Part 31 "Awal rencana yang tertunda, Jendral Irwan"
Baru saja Elang dan Jim memijakkan kaki di bumi pertiwi,
"Jim.. Ini tidak
bagus!" Gumam Elang,
"Apa
maksudmu?", Jim bingung tiba-tiba sudah ada sejumlah pasukan khusus yang
berlari mendekati mereka dan melucuti senjata mereka, serta menutupi kepala
mereka berdua dengan kain hitam,
Semua yang ada pada saat
itu jadi bertanya-tanya, termasuk Jendral Purnomo yang segera berlari mendekat
namun langsun dihalangi oleh salah satu pasukan khusus yang berseragam hitam
itu.
"Hey..saya
perintahkan kalian untuk mundur dari mereka..!", seru Jend.Purnomo,
"Maaf pak.., ini
perintah dari Jendral Irwan atas otorisasi langsung Panglima..", sahut
salah seorang yang menghalangi Jendral Purnomo, sementara pasukan lainnya tadi
buru-buru membawa Elang dan Jim ke sebuah Van hitam yang sudah menunggu,
"Hey..hey! Mereka
rekan kita! Hentikan tindakan kalian..!", teriak Lettu Adam mendekat namun
juga dihalangi oleh salah sejumlah pasukan khusus itu,
"Apa-apaan ini
Jendral???", Letnan Mahda mendekati Jendral Purnomo, Jend.Purnomo
menggelaengkan kepalanya, kemudian ia segera berlari mendekat ke Panglima
Rokhim sementara Lettu Adam dan Letnan Mahda tampak adu mulut dan saling dorong
dengan beberapa pasukan khusus yang menghalangi mereka mendekati Elang dan Jim
yang dibawa dengan kepala tertutup kain hitam dan tangan terikat.
"Panglima.., ada apa
ini??? Mengapa anda melakukan ini???", Jend.Purnomo bertanya-tanya,
"Menurut Jendral
Irwan, agen kita itu terlibat aksi penjatuhan pemerintahan
"Apa!?!? Itu tidak
mungkin..! Saya ingin lihat bukti-buktinya..!", sahut Jend.Purnomo sama
sekali tak bisa percaya tuduhan semacam itu,
"Maaf Jendral...,
semua itu saya serahkan kepada kepala BPN jendral Irwan untuk
mengurusnya..", jelas Pang.Rokhim.
"Sialan kau
Irwan..!", gumam Jend.Rokhim sambil melihat sekeliling berusaha menemukan
Jendral Irwan.
Sementara itu Letnan Vega
dan Sers.Tari tampak terkejut dan tak mengerti dengan apa yang terjadi,
"Kakak, ada apa
ini??? Apa yang sedang terjadi disini?", tanya Sers,Tari kepada kakaknya,
ia berharap kakaknya yang bertugas di komando pusat mengetahui apa yang sedang
berlangsung saat ini,
"Kakak tidak tau..,
sungguh kakak tak mengerti akan hal ini", jawab kakaknya itu,
"Jendral..!",
Sers.Tari bermaksud memanggil Jendral Purnomo meminta penjelasan, namun
Jend.Purnomo tak mendengarnya.
"Kau..!", gumam
Jend.Purnomo melihat sosok Jendral Irwan berdiri disebelah Van hitam yang
digunakan pasukan khusus itu untuk membawa Elang dan Jim, segera Jend.Purnomo
berlari ke arah Jend.Irwan,
"Mahda..!",
Jend.Purnomo memanggil Letnan Mahda, Letnan Mahda segera mengerti dan ikut
berlari menuju Van hitam itu diikuti Lettu Adam,
Sesaat kemudian setelah
berhasil membawa masuk Elang dan Jim sejumlah pasukan itu menghalangi
Jend.Purnomo beserta Letnan-Letnannya itu,
"Hey..! Kami mohon,
berhenti melakukan ini..!", ucap Letnan Mahda mulai mengarahkan
senjatanya,
" !!!"
Keadaan semakin memanas
karena pasukan khusus tersebut juga mengarahkan senjatanya,
"..Letnan..!",
seru Lettu Adam bergabung dengan Letnan Mahda ikut mengarahkan senjatanya,
melihat Lettu Adam mengangkat senjata..para prajurit dari tim Gultor pimpinan
Lettu Adam segera berduyun-duyun mendekat ke komandannya, Lettu Adam, mereka
juga mengarahkan senjatanya...
"Letnan.., hentikan
ini, kami hanya menjalankan tugas!", seru salah satu prajurit khusus itu
kepada Lettu Adam dan Letnan Mahda,
" Tugas macam apa
ini!? Mereka rekan kita!", sahut Letnan Mahda,
"..kami tidak tau
itu! Dan Sekali lagi, kami hanya menjalankan tugas!", jawab prajurit
khusus itu.
Keadaan semakin tegang,
mereka saling mengarahkan senjata, bersiap-siap akan tembakan.. Seperti saling
menunggu siapa yang terlebih dahulu melepaskan tembakan.
"Semuanya..
HENTIKAN!",
Semua terhenyak ketika
Panglima Rokhim berteriak lantang ke arah mereka,
"Hentikan, atau kalian
dianggap pembelot!", tambah Pang.Rokhim lagi,
"Jendral..??",
Letnan Mahda melirik Jendral Purnomo diikuti Lettu Adam beserta pasukannya,
meminta arahan dan siap bila diperintahkan untuk terus maju.
Jendral Purnomo menarik
nafas berat..
"..Mahda.., dan semuanya..
Hentikan... Kita harus mengalah..", ucap Jend.Purnomo dengan wajah
tertunduk,
"Tapi
Jendral..?", sahut Letn.Mahda,
"Kalian dengar kata
Panglima.., saya tak ingin kalian dianggap sebagai Pembelot, saya tau kalian
tidak diajarkan untuk kalah., tapi ini bukan kalah, kita hanya mengalah demi
kehormatan, dan ini hanya sementara..", ucap Jend.Purnomo berusaha
melunakkan Letnan-Letnan mudanya itu.
"aku rasa kau
mengerti Purnomo, ini rencanaku yang tertunda..", seru Jend.Irwan
tersenyum, Jend.Purnomo hanya menatap tajam rekan Lamanya itu yang jauh
sebelumnya memang berniat menyingkirkan Elang.
Tak lama satu-persatu
dari mereka menurunkan senjatanya, meskipun tampak wajah mereka murung seakan
tak bisa diam menerima kejanggalan yang terjadi saat ini dimana rekan mereka
yang mereka tau juga bagian dari Tentara Nasional Indonesia yang berperan besar
dalam peperangan yang baru saja bergejolak.
Dan pasukan khusus itu
mundur perlahan, menaiki Van hitam yang sedari tadi menunggu, sementara
Jend.Purnomo melihat Jend.Irwan tersenyum sinis kepadanya dan segera naik ke
Van itu dan berlalu...
"Jendral..! Apa yang
mereka lakukan??? Katakan padaku..!?!", Sers.Tari telah sampai dan
menarik-narik kerah Jendral Purnomo, berharap mendapatkan jawaban tentang apa
yang baru saja terjadi, namun Jend.Purnomo hanya diam, begitu juga dengan Mahda
dan Adam, mereka tertunduk diam.