Part 24 " Situasi baru"
Guest Room, Markas besar
PM Ghoydee tampak kembali
mendapatkan perawatan dari tim medis TNI yang sengaja ditempatkan oleh
Pang.Rokhim atas perintah Presiden Darwinsyah disana, disebelahnya tampak
seorang prajurit medis berpangkat kopral tengah mengecek kondisinya.
" Ternyata pemimpin
kalian sungguh baik ya? Tawanan seperti saya sebegininya di perhatikan..",
kata PM Ghoydee,
" Maaf pak, anda
salah..", sahut kopral yang tengah memeriksa lengannya yang terluka,
"Salah..? saya sala
dimana?", tanya PM Ghoydee heran,
" Bapak salah di
perihal Tawanan, kami tidak menganggap anda sebagai tawanan kami, kami
menganggap anda sebagai tamu kami..", jelas kopral itu,
"..heheh, tamu yang
bersalah...", sahut PM Ghoydee tertawa,
" Maaf pak?",
tanya kopral itu tak mendengar gurauan PM Ghoydee,
" Tidak
apa-apa..", jawab PM Ghoydee dengan tetap duduk tenang.
Tak lama tampak dua
prajurit penjaga masuk ke ruangan itu, dan kemudian muncul Letnan Vega sembari
memerintahkan Prajurit penjaga tadi untuk kembali berjaga di depan pintu.
" Maaf pak.., saya
sengaja kemari meninggalkan ruang operasi hanya untuk berbicara dengan anda,
saya Letnan Vega, saya bisa berbicara sebentar dengan anda..?", kata
Letn.Vega,
"Oh, ya,
silahkan..", sahut PM Ghoydee ramah,
"Maaf pak sebelumnya
saya ingin bertanya terlebih dahulu kepada bapak tentang tentang kemungkinan
keterlibatan negara lain seperti malaysia.., kami ingin mendengar penjelasan
langsung dari anda, karena saya rasa akan sangat beresiko jika kami menyelidiki
dan sekedar menduga-duga dalam situasi saat ini", tanya Letn.Vega panjang
lebar,
"..tantang itu..
", PM Ghoydee menarik nafas berat,
"Saya tidak tau
bakal serumit ini, yah..,, emang benar saya ada sedikit meminta bantuan dari
mereka, itupun bantuan udara yang telah kalian lumpuhkan..", jawab PM
Ghoydee,
"..jadi itu benar,
tapi sepertinya saat ini kami juga mendengar rumor
"..?!?", PM
Ghoydee terkejut,
"..mereka hanya akan
membantu jika saya yang meminta, sangat mustahil jika mereka kembali
mengirimkan bantuan untuk negara saya selama saya tidak meminta mereka..",
jelas PM Ghoydee lagi dengan mimik serius,
"..bagaimana dengan
panglima anda yang mengkudeta anda???", Letn.Vega kembali bertanya, wajah
cantiknya tak bisa menutupi raut ketegangan yang terpancar karena rasa
penasarannya akan hal ini.
Ketegangan juga tampak di
wajah sayu PM Ghoydee,
" Sial..",
gumam PM Ghoydee,
"Maaf pak?",
Letn.Vega menyela,
" Benar, dia juga
bisa melakukannya.., maafkan saya atas segalanya..", kata PM Ghoydee,
"..maksud anda?
Panglima itu punya otoritas akan hal itu??", tanya Letn.Vega lagi,
"Yah.., saya
mengatakan kepada pemerintah
"..pak.., saya rasa
anda harus melakukan sesuatu akan hal ini...", sahut Letn.Vega,
"..baiklah,
sebaiknya segera antar saya ke ruang komunikasi kalian.., saya harus berbicara
langsung kepada pemimpin
Puea thai party..
"Sial..!,
ekhh..", keluh Sers.Tari, tampak bahu kirinya terkena terjangan peluru,
darah mengucur keluar membasahi seragamnya, sementara Kapt.Marrue roboh dengan
lubang di kepalanya..
"Tari..masuk..!
Tari!", kontak Letn.Mahda dari radionya,
"..bagaimana
statusmu..?", tambah Letn.Mahda,
"..ukhhhh.., lapor
ndan, dua sniper musuh telah saya singkirkan...ekhhh", sahut Sers.Tari
sambil sesekali mengerang menahan perih dari peluru yang masih bersarang di
bahunya,
"..Lalu Bagaimana
denganmu?!?", tanya Letn.Mahda kembali,
"..ekh.. Saya tidak
apa-apa ndan..", ucap Sers.Tari berbohong tak ingin yang lain
menghawatirkannya,
"..baiklah..,
tetaplah disana..", balas Letn.Mahda,
"Baik ndan...",
sahut Sers.Tari sambil menutup radionya, buru-buru ia merobek lengan bajunya
untuk menutup lukanya yang terus mengeluarkan darah.
Di lain tempat tampaknya
Letnan Mahda tak begitu kesulitan untuk menemukan ruang penyimpanan senjata
mengingat hampir seluruh pasukan musuh yang berada disini telah pergi ke garis
depan, sementara sisanya disibukkan dengan kehadiran Elang dan Jim, tak butuh
waktu lama Letnan Mahda telah berhasil menyusul Elang dan Jim, tampak ia
membawa beberapa senjata dan perlengkapan yang ia ambil dari ruang persenjataan
tadi.
"..ini, aku rasa
akan berguna nanti..", kata Letn.Mahda sambil memperlihatkan sesuatu,
"..benar, tapi aku
tak berharap untuk menggunakannya..", sahut Jim,
Jim dan Elang sedari tadi
hanya berhenti di deretan anak tangga, mereka sengaja menunggu Letnan Mahda,
sesekali mereka juga menembaki sejumlah prajurit musuh yang muncul dari balik
pintu tak jauh dari mereka, tampak juga beberapa tubuh tak bernyawa prajurit
musuh yang tergolek di tangga.
"..baiklah,
ayo...!", ajak Elang sambil mendekati pintu menuju ruangan di depan
mereka,
Letnan Mahda dan Jim
mengikutinya dan bersiap di dekat pintu,
"Hitungan ke
tiga...!", seru Elang memberi aba-aba, Letnan Mahda dan Jim tampak bersiap
menggenggam erat senjata mereka masing-masing,
" Baik, ayo..,
Satu..dua..tiga..!!!", seru Elang,
Sontak mereka bertiga
masuk berurutan dengan Elang di depan dan langsung berformasi dengan Letnan
Mahda dan Jim di kanan kiri Elang,
"Tretetetetetet...tetetetet!"
Mereka berjalan sigap
sambil menembaki prajurit-prajurit musuh yang bermunculan, satu persatu musuh
yang muncul roboh bersimbah darah, terkadang mereka membalas tembakan namun tak
terarah sebelum akhirnya mereka tewas di tembus peluru Elang dan yang lainnya,
" Mengisi..!",
seru Jim memberi tau ia berhenti menembak sejenak untuk mengganti magazen
senjatanya,
"Tretetetetetet.."
Peluru berterbangan tak tentu
arah.
Kawasan istana PM
Ghoydee..
Pasukan Kapten Hari telah
sampai di posisi Kapten Joko dan lettu Adam,
"Bagaimana
keadaannya..?", tanya kapten Hari,
"..pusat
memerintahkan kita untuk kembali.., mungkin tak lama lagi tim angkatan udar
akan mengirimkan heli-heli mereka, sementara itu kita bertahan disini, aku
yakin musuh akan kembali..", jawab Kapt.Joko,
"..begitu ya.., hmm,
kita tak tau apa yang dipikirkan oleh pusat, mungkin ada sesuatu yang tidak
kita ketahui sehingga kita ditarik kembali..", sahut Kapt.Hari.
Sementara itu tanpa
disadari pasukan musuh dengan kekuatan penuh semakin dekat dengan posisi
mereka, sepertinya pertempuran akan segera kembali bergulir disini, pertempuran
yang dirasa tak ada habisnya..