Part 18 "Bangkok mengambang"
Sementara itu..
"..ternyata kita
sudah sampai yah? Negri yang indah, sayang sekali.. kali ini saya datang kesini
sebgai tawanan kalian,", ucap PM Ghoydee ketika helikopter-helikopter
"...", prajurit
Pusat komando operasi,
jakarta..
"Lapor pak, sebentar
lagi tim helikopter yang membawa perdana mentri
"..yah, baiklah..,
segera beritahu bapak presiden, jendral..ayo kita kesana..", sahut
Pang.Rokhim sembari mengajak Jendral purnomo untuk menyambut kedatangan
rombongan Helikopter yang membawa PM Ghoydee.
"Deg..deg..deg..deg.."
Sebuah Helikopter telah
terlihat dan mendekat ke sebuah landasan yang sudah dikelilingi
prajuri-prajurit TNI, di ikuti 5 heli lain yang tersisa, tampak pula Panglima
Rokhim dan jajarannya serta Jendral Rokhim yang sedari tadi berdiri menunggu,
Angin bertiup di
sela-sela barisan Panglima Rokhim dan yang lainnya ketika helikopter tersebut
mendarat, beberapa prajurit bersenjata lengkap mendekati helikopter tersebut,
seperti hendak menyerang saja, tapi begitulah prosedurnya.
"..wah,, banyak juga
yang menyambut saya ya?", kata PM Ghoydee,
"..terima kasih atas
tumpangannya, semoga lain kali kita bertemu lagi.,", gurau PM Ghoydee
sambil tersenyum kecil kepada beberapa prajurit di heli tersebut ,
"Baik pak.., terima
kasih atas kerja samanya..", sahut salah satu prajurit itu sambil menuntun
PM Ghoydee turun dari helikopter mereka, Sejumlah prajurit yang sebelumnya
mendekati heli untuk mengawal PM Ghoydee tampak berbaris di sekitar PM Ghoydee,
dan salah seorang dari mereka meminta PM Ghoydee untuk berjalan maju ke barisan
Panglima Rokhim dan yang lainnya, namun sepertinya Panglima Rokhim yang
ditemani Jend.Purnomo juga tampak berjalan mendekat ke PM Ghoydee.
"Selamat datang pak
perdana mentri.. Selama anda disini anda akan menjadi tahanan negara kami untuk
sementara sampai semua persoalan yang sedang terjadi terselesaikan.., mohon
anda untuk bekerja sama dengan kami..", kata Panglima Rokhim kepada PM
Ghoydee,
"..terima kasih atas
acara penyambutannya.., ayo, segera bawa saya.., agar tak bagitu menguraas
banyak waktu, karena waktu sekarang ini sangatlah berharga untuk di
sia-siakan..", sahut PM Ghoydee, Panglima Rockhim dan yang lainnya sedikit
terkesan melihat pribadi ringan dari seorang PM Ghoydee, bukan seperti proses
penahanan tahanan yang biasanya diterapkan, kali ini tahanan negara yang masih
berstatus sebagai pemimpin suatu negara itu diberlakukan dengan hormat.
50 meter tenggara Puea
thai party, bangkok..
Sebuah SUV terlihat
mengeluarkan asap dari kap mesinnya di sebuah jalan kecil tak jauh dari jalan
utama di bagian belakang sebuah bangunan kecil, sesekali bergantian tampak
beberapa warga sipil yang masih berada disana mendekati SUV itu untuk sekedar
melihat-lihat.
"..apa mereka tadi
melihat kita?", Letn.Mahda berbisik, "Aku rasa tidak, mengapa masih
ada warga sipil di daerah ini?", keluh Jim mengintip keluar dari balik
dinding sebuah bangunan tempat mereka bersembunyi,
"..daerah ini dekat
dengan maekas militer, mungkin mereka berfikir disini aman..", jawab
Letn.Mahda,
"..benarkah..? Lalu
bagaimana dengan itu??", sahut Jim sambil menunjuk ke salah satu bangunan
yang tampak hancur tak jauh dari situ, "..sudahlah, lebih baik kita segera
menuju ke situ.., Sersan..pergilah ke atap bangunan di arah jam 5, usahakan
untuk tidak terlihat..jagalah kami dari atas
"..ndan?",
Sers.Tari melirik Letnan Mahda, Letnan Mahda hanya menganggukkan kepalanya,
"bukankah kau lebih baik bila kau yang melakukannya?", kata
Sers.Tari,
"..kau seharusnya
tidak berkata seperti itu.., ini bukan tentang siapa yang terbaik melakukannya,
tapi ini tentang kesungguhanmu yang melakukannya untuk menjaga kami dari atas
"..Ndan! izin untuk
menemani Sersan Tari,", Sers.Hardi mengajukan diri,
"..diterima, tetap
gunakan radio kalian..", sahut Letn.Mahda,
Tak lama berselang
Sers.Tari dan Sers.Hardi bergerak memisah dari Elang dan yang lainnya,
"Ayo,
berkonsentrasilah.. Aku akan menjagamu..", kata Sers.Hardi yang bernama
lengkap Hardi Tougar,
"..terima kasih
Har.. Ayo!", sahut Sers.Tari.
"..Jim..beri aku
pistolmu, kita akan masuk ke markas itu..", kata Elang, Jim melemparkan
sebuah pistolnya kepada Elang, tampak Letnan Mahda juga sedang mempersiapkan
senjata dan perlengkapan yang masih ia miliki.
"Bagus.. Mereka mau
membantu kita, saya terpaksa menjual nama PM Ghoydee untuk membujuk mereka,
meskipun kita akan membayar mahal setelah ini.. Aku rasa tidak ada pilihan
lain..", ucap Pang.Katsuun seusai berbicara dengan pihak negara Malysia melalui
telepon darurat.
"..kerahkan kembali
semua pasukan yang tersisa..! Datangkan unit anti pesawat ke garis depan
segera!", perintah Pang.Katsuun, ia bersemangat kembali mengingat akan
segera mendapatkan bantuan untuKk menghadapi pasukan musuh yang memporak-porandakan
negaranya.
Pelataran Istana PM,
bangkok..
Keletihan tampak di
setiap raut pasukan-pasukan Kapten Joko dan Lettu Adam, banyak sekali
rekan-rekan mereka yang gugur dalam pertempuran kali ini, mereka tampak hanya
berdiam seakan menghayati sesuatu, sementara di atas sana Jet-jet tempur Tim 5
Kapten Dimas tengah membombardir deretan Tank-tank dan panser pasukan Thailand,
"DUMMPPMM...DUMMPP."N gemuruh ledakan seakan mengiringi penghayatan
mereka melihat tubuh-tubuh rekan-rekannya tergolek tak bernyawa di jalan-jalan
di balik pagar istana tersebut.
"Letnan..hubungi
pasukan di garis pantai untuk menuju kemari, sepertinya kita butuh bantuan
marinir-marinir tersebut..", ucap Kapten Joko,
"..baik
kapten..", sahut Lettu Adam sambil mengisyaratkan salah seorang anak
buahnya yang menenteng radio komunikasi di pundaknya untuk mendekat, prajurit
radio itu pun segera berlari mendekat,
"Siap ndan..",
ucapnya dengan nafas masih terengah,
"..hubungkan dengan
pasukan garis pantai," perintah Lettu Adam, prajurit itu pun tampak segera
memutar-mutar knob frekuensinya dan menekan beberapa tombol, kemudian ia segera
menyerahkan radio komunikasinya itu kepada Lettu Adam, Lettu Adam kemudian
memberikannya kepada Kapten Joko,
"..kapten Joko
disini komandan pasukan darat unit penyerangan kepada komandan pasukan laut
ganti..", Kapt.Joko memanggil,
"..diterima,
sebentar ndan..", jawab seseorang yang sepertinya prajurit radio di
pasukan marinir itu ia terus mengaktifkan radionya, sesekali terdengar dentuman
tembakan dan ledakan demi ledakan dari radio tersebut, tampaknya garis pantai
juga menjadi medan pertempuran semenjak menjelang pagi, namun sepertinya
pertempuran garis pantai tak begitu sengit sehingga tidak membutuhkan bantuan
dari skuadron udara dan tidak begitu menarik perhatian Panglima Katsuun karena
ia berkonsentrasi dengan perang kota di bangkok, tak lama..
"..diterima, disini
komandan pasukan marinir Kapten Hari ganti..", Kapt.Hari menyahut,
"Kapten, pasukan
saya disini terdesak, walaupun ada bantuan udara tapi saya rasa saya sudah
terlalu banyak kehilangan anak buah, ini akan sulit nantinya, kami membutuhkan
bantuan pasukan anda disini kapten..! Ganti", ucap kapt.Joko dari
radionya,
Sejenak Kapten Hari diam
memperhatikan sekelilingnya melihat prajurit-prajuritnya tengah bertempur
dengan pasukan musuh,
"..em..baiklah
kapten, harap menunggu, kami juga sedang menghadapi musuh..! Tapi kami akan
segera kesana..! Keluar..", sahut Kapt.Hari dan menutup radionya.
Pemandangan disekitar
istana thailand terlihat buruk, puing-puing reruntuhan berserakan di
kawah-kawah sisa ledakan, bangkai-bangkai tank, panser, helikopter, dan
sejumlah kendaraan sipil tergeletak di hampir seluruh sudut kota Bangkok,
sementara di langit empat buah jet tempur tengah sibuk menembaki pasukan musuh
di bawahnya melengkapi kengerian peperangan ini.
Markas pusat,
Di depan pintu terbuka
sebuah ruangan bernuansa semi klasik yang di gunakan sebagai ruangan tamu
markas itu tampak beberapa prajurit berjaga,
"Selamat datang di
negara kami pak Ghoydee..", sapa Pres.Darwinsyaha, Presiden indonesia yang
telah tiba di markas pusat dengan tersenyum, PM Ghoydee hanya tersenyum kecil
dan duduk perlahan disebuah kursi kayu dengan meja panjang dihadapannya yang
memisahkan ia dan Pres.Darwin, beberapa prajurit berdiri di sekitar kedua
pemimpin negara tersebut,
"..saya sebenarnya
malu duduk disini bersama dengan anda.. Bukankah lebih baik jika anda segera
menempatkan saya di penjara-penjara anda..? Mengingat apa yang telah saya
lakukan", kata PM Ghoydee pelan,
"..hmm, negara saya
dan saya tidak berhak menghukum anda.. Itu urusan PBB atau apalah, saya tidak
begitu menghiraukannya.. Saya duduk disini bersama anda untuk menghormati bahwa
anda adalah salah satu pemimpin negara di dunia, sama seperti saya.. Saya tidak
melihat anda sebagai seorang tahanan...", sahut Pres.Darwin dengan
tersenyum kecil, sejenak PM Ghoydee terdiam, sesekali prajurit berlalu-lalang
menghidangkan sedikit minuman dan makanan untuk PM Ghoydee dan Pres.Darwin,
"...saya terkesan
sekali dengan pandangan anda.. Membuat saya ingin menjadi pemimpin seperti
anda, tidak heran anda memiliki satuan militer yang bersiaga penuh demi
keamanan anda..", kata PM Ghoydee sambil melirik prajurit-prajurit yang
ada di sekitarnya dalam ruangan itu,
"Dan itu sangatlah
bagus, dibanding militer yang saya punya.. Justru menjatuhkan saya..",
sambung PM Ghoydee,
"Maksud
anda..?", Pres.Darwin bertanya, Pang.Rokhim dan Jend.Purnomo yang berdiri
di antara para prajurit pengawal juga tampak terkejut,
"..Panglima saya
mengkudeta saya di saat pasukan-pasukan anda menyerang negara saya..",
jelas PM Ghoydee, Panglima Rokhim melirik Jendral purnomo mendengar pernyataan
PM Ghoydee, "..kudeta..?", tanya Pres.Darwin heran,
"Yah benar...,
karena itu..sesaat sebelum salah satu pasukan anda menangkap saya, membuat saya
jadi berpikir bahwa pasukan anda itu datang bukan untuk menangkap saya, tapi
menyelamatkan nyawa saya di negara saya sendiri.. Terima kasih..", kata PM
Ghoydee sambil menundukkan kepalanya,
"...",
Pres.Darwin berfikir sejenak,
"Panglima Rokhim..,
apa kita bisa melakukan sesuatu akan hal ini?", tanya Pres.Darwin,
"..bisa
pak..!", jawab Panglima Rokhim,
"..baik saya
serahkan semuanya padamu.., Pak Ghoydee sebaiknya anda beristirahat sejenak,
pasti anda lelah..", tambah Pres.Darwin,
"..yah, saya rasa
itu bagus buat saya", sahut PM Ghoydee tersenyum.
Sementara Panglima Rokhim
dan Jendral Purnomo telah keluar dari ruangan itu, tampaknya mereka bergegas
hendak melakukan sesuatu.