.Ashar merasa Amerika akan berbangga hati melihat kapalnya bebas
berlenggok diperairan indonesia.
" 10 detik lagi
mereka melewati perbatasan..!", seru perwira radar kembali.
"Dengar aba-aba
saya.., bersiaplah..!", sahut Kapt.Ashar memantapkan keyakinannya terhadap
apa yang dia lakukan sekarang.
Detik-detik krusial itu
berlangsung lambat, perwira komunikasi masih berusaha mencari frekuensi kapal
asing itu, namun nihil.
Sementara seorang perwira
tampak tegang dengan sebuah tombol merah dibawah jarinya.
"Mereka telah lewat
Kapten!", perwira radar memberi tahu.
"Tembak
mereka!", seru kapt.Ashar.
"Bsssttttt....!"
Sebuah rudal anti kapal
tampak meluncur menuju kapal berbendera Amerika tersebut.
"Hmmm.. Tidak ada
tanda-tanda perlawanan dari mereka?", pikir Kapten Ashar.
"Teropong..!",
pinta Kapt.Ashar sembari meraih teropong yang disodorkan salah satu anak
buahnya, kemudian ia mulai melirik kapal asing itu yang sesaat lagi dihantam
oleh rudal yang ia tembakkan.
"Sialan..!!! Ini
jebakan mereka..!", seru Kapt.Ashar ketika melihat tulisan kecil dilambung
kapal asing itu yang bertuliskan "UN", ia semakin terkejut melihat
bendera berwarna biru kecil jauh dibawah bendera amerika yang sengaja dipasang
tinggi.
"DUARRRR...!!!!"
Kapal UN berbendera
Amerika itu meledak ketika sebuah rudal menghantam tepat di lambung kiri depan,
gumpalan api beserta asap hitam mengepul bak letupan gunung merapi.
" Mereka menjebak
kita..",
