Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Part 14 "Menjelang Pagi "

 


Part 14  "Menjelang Pagi "

Kawasan Istana, Bangkok..

Tampak sebuah sedan melaju di jalan yang telah sunyi di tinggalkan masyarakat kota bangkok yang mengungsi tak jauh dari pasukan militer Thailand yang masih berusaha bertempur dengan prajurit-prajurit indonesia,

"Sebaiknya kita berhenti disini, agar tidak mengundang perhatian..", Letnan Mahda memberi instruksi,

Letnan Jauhar yang memegang kemudi segera menepikan sedan yang mereka tumpangi di sebuah persimpangan,

Ke empat prajurit itu pun segera memeriksa kondisi sekitar, mereka adalah tim khusus penyelamatan sandi:Elang yang dikirimkan Jendral Purnomo, tampaknya mereka mencuri mobil masyarakat sekitar untuk sampai kemari, karena bukan perkara yang sulit untuk menemukan kota bangkok bagi orang awam sekalipun, sejumlah kepulan asap dan kobaran api di kota bangkok terlihat dari kejauhan.

"..kita mulai dari mana? Kita berada di balik garis musuh..!", Letn.Jauhar memberi tau,

"..sebentar, target kita, Agen itu adalah si Silent killer divisi mata-mata..", jelas Letnan Mahda,

"Lalu apakah maksud anda kemungkinan dia juga akan ikut andil di pertempuran ini..?", Sers.Tari menyahut,

"..memang kemungkinannya sangat kecil,, tapi bukan tidak mungkin meskipun dalam keadaan seperti ini ia tetap menjalankan tugasnya sebagai Agen indonesia..", Tambah Letn.Mahda lagi,

"..jika perkiraan kau benar, ini sama saja mencari jarum di tumpukan jerami..!", Letn.Jauhar menyela, "bagaimana kita memulainya..?", lanjut Letn.Jauhar bertanya,

"..mungkin saat ini Agen itu tengah memantau peperangan ini, jika aku tak salah.., kita hanya perlu mencari cara agar ia muncul beraksi..," sambung Letn.Mahda,

"Bagaimana caranya? Pak?", Sers.Tari bertanya,

"Saya sendiri tidak tau..".  jawab Letn.Mahda.

Mereka tak menyadari sebuah teropong tengah mengamati gerak mereka dari kejauhan..

Elang memperhatikan ke empat prajurit itu melalui teropong M82 nya,

"..pasukan tak ada simbol bahkan tak ada apapun di seragamnya?.. Dari perawakan dan jenis senjatanya mereka dari indonesia.., mungkin kopassus, tapi apa misi mereka sehingga terpisah jauh dari pasukan lain..?" Gumam Elang dalam hati,

"..Jim,..", Elang memanggil rekannya,

"..ada apa?", sahut Jim yang tampak tak bersemangat lagi,

"..jika kau menjadi seorang Jendral, apa yang akan kau lakukan jika ada seorang Agen yang membahayakan Negara dan posisimu sebagai jendral?", Elang bertanya,

"..hahaha..bagaimana aku bisa jadi jendral?", jawab Jim tertawa,

"Sudah jawab saja!!!", Elang serius,

"..oke..,, yah tentu saja aku akan membunuh Agen itu demi negara ku dan aku sendiri,, mudah kan?",

"Eh..kenapa kau menanyakan itu..? Apa yang kau lihat?", Jim berbalik bertanya sambil meraih binocularnya segera memperhatikan jauh ke depan.

"Siapa mereka..?", tanya Jim setelah melihat pasukan Letn.Mahda di kejauhan,

"..mereka pasukan khusus dari negaraku, mungkin mereka di kirim untuk melenyapkanku...", jawab Elang.

Sementara itu Heli-heli jenis AS 550 tengah menggempur Panser-panser militer Thailand dengan misil-misil yang mereka bawa, tak jarang tembakan balasan dari senjata-senjata mesin panser-panser itu juga berhasil menjatuhkan Heli-heli tersebut,

"DUAMMMPPPP...DUAAAMMMPPP..!!!"

Ledakan demi ledakan kembali menghiasi kota Bangkok menjelang pagi ini, tampak tak sedikit pula prajurit-prajurit yang gugur dari kedua belah pihak, seakan menandakan perang ini bukanlah perang negara, tapi mereka..para prajurit.

 

Istana PM Ghoydee, Bangkok..

Letnan Adam dan pasukannya terlihat berbaris hendak keluar dari istana itu bersama tawanan mereka PM Ghoydee di tengah-tengah mereka,

"..ada yang ingin aku tanyakan padamu prajurit..", tanya PM Ghoydee kepada Letnan Adam sambil terus berjalan mengikuti gerak pasukan tersebut,

"..apa yang hendak anda tanyakan pak perdana mentri..?", jawab Letn.Adam dengan tetap waspada dalam formasi timnya,

"..jika kau bisa mengulang hidupmu, apa yang ingin kau ulang di hidupmu?..", tanya PM Ghoydee, "...", Letnan Adam sedikit terkejut mendengar pertanyaan PM Ghoydee,

"..sudahlah, kau tidak harus menjawabnya..", sambung PM Ghoydee tersenyum.

"Pak, Heli penjemput telah menunggu di luar..", seorang anak buah Letn.Adam memberi tau,

"..baik, segera bergerak untuk mengevakuasi tawanan kita..", sahut Letn.Yudha, sejenak mereka berhenti di pintu-pintu kaca istana, tampak sebuah Heli tengah menanti 20 meter di depan.

"..Lihat itu..! Mereka akan segera membawa PM Ghoydee!", seru Jim,

Elang segera mengarahkan teropongnya,

"..apa yang akan kau lakukan Elang???", Jim bertanya, Elang hanya diam tak menyahut, namun ia tetap memposisikan titik bidiknya ke dada PM Ghoydee,

"..kau harus melakukan sesuatu..waktu kita tak banyak...", Jim ho mengingatkan,

". . ." Elang masih diam, sesuatu sedang bergejolak dalam dirinya, jari telunjuknya bergetar di sisi picu senapannya,

"..Elang..! Apa yang akan kau lakukan?!?", Jim kembali bertanya.

Tak jauh dari mereka, Tim Letnan Mahda juga bergerak memutar mendekati kawasan istana tersebut,

"..terus bergerak..! Dari percakapan komunikasi radio, Tim pemburu berhasil menangkap Pemimpin negara ini..!", perintah Letn.Mahda terus bergerak bersama 3 orang anak buahnya.

"..mungkin ini satu-satunya kesempatan kita untuk mengetahui dimana Agen itu berada..", tambah Letn.Mahda lagi,

Letnan Mahda dan para anak buahnya tampak berlari cepat menyusuri tiap-tiap jalan tikus di antara gedung-gedung di kota itu.

 

Markas Pusat, Jakarta, Indonesia..

"Pak, sepertinya Tim lettu Adam berhasil menangkap PM thailand..,", seorang prajurit komunikasi melapor,

"..baik, konfirmasikan mereka untuk segera membawa tawanan kemari..!, dan juga untuk sementara tarik Skuadron Udara pimpinan Letnan Yudha kembali, perintahkan Skuadron Kapten Dimas untuk menggantikan mereka..!", perintah Pang.Rokhim Maluda,

Penarikan jet-jet tempur pimpinan Letn.Yudha di lakukannya untuk tetap mempertahankan keunggulan saat ini, mengingat Letn.Yudha dan rekan-rekannya sudah melihat rekannya tewas, bisa jadi pengendur semangat, juga sebagai antisipasi jika mereka kehabisan perbekalan amunisi dan sebagainya.

Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan..

Empat buah jet tempur Tim 5 SU-30 MK2 tampak bersiap untuk lepas landas mengingat mereka di tugaskan menggantikan Tim Garuda pimpinan Letn.Yudha.

"Menara..di sini chief tim 5 Kapten Dimas anggara meminta izin untuk lepas landas..", Kapt.Dimas menghubungi Flight tower,

"..di izinkan Tim 5.."

Tak berselang lama ke empat jet tempur itu tampak segera melesat meninggalkan pangkalannya menuju medan pertempuran.

 

Thailand, menjelang pagi..

"Garuda 1 ke tim Garuda,, diperintahkan untuk kembali ke pangkalan.. Akan ada Tim 5 Kapten Dimas yang akan menggantikan kita, ganti..", Letn.Yudha mengkonfirmasi Garuda lainnya,

"..di mengerti, usul Garuda 1, sebelum kita kembali meminta izin menggempur Markas besar musuh, ganti..", Letn.Surya garuda 2 meminta izin untuk menyerang Markas militer Thailand Puea thai Party, markas Pimpinan Panglima Katsuun,

"Di izinkan garuda 2, 5 menit dari sekarang..",

Letnan Surya segera melesat begitu mendapatkan izin dari Chief skuadronnya Letnan Yudha.

 

Kawasan Istana, Bangkok, Thailand..

 

Beberapa orang tampak berada di atap sebuah gedung tak jauh dari Tim letnan Adam yang hendak mengevakuasi PM Ghoydee tawanannya menggunakan Helikopter,

Mereka Tim letnan Mahda.

"..jika si Silent killer itu beraksi, kita akan melihatnya dari sini.., usahakan untuk bersembunyi, aku punyaa firasat dia sedang membidik dari kejauhan..", Letnan Mahda memberi aba-aba yang segera dilakukan 3 orang anak buahnya.

"Baiklah, ayo bergerak dengan cepat..! Ayo..ayo..!", Letnan Adam dan anak buahnya mulai bergerak menuju helikopter yang menunggu Tawanan mereka PM Ghoydee.

"Elang.., mereka bergerak..! Semua terserah padamu.., putuskan sekarang", Jim mengingatkan rekannya,

Elang masih diam saja.

"Pak..silahkan naik ikut kami..", Letnan Adam meminta PM Ghoydee untuk segera menaiki Heli yang sedari tadi menunggu, PM Ghoydee tampak tak ragu-ragu untuk menaikinya, kemudian..

"DASH..!!!"

Sebuah tembakan bergema di kejauhan...

PM Ghoydee roboh bersimbah darah...sesaat sebelum menaiki heli tersebut, Elang menembaknya.

" !!!!, segera bawa dia cepat..!, beri tembakan perlindungan ke tenggara 15 derajat..!", Letnan Adam cepat membaca situasi, ia memerintahkan anak buahnya tetap membawa PM Ghoydee dengan heli itu, serta memberi tembakan perlindungan,

"Tretttetetetetetet..!"

Tembakan tak terarah mengarah ke daerah tempat Elang dan Jim berada, sesekali tembakan Tim Letn.Adam berhasil mengenai materil sekitar tempat Elang dan Jim berada.

"Akhirnya dia beraksi.., ayo ke tenggara! Mungkin ia di sekitar menara air tinggi itu..!", perintah Letn.Mahda kepada timnya setelah lama memperhatikan, menara air itulah tempat terbaik untuk menembak,

Ia dan Timnya segera bergerak ke sana.

 

"..baiklah kalau begitu..! Ayo kita bergerak..!", ajak Jim,

"...tunggu dulu..! Ada yang menuju kemari..!", sahut Elang melihat Tim letnan Mahda menuju ke arahnya,

"DASH..!!!"

Elang kembali melepaskan tembakannya, Letnan Jauhar roboh bersimbah darah,

"Letnaaaaan..!!!", sers.Tari terkejut salah satu atasannya roboh,

"..apa yang dilakukan Agen itu..!?!? Kenapa dia menembaki kita..?!?!", Sers.Hardi mulai panik, "entahlah..!!! Aku juga tidak tau..!", jawab Letn.Mahda,

"..bagaiman keadaan Letnan Jauhar??", tambah Letn.Mahda sambil bersembunyi di balik bangunan,

"..beliau gugur..", jawab sers.Tari,

"Sersan Tari, Lindungi kami, aku dan Hardi akan mencoba mendekat memutar..!", perintah Letnan Mahda,

"Baik pak..!", sahut letnan Tari menyiapkan senapannya, tampak ia juga seorang Sniper dengan menenteng SPR-1 pabrikan Indonesia di genggamannya.

Elang masih membidik mencari Tim Letn.Mahda yang lain, begitu juga sers.Tari mulai membidik dari balik sebuah tong sampah melalui teropong senapannya,

"..ayolah..dimana kau silent killer... Akan ku patahkan posisimu sebagai penembak terbaik..", gumam Sers.Tari sambil terus mencari posisi Elang melalui teropong SPR-1 nya,

"..hmm..ia wanita itu juga seorang sniper ternyata..,,", Gumam Elang setelah ia menemukan Sers.Tari dengan teropong M82nya,

Meskipun Sers.Tari sudah berada di titik bidiknya, Elang belum menembak..

Sers.Tari terus mencari posisi Elang, ke kanan, ke kiri, hingga akhirnya ia mendapati seseorang tengah membidiknya...