Part 27 "Menjadi seperti dia"
Beberapa prajurit kesehatan datang dan buru-buru membawa Letnan Vega dengan tandu, tampak salah satu seorang prajurit kesehatan itu mencoba menghentikan pendarahan Letnan Vega dengan perban-perban yang mereka bawa,
"Cepat bawa
dia...!", kata Jend.Purnomo setengah berteriak, kegamangan tampak
menghiasi semua orang yang ada di ruangan ini,
"Pak. . . ",
prajurit pengawal yang menembak Letnan Vega tadi menoleh ke arah Panglima
Rokhim, rasa bersalah meliputinya,
"..sudah..,, kau
hanya melaksanakan tugasmu.. Ku harap kau tetap seperti itu..",
Pang.Rokhim membalas tatapan anak buahnya itu dengan perkataan, seolah ia tau
apa yang sedang dipikirkan prajurit itu.
Jendral Purnomo tampak
beranjak mengikuti para prajurit medis yang membawa Letnan Vega, Jendral itu
terus berada disamping Letnan Vega yang terkulai lemah...
Puea Thai Party...
"Ukh.."
Elang terjatuh ketika
hendak menuruni anak tangga terakhir,
"Hey.., kau tak
apa?", ucap Jim melihat sahabatnya itu terjatuh,
"Tidak..., aku tak
apa..", sahut Elang sambil berusaha bangkit kembali,
"Jim, kau dan Letnan
Mahda pergilah ke tempat heli itu jatuh,, aku yang akan memeriksa keadaan
Sersan Tari..", kata Elang memberi tau,
"Baiklah,
ayo..!", sahut Jim segera bergerak diikuti Letnan Mahda,
"..kelihatannya
temanmu itu sangat mencemaskan Sersan mudaku..", ungkap Letn.Mahda,
"..aku rasa
begitu.., siapa Sebenarnya Sersan muda mu yang terlihat cantik itu?",
tanya Jim sambil terus berlari berbarengan dengan Letnan Mahda,
"Hmmm, tidak ada..
Ia hanya seorang prajurit wanita terbaik yang kami miliki setelah
kakaknya..", jawab Letn.Mahda,
"Kakak..? Dia punya
seorang kakak yang juga anggota militer..?", tanya Jim penasaran,
"Yah.., kakaknya
seorang Letnan di markas pusat yang dikenal memiliki kepandaian di atas
rata-rata.., dan Tari memilki kemampuan menembak juga di atas rata-rata..,
kakak-beradik yang tampak sempurna..", jawab Letnan Mahda,
"Begitu ya.., hmm
pantas saja..
Sudahlah, ayo kita harus
cepat..", sahut Jim.
Sementara itu Tim Lettu
Adam sudah tak berada jauh dari Jim dan Letnan Mahda, para prajurit Lettu Adam
tampak diam dan berwajah tegang mengingat sebelumnya mereka terpaksa
meninggalkan rekan-rekannya dibombardir pasukan musuh, tapi ini perintah yang
harus mereka jalani sebagai prajurit sejati.
Tak lama berselang,
"Ekh..."
Jauh dari situ tampak
seseorang tengah terbaring di lantai atas sebuah bangunan yang sudah terlihat
hancur, mungkin terkena bom-bom jet tempur di awal-awal peperangan ini,
Sebelah tangannya
memegangi bahu kirinya, tampak kain lengan kirinya robek, sepertinya ia sengaja
merobeknya untuk membalut luka tembakan di bahu kirinya itu, yah.. Sersan Tari
terus berusaha bergerak dengan menyeret tubuhnya sedikit demi sedikit,
"Sshhh.. sial, aku
takkan mau mati disini..!", eluh Sers.Tari menyadari keadaannya, ia
berhenti bergerak dan bersandar di tembok yang sudah di penuhi lubang, ia
mencoba mengatur nafasnya tak ingin kepanikan membuat tubuhnya semakin lemah,
dilihatnya Radio miliknya hendak menghubungi Letnan Mahda dan yang lainnya
namun mengalami kerusakan,
"..huh..:uh",
Sers.Tari membuang radionya,
"..tampaknya kali
ini tak ada keberuntungan yang menghampiriku.,,"
"Huhhh...ughhh..,
bagaimana dengan mereka disana..? Aku harap mereka baik-baik saja.. Ughh",
Sersan Tari berbicara sendiri sambil sedikit terbatuk-batuk karena kondisinya
yang semakin melemah,
"..yah, mereka
baik-baik saja..",
Seseorang menyahut
perkataannya,
Sersan Tari menoleh ke
sumber suara itu di sebelah kirinya,
" Huh..huh,,
semuanya baik-baik saja..", Elang mendekati Sers.Tari yang terduduk lemah
itu,
"..kenapa kau
disini? Bagaimana dengan yang lainnya..?", tanya Sers.Tari,
"Sudahlah.., mereka
akan baik-baik saja.., sebaiknya kau jangan terlalu banyak bicara dulu..",
sahut Elang tampak mengeluarkan beberapa peralatan dan obat-obatan ringam dari
ransel kecilnya,
"Baguslah..,
pelurunya tembus ke belakang.., tahan sebentar, ini akan sedikit
sakit...", kata Elang sambil membuka balutan luka Sers.Tari,
"emmmhh...!",
Sers.Tari mengerang menahan sakit ketika Elang menyuntikan Morfin dan
menaburkan sejumlah obat ke lukanya,
"Sebentar
lagi..", kata Elang yang kemudian membalut luka di bahu Sers.Tari dengan
perban yang ia bawa.
"Huhhh, kau perawat
yang hebat..", kata Sers.Tari,
"Hmm? Tidak.. Aku
hanya berusaha menyelamatkanmu...", sahut Elang,
"..kau sengaja
kembali kesini untukku..?", tanya Sers.Tari menatap dalam-dalam Elang,
Angin berhembus
menghampiri diantara mereka.
"..seperti itulah
kira-kira.., mungkin... Yah ku rasa seperti itu", jawab Elang terbata,
Sers.Tari tampak
mendekatkan wajahnya, dan Elang mengikat balutam perban yang terakhir..
Sers.Tari semakin
mendekatkan wajahnya ke Elang, keringat menetes menyusuri kening Elang..
" Terima
kasih....", bisik Sers.Tari pelan,
"Hmm..iya..",
sahut Elang pelan,
"Kenapa...? Kau
terlihat tegang..?", kata Sers.Tari memperhatikan Elang,
"Tidak apa-apa.. Aku
hanya teringat sesuatu..", jawab Elang mengelak,
"..apa kau merasakan
ini lebih dari biasanya..?" Tanya Sers.Tari mencoba memasuki pikiran
Elang,
"..aku tak tau..,
Aku tak mengerti, kau mengingatkanku pada seseorang...", jawab Elang,
"Seseorang..?
Seseorang yang spesial kah untukmu?", Sers.Tari melanjutkan pertanyaannya,
"..hmm, aku rasa
begitu, tapi... Aku tak tau apakah ia masih mengingatku..", jawab Elang,
"..kalau begitu
biarkanlah ini berjalan.. Aku tak ingin menggantikan seseorang itu.., aku hanya
ingin menjadi seperti seseorang itu..", sahut Sers.Tari,
Elang tak menjawab, ia
hanya tersenyum kecil kepada Sersan Tari.
"Berhenti.., ada
sejumlah orang..!", bisik Jim merapatkan tubuhnya ke dinding diikuti
Letnan Mahda,
"Hmm?"
Letnan Mahda menyadari
sesuatu,
"..itu rekan-rekanku
juga, tidak apa-apa.., ayo..", kata Letnan Mahda mengetahui bahwa sejumlah
orang yang dilihat Jim berseragam Tentara Nasional
"Apa kau
yakin..?", tanya Jim,
"..sudahlah, aku
sangat yakin..", sahut Letnan Mahda sambil beranjak keluar dari balik
dinding mengangkat tangannya,
"..Tahan
tembakan..!", seru Letnan Mahda,
" ! ", Lettu
Adam dan ke 8 anak buahnya sedikit terkejut dan langsung berformasi,
" Taham semuanya..,
itu rekan kita..!", kata Lettu Adam mengenali seragam yang dikenakan
Letnan Mahda,
"Treteteetet!"
Salah seorang anak buah
Lettu Adam menembaki Jim yang hendak muncul dari balik dinding,
"..Letnaaaan..!",
teriak Jim,
"Hentikan..hentikan..!
Dia bersama saya..!", teriak Letnan Mahda,
"Hentikan
tembakan..!", perintah Lettu Adam,
"..hey, ayo
keluarlah", Letn.Mahda memanggil Jim,
"Apa sudah selesai?
Tak ada tembakan lagi?", tanya Jim dengan nada kesal,
"Sudahlah, ayo..
Tadi hanya salah paham..", jelas Letn.Mahda,
Jim pun keluar dengan
wajah suram,
"Hey..hey, pakaian
boyband mu itu membuat kau seperti mafia..", gurau Letn.Mahda,
"Heheheh, lucu
sekali.." Sahut Jim,
"Lalu Bagaimana
keadaannya sekarang? Aku terpisah jauh karena ada tugas yang aku Emban..",
tanya Letn.Mahda kepada Lett.Adam,
"Hmm, semakin
buruk.. Pusat mengirimkan tim evakuasi udara, mungkin tak lama lagi akan tiba
meskipun sepertinya sudah terlambat..", jawab Lett.Adam,
"Terlambat?
Maksudmu?", tanya Letn.Mahda,
"Pasukan Kapten Joko
dan Kapten Hari diserang musuh kemungkinan dengan jumlah yang tak sedikit..,
dan sekarang aku kehilangan kontak dengan mereka berdua...", jelas
Lett.Adam menghela nafas,
"..kalau sudah
begitu..", Letn.Mahda mengerutkan dahinya seakan mengerti kemungkinan apa
yang terjadi pada pasukan Kapten joko dan Marinir-marinir kapten Hari,
"..sekarang, apa
yang hendak kau lakukakan..? Kami di tugaskan untuk menyusulmu.., untuk segera
kembali dengan tin evakuasi yang mungkin sebentar lagi tiba..", Lett.Adam
berbalik bertanya,
"..kita harus cepat,
ayo..! Biar kujelaskan..", sahut Letn.Mahda sambil segera bergerak menuju
kepulan asap kecil tak jauh dari posisi mereka, diikuti Tim Lettu Adam dan Jim.