Part 29 " Akhir??? "
"deg..deg..deg"
Dua heli pertama mendarat
di tanda yang diberikan Lettu Adam, tampak semua tengah bersiap..
Panglima Katsuun
buru-buru dipapah seorang prajurit bawahan Lettu Adam dibawa naik ke salah satu
helikopter,
"..sekarang
pergilah, aku akan ikut heli selanjutnya..", kata Elang,
"..terima kasih,
tapi berjanjilah kita akan bertemu kembali..", sahut Sers.Tari yang
sekarang di papah oleh dua orang prajurit Lettu Adam,
"Yah, aku
janji..", jawab Elang tersenyum kecil melepas Sers.Tari kepada 2 orang
prajurit yang hendak memapahnya ke helikopter,
"Heh..heh..
Kelihatannya dia menyukaimu...", kata Jim pelan menghampiri Elang,
"..apa?", gumam
Elang,
"..atau mungkin kau
juga menyukainya..?", ucap Jim lagi,
"..hmm, sudahlah...
Ayo kita bersiap untuk Heli berikutnya..", sahut Elang,
"Huhhhh...",
Jim menarik nafas panjang,
"Kenapa jim?
"..tidak ada yang
salah teman.., aku hanya merasa sedikit aneh akan pulang ke kampung halaman
orang..", ungkap Jim sambil memandangi dua heli tadi yang sudah mengudara
kembali,
" Sepertinya kau
harus merubah caramu melihat sesuatu..", sahut Elang,
"Maksudmu?",
Jim menanggapi,
"Ubah pandanganmu
menjadi seperti : kau akan pulang ke kampung halaman saudara laki-lakimu, yang
berarti itu juga kampung halamanmu..", kata Elang,
Jim hanya tersenyum
mendengar ucapan sahabatnya itu sambil di iringi deru heli-heli selanjutnya
yang sudah mendarat,
"Ayo..", seru
Elang dan kemudian diikuti Jim dan yang lainnya menaiki Heli-heli tim evakuasi
itu secara terpisah..
"Deg..deg..deg..."
Tak lama heli-heli yang
membawa mereka telah membumbung tinggi di angkasa
"Tang teng tang teng...!"
"Sial...!",
Lettu Adam menyadari Heli-heli mereka ditembaki oleh pasukan musuh yang telah
menyadari proses evakuasi mereka tadi, bila terlambat sebentar saja mungkin
heli-heli ini tak ada yang bisa mengudara kembali,
"Bagaimana
ini..??", seorang pilot heli yang ditumpangi Lettu Adam bertanya,
"Beritahu pada
semuanya untuk menghindar..! Hindari pertempuran..! Kita hanya harus pulang
kali ini..", perintah Lettu Adam,
"Baik..!",
sahut pilot itu,
"Huh.. Bahkan mereka
tak mengizinkan kita pergi dari sini..", kata Jim pelan mengetahui heli
yang membawanya juga ditembaki dari bawah oleh pasukan musuh yang menyergap
pasukan Kapten Joko dan Kapten Hari sebelumnya,
Elang hanya diam
memperhatikan keadaan, sesekali matanya melirik memikirkan sesuatu, sepertinya sebuah
rencana kecil,
"Jim, suruh pilot
kita untuk terbang tepat diatas mereka disana..", kata Elang,
"Hey, itu terlalu
berbahaya.., apa yang hendak kau lakukan sekarang?", sahut Jim,
"Sudah lakukan
saja..!", bentak Elang sambil mengeluarkan sesuatu dari ranselnya,
"Pilot.., kau dengar
dia tadi, jadi lakukanlah..", pinta Jim ke pilot heli yang mereka
tumpangi,
"Baik..", sahut
pilot itu,
Kemudian Heli mereka
keluar dari formasi berputar kembali menuju pasukan musuh tersebut.
"Apa yang mereka
lakukan..?", gumam Lettu Adam melihat itu,
"Sudahlah.., biarkan
saja.. Kau tak akan perlu menghawatirkan apa yang mereka berdua lakukan jika
kau pernah melihat mereka bersama..", sahut Letnan Mahda,
"Maksudmu?",
tanya Lettu Adam,
"Hmm.. Lain kali kau
harus bertempur bersama dengan mereka.., nanti juga kau akan mengerti..",
jelas Letnan Mahda yang sudah mengerti pasti ada saja aksi berbahaya Elang dan
Jim jika mereka sudah bersama.
"Teng..teng..teng..teng..!!!"
Heli Elang dan Jim sudah
ditembaki oleh pasukan musuh dibawah mereka,
"Teng..teng..teng..teng!!!"
Heli mereka sudah terlalu
banyak menahan peluru-peluru, tampak lubang-lubang kecil menganga di sekeliling
badan heli.
"Jim.. Lemparkan ini
ke mereka di bawah..!", seru Elang memberikan Jim beberapa buah peledak
C-4 dan beberapa Claymore yang terikat menjadi satu seperti gumpalan,
"Ini.. Bukannya
curian Letnan itu..", sahut Jim mengingat sebelumnya Letnan Mahda mencuri
peledak itu dari markas musuh yang mereka datangi,
"Sudah.., lemparkan
saja..!" Seru Elang yang tampak menyiapkan senjatanya,
"Pilot.. Segera Bawa
kita menjauh dari sini..!" Teriak Jim yang sudah paham akan apa yang
hendak dilakukan sahabatnya itu dan sedgera ia melempar gumpalan bom itu,
"Ini untuk mereka
yang gugur...", gumam Elang melepaskan tembakannya ke gumpalan peledak
yang dilemparkan Jim tadi,
"Tash..!"
"DUAAAAAARRRRRMMMMPPPPP..!!!"
Ledakan besar terjadi
kurang dari 10 meter di atas kepala pasukan musuh dibawah mereka,
"ssshhhhh! Kau
selalu melakukan hal yang mendebarkan..!", seru Jim berpegangan erat karena
Heli yang mereka tumpangi juga terkena dorongan udara imbas dari ledakan
tersebut, gumpalan api tampak menyala diselubungi kepulan asap hitam.
Dengan bersusah payah
akhirnya pilot heli mereka berhasil menghindari tekanan udara yang tercipta
karena ledakan besar itu,
"Hmm... Aku rasa aku
menyukai mereka berdua..", kata Lettu Adam memperhatikan dari pintu heli
yang ia tumpangi,
"Heheh.. Yah, mereka
punya cara tersendiri untuk membuat seseorang mengikuti mereka berdua, atau
setidaknya bertempur bersama mereka..", sahut Letnan Mahda tersenyum.
Sebuah kawah tercipta
karena ledakan tadi, di hiasi oleh potongan-potongan tubuh manusia.., sadis
memang, namun tak pernah bisa ditemukan alasan kenapa dalam setiap peperangan
kekejaman ada di peringkat teratas, tak bisa dipungkiri hukum rimba dalam
perang yang membuatnya kekal.
Sementara itu canda tawa
terlihat diantara Elang dan Jim, mereka tertawa bersama, saling merangkul dan
terbahak-bahak, tidak ada yang lucu, tidak ada yang dibicarakan, dan tidak ada
yang dipikirkan oleh mereka berdua, mereka hanya melakukan apa yang seharusnya
dua orang sahabat lakukan, yaitu saling terhubung dan berbagi emosi dengan
sendirinya.
Sementara Letnan Mahda
dan Lettu Adam merenung untuk rekan-rekan mereka yang gugur kali ini, berkali-kali
mereka mencoba merelakan semua rekan mereka yang telah tiada, namun kenyataan
bahwa mereka juga menusia membuat mereka tak bisa menyembunyikan rasa
kehilangan, amarah, dan benci yang bercampur aduk didalam hati mereka
masing-masing.
Markas pusat,
Berita kembalinya Tim
Lettu Adam dan yang lainnya telah tersebar, tampak kesibukan sudah berlangsung
sedari tadi di lapangan areal markas tersebut, sirene berbunyi tanda pasukan
terakhir telah kembali dan peperangan telah usai.
Jauh didalam sebuah
ruangan, PM Ghoydee tampak tersenyum melihat ke arah luar dari jendelanya,
sepertinya ia senang semua ini akan segera berakhir.
RS.TNI AL Dr.Mintoharjo,
"Bagaimana
keadaanmu? Apa kau bisa bergerak Letnan?", tanya Jend.Purnomo,
"Hmm, sekitar 5 jam
yang lalu dokter berupaya mengelurkan peluru di dada kiri saya.. Setidaknya
saya harus menggunakan kursi roda itu pak..", jawab Letn.Vega melirik ke
sebuah kursi roda lengkap dengan infus yang menggantung disebelah tempatnya
berbaring ,
"Baiklah, tak apa..
Karena saya hendak menepati janji saya kepadamu Letnan..", ungkap
Jend.Purnomo,
Letnan Vega tersenyum
lebar mendengarnya, ia buru-buru menekan tombol disebelah kasurnya untuk
memanggil perawat.
"Selain itu mereka
juga bersama adikmu, Tari..", sambung Jend.Purnomo,
"Tari? Apakah ia
baik-baik saja?", tanya Letnan Vega,
"Yah, dia hanya
sedikit terluka., tapi ia baik saja.., ayo..kau harus menyambutnya kali ini,
tak semestinya loyalitasmu menutupi hubungan antara kau dan adikmu", jelas
Jend.Purnomo yang memahami tidak semua orang di jajaran Markas pusat mengetahui
bahwa Letnan Vega dan Sers.Tari adalah kakak beradik, hanya beberapa mereka
yang dekat dengan keduanya yang mengetahuinya.