Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Part 26 " Letnan Muda"

"Teng!"

Peluru yang di tembakan Elang hanya menghantam bagian bodi Heli tersebut,

"Hahahahaha... Dia masih amatir ternyata ", Pang.Katsuun tertawa melihat Elang di kejauhan,

"DASH..!"

Elang kembali menembak,

"Apa kau tak bisa mengenainya..?", kata Jim serius, Elang Tak menjawab dan tetap menembak,

"DASH..!"

"Teng..teng..!"

Peluru tembakan Elang kembali menghantam bodi heli tersebut, jauh dari pilotnya,

"Dia penembak jitu yang bodoh.. Hahaha", ungkap Pang.Katsuun,

" Apa?!?!?", Pang.Katsuun terkejut ketika tampak asap mengepul dari bagian mesin atas dekat bagian baling-baling heli-nya,

"Pak.. Berpeganglah pada sesuatu..! Karena kita akan segera jatuh..!", seru pilot Pang.Katsuun,

Tampak heli tersebut mulai oleng dan mengeluarkan banyak asap, berputar-putar tak tentu arah di atas gedung-gedung kecil di bawahnya,

"Heheh, aku kira tadi kau sedang kacau..", kata Jim melirik Elang,

"Sudahlah, ayo..! Heli itu akan jatuh tak jauh dari sini", ajak Letn.Mahda menyela untuk bergegas mengejar arah heli Pang.Katsuun yang segera terjatuh,

Mereka pun segera kembali. Sementara tak jauh dari situ Tim kecil Lettu Adam yang diperintahkan menyusul Letnan Mahda juga menyadari Helikopter Panglima Katsuun yang berputar-putar tak tentu arah hingga akhirnya jatuh di sebuah taman kota lumayan jauh dari Lettu Adam dan 8 orang anak buahnya,

"Apa kita perlu mengecek heli itu ndan..?", tanya salah satu anak buahnya,

"Sebentar, apa kita sudah dapat frekuensi Letnan Mahda?", tanya Lett.Adam,

"Belum pak..,", sahut salah satu anak buahnya,

"Sebaiknya kita tetap pada misi kita menyusul letnan Mahda dan yang lainnya, ayo..!", perintah Lett.Adam, Tim mereka pun bergerak menyusuri badan-badan jalan yang juga sesekali merapatkan diri ke bangunan sekitar untuk mengantisipasi apabila ada serangan tiba-tiba jika bertemu musuh.

Kawasan Istana PM Ghoydee..

"Sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi di sana..", kata Kapt.Joko yang juga menyadari beberapa saat terlihat kepulan asap dan terlihat sebuah heli berputar dan mungkin sudah jatuh,

"Yah, mungkin itulah mengapa pusat memerintahkan Lettu Adam dan anak buahnya pergi ke arah sana, kita tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi..", sahut Kapt.Hari yang sedari tadi ia dan para marinirnya sudah bergabung dengan infantri infantri Kapten Joko.

Kapten Joko dan Kapten Hari terhenyak melihat seorang prajurit salah satu anak buah dari mereka berlari mendekat dengan terburu sambil memberi kode rekan-rekannya,

"Huhhh..huh.,, lapor ndan! Sejumlah besar musuh dengan materil lengkap sedang menuju kemari..!", kata prajurit tersebut,

" Arah mana!?", tanya Kapt.Joko,

"300 meter pukul 10 ndan!", jelas prajurit tadi,

"..sial, mereka tak ada habisnya.,, semuanya..bentuk formasi bertahan, serangan di atas kepala!!", teriak Kapt.Joko,

Tampak prajurit-prajuritnya langsung berbaris memposisikan diri mereka di balik-balik pagar Istana tersebut,

"Kita juga! Semua bersiap akan serangan!", teriak Kapt.Hari kepada Marinir-marinirnya.

"Berapa jumlah pasti mereka prajurit?", tanya Kapt.Joko,

"..tidak bisa diketahui pasti ndan, tapi diatas 300 atau 400..!", jelas prajurit itu lagi,

" ....", Kapten Joko tercengang,

"Sial.., itu terlalu banyak, dan mereka dilengkapi materil, sepertinya kita akan berakhir disini..", sambung Kapt.Hari,

"Tidak..., kita tak akan kalah..! Kita Tentara Nasional Indonesia..! Mereka mau membunuh kita, kita bunuh mereka segera!!! Merdeka!!!", Seru Kapten Joko membuat semua prajuritnya terbakar semangat meskipun mereka tau jumlah mereka kalah jauh,

"Merdeka..!!!!!", semua prajurit. Berteriak semangat,

"Krakk..krakk krakk..krak!!!"

Kokangan senjata beriringan terdengar,

"hmm..", Kapten Hari merasa tergugah melihat semangat Kapten Joko,

"Semuanya..! MENANG DI MEDAN PERANG...", teriak kapt.Joko,

"..ATAU PULANG TINGGAL NAMA..!!!", sahut seluruh prajuritnya,

Wajah-wajah mereka yang tadi tampak lesu dan kelelahan sudah tak tampak lagi, tatapan tajam menghiasi raut prajurit-prajurit itu. Debu-debu berterbangan tertiup angin, sesekali selebaran kertas juga ikut melayang-layang meliuk di antara serpihan dan puing-puing bekas pertempuran ini, beberapa burung gagak juga terlihat bertengger di salah satu atap gedung yang tersisa, seolah gagak-gagak itu tau bahwa sebentar lagi akan banyak bangkai manusia yang bisa mereka santap.

Keadaan dihalaman istana tempat Kapten joko dan kapten Hari berserta pasukannya diselimuti keHeningan,

Tak jauh dari situ burung-burung gagak tadi berterbangan membubarkan diri,

"Shhhyuuuu..."

"Serangan datang...!!!", teriak salah satu prajurit yang kemudian tak lama sebuah roket kecil lewat di atas kepala mereka dan menghantam dinding istana jauh dibelakang,

"DUARRRR...!!!'

Ledakan roket itu seolah terompet sang dewa perang yang memberi tanda bahwa perang dimulai kembali,

"Tretetereteretereter...!"

Letupan tembakan bersahutan melepaskan timah-timah panas yang seakan haus akan darah,

"Syuuu..syuuuu.. BAMPP...BAMMP..!!!" Sesekali ledakan demi ledakan menghampiri Kapten joko dan pasukannya, Panser-panser musuh tampak mengganas dengan terus melepaskan roket-roket mini yang mereka bawa.

Peluru berlalu-lalang layaknya keramaian pasar di tanah abang jakarta, kepulan asap mengepul bercampur debu-debu memenuhi udara sekitar arena peperangan itu... Ledakan demi ledakanbak pesta kembang api bergulir tiada henti..

Disana-sini Tubuh-tubuh kekar roboh diterjang butiran peluru.. Percikan api dari senjata yang menyalak bak senter sang malaikat pencabut nyawa yang mulai memilih targetnya detik ini. Suara tembakan terus bergema, ntah apa yang terjadi disana, hanya tuhan yang tau akhirnya..

 

Di kejauhan..

Lett.Adam terkejut mendengar gemuruh peperangan dari arah dimana kapten Joko dan kapten Hari berada,

"Apa yang sedang terjadi disana!?!", gumam Lettu Adam,

"Ndan..! Sepertinya rekan-rekan kita sedang diserang!! Perintahkan kami untuk segera kesana!", pinta salah satu anak buahnya,

" Tenanglah kalian semua..! Cepat hubungkan ke kapten Joko!!", sahut Lett.Adam,

Seorang prajurit dengan membawa radio segera mendekati Letnan muda tersebut,

"Kapten masuk.. Kapten!!", Lett.Adam beerbicara lewat Radio,

Belum ada jawaban.

"Kapten..! Masuk kapten..! Disini Adam..! Kapten...!", seru Lett.Adam kembali,

"KrRssssssssrrrr"

Suara bising Radio membuat Lett.Adam sedikit terkejut,

"...ekh, diterima Kapten joko... Disini...", kapten Joko menyahut dari radionya, tampak ledakan demi ledakan dan deru tembakan terdengar ricuh menjadi latar suara Kapten Joko membalas panggilan Radio,

"Kapten..! Apa yang sedang terjadi?!? Izinkan saya kesana!!!", kata Lett.Adam,

"Ekh...negatif, lanjutkan misimu.. Dan jangan pernah kembali kesini..! Kami baik-baik saja..", balas Kapt.Joko,

"Tapi kapten, sepertinya..."

"Ini perintah! Laksanakan segera..! Keluar!", potong Kapten Joko dan segera menutup Radionya,

"Bagaimana Ndan???", salah satu anak buah Lett.Adam bertanya dan di iringi beberapa prajurit lainnya dengan wajah penuh harap, "..negatif.., kita tak diizinkan kembali kesana..", kata Lett.Adam menghela nafas,

"..tapi Ndan..! Aku yakin rekan-rekan kita sedang dalam kesulitan...! Izinkam kami untuk kesana..!!!", pinta anak buahnya,

Lett.Adam menarik nafas dalam, "..ini perintah! Kita tak bisa kesana! Mengerti!? Saya juga kesal dengan hal ini, tapi kita punya tugas lain yang mungkin lebih penting dan menjadi akhir dari pertempuran ini! Mengerti!!!", bentak Lett.Adam, Sejenak semua anak buahnya terdiam, sepertinya mereka terkejut melihat letnan muda chief mereka yang baru kali ini bertindak keras..

"huhh.., sudahlah.. Ayo kita kembali bergerak..", perintah lett.Adam, Mereka pun kembali bergerak sambil sesekali melihat kepulan asap yang membumbung dibelakang di arah kapten Joko dan yang lainnya.

Markas Pusat Jakarta..

"Lapor panglima, saya dapat Visual malaysia mengirimkan 12 jet tempurnya, dan menurut intelijen untuk membantu thailand!", seorang prajurit melapor,

"Apa!?!, tetap awasi!" Pang.Rokhim kaget,

Tiba-tiba PM Ghoydee di dampingi Letnan Vega dan beberapa pengawal tampak memasuki ruang komando,

"Hmm, ada apa Letanan?', tanya Pang.Rokhim sedikit terkejut melihat Letn.Vega membawa PM Ghoydee ke ruang utama mereka,

"..begini pak, ada sesuatu yang ingin saya jelaskan, tapi itu akan banyak memakan waktu.., jadi saya mohon izin untuk Pak Ghoydee menggunakan alat komunikasi kita..", kata Letn.Vega,

"..apa kau tidak bisa menjelaskannya dengan lebih detail lagi letnan?", tanya Pang.Rokhim lagi,

"Ini tentang keterlibatan malaysia pak..!", sahut Letn.Vega,

"Hmm.., lalu apa yang hendak pak Ghoydee lakukan..? Kau tidak bisa seenaknya membawa seseorang ke ruang komando operasi.., itu melanggar peraturan otorisasi 132 letnan, apa kau tau akan hal itu?", hardik Panglima Rokhim,

"..saya sangat mengerti akan hal itu, tapi akan sangat memakan waktu bila saya harus menjelaskannya.., ini demi semuanya pak, saya pertaruhkan jabatan saya sebagai anggota TNI jika saya salah..", sahut Letn.Vega,

"Vega.., apa yang sedang kau pikirkan?", Jend.Purnomo menyela,

"Sudah tak ada waktu lagi pak"

"Hey kau, tolong cepat lakukan yang diminta bapak ini..", Letn.Vega menyuruh seorang prajurit komunikasi untuk mengikuti instruksi PM Ghoydee,

"Silahkan pak..", Letn.Vega mempersilahkan PM Ghoydee duduk di hadapan sebuah panel-panel dan knob dan layar sistem komunikasi di markas itu untuk memberi sandi ke pihak malaysia.

"Maafkan saya dan Letnan muda ini, tapi nanti anda-anda akan mengerti..", kata PM Ghoydee memulai memberi sandi.,

"Pak, lapor..! Perhitungannya, Jet-jet tempur malaysia ternyata menuju ke jakarta! Bukan Thailand!", seorang prajurit yang ditugaskan mengawasi jet-jet tadi memberi tau di tengah-tengah situasi seperti ini,

"Hah??"

"Amankan Letnan Vega dan Pak Ghoydee!", perintah Pang.Rokhim, ia menduga PM Ghoydee yang tengah duduk di depan alat komunikasi yang mengendalikannya, beberapa prajurit segera mendekati Letnan Cantik itu, namun mereka kembali mundur ketika mengetahui Letnan Vega mencabut pistolnya dan mengarahkannya ke Panglima Rokhim, segera mereka juga mengarahkan senjatanya ke Letnan Vega,

"!?!?!", semua yang ada di ruangan itu terkejut,

"Letnan! Apa yang kau lakukan?! Hentikan itu!!!", bentak Jend.Purnomo,

"Maaf Jendral, saya tak ada pilihan lain.. Setelah ini pasti anda akan mengerti..", sahut Letn.Vega dengan tetap mengarahkan pistolnya ke pang.Rokhim,

"Sudah selesai pak Ghoydee..?", tanya Letn.Vega,

"Sudah nak..", jawab PM Ghoydee, Letnan Vega segera menurunkan pistolnya,

Melihat itu salah satu prajurit disitu melepaskan tembakan, mengira Panglima Rokhim dalam bahaya, dan memang prosedur yang harus dilakukan dimana Panglima dibawah ancaman..

"TASH..!"

Jendral Purnomo terkejut menyadari Letnan.Vega roboh dengan tembakan di dada, prajurit lainnya tampak mengamankan PM Ghoydee,

"Kalian terlalu cepat bertindak.. Letnan Muda itu sangat berharga..! Ia melakukannya demi negara kalian!", cetus PM Ghoydee kesal melihat Letn.Vega tergeletak bersimbah darah,

"Vega..! Bertahanlah..! Medis! Panggilkan medis!!", teriak Jend.Purnomo mengampiri Letn.Vega,

"..pak.., entah mengapa jet-jet tempur malaysia...memutar arah menjauh.., dari arahnya...sepertinya mereka kembali ke malaysia",

lapor salah satu prajurit di ruangan itu yang ditugaskan mengawasi jet-jet tersebut,

Keadaan berubah hening, baik panglima Rokhim dan semua yang ada diruangan itu saling tatap mencoba memahami apa yang sedang terjadi,

"..kami ingin menjelaskannya, tapi itu akan memakan waktu.. Dan kota-kota yang dipenuhi warga sipil tak bersalah akan menjadi korban, Letnan Muda ini tak mau itu terjadi... Kalian telah melakukan kesalahan besar.. Tak bisakah kalian menahan ego sedikit saja??", PM Ghoydee berkeluh kesal.