Part 25 " Melarikan Diri "
"Apa Heli-heli sudah di berangkatkan untuk menjemput pasukan-pasukan kita disana?", Panglima Rokhim bertanya,
"..sudah pak, kita
sudah mengirim 6 buah helikopter, di antaranya dua heli tempur untuk
berjaga-jaga..", jawab Jend.Purnomo,
"Bagaimana dengan situasi
lepas pantai dan KRI-KRI kita?", tanya Pang.Rokhim lagi seakan tak ingin
ada kesalahan sedikitpun,
"Marinir-Marinir
kita telah kembali dengan Kapal-kapal kita, hanya tersisa pasukan dari Kapten
Joko dan Kapten Hari di kawasan Istana bangkok bersama satuan khusus Gultor
yang di pimpin Lettu Adam..", jelas Jend.Purnomo,
"Berapa lama lagi
heli kita sampai ke mereka?", Pang.Rokhim bertanya,
"..mungkin sekitar
dua atau tiga jam pak, atau mungkin bisa saja lebih cepat, Tim itu dari
skuadron udara 16 di Pekanbaru..", jawab Jend.Purnomo,
".. Masih ada waktu,
kalau begitu perintahkan Tim Lettu Adam untuk menyusul Letnan Mahda dan Agen
kita yang sedang mengejar Panglima
"Siap pak!",
sahut Jend.Purnomo tegas.
Puea Thai Party...
"Panglima, mereka
semakin dekat kemari, saya sarankan anda segera pergi dari sini..", salah
seorang prajurit Panglima Katsuun memberi tau,
"Dasar kalian semua,
mengurus tiga orang penyusup saja tidak mampu..!", sahut Pang.Katsuun
geram mengetahui prajurit-prajuritnya kesulitan menghadapi Elang dan yang
lainnya,
"..Dimana Kapten
Marrue dan rekannya?", tanya Pang.Katsuun,
"..maaf pak, kita
kehilangan kontak dengan mereka", jawab prajurit itu,
Panglima Katsuun tampak
mengerutkan dahinya, butiran keringat mulai membasahi keningnya, ia mulai
merasa dalam bahaya kali ini, tidak seperti biasanya ia selalu di lindungi oleh
ratusan anak buah yang siap mati untuknya, tapi kali ini seluruh anak buahnya
berada di garis depan, hanya tinggal prajurit staf-staf dan beberapa penjaga di
markas ini, tak heran musuh dengan mudah masuk dan berniat menghabisinya.
"Baiklah..cepat
siapkan helikopter..!", perintah Pang.Katsuun.
Sementara itu aksi tembak
menembak Elang dan yang lainnya sudah tak terdengar lagi, mereka tampak
berjongkok di pintu anak tangga menuju lantai berikutnya..
"Huhh.. Bagimana
keadaanmu Elang?", tanya Jim sambil mengganti magazen senjatanya,
"..aku baik saja..,
kau?", sahut Elang balik bertanya,
"..tak pernah lebih
baik, kau letnan..?", jawab Jim dan bertanya ke Letnan Mahda,
"..sepertinya aku
baik saja..", sahut Letn.Mahda sembari memperhatikan sekitar,
"..sepertinya ada
yang aneh.., apa kalian tak menyadarinya..?", kata Letn.Mahda pelan,
"..ada apa..?",
tanya Jim,
"..yah letnan, aku
tau...", sahut Elang,
"..aneh apanya? Yang
aneh itu ada tiga orang menyerang markas militer..", cetus Jim bergurau,
"..diam Jim..",
sela Elang,
"Hufftt.. Tak bisa
kah kau relax sedikit..?", balas Jim,
"..lihat, kita sudah
sejauh ini.., kita berhasil sampai disini karena hampir seluruh pasukan yang
ada disini pergi ke garis depan..", jelas Letn.Mahda,
"..dan sangat aneh
keadaan tiba-tiba saja menjadi hening seperti ini..", sambung Elang,
"..benar juga,
sepertinya tadi jumlah mereka tak ada habisnya..", sahut Jim,
"..Panglima itu ada
di atas.., harusnya kita mendapatkan perlawanan yang tak ada hentinya..",
kata Elang,
"..hah? Maksudmu
panglima itu. . .???", sahut Jim dengan raut wajah kaget mengerti apa yang
sedari tadi dipikirkan kedua rekannya itu,
"Ayo..!", Elang
bangkit berlari menaiki anak tangga menuju lantai selanjutnya dengan
terburu-buru,
"..kita harus
bergerak cepat..!", sahut Letn.Mahda yang juga bergegas mengikuti Elang,
"..ayo.., aku tak
mengira sekarang kita terlihat seperti charlie's angels..", kata Jim
sambil bergerak menaiki anak tangga di belakang Letn.Mahda dan Elang,
"Dup...dup..dup.."
Terdengar suara mesin di
atap markas ini tak jauh lagi dari mereka,
"..sial..! panglima
itu sepertinya punya pemikiran yang bagus..!", cetus Letn.Mahda yang
sayup-sayup mendengar kalau itu adalah suara deru helikopter,
"..Tari masuk..!
Tari ayo masuk!", Letnan Mahda mencoba menghubungi Sers.Tari melalui
radionya,
"..Tari..! Tari
masuk..!", Letn.Mahda terus mencoba menghubungi sambil terus bergerak,
"..tidak ada jawaban
dari Tari..", kata Letn.Mahda,
"..apa yang terjdi
dengannya?", tanya Jim,
"..aku tidak
tau..", jawab Letn.Mahda,
" ! ", Elang
melirik Letnan Mahda sambil terus bergerak,
"..kita harus
cepat..!", kata Elang mempercepat langkahnya,
Mereka telah memasuki
ruangan utama dan hanya menemukan ruangan kosong,
"..treteteetetet..",
muncul beberapa prajurit musuh menembaki dari balik tembok di ujung lorong,
Elang dan yang lainnya
merapatkan diri ke dinding di dekatnya,
"..Tash..tash..!"
Elang balas menembak,
"Jim.. Maju!",
teriak Elang,
"Aku tau..!",
sahut Jim berlari kedepan dengan sedikit membungkukkan badan agar Elang bisa
leluasa menembak,
"Tash..Tash..Tash..",
Elang terus menembaki
hingga prajurit musuh tadi tak ada kesempatan untuk muncul,
Kemudian Elang dan Letnan
Mahda bergerak maju,
Menyadari tak ada
tembakan lagi, prajurit tadi hendak muncul dari balik dinding itu untuk
membalas tembakan,
Tapi "TASH..!",
Jim sudah menunggu di
sebaliknya dan melubangi kepalanya,
"Ayo..! Ke atas
sini..!", kata Jim menyadari sebuah tangga yang sepertinya digunakan
prajurit tadi,
"Dup...dup...dup..."
Suara helikopter semakin
jelas,
"...duup..dup.deg..deg..deg.."
Helikopter tersebut telah
mengudara membawa Panglima Katsuun dan seorang anak buahnya,
"..huh, akhirnya..,
ayo cepat kita pergi dari sini..!", perintah Pang.Katsuun kepada pilot
heli-nya,
"..sialan...!, Jim
lindungi aku..!", teriak Elang ketika mereka telah sampai di atas dan
melihat sebuah Heli telah mengudara,
"..baik..!",
Jim segera memperhatikan sekitar mengantisipasi kemungkinan masih ada musuh
yang tersisa..
Sementara Elang mengambil
senapannya dan mulai membidik,
"..oh, dia mencoba
menjatuhkan kita ya, hahahaha..", Pang.Katsuun tertawa,
"..ayo...",
Elang berusaha menempatkan heli itu di titik bidiknya,
"Mereka semakin
menjauh..! Tembak pilotnya..!", seru Letnan.Mahda,
"DASH...!!!"
Elang melepaskan
tembakan..