Part 28 " Evakuasi "
Asap hitam membumbung perlahan dari sebuah puing-puing helikopter yang masih tampak berbentuk meskipun terjatuh dengan keras, beberapa meter dari situ tampak Panglima Katsuun tergeletak kesakitan, sepertinya ia mengalami luka dalam, tak jauh dari tempatnya dua orang anak buahnya yang bersamanya tampak terbaring tak bergerak.
"Itu.., sebelah
"..amankan dan
periksa lokasi dan situasi..!", Lettu Adam memberi perintah, segera saja
ke delapan anak buahnya bergerak cepat menyusuri sekitar taman tempat dimana
heli itu jatuh, sementara Jim terlihat berlari tergesa-gesa mendekati heli
tersevut,
"Hei..,
waspadalah..!", seru Letn.Mahda mengingatkan, namun Jim terus berlari
kemudian tak lama ia berjalan pelan dan mengokang senjatanya,
"klakk.."
"Hmm..., akhirnya..
Kami mendapatkanmu pak tua...", gumam Jim mengarahkan senjatanya ke
Pang.Katsuun yang tergeletak tak berdaya.
Di lain sisi..
Terlihat seseorang tengah
menggendong rekannya dan berjalan cepat menyusuri badan jalan
"kita harus kesana
dan bergabung dengan yang lainnya..", kata Elang menunjuk ke arah kepulan
asap kecil,
"..sebaiknya kita
beristirahat dahulu, tak perlu terlalu buru-buru, dan sepertinya kau lelah
karena sedari tadi menggendongku", kata Tari yang berada di punggung
Elang,
"Sudahlah,, terlalu
beresiko jika kita berdiam disini, kita harus cepat..", sahut Elang yang
terus berjalan menggendong Sers.Tari di belakangnya.
"Deg..deg..deg...deg"
"Tim evakuasi kepada
letnan Adam, tim Evakuasi kepada Letnan adam, ganti..",
Radio tim Lett.Adam
berbunyi, panggilan dari chief tim udara yang beberapa menit lagi sampai ke
posisi mereka,
Buru-buru prajurit radio
menghantarkan radionya ke Lett.Adam,
"..yah, diterima,
disini Lettu Adam, ganti..", balas Lett.Adam,
"..di mintakan
konfirmasi titik area penjemputan..ganti..", sahut chief tim evakuasi
udara tersebut,
"Hmmm, titik
penjemputan pertama dibatalkan karena ada aktifitas besar musuh, disarankan
melambung sekitar 20 derajat ke selatan, setelah itu akan kami tandai,
ganti..", sahut Lett.Adam,
"Diterima, kami
segera tiba.. Keluar..", balas Chief itu.
"Hey, hentikan..,
tunggu sebentar..!", teriak Letn.Mahda melihat Jim sudah menempelkan
senjatanya ke kepala Panglima Katsuun yang terbaring tak berdaya,
"..aku rasa kita
harus menghabisi orang seperti dia..", kata Jim dingin,
"Heh..heh, ukhhh..,
apa kau punya nyali untuk membunuhku anak muda?", sahut Pang.Katsuun
tersenyum kecil di sela nyeri yang melanda sekujur tubuhnya,
"..bukk!"
"..kau masih saja
berlagak meskipun ajalmu sudah dekat..!", Jim mendaratkan tendangan ke
kepala Pang.Katsuun,
"Ahhkkk!"
Pang.Katsuun berguling
menahan sakit,
"Hey, sudah
hentikanlah.., akan lebih baik jika kita menangkapnya..!", seru Letn.Mahda
mendekat diikuti Lettu Adam, sementara prajurit yang lain berjaga disekeliling
mereka.
"Uhkk, hanya segitu
hah?! Hahaha, ayo bunuh aku bajing*n..! kau pecundang yang tak punya
nyali!?!", Pang.Katsuun berteriak,
"Hmm, baiklah jika
kau memintanya.. Akan ku kabulkan permintaanmu pak tua..!", Jim bersiap menarik
pelatuk senapannya yang mengarah tepat ke kepala panglima Katsuun,
"Jim
hentikan..!",
Seseorang berteriak
dikejauhan,
"Tash..!"
Namun Jim sudah
melepaskan tembakannya, keadaan berubah hening seketika..
Letnan Mahda dan juga
Lettu Adam hanya diam menyaksikan itu berlangsung,
"Heh..heh, kau sudah
datang teman?", kata Jim pelan,
"..nyawamu
diselamatkan olehnya.., berterima kasihlah kau padanya..", sambung Jim,
tampak tanah disebelah Panglima Katsuun tercabik dan sedikit mengeluarkan asap,
sepertinya Jim sengaja merubah arah tembakannya.
"Huh..huh..",
Elang berjalan mendekat
dengan terengah-engah,
"..tahan tindakanmu
Jim, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.., agar dunia dan semua
orang tau keserakahannya akan kekuasaan..", kata Elang pelan, beberapa
anak buah Lettu Adam tampak mengamankan Panglima Katsuun,
"Tari..! Syukurlah,
kau baik-baik saja", seru Letn.Mahda melihat Elang membawa salah satu
prajurit terbaiknya itu,
"Deg..deg..deg"
Semua tertegun begitu
mendengar deru suara heli-heli memenuhi udara,
"..kau, cepat segera
beri tanda!", Lettu Adam memerintahkan salah satu anak buahnya,
"Baik ndan!"
Sahut prajurit itu dan
segera mengeluarkan dan melempar bom asap tak jauh dari posisi mereka,
"Shhhhhhh"
Asap merah mengepul,
"Tim Evakuasi segera
tiba, sebaiknya kita bersiap, utamakan yang terluka.., kita lakukan secara
bertahap, markas mengirim 6 helikopter, dan sekarang ini kenyataannya itu
terlalu banyak", kata Lettu Adam menunduk mengingat kembali Kapten Joko
dan Kapten Hari serta pasukan mereka yang sangat kecil kemungkinan untuk mereka
selamat dari serangan penuh musuh dikawasan istana tadi.
"Lettu Adam kepada
Chief evakuasi masuk", Lett.Adam menghubungi lewat radionya,
"Diterima
letnan", sahut Chief itu,
"..kami hanya
berjumlah 12 orang prajurit, 1 tahanan, dan 1 prajurit terluka, jadi kita
lakukan secara bertahap.., dua heli mendarat awal untuk mengangkut yang terluka
dan tawanan diikuti 2 prajurit di masing-masing heli, selanjutnya dua heli
mendarat bergilir dan masing-masing heli akan diisi 2 prajurit, sebaiknya kita
lakukan dengan cepat, ganti..", jelas Lettu Adam,
"Dimengerti,
keluar..", sahut Chief itu.
Markas pusat Jakarta..
Panglima Rokhim terlihat
memegangi dahinya, sesekali matanya berputar melirik seluruh sudut layar yang
ada di hadapannya.
"Pak..tim evakuasi
telah sampai disana..", prajurit komunikasi memberi tau,
Pang.Rokhim tetap diam
tak bergerak, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu..
"Maaf pak.., tim
evakuasi sudah sampai di titik penjemputan..", prajurit komunikasi tadi
kembali memberi tau,
Panglima Rokhim masih
diam tak bergeming,
"Pak..maaf
pak..", seru prajurit tadi,
"Eh iya..
"Maaf pak.. Tim
evakuasi telah sampai disana..",
"Iya.., maaf, terus
pantau mereka..", sahut Pang.Rokhim,
Kelihatannya Panglima
Rokhim kehilangan konsentrasi karena kejadian sebelumnya dimana seorang
prajurit jeniusnya terluka akibat keterlambatannya untuk berfikir dan mengambil
keputusan.
Sementara itu sebuah
minibus ambulan berwarna hijau gelap melaju kencang menyusuri jalan raya,
didalamnya letnan Vega terbaring lemah.. Disampingnya sang Jendral atasannya
Jend.Purnomo setia menemaninya bersama beberapa prajurit medis, Jendral Purnomo
sudah menganggap Letnan cantik itu seperti putrinya sendiri, sehingga raut
kecemasan meliputi wajahnya yang mulai menua dimakan usia.
"Apa su..dah
selesai...? Aku ingin men..jemputnya..", ucap Letn.Vega pelan,
"..belum, tapi kita
akan segera mengakhiri perang ini Letnan... Sudahlah jangan banyak bicara
dahulu.. Aku berjanji kau akan menjadi orang pertama yang menemuinya setelah ia
kembali..", sahut Jend.Purnomo dengan mata berkaca-kaca,
Letnan Vega hanya
tersenyum kecil mendengar itu.