Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Part 15 Prajurit Sebenarnya

 


Part 15  Prajurit Sebenarnya

Garuda 2, SU-27 Letnan Surya Darmana..

Markas Puea Thai Party, Bangkok..

"NgiiiiiiiiinnNng..!" Sirene tanda bahaya bergema,

"..pak, ada sebuah jet tempur musuh menuju kemari..!", kata prajurit radar mengetahui kehadiran Letn.Surya di kawasan udara markas mereka,

"..aktifkan SAM..! Kunci dan jatuhkan dia..!". Perintah Pang.Katsuun,

Sebuah peluncur roket SAM (surface to air missile)tipe S-400 terlihat berputar seperti menentukan posisi menembak,

"..bssstttt..bsssttt!! Wusssshhhhhmmmppppp!!!..", dua buah Roket meluncur menigincar jet tempur Letn.Surya.

"..tiiit..tiiit..tiiiit.."

Letnan Surya tampak berkonsentrasi setelah sinyal bahaya berbunyi di kokpitnya,

"..sial..! Mereka menembakkan dua..!?!?", guman Letn.Surya menyadari Dua buah roket SAM membuntuti SU-27 nya,

"Whuuummmmmpppppssss!!!"

Deru Jet di barengi desingan roket memenuhi angkasa Thailand, sering kali Letn.Surya harus berputar-putar juga bermanuver tak terukur saking di buat repot oleh Dua Roket itu,

Dari itu Letn.Surya memutuskan untuk terbang rendah di perkotaan, kemudian ia menjatuhkan sebuah bom di sebuah parkiran luas yang terdapat banyak mobil, karena ketepatan waktu saat menjatuhkannya, Bom yang ia jatuhkan turut meledakkan deretan Mobil di bawahnya,

"KABOOOOMMMBB!!!"

Bola api raksasa tercipta menghalangi laju roket tadi, membuat dua Roket yang mengejarnya kehilangan targetnya sehingga saling bertubrukan,

"DUAAAARRRRRMMMmPPPP..!!!"

Ledakan yang sangat besar menggetarkan Thailand, asap membumbung tinggi..

Letn.Surya segera berbalik arah, menyiapkan Dua rudal terakhirnya, Puea Thai Party telah terlihat..

"Tssshhh..tshhhh!! Wusssssmmmmppp"

Letnan Surya melepaskan Dua rudalnya ke markas besar militer Thailand yang di pimpin Panglima Katsuun itu, kemudian ia segera berbalik kembali untuk kembali ke indonesia mengingat seluruh perbekalannya telah menipis.

"..pak! Dua buah Rudal menuju kemari..!", teriak prajurit radar panik,

"..perintahkan Unit AA untuk menembak rudak itu secara acak..! ", perintah Pang.Katsuun,

"Dump..dump..Dump!! Dump..Dump!"

Semua senjata AA (anti-aircraft) menyebar tembakan ke udara, membuat langit sekitar markas itu di penuhi kepulan asap hitam, tak ubahnya sebuah awan mendung buatan.

"...Dump..dump..Dummp..!!!"

Tak di sangka ke Dua rudal yang dilepaskan Letn.Surya berhasil terkena tembakan AA-gun yang merata menutupi langit markas itu, ke dua Rudal itu tak hancur, hanya kehilangan keseimbangan dan tetap meluncur..

"DUAAAAMMMPPPP!!!"

Dan mendarat meledak setelah menghantam sebuah bangunan di sekitar Markas Pang.Katsuun itu jauh melenceng dari sasaran.

 

Tak jauh dari istana..

"..!!!..", Sers.Tari bergidik keget setelah menyadari Elang telah membidiknya sedari tadi, tiba-tiba saja tubuhnya bergetar tak terkendali,

"...ia shock..sepertinya ia belum pernah membunuh orang, dan sekarang harus melihat seseorang tengah bersiap menghabisinya..", Gumam Elang menyadari gelagat Sers.Tari,

Sers.Tari meneteskan air mata.. Menyadari hidupnya kan berakhir disini, bahkan untuk menggerakkan ujung jarinya saja ia tak sanggup,

"..Ayo, kita bergerak..!", Elang bangkit dan segera menuruni menara itu bersama Jim di belakangnya, Elang mengurungkan niatnya untuk menembak Sers.Tari, entah apa alasannya.

"..jadi mereka yang ditugaskan untuk membunuhmu ha?", Jim bertanya di tengah pergerakan mereka,

"..aku rasa begitu..",

"..kalian yang disana! Berhenti..! jangan bergerak..!", teriak Letn.Mahda telah melihat Jim dan Elang sekitar 100 meter di depannya,

"..tretetetetetet..!"

Jim langsung menembaki Letnan Mahda dengan senjatanya,

"..ufttth, sial..! Aku rasa dia mengira kita dikirim untuk membunuhnya!", kata Letn.Mahda sembari berlindung di balik dinding bangunan,

"..ini semakin sulit saja, ia telah membunuh Letnan Jauhar..", sahut Sers.Hardi,

Elang dan Jim tampak berlari menuju sebuah mobil, tak berselang lama mereka kabur dengan mobil itu,

"Sial.! Ayo..!..", Letn.Mahda dan Sers.Hardi tampak mengejarnya, "Hei..! Tunggu..! Elang..!", teriak Letn.Mahda namun tak terdengar oleh Jim dan Elang,

"Sial..! Pasukan Thailand..!!!", seru Jim sambil membanting kemudi ke arah kiri setelah melihat blokade prajurit Thailand tak jauh dari situ, mobil yang mereka tumpangi segera menggelincir di jalanan itu, roda depan menyentuh batas jalan membuat mobil mereka kehilangan keseimbangan..

"KRAShhh..!!!"

Mobil mereka terjungkal dan terbalik tepat ke tengah jalan,

4 orang prajurit Thailand itu segera mendekati Elang dan Jim yang terbaring lemas di mobil tersebut,

"..ekhhh..si..iial..,", Jim merasakan tubuhnya seolah tak mampu bangkit,

"..sshhhkkk...,", Elang berusaha meraih pistol yang tergeletak di sebelahnya, ia berusaha membidik prajurit Thailand yang semakin mendekat itu tapi tak bisa, tangannya terlalu lemah dan pandangannya masih buram..

 

Hanya tinggal beberapa langkah lagi prajurit-prajurit Thailand itu menjangkau mereka..

"Tretetetetetetertee..!"

Tembakan dari Letn.Mahda dan Sers.Hardi yang telah sampai tak jauh dari situ melesat menjatuhkan 3 orang prajurit itu,

"DASH..!",

Di susul tembakan Sers.Tari yang muncul dari arah yang berbeda dengan Letn.Mahda, merobohkan Satu lagi prajurit Thailand itu,

"..mungkin saat ini kita akan mati..", gumam Jim masih terbaring tak tentu di mobil mereka yang terbalik,

"..aku rasa begitu..", sahut Elang menyadari Tim Letnan Mahda telah berada di sebelahnya,

"Ayo..!!!",

" !!!...", Elang dan Jim kaget ketika Letn.Mahda dan Sers.Hardi malah bersama-sama hendak mengeluarkan mereka dari Mobil itu.

 

Istana PM Ghoydee, Bangkok..

"Segera berangkat..segera berangkat..!, sisanya kembali ke satuan Kapten Joko, bantu mereka..!", Lettu Adam memberi perintah,

Helikopter itu pun berangkat dari Istana itu, membumbung tinggi meninggalkan kota Bangkok,

Dan setelah itu Lettu Adam dan pasukannya segera berlalu bergabung dengan pasukan Kapten Joko yang masih bertempur di kawasan luar istana tersebut.

 

Markas Puea Thai Party, Bangkok..

 

"Baiklah.. Kabarnya PM Ghoydee telah tertembak mati oleh prajurit musuh, sekarang kita serang mereka..!", perintah Pang.Katsuun mengerahkan 500-an anak buahnya yang memang mengikuti langkahnya mengambil alih pemerintahan PM Ghoydee, pasukan yang terdiri dari Infantri, unit panser dan juga Tank-tank ini sedari awal menunggu saat yang tepat untuk di gerakkan maju ke medan pertempuran oleh Panglima Katsuun, sebuah strategi kudeta yang terbilang baik dalam segi mencari dukungan dari badan-badan pemerintahan yang memantau perang ini dari balik layar.

Sementara itu di Elang dan Jim tampak telah duduk bersama Letnan Mahda juga Sers.Hardi dan Sers.Tari di sebuah bangunan kedai kosong..

"..jadi, aku membuat kesalahan.. Kalian dikirim Jendral Purnomo untuk menjemputku kembali..., sssHhhhhhh..", Elang tampak menarik nafas berat, ia telah membunuh salah satu anggota Tim letn.Mahda, Letnan Jauhar.

"...apa kau tak bisa membedakan hah!?!", Sers.Hardi menarik kerah Elang, ia Emosi,

"..hentikan..! Jangan ganggu dia ** SENSOR **..!" Jim menyahut, sesaat Sers.Hardi dan Jim bergerumul saling pukul,

"...Jim, hentikan..!!!", Elang menyela,

Jim melepaskan Sers.Hardi yang sudah di genggamannya,

"..sekali lagi kau menyentuhnya.. Ku kirim kau ke neraka!". Jim mengancam Sers.Hardi lalu duduk di sebelah Elang,

"..siapa dia..?", tanya Letn.Mahda kepada Elang,

"..dia.. ..dia adalah kakak ku, di berasal dari korea, jadi jika kau ingin membawaku, bawa juga dia..", jelas Elang,

"...", Jim ho tersenyum mendengar kata-kata rekannya itu, ia memang sudah menganggap Elang sebagai adiknya sendiri semenjak mereka bersama-sama.

"..mengapa kau tak membunuhku..?!?", Sers.Tari tiba-tiba menyela,

"...", Elang melirik Sers.Tari,

"..katakan..! Apa alasanmu tidak menembakku?!", semua terkejut mendengar pertanyaan Sers.Tari,

"..hmmm, karena itu..", Elang menunjuk ke sebuah Wing di kerah seragam Sers.Tari,

"Hmm??", Sers.Tari melirik Wing yang ada di kerahnya, tampak sebuah Wing logo kecil berbentuk pisau terbalut sayap dan titik bidik, "..ini..?" Sahut Sers.Tari,

"...itu adalah simbol lulusan pendidikan Sniper angkatan darat dari pusdikpassus dan pusdik Infanteri.. Aku pernah belajar di sana, setengah keahlianku aku dapat disana..., jadi simbol itu yang menyelamatkanmu..", jelas Elang.

Sers.Tari terdiam, ada perasaan takjub saat ia mendengar penjelasan Elang, itu adalah penjelasan yang hanya bisa di ucapkan oleh seorang prajurit sejati yang tak pernah lupa dari mana dia berasal, dan dimana ia menempatkan rekan senegaranya sebagai keluarga jauh di dalam dirinya,

"..kau...,, terima kasih...", sahut Sers.Tari,

Elang hanya tersenyum..

"Lalu bagaimana dengan Perdana Mentri yang kau tembak tadi? Apa dia memang targetmu..?..", Letn.Mahda menyela,

"..soal itu...aku...", penjelasan Elang terhenti.

 

Helikopter Evakuasi, Langit Thailand..

 

"terima kasih...", kata PM Ghoydee sambil memegangi lengan kirinya kepada seorang prajurit yang sedang merawatnya di heli yang ia tumpangi,

"Sama-sama pak, mohon bapak bekerja sama selama proses evakuasi ini..", sahut prajurit itu.

Ternyata Elang tak membunuh PM Ghoydee, Elang hanya melencengkan tembakannya ke lengan kiri PM Ghoydee, sehingga membuat PM Ghoydee tampak terjatuh bersimbah darah, maka orang-orang akan mengira PM Ghoydee tewas tertembak, meskipun rencana itu tak akan bertahan lama.

Sementara itu pasukan Panglima Katsuun terus bergerak menuju pasukan Kapten Joko dan Tim Lettu Adam yang masih berada di kawasan istana, dan belum ada seorangpun dari pihak militer indonesia yang menyadari serangan balik berkekuatan penuh itu.