Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Part 34 " Kita Mulai..!"


Heru berjalan tergesa-gesa menuju ruang interogasi yang berada di sudut lorong belakang kantor itu,

Heru terus melangkahkan kakinya sambil sesekali memperhatikan orang-orang di kantor itu yang mulai pada beranjak pulang mengingat jam kerja mereka telah habis.

Sesampainya didepan pintu ruang interogasi Heru diam sejenak berusaha memikirkan kembali apa yang hendak ia lakukan,

" ... Aku rasa.. Aku harus", gumamnya dalam hati,

Ia menghela nafas panjang, merogoh kunci di sakunya..

"Hey, sedang apa kau?", seseorang memanggil dari belakangnya,

" Glek.."

Heru sedikit terhenyak menyadari ada orang yang melihatnya,

"Hmm, tidak ada.., saya hanya memastikan pintu ini terkunci..", jawab Heru segera membalikkan badannya melihat siapa gerangan orang tersebut,

"Oh.., kau anak baru itu ya? Ayo ikut denganku.., kebetulan, ada beberapa hal yang harus aku sampaikan padamu..", kata seseorang itu yang ternyata adalah seniornya di BPN.

"Yah, siap bang..", sahut Heru berjalan mendekat dan segera mengikuti seniornya itu.

"Huhhh, hampir saja...", gumamnya dalam hati.

 

Markas pusat, Jakarta..

 

18.00 wib

 

"Jendral, kenapa anda belum pulang..?", seorang Sersan bertanya melihat Jendralnya masih duduk di salah stu meja aula kantor tersebut padahal sudah pukul 18.00 tepat, tidak seperti biasanya sekitar pukul 3 sore sang Jendral sudah pulang meninggalkan kantornya.

"Tidak apa Sersan, banyak yang harus saya selesaikan saat ini juga..", jawab Jend.Purnomo sembarari membuka-buka map-map di meja,

"Apa perlu saya bantu Jendral..?", tanya Sersan tersebut kembali,

"Tidak perlu sersan.., kau pulanglah lebih dahulu, tak apa..", sahut Jend.Purnomo.

"Baik, izin komandan..!", kata Sersan itu sembari berlalu meninggalkan Jendral Purnomo.

 

Tak lama kemudian muncul lagi seorang prajurit menghampiri Jendral itu, sepertinya memang ditunggu oleh sang Jendral Purnomo.

"Lapor ndan, semua yang komandan perintahkan telah saya siapkan..", kata prajurit itu pelan,

" Apa kau sudah memastikan semuanya?", tanya Jend.Purnomo,

"Siap, Sudah Ndan.., lalu bagaimana dengan saya?", prajurit itu balik bertanya,

"Baiklah, saya akan pastikan kepindahanmu ke Sumatra.., kerja bagus, dan ingat, ini hanya saya dan kamu yang tau..", jelas Jend.Purnomo.

"Siap ndan, dimengerti..!"

"Izin pamit ndan..!", seru prajurit itu,

"Yah, silahkan", sahut Jend.Purnomo,

"Terima kasih ndan, terima kasih", seru prajurit itu kegirangan dengan sesekali menundukkan kepalanya.

Sebelumnya Jendral Purnomo menyuruhnya mengambil beberapa pucuk senjata serta perlengkapan tempur lainnya dan diletakkan di sudut belakang kantor ini sehingga Mahda dan Adam akan dengan mudah mengambilnya.

Prajurit suruhan Jendral Purnomo itu meminta sedikit ganti atas kerjanya, karena dia berasal dari sumatra, ia meminta bantuan Jendral Purnomo untuk dipindah tugaskan ke sumatra.

"..."

Jend.Purnomo sejenak memperhatikan keadaan kantor yang telah sepi dan segera beranjak pulang.

 

Adam dan Mahda..

22.00 Wib

 

Adam tampak berdiri santai bersandar disebuah mobil kijang hitam berplat militer di jalan dibelakang Markas Pusat komando tersebut, terkadang ia harus menegur sejumlah prajurit penjaga yang berkeliling sekitar area markas tersebut.

"Cari angin aja mas.., sekalian iseng-iseng nelpon pacar",

Begitu jawaban Adam ketika salah satu prajurit penjaga menanyakan sedang apa ia berdiri disitu, prajurit-prajurit penjaga itu pun mempercayainya karena melihat mobil berplat militer yang dibawanya, jadi tak ada yang patut dicurigai.

Tak lama kemudian Mahda muncul tergesa-gesa membawa sebuah kotak yang tak terlalu besar.

"Buka pintu..", seru Mahda pelan,

Adam segera membuka pintu tengah mobil dan Mahda segera meletakkan kotak tersebut di kursi tengah mobil mereka.

" Mengapa lama sekali? Mulutku capek ngoceh terus pura-pura lagi telponan kalau ada penjaga yang lewat..", keluh Adam,

"Huhh, kau kira mudah menyusup halaman markas ini.., spot jantung aku..",

"Sukur Jendral naruh nih perlengkapan di tempat sepi jauh dari pantauan kamera pengawas", jelas Mahda terengah-engah.

"Dan Untung saja kita tak mengikuti kata Jendral mengambil peralatan ini pukul 1 nanti, bisa dicurigai kita.., tapi Sudahlah, ayo..", sahut Adam masuk ke mobil.

" Brmmm "

Adam segera memacu mobil mereka meninggalkan lokasi tersebut.

 

Ruang Interogasi BPN..

23.09 Wib

 

"Bukk..! Bukk!! Bukk..!"

Tampak dua orang sedang menghadiahi Elang dan Jim pukulan demi pukulan, percikan darah mengotori hampir seluruh pakaian yang Elang dan Jim kenakan.

Tampak juga seseorang berdiri menjaga jarak memperhatikan itu, yah, itu Heru, ia tidak diperkenankan pulang sore tadi oleh seniornya disini, ia malah disuruh menyaksikan senior-seniornya itu menghajar Elang dan Jim.

"Hahahaha..," sesekali kedua seniornya itu tertawa puas.

"Ini dek, abang serahkan mereka sama kamu.., malam ini kau nginap disini yah, gantikan kami berdua.., di luar juga ada 4 orang adek abang yang berjaga, jadi kau tidak usah takut..", kata salah seniornya itu menyudahi acaranya memukuli Elang dan Jim, tak lama kedua seniornya di BPN ini pamit pulang, meninggalkan Heru melakukan tugas yang harusnya mereka kerjakan.

" . . . "

Keadaan di ruangan itu menjadi hening, hanya sesekali desah nafas Elang dan Jim yang terdengar tak teratur lagi, yah keadaan fisik mereka menurun drastis.

"Maaf... Apa kalian bisa bicara..?", tanya Heru mendekat,

" Ekhhh.. Tentu saja..", sahut Elang parau,

" Apa kalian benar mata-mata yang ramai diisukan di fitnah itu?, aku tau ini pertanyaan bodoh, tapi aku rasa aku ingin menanyakannya..", lanjut Heru mendekat.

"Ukhhh, sepertinya sekarang kami mulai terkenal yah..", sahut Jim pelan terbatuk-batuk.

"Jika itu pertanyaanmu.. Kami tak akan menjawab! Kami hanya akan memperkenalkan diri saja..", jawab Elang.

"Aku Jim, agen korea..", kata Jim,

"Dan aku Elang, aku Agen indonesia.. Dari divisi mata-mata TNI, dia rekanku di thailand kemarin..", tambah Elang.

" Jadi isu itu benar?", kata Heru pelan,

"Aku tak mengatakan tentang isu itu, kami hanya memperkenalkan diri kami.., kami juga tak ingin kau mempercayai ini, akan menjadi bumerang untukmu jika kau mempercayainya..", kata Elang pelan.

"Jadi aku harus diam saja diantara kebohongan dan kebenaran ini??", tanya Heru lagi,

Elang terhenyak mendengar perkataan Heru.

"... Ada waktu tertentu dimana kita harus diam dan dimana kita harus bergerak.., sangat jelas kau tidak bisa bersikeras dengan apa yang kau anggap sebagai kebenaran dihadapan kami orang yang tak kau kenal..", sahut Jim,

"Dan Kau hanya perlu mengikuti arus yang diciptakan petinggi-petinggi negara ini.. Meskipun itu bertolak belakang dengan apa yang kau lihat, kau dengar, dan kau rasakan..", tambah Elang menyambung kata-kata Jim.

"... Jika semua ini kebohongan belaka, mengapa kalian hanya diam saja melihat mereka melakukan ini pada kalian..?", Heru bersikeras berusaha mendapatkan jawaban tentang semua ini.

" Yah, kami hanya akan diam.. Prajurit seperti kita tidak dilatih menghadapi situasi bak pertunjukan politik seperti ini.., kami diam karena kami tak bisa berbuat apa-apa.. Lebih baik kami menikmati semua ini, itu lebih bermakna setelah semua apa yang kami lalui", sahut Elang menunjukkan sisi kedewasaannya juga sisi kelelahannya menghadapi drama yang dibuat oleh petinggi-petinggi negara ini, negara yang dibelanya dengan nyawa sebagai taruhannya.

Heru terdiam berusaha mengumpulkan kata-kata yang tepat, tapi ia tak mampu dan beranjak keluar meninggalkan Elang dan Jim.

"Dia masih terlalu muda...", kata Jim pelan,

"Yah, tak heran mereka merekrutnya untuk mengawasi kita.., mereka tak menyangka anak muda ini penuh rasa ingin tau dibalik kepolosannya sebagai aparat negara ini..", sahut Elang menanggapi perkataan rekannya tersebut.

"Huhhhh... Aku rasa malaikat pencabut nyawa sedang banyak tugas sehingga ia belum sempat kemari menjemput kita..", gurau Jim tertawa kecil.

"Heheh, aku rasa juga begitu.. sepertinya aku mulai merasa sakit disekujur tubuhku..", sahut Elang,

" ???, gurauanmu tak lucu sama sekali, kau kira luka-luka ini tak sakit sama sekali apa?", ucap Jim menunjukkan wajahnya yang penuh luka dan percikan darah.

"Heheheh"

Elang hanya tertawa mendengar celoteh sahabatnya itu.

Sementara itu Adam dan Mahda..

1 jam sebelum Pembebasan Elang dan Jim.

"Hanya 4 orang penjaga dikantor badan sebesar itu? Apa mereka kira mereka menahan kriminal penjambret?", kata Mahda memperhatikan kantor itu dari kejauhan dari sebuah jendela kamar Hotel tak jauh dari situ dengan teropongnya.

"Mungkin mereka tak ingin terlalu mencolok.., pimpinan mereka adalah rekan Jendral Purnomo dahulu, Jendral Irwan.. Seseorang yang juga pintar seperti Jendral Purnomo..", sahut Adam yang tampak sibuk mempersiapkan peralatan mereka.

"Letak ruang penahanan di sudut lorong ini.., kita harus bergerak cepat setelah menemukan mereka..", tambah Adam sembari menyusuri gambar denah kantor BPN disecarik kertas dengan jarinya.

"Bagaimana dengan penjaga-penjaga itu? Kita habisi?", tanya Mahda.

"..hmmm sepertinya tidak ada cara lain lagi..", sahut Adam sembari bangkit melihat kantor target mereka dari balik jendela.

Kediaman Jendral Purnomo..

20 Menit sebelum penyerangan.

Sepertinya Jendral Purnomo tak bisa sedikitpun memejamkan matanya, ia tau bahwa tak lama lagi Adam dan Mahda akan melakukan misi penyelamatan Elang.

Sejenak ia menoleh istrinya yang sedang tertidur pulas disebelahnya, kemudian ia turun dari ranjangnya meraih ponselnya dan berjalan keluar kamar.

Jendral Purnomo berjalan ke balkon yang terletak dilantai 2 rumahnya sambil menekan beberapa tombol diponselnya,

"Tuut..."

Ia menghubungi Mahda..

"Klek.."

"Yah, ndan?", tanya Mahda dari ponselnya.

"Tak apa, lakukan dengan cepat.., utamakan keselamatan semua aspek..", perintah Jendral Purnomo,

"Siap ndan..", sahut Mahda.

"Dum..dum..dum.."

Gemuruh guntur menandakan sepertiny segera akan turun hujan.

"Sepertinya cuaca mendukung kalian.., berjuanglah, bawa mereka kembali..", seru Jend.Purnomo.

"Siap ndan, diterima..!", jawab Mahda.

"Tut.."

Jend.Purnomo menutup teleponnya.

Sejenak ia memperhatikan langit, bintang-bintang telah menghilang digantikan kilatan guntur yang menggelegar.

"Tenk..tenk.. Tenk.."

Rintik air hujan mulai turun membasahi genteng rumah kediaman Jendral itu, tak lama berselang hujan lebat telah mengguyur seluruh kota, otomatis kegiatan malam kota ini berangsur-angsur berhenti karena hujan yang cukup lebat disertai petir menyambar, hanya tinggal beberapa angkutan malam dan truk-truk lintas yang tampak mengisi jalan-jalan kota.

Dan setelah itu..

Tak jauh dari pos penjagaan Kantor BPN tampak dua bayangan hitam bergerak cepat menyusuri gang-gang sepi dibelakang kantor itu, Adam dan Mahda tengah bersiap melakukan penyerangan ditengah hujan lebat ini dengan seragam serba hitam bak tim SWAT amerika.

"Mahda, ayo..", kata Adam pelan sembari memasang peredam ke pucuk MP5-nya,

"Kita mulai dengan membuat panik mereka..", sahut Mahda melirik Box etalase listrik di bagian belakang kantor itu.

"Tskkk!.. Krankkk"

Adam menembak lampu penerang dibelakang kantor tersebut, gemuruh hujan membuat riak pecahan kaca lampu tak terdengar,

Mahda segera berlari mendekat, sebentar bersembungi menghindari pantauan kamera pengawas dan bergerak lagi.

Setelah sampai dikawasan kantor tersebut ia memberi tanda kepada Adam, Adam pun segera bergerak mendekat,

"Baiklah.. Kita mulai..!"