Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Part 35 "Head to Escape"

Hujan turun begitu lebat disertai dentuman petir menyambar-nyambar gagah menghiasi langit gelap pagi ini..

Mahda dan Adam telah memulai aksi mereka.

Sementara didalam kantor Badan yang bertanggung jawab atas masalah keamanan Negara tersebut tampak seseorang tertidur dengan pulas, yah Heru tertidur dimeja kerjanya didepan layar-layar monitor kamera pengawas yang terpasang diluar.

Sementara ke 4 orang prajurit penjaga diluar berkumpul pos bagian depan kantor tersebut, tampak mereka hanya melakoni kebiasaan mereka seperti malam-malam biasanya bermain kartu.


"Klek...",

Mahda membuka kotak Etalase utama listrik kantor ini yang berada dibagian belakang gedung,

"Tap..!"

Mahda mematikan listrik kantor ini dengan membalikkan knob utama sehingga generator listrik cadangan tak akan merespon karena ini pemadaman secara manual.

"baiklah, tak lama lagi mungkin ada yang datang kemari untuk memeriksa.. Bersiaplah..", seru Mahda pelan kepada Adam,

"Yah, aku mengerti..", sahut Adam,

"Setelah ini, kita bertemu dipintu depan kantor ini.. Sampai nanti", tambah Mahda lagi sembari berjalan mengendap memutar kantor ini dari sisi kiri, sementara Adam masih menunggu dibagian belakang kantor itu untuk bersiap memutar dari sisi kanan.


"Hey, kau cepatlah periksa kenapa generatornya tak kunjung menyala", perintah salah satu prajurit penjaga kepada rekannya,

"Yah baiklah.., tunggu sebentar..", jawab seorang penjaga itu sambil bangkit meraih senter dan senjatanya.

"Apa perlu kutemani?", tanya salah seorangnya lagi.

"Tak perlu.., tunggulah sebentar, setelah itu aku akan bermain lagi", sahut prajurit itu.

Tampaknya para penjaga-penjaga itu menganggap ini hanyalah padam listrik biasa, terlihat ke 3 prajurit lainnya melanjutkan permainan kartu mereka meski hanya diterangi sebuah lampu LEd kecil menggunakan baterai.

"Huuuhhh",

Prajurit itu pun berjalan menyusuri lorong luar kantor itu yang menuju ke bagian belakang dimana Etalase listrik berada,

Sesekali ia menyorot keadaan sekeliling dengan senternya.

Baru saja ia berjalan memasuki bagian belakang kantor seseorang memukul bagian belakang lehernya dengan keras,

"Bukk!"

Sejenak matanya berkunang setengah sadar ia berusaha meraih senjatanya yang terjatuh, senter yang ia bawa terlepas dari tangannya, tampak sinarnya meredup mungkin rusak akibat hentakan dan seseorang tadi juga sudah melayangkan kembali pukulannya telak kewajahnya membuat ia tak sadarkan diri.

Yah, itu Adam yang sedari tadi sudah menunggu, ia bisa saja menghabisinya dari awal dengan senjatanya yang berperedam, namun ia mengurungkan niatnya untuk menghabisi prajurit itu.

"Begini saja..", gumam Adam mengikat prajurit itu, menyumpal mulutnya dan kemudian meletakkannya kedalam tong sampah besar disudut kantor itu, tak lama kemudian ia berjalan mengendap menyusuri sudut luar kantor itu menuju bagian depan, beberapa saat kemudian ia melihat 3 orang penjaga sibuk bermain kartu tak jauh didepannya.

Adam merayap pelan mendekat, untuk sesaat ia berfikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya..


Sementara Mahda juga sudah sedari tadi mengintai ke 3 prajurit penjaga itu dari seberang dari posisi Adam, namun Mahda tampaknya tak ambil pusing harus bagaimana karena ia terlihat mulai membidik salah satu kepala penjaga itu dengan senjatanya.

Ketika ia hendak menarik pelatuk, salah seorang penjaga yang kepalanya sudah tertera di pijera Mahda bangkit dan Beranjak keluar dari posnya membuat Mahda membatalkan niatnya untuk menembak..

"Hei, aku mau menyusul dia.., lama sekali, aku rasa ada yang aneh..", kata salah penjaga yang bangkit itu meraih senjata dan senternya, sepertinya ia mulai merasakan kejanggalan atas padamnya listrik kali ini.

"Sial..",

Gumam Adam dalam hati karena prajurti itu hendak berjalan ke arahnya, dan terlalu dekat untuk menghindar atau bersembunyi.

Prajurit itu mulai mengarahkan sorotan senternya ke arah dimana Adam berada, perlahan sorotan senternya mendekati Adam,

" ! "

Penjaga itu terhenyak ketika ia melihat seseorang bersenjata lengkap tengah mengarahkan senjatanya ke arahnya,

"Tak..takk.."

Dua tembakan dilepaskan Adam ke tubuh prajurit itu,

Karena reflek prajurit itu menekan picu senjatanya yang sudah dalam keadaan terbuka.

"Treretetetetetet...!"

Senjatanya menyalak sesaat dan kemudian berhenti saat tubuhnya tergeletak tak berdaya diterjang timah panas Adam, kedua rekannya langsung menyadari itu namun langsung terjungkang karena Mahda sudah melepaskan beberapa tembakan ke arah mereka.

" Kurang ajar..!",

Seru Mahda ketika mendekat dan menyadari salah satu tangan penjaga itu telah menekan tombol darurat disudut pos mereka.

"Teeeeenggggg.... Teeeeenggggg..."

Alarm berbunyi...

"Adam ayo..!", ajak Mahda untuk bergegas bergerak karena dalam tempo beberapa menit lagi akan ada sejumlah pasukan khusus sampai kesini.


Alarm membangunkan Heru dari tidurnya..

"Ada sesuatu yang telah terjadi diluar..", gumam Heru bangkit mengambil pistolnya dan memantau layar monitor-monitor kamera pengawas dihadapannya.

"Sial..!", paniknya ketika melihat tubuh-tubuh para penjaga tergolek di pos depan ditambah lagi kini ia melihat ada dua orang berpakaian serba hitam tampak sibuk memasang sesuatu dipintu depan kantor yang terkunci.


"Sepertinya ada yang datang menjemput kita..", kata Jim,

"Yah.., tak kusangka hal seperti ini terjadi.., aku kira hanya di film-film..", sahut Elang, mereka juga terhenyak dari tidurnya.

"Hentikan ocehanmu.., sekarang apa yang harus kita lakukan?", sambung Jim.

"Hmmm, kau tau apa yang harus kita lakukan setelah mereka sampai disini nanti, aku hanya penasaran siapa yang melakukan hal yang membahayakan karirnya dengan menyelamatkan kita.., karena pasti mereka orang terlatih", jelas Elang.


Sementara itu Mahda dan Adam tampak sudah slesai memasangkan sesuatu ke pintu utama kantor itu.

"DUAAMMP..!"

Ledakan kecil membuat pintu itu terpental, sesaat Mahda dan Adam berjalan siaga memasuki kantor itu.

"Disana..!", seru Adam mengarahkan sorot senter dipucuk senjatanya yang ia nyalakan mengingat kondisi seluruh bangunan yang gelap gulita agar Mahda yang berada didepannya maju menyusuri lorong menuju ruang dimana Elang dan Jim berada, sementara itu Heru tampak bersembunyi menundukkan kepalanya tak jauh dari posisi Adam dan Mahda, ia tengah berfikir apa yang harus ia lakukan, ia menjadi semakin gugup mengingat karena ia bukanlah seorang aparat yang berasal dari unit-unit atau satuan sejenis yang memang dilatih untuk menghadapi situasi seperti ini.


Jauh dari situ..


"Yah, saya segera kesana..", ucap Jendral Purnomo seraya menutup telepon rumahnya.

"Sepertinya mereka ceroboh...", gumam Jend.Purnomo dalam hati, sesaat sebelumnya ia mendapat telepon dari panglima bahwa kantor BPN sedang diserang dan ia diminta mengirim pasukan bantuan untuk mendukung pihak kepolisian dan sejumlah pasukan khusus yang pasti dikerahkan oleh Jendral Irwan selaku pemimpin Badan tersebut.


"Elang..?!?", seru Mahda merapat ke pintu ruangan disudut lorong itu,

"Ya..., ini kami!" Sahut Jim dari dalam.

"benar disini..", kata Mahda kepada Adam.

"Tak tak taktakatak"

Adam segera menembaki panel kunci pintu itu dan menendangnya sehingga pintu itu terbuka.

"Sialan..! Apa yang telah mereka lakukan pada kalian..!?!", geram Mahda ketika memasuki ruangan itu dan melihat keadaan Elang dan Jim yang sedemikian buruk karena penyiksaan yang mereka terima beberapa hari belakangan.

"Ini sungguh keterlaluan..!", gumam Mahda lagi sembari memotong ikatan Elang dan Jim dengan pisau.

"Apa kalian bisa bergerak..?", tanya Adam.

"Aku rasa aku bisa..", sahut Elang,

"Tak kusangka kalian kemari..", ungkap Jim sembari merengangkan tangan dan kakinya yang kaku setelah berhari-hari terikat.

"Ayo.., kita harus cepat..", timpal Mahda sambil memberikan pistolnya kepada Elang,

"Dimana bantuan kalian?", tanya Jim sembari juga meraih pistol yang dilemparkan oleh Adam ke arahnya.

"Hanya kami berdua.., sudah ayo..!", sahut Adam mempimpin pergerakan mereka untuk segera keluar dari situ


Tak jauh dari situ Heru masih gugup bersembunyi dibalik meja dengan sebuah pistol digenggamannya, ia semakin gugup ketika melihat sorot cahaya senter dari Adam dan yang lainnya.

ketika Adam dan yang lainnya hendak melewatinya..

"Tashh..!"

Jim melepaskan tembakan ke arah dimana Heru berada, sepertinya Jim menyadari keberadaan Heru.

"Ada seseorang disana....!" Seru Jim,

Sepontan Adam mengarahkan Sorot senternya, sepertinya tembakan Jim hanya mengenai meja.

"Jangan tembak.. ", Heru muncul sambil mengankat tangannya.

" Anak itu..", kata Elang pelan.

"Siapa dia..?!?", seru Adam sudah bersiap akan menembaknya.

"Tak apa.., ia tak tau akan semua ini..", sahut Elang,

"Sudahlah, tinggalkan saja dia..", tambah Elang.

"Tunggu..! Aku ikut kalian..!", seru Heru,

"Apa kau bercanda..?", tanya Jim menanggapi,

"Aku serius.., aku hanya ingin ikut kalian, aku tak tau alasannya.. Tapi aku ingin ikut..", jelas Heru gugup.

"Ini berbahaya untukmu..", sahut Elang,

"Aku tak peduli..!", jawab Heru bersikeras,

"Apa kita bisa mempercayai anak ini..?", tanya Mahda,

"Tanyakan padanya..", jawab Jim menunjuk Elang, Mahda langsung melirik ke arah Elang.

" Sepertinya bisa..", sahut Elang pelan,

"Apa kau yakin..?!?", tanya Adam yang sudah bersiap menembak Heru,

Elang diam sejenak menatap Heru, sementara Heru menunggu dengan wajah cemas, tampak keringat mengalir dikeningnya karena Adam sudah bersiap menembaknya.

"Aku yakin..", sahut Elang,

Mahda segera mendekati Heru meraih pistol yang masih tergantung di jari Heru dengan tangannya yang terangkat.

"Baiklah.., kau ikut kami..", kata Mahda,

"Terima kasih..", sahut Heru berlari bergabung dengan Elang dan Jim.

"Ayo.., mereka sudah dekat..!", seru Adam yang sayup-sayup memang terdengar sirine mobil-mobil polisi.

Mereka pun langsung bergerak cepat keluar dari bangunan itu dan berlari kebelakang dimana mobil Adam dan Mahda diletakkan..

Tak lama berselang, seluruh unit pasukan khusus dan kepolisian sudah sampai ditempat itu, namun Elang dan yang lainnya sudah melaju pergi dengan mobil yang dipersiapkan Adam dan Mahda ditengah lebatnya hujan pagi itu.