Part 22 " Dimulai Kembali"
"mereka tampak sibuk berjaga di depan.. Lebih baik kita segera ke atas, tidak lama lagi mungkin keberadaan kita akan segera di ketahui", bisik Letn.Mahda,
Mereka pun bergerak
menaiki tangga yang menuju lantai dua markas tersebut.
Ketika mereka baru
memijakkan kaki di lantai 2,
"..siall..!!",
kata Jim ho baru menyadari sebuah kamera pengawas mengarah padanya yang berada
paling depan.
"Panglima!
"..rupanya kita
kedatangan tamu..., bunyikan alarm!, nyalakan pengeras suara..", perintah
Pang.Katsuun sambil meraih sebuah talkie pengeras suara di markasnya itu.
"..teeeEeengggg..tEeeeenggggg",
alarm berbunyi,
"..kita
ketahuan..", gumam Elang,
"..Tari
bersiaplah..! kami di lantai 2..!", Letn.Mahda mengontak Sers.Tari,
"..Jendela terlalu
gelap..!", sahut Sers.Tari melihat jendela-jendela kaca berwarna hitam
menutupi pandangannya ke dalam,
"..tretereteteretet...!,
krasshhh krashhh!", Letn.Mahda menembaki semua jendela-jendela kaca besar
di ruangan itu,
"Baik..terlihat
jelas..!", sahut Sers.Tari dari radionya,
"....selamat datang
di markas kami...", Panglima Katsuun berbicara melalui pengeras suara yang
terpasang di seluruh markas,
Elang dan lainnya
terkejut saling pandang mendengarnya,
"..perkenalkan..,
aku Panglima Katsuun, aku pemimpin disini.. Kuharap kalian mengerti kalian
sedang berada dimana.. Pikirkan baik-baik sebelum kalian mati konyol..!",
tambah Pang.Katsuun lagi,
"Tash..Tash..!",
Elang menembak Kamera pengawas yang mengarah ke mereka bertiga,
"..oh.,, jadi kalian
ingin mencoba peruntungan kalian ya..? Bagus, aku suka orang-orang keras
kepala, sekarang bersiaplah.. Prajurit-prajuritku akan menyapa
kalian..!!!,", Pang.Katsuun mengakhiri kata-katanya dengan garang,
"..sebaiknya kita
bersiap..,", jelas Jim sambil menjatuhkan sebuah lemari untuk dijadikan
sebuah tameng berlindung,
"..dia tadi adalah
target kita, berarti ia berada di ruang pusat di tingkat atas bangunan ini..,
kita harus segera kesana..", jelas Elang sambil melihat jumlah peluru di
pistolnya,
"..kita punya
masalah amunisi, sebaiknya kalian tunggu disini, aku akan mencari gudang
persenjataan mereka, mungkin ada di basement lantai dasar..!", sahut
Letn.Mahda,
"..itu ide
bagus..!", timpal Jim,
"Oke, aku pergi..,
Tari, lindungi mereka..!", perintah Letn.Mahda dari radionya, ia pun
berbalik pergi bergegas menuruni tangga menuju lantai bawah.
Tak lama berselang muncul
8 orang prajurit musuh tak jauh dari Elang dan Jim,
"Treteteteteteteet...!",
prajurit-prajuit
"..oww
Sialll..!", umpat Jim merunduk di balik lemari yang telah ia persiapkan
sebelumnya,
"Tssskkhkk!",
salah satu prajurit itu roboh, Sers.Tari mulai beraksi.
"Tskkk..
Tsskkk", dua orang prajurit kembali roboh,
"..shhhh..",
Sers.Tari menarik nafas dalam-dalam mempersiapkan tembakan selanjutnya,
"Jim..!",
teriak Elang,
" Aku
mengerti..!", sahut Jim bangkit dan membalas tembakan
"Tretetetetetet..tereteret!" Jim memberi tembakan perlindungan
Dan Elang pun yang sedari
tadi berdiam di balik dinding dekat pintu segera berlari melompati lemari yang
dilintangkan Jim tadi, mendarat dengan meluncur di lantai,
"Tash..Tash..Tash..!"
Elang merobohkan 2
prajurit, selagi meluncur kaki kirinya menendang dinding mendorong tubuhnya ke
sebuah meja, tangannya memegang kaki meja tersebut dan berhenti,
"Tash..Tash!",
Ia menembak 2 prajurit
lainnya,
Kemudian bangkit
berguling di atas meja lainnya, dan berjalan mendekati seorang prajurit
thailand yg sedang bersembunyi di balik sebuah lemari dengan mengarahkan
pistolnya, prajurit itu tercengang menyadari pistol Elang tepat mengarah
kepadanya,
"Klek..klek..",
"Sialan..",
umpat Elang tidak menyadari pelurunya habis, sontak saja prajurit tadi berbalik
mengarahkan senjatanya hendak menembak Elang,
"Tssshhkkkk...!",
Sers.Tari menembak prajurit itu tepat di kepalanya, sesaat sebelum prajurit itu
menarik pelatuk senjatanya untuk menembak Elang,
Elang melihat keluar
dengan tersenyum, Sers.Tari dapat melihat Elang tersenyum melalui teropongnya,
"..aku akan
menjagamu, dan kau bisa mengandalkanku..!", ucap Sers.Tari dalam hati.
"..Jim, ayo..!",
ajak Elang mengajak jim segera menuju lantai tiga,
"..yah," sahut
Jim berjalan sambil mengambil senjata dan sebuah walki talkie salah seorang
prajurit yang tewas itu dan melemparkannya ke Elang.
Sementara itu Letnan
Mahda tampak berjalan mengendap-endap menyusuri sebuah lorong di basement
Markas itu, menyandarkan tubuhnya berpindah-pindah dari sisi kanan ke kiri
dinding lorong tersebut dan sebaliknya,
"..sepertinya mereka
tengah fokus ke kedua agen itu sehingga disini tampak lengang..", gumam
Letn.Mahda dalam hati,
Elang dan Jim langsung
menyusuri tangga menuju lantai tiga,
"Tretetetet!",
sesekali Elang dan Jim menembaki prajurit-prajurit musuh yang hendak turun
melalui tangga tersebut.
"Heh, bukannya
maksudku untuk mengatakan ini melelahkan.., kenapa kita tidak menggunakan lift
saja..?", tanya Jim terengah-engah karena memang mereka harus memutari
susunan anak tangga untuk menuju lantai selanjutnya,
"..terlalu
berbahaya.., lagipula aku benci lift..", sahut Elang,
"..itu saja??? Hanya
karena kau tak menyukainya kita akan terus melewati tangga hingga ke lantai
"..Tari..!
"..penembak
jitu..!", tambah Sers.Hardi setelah melihat jenis senjata yang dibawa
seseorang itu di atap markas musuh tersebut.
Sers.Tari segera merayap
ke sudut atap bangunan yang mereka tempati di ikuti Sers.Hardi.
Seseorang itu adalah
kapten Marrue, prajurit andalan sang panglima besar
"..berapa
jumlahnya..?!", tanya sers.Tari,
"..aku melihat hanya
satu orang..!", jawab Sers.Hardi sambil kembali melihat dengan
binocularnya,
"..sepertinya ia
tidak melihat ke arah kita..", jelas sers.Hardi,
"..mungkin dia hanya
ingin mengawasi sekitar karena markasnya ada penyusup..", sahut sers.Tari
sambil kembali menempatkan senapannya dan kembali membidik.
"..aku bisa
melihatnya...", gumam sers.Tari ketika titik bidik senapannya mulai ia
arahkan ke tubuh Kapt.Marrue,
"..baiklah...kita
jatuhkan dia..", sambung sers.Tari bersiap menarik pelatuk senapannya.