Part 36 " ditengah kekacauan! Rencana K-4"
Mobil-mobil polisi beserta truk-truk pasukan khusus terlihat sudah berjajar di depan gedung BPN tersebut, sementara dibagian belakang gedung sambangi satuan Brimob.
Jendral Irwan sudah
tampak hadir disitu, ia nampak buru-buru memberi isyarat kepada tim Densus 88
Polri untuk segera memeriksa keadaan didalam.
Tim 2 dari satuan Densus
88 yang berjumlah 8 orang itu pun langsung memasuki kawasan kantor tersebut,
Jendral Irwan tampak tegang menunggu kabar tentang apa yang sedang terjadi di
kantornya.
Tak lama seorang komandan
dari anggota Densus Polri yang berada diluar mendekat dan memberi tau bahwa
tidak ada apa-apa lagi karena tersangka telah meninggalkan lokasi.
"Sial...!",
geram Jendral yang bernama lengkap Irwansyah Marwan itu..
8 jam setelahnya...
Serangan Mahda dan Adam
ke kantor Badan pengamanan negara itu menjadi Headline diseluruh Media
informasi nasional, dan menjadi berita kedua di internasional setelah berita
perang
Tak ayal negara-negara
luar mengira-ngira ini sebagai serangan teroris dan melihat ini sebagai
kelemahan
Namun ada yang aneh dalam
berita yang disampaikan kedunia luar, karena tidak ada keterangan tentang
pembebasan tawanan yang dibeberkan, tapi penculikan seorang pegawai dari satuan
kepolisian.
Ruangan Rapat khusus RI-1
2 Oktober 2012
Sebuah Meja persegi yang
sangat lebar terbentang didepan para petinggi-petinggi militer negara ini untuk
membicarakan kejadian semalam, Jendral Purnomo dan Jendral Irwan tampak hadir
di tempat duduk yang berseberangan,
Hadir juga Suprapto SH selaku
mentri pertahanan Negara dan Panglima Rokhim diantara petinggi-petinggi
lainnya..
"Baik, langsung saja
saya ingin mendengar langsung dari anda Jendral..", kata orang nomor satu
dibumi pertiwi ini, Presiden Darwinsyah.
Sontak Jend.Irwan segera
berdiri.
"Diperkirakan
penyerangan ini dilakukan pukul 1 dini hari pak, dari rekaman kamera pengawas
diketahui mereka berjumlah 2 orang pak, berhasil membawa tahanan negara kabur
dan menculik seorang polisi yang ditugaskan disana..", Jend.Irwan menceritakan
kronologinya.
"Dua orang?? Hanya
dua??", ucap Pres.Darwin,
"Iya pak
presiden..", sahut Jend.Irwan meyakinkan.
"Jendral, apa yang
bisa kita lihat dari ini?", Pres.Darwin melirik Jendral Purnomo.
Jendral Pournomo menarik
nafas dalam-dalam tak ingin wajah tuanya menunjukan ekspresi yang mencolok
karena hanya ia yang tau persis siapa penyerang semalam.
"Ini jelas bukan
tindakan orang biasa pak, ini jelas tindakan oleh orang-orang terlatih..",
kata Jend.Purnomo.
"Dan bisa saja
pasukan khusus negara ini..!", Jendral Irwan memotong pembicaraan.
"Itu tidak
mungkin..!", sahut Jendral Purnomo,
"Itu mungkin
saja..!", seru Jend.Irwan menatap tajam Jendral Purnomo seolah memberi
isyarat permainan yang baru saja dimulai antara mereka berdua mengingat
kejadian 4 hari yang lalu.
"Kalian
hentikan...!", bentak Presiden Darwin, suara orang nomor 1 itu membuat
kedua Jendral itu menutup rapat-rapat mulut mereka.
"Izin berbicara pak
presiden..", Menhan Suprapto menyela,
"Silahkan pak
Menhan..", sahut Pres.Darwin.
"Terima kasih pak.. Jendral
Irwan apa atas dasar anda mengatakan hal itu?", ucap Menhan Suprapto,
Mentri yang satu ini adalah teman dekat seorang Presiden bapak Ir.Darwinsyah,
tak heran pak presiden langsung mengiyakan ketika ia ingin berbicara ditengah
situasi yang menegang akibat kedua Jendral itu.
".. Bagi saya tak
ada yang mampu melakukan operasi itu seakurat dan secepat itu selain pasukan
khusus..", jelas Jend.Irwan sambil melirik Jend.Purnomo,
"Begitu..? Bukankah
itu terlalu berlebihan Jendral?,, Jendral Purnomo, bagaimana menurut
anda?", sambung Menhan Suprapto.
"Menurut saya ini
bukanlah tindakan orang dalam, ingat kita baru saja selesai berperang..,
tawanan yang mereka bebaskan adalah agen kita yang tersandung tuduhan
pembelotan di
Semua yang ada diruangan
itu tampak diam, sepertinya mereka menerima penjelasan Jendral Purnomo.
"Izin pak..",
Panglima Rokhim meminta izin angkat bicara dan langsung di iyakan presiden.
"Pak Mentri,
sepertinya permasalahan semalam sudah terealisasi setelah mendengar penjelasan
Jendral Purnomo, setelah ini saya akan selesaikan masalah ini secara rahasia,,
tapi saya ingin tau bagimana keadaan diluar, saya tau mereka pasti melihat ini
sebagai kelemahan kita..", ucap Panglima tinggi itu,
Semua terhenyak mengerti
maksud dari pertanyaan Panglima Rokhim.
"Pertanyaan yang
bagus Pak Rokhim... Melihat ini ada beberapa negara yang menganggap ini
serangan teroris, dan mereka menawarkan kerja sama beserta izin untuk mengirim
armada pasukan mereka kemari, entah apa maksud mereka ingin melakukan hal itu
saya juga tidak tau.. Negara-negara itu adalah Amerika, Australia, dan
singapura..", kata Menhan Suprapto sambil sesekali memperhatikan raut
wajah semua yang hadir diruangan ini.
"Bagaimana dengan
malaysia? Bukankah sebelumnya mereka berniat menyerang jakarta dengan Jet
mereka?", tanya Jendral Purnomo melirik Panglima Rokhim mengingat saat
dimana Letnan Vega tertembak.
"malaysia tak akan melakukan
apapun, mereka sangat malu akan tindakan mereka kemarin.., saat ini pihak
malaysia sudah meminta maaf dan bersedia bekerja sama apabila
dibutuhkan...", jelas Menhan lagi.
"pak Mentri.., lalu
negara mana yang menurut anda terlalu agresif dari kesemuanya itu..",
tanya Panglima Rokhim.
"...Amerika..",
jawab Menhan Suprapto dengan nanar,
"Pak presiden, kita
harus melakukan sesuatu.., saya rasa Amerika punya rencana lain dengan niat
mereka..", kata Panglima Rokhim menjelaskan.
"Saya tau..,
sepertinya Frank tua itu sedang mencari-cari kesempatan disaat keadaan kita
yang sedang kacau..", ucap Pres.Darwin, Frank yang dimaksud adalah Frank
Carlton Presiden Amerika.
"Bagaimana menurut
anda pak Menhan?", tanya Pres.Darwin dengan wajah tegang,
karena jika ini benar
seperti apa yang diperkirakan, menghadapi negara sebesar Amerika dalam segi
apapun pasti sangat sulit.
"Menurut saya pak,
kita tugaskan dahulu sebuah unit untuk mendapatkan kembali Agen kita itu..,
saya sangat yakin sesuatu yang lebih buruk akan terjadi jika agen itu jatuh ke
pihak asing.., setelah itu kita cari solusi menghadapi negara sok suci
itu(amerika) dengan meminta bantuan dari China atau Rusia.., ingat..kedua
negara itu pernah mengajak kita untuk menjatuhkan dominasi Amerika dan bangsa
sialan lainnya di PBB, saya yakin mereka pasti mau membantu..", jawan
Menhan Suprapto lugas.
Sejenak Presiden
Dawrwinsyah mengerutkan dahinya memikirkan pendapat Mentri Pertahanan itu yang
juga seorang teman dekatnya.
"Baiklah, Panglima
Rokhim..saya ingin anda dan Jendral Purnomo membentuk sebuah unit untuk membawa
kembali Agen itu,, dan Anda Jendral Irwan.. Saya harap anda tidak melakukan
apapun, dan sebaiknya anda punya alasan yang tepat atas pernyataan anda tadi..,
baiklah, selesai..", kata Presiden Darwin menutup rapat mendadak itu.
Segera semua membubarkan
diri setelah Pres.Darwin meninggalkan ruangan.
"Sial.., dimana
mereka,", ucap Jendral Purnomo dalam langkahnya menuju sebuah mobil dinas
berplat militer yang sudah menunggunya begitu menyadari ponsel Mahda tak bisa
dihubungi lagi.
Pentagon, USA...
Major O'Connor selaku
kepala divisi inteligen dari unit Delta dan Secretary of Defence Sir Maloney
tampak mengadakan rapat rahasia dengan Presiden mereka Sir Frank Carlton.
"Apa yang tim anda
dapat disana Mayor?", Pres.Frank bertanya kepada Maj.O'Connor.
" Unit inteligen
Delta yang saya tempatkan di indonesia 6 bulan yang lalu mendapatkan beberapa
titik yang jauh dari pantauan militer mereka, saya rasa itu tempat yang bagus
untuk memulai RENCANA K-4 pak, mengingat mereka baru saja berperang menhadapi
panglima gila Thailand..", jawab Maj.O'Connor lugas.
"Hmmm... Bagaimana
dengan PBB Maloney?", tanya Pres.Frank kepada mentri pertahanannya itu.
"Kita bisa
menggunakan kejadian kemarin pak, kita lobby semua petinggi PBB dengan memutar
balikkan fakta bahwa indonesia menyerang Thailand atas dasar proyek nuklir yang
seseungguhnya mereka kerjakan.., jelas dunia akan ramai-ramai mencari isu
tersebut, nah disaat seperti itu kita bisa segera menjalankan RENCANA K-4 kita
pak.., karena saya indonesia terlalu bahaya jika dibiarkan berkembang..",
jelas Maloney.
Apa yang akan dilakukan
pihak Amerika dengan RENCANA K-4.
