Part 30 "Kita Sampai..."
Kibaran bendera berkibar-kibar tertiup angin, seakan melambai-lambai menyambut kedatangan sejumlah helikopter dikejauhan yang membawa Lettu Adam berserta lainnya.
Tak jauh dari situ tampak
barisan Panglima Rokhim dan jajarannya serta sejumlah tim medis yang sengaja
dipersiapkan.
"Deg...deg...deg..deg.."
"Mereka
tiba...", gumam Panglima Rokhim menyaksikan 6 buah helikopter hendak
melakukan pendaratan secara bergilir,
Tim penyambut
bersiap-siap didampingi tim medis begitu heli pertama mendarat..
Tampak se orang prajurit
turun dengan memapah seseorang, yah heli pertama membawa Panglima Katsuun
dengan tangan terikat, tim penyambut segera mengambil alih Panglima Katsuun.
"Itu tawanan
mereka.., bukan dia atau adikmu..", kata Jend.Purnomo yang berada
dibarisan ujung, sepertinya ia baru tiba dan tampak tangannya memegang sebuah
kursi roda,
"Yah.. Saya
tau..", sahut Letn.Vega yang ternyata berada di kursi roda itu.
Dikejauhan Panglima
Rokhim melirik Letnan Vega dan berbalik memberi hormat, segera Letnan Vega
membalasnya meskipun tak bangkit berdiri. Panglima itu merasa harus memberi
hormat kepada seorang Letnan jenius yang berani mengambil tindakan cepat demi
nusa bangsa meskipun membahayakan dirinya sendiri.
"Deg..deg..deg.."
Heli kedua mendarat
pelan..
Sersan Tari yang turun
bersama seorang prajurit langsung disambut tim medis..
"Shhh..,
akhirnya...", gumam Sers.Tari menarik nafas sambil berjalan pelan tak
memperdulikan beberapa tim medis yang sibuk memeriksa lukanya,
" Kakak..?
Kakak..!", seru Sers.Tari ketika melihat sosok wanita yang duduk disebuah
kursi roda, ia segera berlari meskipun tim medis mencegahnya untuk bergerak
agresif..
"Itukah
adikmu..?", tanya Jend.Purnomo,
"Iya.. Itu dia
adikku jendral...", jawab Letn.Vega,
"..dia banyak
berubah.., aku tak mengenalinya lagi..", sahut Jend.Purnomo,
"Huh..huh, pak izin
untuk menemui Letnan Vega kakak saya..", kata Sers.Tari memberi hormat
kepada Jendral Purnomo dengan terengah-engah,
"...diterima Sersan,
izin tak terbatas..", sahut Jend.Purnomo tersenyum membalas gurauan Sersan
Tari,
"Terima kasih
Jendral baik hati...", sambung Sers.Tari sembari menurunkan tangannya
membalas senyum Jendral Purnomo,
"Kakak
kenapa?", tanya Sersan Tari melihat kakaknya terduduk disebuah kursi roda,
ia segera menunduk dekat pangkuan kakaknya itu,
"Sudahlah aku baik
saja.., kau juga ceroboh, bagaimana bisa musuh mampu menembakmu..?",
Letn.Vega balik bertanya,
"Oh ini.., cuma luka
gores kakak..",
"Aww..aduh..",
Sers,Tari terhenyak ketika Tim medis memeriksa lukanya ditengah-tengah
pertemuannya dengan kakaknya,
"..dasar kau ini,
selalu menutup-nutupi apa saja yang terjadi padamu..", kata Letn.Vega
memarahi adiknya itu,
"Hmm, sebaiknya saya
segera bergabung dengan panglima, Tari.. Jaga kakakmu..", potong
Jend.Purnomo sambil berlalu pergi,
"Siap
Jendral..!", sahut Sers.Tari.
"Sudah..sudah, saya
baik saja.," kata Sers.Tari kepada Tim medis yang sibuk merawat lukanya,
"Baik Sersan..,
setelah ini saya harap anda segera ke bagian medis untuk perawatan yang lebih
intensif.." Sahut salah seorang tim medis itu, tak lama ia berlalu pergi.
Sementara itu Heli ke
tiga dan ke empat telah mendarat dan menurunkan prajurit-prajurit Lettu Adam,
dan Heli kelima yang membawa Lettu Adam dan Letnan Mahda akhirnya mendarat..
Begitu turun dari heli,
Letnan Mahda dan Lettu Adam langsung berlari ke arah Panglima Rokhim dan
memberi hormat..
"Lapor Panglima..,
kami melapor telah kembali ke bumi pertiwi..", seru Lettu Adam dan Letnan
Mahda bersama-sama,
"Diterima... kerja
bagus... Garuda bangga pada kalian, kalian akan mendapatkan penghargaan setelah
ini..", sahut Panglima,
"Tapi
panglima...", potong Lettu Adam,
"
"..izin Panglima,
sebaiknya penghargaan diberikan kepada rekan-rekan seperjuangan saya yang gugur
disana.., mereka yang mengorbankan dirinya untuk tugas negara kita.., merah
putih
Seketika semua orang
disana tertegun mendengar perkataan Letnan muda itu.. Angin berhembus semilir..
Sejenak Panglima
menundukkan kepalanya, ia tak pernah menyangka bahwa ia memiliki
prajurit-prajurit terbaik seperti para Letnan-Letnannya ini.
"Diterima
Letnan..", balas Panglima Rokhim,
"Baik..!",
sahut Lettu Adam segera menurunkan tangannya dan berbalik diikuti Letnan Mahda
bergabung dengan anak buahnya yang sampai lebih dulu,
"Kita sudah
melakukan hal yang benar hari ini...", kata Letnan Mahda,
"Yah, dan kita akan
tetap begitu..", sahut Lettu Adam,
"Yah, tentu
saja..", balas Letn.Mahda,
"Oh ya, dimana
mereka berdua?", tanya Lett.Adam,
"..itu
disana..", tunjuk Letn.Mahda ke sebuah heli terakhir yang berada agak jauh
dari rombongan.
"Kakak.. Aku ingin
mengenalkan seseorang kepada kakak..", kata Sers.Tari,
"Seseorang??
Maksudmu..?", sahut Letn.Vega,
"Seorang pria
kakak.., aku menyukainya..", kata Sers.Tari menjelaskan,
"Benarkah?? Kenalkan
pada kakakmu ini pria yang berhasil mencuri hatimu..", sahut Letn.Vega
tersenyum sambil membelai rambut adiknya itu.
Sementara itu...
"Sebentar lagi kita
sampai..", gumam Jim,
"Tak ku sangka akan
banyak yang menyambut dirimu..", sambung Jim lagi,
"Mereka bukan
menyambutku, tapi kita.. Kita dan yang lainnya..", sahut Elang acuh,
"Hey, bahkan kau tak
ceria sedikitpun saat kembali ke tanah airmu..", seru Jim melihat Elang
yang acuh,
"Tidakkah kau senang
telah kembali?", tanya Jim,
"..hmm, aku tak tau
Jim.. Aku bahkan tak bisa mengetahui jika aku sedang senang..", jawab
Elang,
"..bukankah harusnya
aku yang seperti itu? Lihat aku.. Aku orang asing disini..", balas Jim,
"Kau bukan orang
asing.., kau sahabatku..", sahut Elang,
"Kalau begitu
janganlah bersikap seperti itu!", keluh Jim memalingkan wajahnya dari
Elang,
Keadaan di heli itu
berubah hening, sesekali kedua pilot berusaha melirik kebelakang melihat apa
yang terjadi dengan kedua penumpangnya.
"Maafkan aku
Jim..", kata Elang sepertinya memahami perasaan sahabatnya itu,
"aku hanya belum
siap untuk kembali disini..", gumam Elang,
"Tak adakah
seseorang yang menunggumu disini?", tanya Jim,
"Hmm... Aku tak tau,
jauh sebelum semua ini ada seorang wanita yang aku kenal.. Tapi itu sudah lama,
aku tak tau apakah ia masih mengingatku.., aku merasa asing", sahut Elang,
"Setidaknya ada aku
disini.., aku juga asing disini", sahut Jim,
"Yah, itu lebih
baik..", gumam Elang,
"Ayo...", seru
Jim karena Heli mereka telah mendarat.
"Kita
sampai...", gumam Elang ketika kakinya menapak di bumi pertiwi..