Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Part 32 " Pertemuan untuk sebuah strategi "


Setelah peristiwa penangkapan Elang dan Jim sebelumnya oleh tim khusus arahan Jendral Irwan, perlahan semua ornag yang hadir segera membubarkan diri, satu-persatu berlalu hingga hanya tersisa Jendral Purnomo dan kolega-koleganya.

"..anda harus melakukan sesuatu akn hal ini Jendral.., ini tidak benar", kata Letn.Mahda,

"Jendral.., tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi..!", Sers.Tari terus mendesak,

" Ada sesuatu yang diketahui Elang, sesuatu yang mungkin membuat BPN dalam dalam bahaya..", jawab Jend.Purnomo,

"..aku tak mengerti Jendral..", sahut Sers.Tari,

"... Elang adalah mata-mata terbaik yang kita punya, dia sudah bertahun-tahun ditugaskan sebagai mata-mata, dari itu sudah sangat jelas kalau Elang mengetahui hampir seluruh informasi inteligen yang baik maupun buruk dari sistem pengamanan negara ini.., saya rasa Elang mengetahui suatu keburukan dari BPN yang dikepalai Jendral Irwan, sehingga mereka meminta izin panglima dengan cara apapun untuk menangkapnya, dan membuatnya tak bisa buka mulut tentang hal yang diketahuinya..", jelas Jendral Purnomo,

"...membuatnya agar tak buka mulut? Itu berarti mati..! Mereka akan membunuhnya..", sahut Lettu Adam,

"Apa..??? Jendral, bagaimana ini? Kita tak bisa membiarkannya..!", keluh Sers.Tari tak memperdulikan lukanya yang kembali berdarah karena terlalu banyak bergerak.

"..tidak semudah itu mereka membunuhnya.., ini otorisasi dari panglima.., mereka perlu suatu sabotase untuk melakukannya.., tapi itu bisa saja terjadi..", jelas Jend.Purnomo lagi.

Semua terdiam mendengar penjelasan Jendral Purnomo, mereka memikirkan menghawatirkan kemungkinan teburuk yang bisa saja terjadi pada Elang dan Jim.

Dikejauhan Jendral Purnomo melihat Letnan Vega mengayuh kursi rodanya meninggalkan tempat itu, tampak kekecewaan di raut wajah cantiknya.

 

sementara itu..

Van hitam yang membawa Elang dan Jim sampai di kantor pusat BPN (badan pengamanan negara), mereka langsung digiring masuk dan dibawa kesebuah ruangan interogasi yang remang-remang, hanya sebuah lampu khas ruang interogasi yang menyinari ruangan itu.

 

"Ukh...", Elang merasakan silau menusuk matanya ketika penutup kepalanya dibuka, begitu juga dengan Jim,

Mereka berdua masing-masing di dudukkan di kursi dengan sebuah meja diadapan mereka dengan tangan terikat.

"Ekhh.. Apa kau baik saja..?", tanya Jim,

"..aku baik saja.., ukhhh.. Sepertinya kita dalam masalah..", sahut Elang,

 

"Bukk..bukkk!"

Sebuah pukulan mendarat di perut mereka masing-masing,

"Akhhhh...", erang mereka menerima pukulan telak itu, ternyata di kanan kiri mereka terdapat dua orang prajurit yang mengenakan penutup wajah menjaga mereka.

"Krekk..."

Terdengar decit pintu beserta suara langkah menandakan ada orang yang masuk ke ruangan itu.

"Lama tak berjumpa.. Elang...", Jendral Irwan muncul, Elang segera mengenali Jendral itu setelah melihat wajah Jendral Irwan yang tersorot cahaya Lampu,

"Kau...", gumam Elang menatap tajam,

"..siapa dia..?", tanya Jim,

"Heheheh, kau membawa seorang teman ya? Hey, betapa bodohnya aku, kau sudah lama ditugaskan, tak heran kau mempunyai teman..", potong Jend.Irwan tersenyum sinis,

"Baiklah, kau mungkin sudah tau kenapa aku membawamu kemari kan? Hahaha, aku hanya tak ingin kau banyak bicara, kau mengetahui semua kejelekan kami, heheh, sebenarnya aku sangat mengaharapkanmu mati saat perang itu berlangsung.. Tapi memang kau prajurit hebat yang pernah dimiliki negara ini, aku bisa melihat itu..", oceh Jend.Irwan.

".. Aku sangat ingin menghabisimu Jendral...", sahut Elang,

"..aku mengerti sekarang.. Ini tentang masalah Agen hitam bukan..", kata Jim menyela,

"Tidak Jim, ini lebih dari itu.. Badan yang ia pimpin menyabotase segala misi negara, mereka menjual informasi ketahanan negara kita ke pihak luar, menghancurkan negara ini dari segi ekonomi yang bisa berimbas langsung pada seluruh aspek..", jelas Elang,

"Lalu apa untungnya bagi mereka..", tanya Jim lagi,

"Hey bocah asing.., untung??? Tidak ada yang untung dalam hal ini..! Justru aku membuat negara ini agar tetap aman, mereka di luar sana tak akan mengganggu negara ini selama kita bekerja sama dengan mereka, meskipun mengorbankan informasi penting.. Mereka hanya ingin mengetahui kegiatan militer kita membahayakan mereka atau tidak, jika ini berimbas pada segi ekonomi yang mereka lakukan, itu hal yang pantas demi keamanan negara ini!", sahut Jend.Irwan,

"Bagiku itu terdengar seperti hewan peliharaan..", timpal Jim,

"Apa..? Hahahahahaha, kalian lah hewan piaraan itu, kalian ditugaskan setelah itu kami singkirkan.., hahahah", balas Jend.Irwan terbahak.

"..kau bilang demi keamanan negara.., kau meremehkan negaramu sendiri.., bagaimana bisa kau menjadi seorang Jendral.., semua visi mu penuh kepalsuan..!", sela Elang,

"Kepalsuan?? Kau bilan kepalsuan?? Negara ini memang penuh kepalsuan..! Semuanya palsu.., tidak ada yang benar-benar nyata..!, sudahlah, kita tak perlu berpanjang lebar lagi.., heheheh, nikmati sisa-sisa nafas kalian.., semoga kita bertemu lagi..", kata Jend.Irwan beranjak pergi,

"Yah, kita segera bertemu lagi.. Aku pastikan itu...", sahut Elang,

"Yah, yah.. Apapun yang kau katakan, sampai jumpa lagi.." Balas Jend.Irwan pergi keluar dari ruangan itu di ikuti kedua penjaga yang sedari tadi berdiri dikanan-kiri Elang dan Jim.

 

"Sekarang bagaimana..?", tanya Jim.

"yang jelas kita harus segera keluar dari sini..", jawab Elang,

"Bagaimana caranya..?", tanya Jim lagi,

" Aku tidak tau ...", sahut Elang pelan memejamkan matanya, berusaha memikirkan sesuatu yang bisa membuat mereka keluar dari tempat ini.

 

48 jam kemudian, Markas pusat...

 

"Panglima berikan saya izin untuk melihat proses pemeriksaan agen-agen itu di BPN..", cetus Jend.Purnomo,

"Maaf Jendral, segala sesuatunya saya serahkan kepada Jendral Irwan.., jika kau ingin hal itu, minta lah langsung kepadanya.., saya sudah cukup pusing menghadapi awak media dari berbagai negara hari ini..", sahut Pang.Rokhim bersandar di kursi meja kerjanya.

Memang benar, semenjak perang Indonesia-Thailand resmi berakhir, sekarang giliran awak media yang berperang untuk mendapatkan segala sesuatu tentang peperangan tersebut, dan untuk Thailand sendiri sementara masih dalam proses pemulihan, dan pemerintahannya dijalankan oleh mentri-mentri mereka tanpa Perdana Menteri mengingat Panglima dan PM mereka masih dalam proses hukum internasional, sehingga negara kecil itu belum stabil.

 

"Siap pak..", kata Jend.Purnomo memberi hormat dan beranjak meninggalkan ruang Panglima Rokhim,

Jendral Purnomo tampak berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong kantor yang ramai dengan orang berseragam hijau itu, dan ketika ia sampai di lorong bagian belakang yang tampak lengang..

"..Jendral....",

"Hmm??", Jendral Purnomo terhenti ketika sepertinya ia mendengar ada seseorang yang memanggilnya,

"Disini..",

Jendral Purnomo menyusuri sumber suara tersebut,

"Mahda..? Kau kah itu?", kata Jend.Purnomo setengah berbisik ketika melihat seseorang tak beratribut militer di sudut lorong hanya memakai jeans dan jaket hoodie berwarna abu-abu.

"Ya, ini saya Jendral..", sahut Mahda pelan sembari membuka kerudung kepalanya,

"Sedang apa kau disini? Mengapa kau seperti sembunyi-sembunyi?", tanya Jend.Purnomo,

"..saya sedang libur tugas Jendral, dan jika saya terang-terangan menemui anda pasti jajaran Panglima akan menaruh curiga mengingat kejadian tempo hari..", jawab Mahda,

"Benar juga, tapi ada apa?", tanya Jend.Purnomo lagi,

"..ada yang ingin saya bicarakan.., ini tentang Elang dan temannya..", kata Mahda serius,

"Hmm...., jangan disini, temui saya nanti malam di depan Stadion.., kita bicarakan disana..", jawab Jend.Purnomo,

"Baik.., oh iya, Adam bersama saya nanti malam.., izin Jendral..", sahut Mahda memberi Hormat kemudian buru-buru pergi.

Jendral Purnomo pun kembali berjalan seakan tak terjadi apa-apa karena tiba-tiba saja setelah percakapannya dengan Mahda berakhir ada seorang staff kantor muncul juga melewati lorong itu.

 

20.15 wib, Stadion Gelora Bung Karno..

 

Tak jauh dari pintu masuk ke halaman stadion tampak 2 orang memakai jaket dan topi hitam sedang duduk bersama, mereka Lettu Adam dan Letnan Mahda..

"Mengapa Jendral ingin bertemu disini?", tanya Adam,

"..entahlah, tapi sepertinya disini memang tempat yang aman, jauh dari pusat, jauh dari aktifitas militer..", jawab Mahda sekenanya.

Sesekali beberapa orang yang sedang berjalan-jalan di sekitar Stadion melewati mereka, bulan tampak bertengger terang di langit ditemani para bintang membuat malam ini cerah bak menghibur Mahda dan Adam yang sebelumnya berjibaku dengan peluru-peluru berterbangan.

"Hey, sudah lama kalian..?"

Seseorang mendekati mereka,

"Belum Jendral..", sahut Mahda langsung mengenalinya meskipun Jendral Purnomo memakai kemeja putih dan celana kain hitan serta sepatu sport putih, beda sekali dengan penampilannya saat sedang di kantor.

"Langsung saja.., apa yang hendak kalian bicarakan..?", tanya Jend.Purnomo duduk disebelah mereka,

"Begini ndan.. Saat kejadian 2 hari yang lalu, salah satu anak buah saya berinisiatif mengikuti kemana Van hitam itu pergi.., dan ternyata hanya berhenti di kantor pusat BPN, tidak diserahkan ke Polisi militer atau semacamnya...", Adam membuka pembicaraan,

"Benarkah??? Kalau begitu, ini benar-benar suatu kejanggalan..!", tanggap Jend.Purnomo sembari memanggil seorang penjual coffe cup keliling yang lewat didepannya, kemudian Jendral mengambil tiga Cup dan memberikan selebaran Uang, penjual itu langsung pergi.

"Apa ada informasi lain yang kalian dapatkan?", Tanya Jend.Purnomo sembaro memberikan cup coffee ke Adam dan Mahda,

"Terima kasih ndan.., ada ndan.. Kantor BPN hanya 2 lantai dan hanya dijaga 4 orang prajurit reguler...", jawab Adam,

"Maksudmu.. kalian berencana menyerang kantor BPN?!? Itu sangat bersiko, kalian bisa dicopot dari militer.., jangan lakukan hal bodoh..!", sahut Jend.Purnomo mengingatkan,

"Tidak ndan, kami hanya ingin membebaskan Elang dan temannya dari sana..", tanggap Mahda sesekali meminum cup coffee yang dipegangnya.

"Hanya itu? Setelah kalian berhasil lalu apa..? Kalian akan ditangkap juga setelahnya, dan dituduh membantu tawanan kabur..", sahut Jend.Purnomo,

"Tidak hanya itu ndan.., kami akan menyabotase ... ... ... Dan ... ... ... Sehingga.... ... ... ", jelas Mahda namun kata-katanya tak seluruhnya terdengar karena ada sebuah motor 2 tak mini lewat dekat mereka,

"..hmm.., lalu apa kalian serius ingin melakukan ini?", tanya Jend.Purnomo dengan mimik serius,

"..siap ndan..!", sahut Mahda dan Adam serempak seakan ingin memperlihatkan tekad mereka demi kebenaran.

"Baik.., lusa pukul 1 pagi tepat, kalian ambil persenjataan kalian di sebuah kotak tak jauh dari Markas, saya yang akan mempersiapkan itu, selanjutnya kalian bergeraklah dengan hati-hati.. Tuhan bersama kalian...", jelas Jend.Purnomo sembari bangkit meninggalkan mereka,

"SIAP NDAN...!!!"