Part 33 " Heru "
Perumahan TNI AD, Cijantung Jakarta Timur..
07.25 wib.
Letnan Vega tampak diam
duduk di kursi rodanya di beranda rumah dinas yang ditempatinya, sesekali
beberapa prajurit-prajurit yang lewat di jalan kecil didepan rumahnya menegur
dan dibalasnya dengan ramah.
"Kakak, kakak banyak
melamun akhir-akhir ini..? apa yang sedang kakak pikirkan?", Tari muncul
dari dalam rumah membawa beberapa butir pil obat dan segelas air putih untuk
kakaknya,
"Tidak ada Tari,
kakak cuma ingin menikmati pagi ini..", jawab kakaknya menebar senyum
kepada adiknya itu,
"Hmmm, kalau begitu
kakak segera minum obatnya ya..,", sahut Tari sembari menyodorkan obat
yang dia bawa,
"Oh ya, bukankah
hari ini kau harus kembali ke barak?", tanya Letn.Vega,
"..iya kakak, hari
ini aku harus kembali kesana, tapi kalau melihat kakak seperti ini, aku. . .
"
"Sudahlah, kakak tak
apa.., kau prajurit hebat di kesatuanmu, jangan sampai karena kakakmu ini kau
di anggap lari dari tugas.., bagaimana dengan lukamu?", sela Letn.Vega,
"..hmm, masih
sedikit sakit, butuh waktu lama sepertinya untuk pulih kak..", jawab Tari
manja,
"Hmm mm",
Letn.Vega tersenyum kecil sambil membelai rambut adiknya itu, membuatnya
teringat akan masa-masa saat mereka kecil dahulu, dimana Tari selalu bersikap
manja terhadapnya.
Ruang Interogasi BPN..
10.15 wib
"Jim.. Jim..,
bangun..
" Hey, Jim..",
seru Elang setengah membentak,
" Emm..", Jim
mulai membuka matanya,
"Kriekkk"
Decit pintu berbunyi
menandakan ada yang masuk,
" Ini makanan
kalian, makanlah.., maaf aku tidak bisa membuka ikatan kalian, jadi makanlah
dengan menggunakan mulut saja..", kata seorang berpakaian serba hitam
meletakkan 2 buah piring berisi nasi putih yang hanya di taburi bawang goreng
dan sepertinya juga disiram air menandakan tak ada jatah minum buat Elang dan
Jim.
"terima
kasih..", sahut Jim pelan,
Prajurit tadi segera
bermaksud beranjak pergi,
".. Kau dari unit
mana?", tanya Elang kepada prajurit itu, prajurit itu menghentikan
langkahnya,
"Kau tau Aku tak
diizinkan bicara kepadamu.., mengapa kau menanyakan itu?", sahut prajurit
tersebut,
"Aku berani bertanya
karena kau berbeda dari mereka.., aku yakin kau baru berada disini..",
tambah Elang lagi,
" Apa
maksudmu..?", tanya prajurit itu membalikkan badannya,
" Lihat kami.., dari
semua orang yang masuk ruangan ini, tak ada seorangpun yang mengatakan MAAF,
kau mengatakannya saat memberi kami makanan aneh ini...", jelas Elang
sambil mengangkat wajahnya.
Tampaklah setiap sudut
wajahnya sudah lebam kebiru-biruan, darah kering membekas di sekitar hidung dan
bibirnya, serta luka robek di pelipis mata kirinya, begitu pula keadaan Jim tak
jauh beda dengan Elang.
" 2 malam sebelumnya
banyak yang datang menggunakan kami untuk latihan pukul, semua hanya
melontarkan makian dan semburan ludah.. Tidak ada yang mengatakan MAAF..",
jelas Elang pelan, suaranya juga sudah serak mungkin akibat keadaan fisiknya
yang semakin melemah.
" ... ",
sejenak prajurit itu memperhatikan Elang dan Jim,
"Yah kau benar, aku
baru sampai disini tadi pagi.., aku dari kepolisian dan ditarik ke badan ini..,
untuk hari ini aku ditugaskan mengawasi teroris seperti kalian hingga sore
nantim..", sahut prajurit itu yang ternyata berasal dari kepolisian.
"Teroris..?
Hmm..", Jim tersenyum lebar,
" Kenapa kau tertawa?",
tanya prajurit itu,
"Jadi mereka
mengatakan padamu bahwa kami teroris..? Hahahah lucu sekali..", Jim
terbahak,
"Apa kau ada melihat
tv 2 hari belakangan ini? Emm..Heru?", tanya Elang melihat bet nama
prajurit itu yang bertuliskan Heru,
" Tv? Emang ada yang
salah dengan sesuatu tv..?", Heru balik bertanya,
"Tidak ada.., kami
hanya heran.. Jika kami teroris, kenapa kami tidak terkenal di Tv..",
sahut Elang.
Heru sedikit terhenyak..
"Dan kami lebih
heran, kenapa bukan unit khusus kepolisian yang menangani kami.. seperti Densus
88", tambah Jim,
Heru makin terhenyak
seperti memikirkan sesuatu, ia mulai merasa apa yang dikatakan Elang dan Jim
ada benarnya.. Namun ia berusaha berfikir bahwa ini hanya obrolan semata.
"Aku rasa
pembicaraan kita berakhir disini..", kata Heru berbalik beranjak pergi,
"Yah tak apa, terima
kasih atas makanannya..", sahut Elang.
"Iya, sampai
nanti..", kata Heru sembari pergi keluar meninggalkan ruangan itu.
" Apa kau berusaha
mempengaruhinya?", tanya Jim,
"Tidak.., aku hanya
ingin mengobrol dengan orang-orang, karena aku yakin umur kita tak akan lama
lagi jika terus seperti ini...", ucap Elang menatap langit-langit gelap
ruangan itu.
" Hmm, aku rasa
begitu..", sahut Jim juga menengadahkan kepalanya ikut melihat
langit-langit ruangan itu.
"Maaf Jim...",
kata Elang pelan,
"Apa...?",
"Maaf..kau terlibat
akan hal ini.. Seharusnya kau tak disini dan seperti ini...", tambah
Elang..
"..tak apa teman..
Ini jauh lebih baik dari yang pernah aku alami..", jawab Jim,
"Maksudmu..?",
tanya Elang,
" Yah, lebih baik..,
dahulu hal seperti ini aku alami sendiri.., namun sekarang aku alami bersama
dengan sahabatku...", jelas Jim..
"Apa kau
bercanda..?", sahut Elang tersenyum,
"Hey, aku serius
mengatakannya...", kata Jim,
"Perkataanmu
membuatku ingin memakan makanan aneh ini..", sahut Elang sambil
mendekatkan kepalanya ke piring makanan mereka,
"Huhhh.., sepertinya
memang lebih baik kita makan makanan ini, hahahahah", jawab Jim tertawa,
"Hahahahah...",
Elang juga tertawa.
Dua sahabat itu kembali
tertawa bersama tak perduli dalam keadaan suka maupun duka yang sedang mereka
alami...
15.00 wib
Seseorang tampak sibuk
mengotak-atik sebuah komputer seperti mencari sesuatu,
Heru, petugas yang
ditugaskan mengawasi ruangan penahanan Elang dan Jim sibuk memperhatikan data-data
dilayar komputer dikantor tersebut, ia sedang mencari sesuatu tentang semua
yang berhubungan dengan Elang dan Jim, kejanggalan mulai menghampiri pikirannya
ketika memang tak ada data tentang terorisme yang ditangani oleh BPN, terlebih
lagi data tentang Elang dan Jim atau dua orang terduga teroris memang tak ada
sedikitpun, ia kembali teringat kata-kata Elang dan Jim,
"Sial.. Ini
kebenaran atau aku terpengaruh kata-kata mereka?", Gumam Heru dalam hati.
Tidak sampai disitu,
karena rasa penasarannya ia menghubungi seorang perwira Kopassus yang adalah
pamannya sendiri..
"Halo.. Paman, paman
ini Heru..", kata Heru dari ponselnya,
"Eh, kamu Heru..,
gimana kabarnya? Denger-denger kamu ditarik BPN ya?", sahut pamannya itu,
"Iya paman, paman
lagi dimana sekarang, apakah dikantor?", tanya Heru,
"Tidak, paman sedang
diluar, menunggu bibimu belanja Her..", jawab pamannya,
"Paman, Heru ingin
menanyakan sesuatu..", sela Heru,
"Tentang apa
Her..?",
"Paman, dikantor
paman ada desas-desus penangkapan dua orang atau semacamnya ya?", tanya
Heru gugup,
"Kenapa tanya itu
Her?", sahut pamannya,
"Enggak apa paman,
dikantor sini juga ramai desas-desus itu, Heru pingin tau saja?", jelas
Heru berusaha membuat pamannya tak curiga bahwa dia sedang mencari informasi.
"Oh, iya her,
kabarnya dua orang itu adalah pahlawan perang yang dijatuhkan...", kata
pamannya,
"Maksudnya gimana
paman?", Heru berusaha menyelidiki,
"Yah, kabarnya
mereka adalah mata-mata kita yang difitnah oleh suatu badan militer
kita..", jelas pamannya itu,
Heru terdiam,
"Eh, paman.. Nanti
Heru hubungi lagi ya, ada tugas paman, salam sama bibi ya paman..", kata
Heru buru-buru menyelesaikan pembicaraannya,
"Iya Heru, baik-baik
kerja
"Dah pamam",
"Tut"
Heru menutup teleponnya,
sekarang pikirannya
semakin kacau setelah mengetahui ini, ia tak tau harus melakukan apa.. Sebentar
ia merenung apa yang harus ia lakukan.
"Huhhh.. Sial, aku
benci hal seperti ini..", gumam Heru dalam hati, ia kemudian beranjak
bangkit buru-buru menuju ruang dimana Elang dan Jim dikurung.