Part 10 "Serangan Mendadak..!"
Bagian 10 "Serangan Mendadak..!"
Lanud Abdurrahman Saleh,
"Garuda 1, Garuda 1, lampu hijau kode merah, silahkan lepas landas, di ulangi.. Silahkan lepas landas..," kepada petugas menara penerbangan memberikan instruksi lepas landasnan Yudha sebagai Chief Operasi Angkatan Udara,
"Di terima, Garuda 1, Garuda Tim lepas landas..", sahut Letn.Yudha,
Sukhoi tipe SU-27 yang memiliki NATO : flanker itu melesat terbang ke angkasa, tak lama di ikuti juga oleh Garuda 2 atau SU-27 yang lain, juga 4 buah F-16 sebagai pengawal Hercules-Hercules yang membawa prajurit, juga sebagai serangan pembuka dalam operasi ini,
"Selanjutnya..bersiap! Gelombang ke 2 tahap penyerangan...!", seru Panglima Rokhim Maluda di radio komunikasi Markas pusat Operasi,
Maka Laksamana Agung
Sucipto segera memerintahkan Pasukan Armada Baratnya yang berpusat di Tanjung
Priok, untuk segera berangkat,
Tiga buah Kapal Armada
pemukul segera berlayar menuju
KRI Abdul Halim Perdanakusuma
355, dan
KRI Karel Satsuit Tubun
356 yang masing-masing gagah menenteng Rudal Yankhont dan C802, Armada laut ini
juga membawa para satuan Marinir sebagai pasukan pemukul garis pesisir pantai
"Apa Letnan Mahda
dan timnya telah bergabung di gelombang ke dua Letnan?", tanya
Jend.purnomo di sela keberangkatan Gelombang ke II kepada Letnan Vega
ajudannya,
"Sudah pak, di
konfirmasikan Letnan Mahda dan rekan telah berangkat bersama para
Marinir..". Jawab Letn.Vega sigap,
Jend.Purnomo hanya diam
sambil memegangi kepalanya, seperti menaruh harapan besar kepada Letnan Mahda
dan rekan-rekannya untuk berhasil membawa pulang anak didiknya di divisi
mata-mata dahulu.
"Pak, dilaporkan jet
tempur Singapura. Telah bergabung dengan Garuda gelombang pertama pak..",
prajurit komunikasi memberi tahu, "baik, teruskan evaluasi, lanjutkan
misi..!," sahut Panglima Rokhim.
"Waktu penyerangan 1
jam dari sekarang pak.." Tambah prajurit komunikasi itu.
Garis pantai, khao lak.
20 menit sesudah
penyerangan...
"Apa maksudmu
negaramu dalam mode penyerangan?.. Dan OUT OF TERRITORY 86?", Jim bertanya
serius,
" Itu adalah
protokol penutupan akses nirkabel yang hanya di lakukan saat Militer di
negaraku sedang beroperasi untuk menghindari gangguan dari akses nirkabel,
dengan kata lain.. Militer negara ku sedang beroperasi penuh.., 80% kemungkinan
sedang menyerang.. .", jelas Elang,
"Menyerang? Apa
mungkin jika negaramu menyerang
"Jangan berfikir
terlalu ekstrim, bisa saja ini mode penyerangan Gelombang, kalau sudah seperti
itu, ini bisa saja hanya misi penculikan kepala negara yang menjadi
target...", tambah Elang lagi,
"..apa kau tau kita
harus berbuat apa untuk saat ini?..", tanya Jim ho lagi?
"Aku rasa kita harus
menunggu beberapa saat, jika perkiraanku dan dugaanmu benar,, mungkin akan
tampak sebuah jet tempur atau pesawat penerjun tak kurang dari 30menit
lagi..", kata Elang.
Istana Perdana Mentri,
45menit sesudah
penyerangan...
Sebuah lampu kecil
berwarna merah yang menempel di dekat sebuah telepon terlihat berkedip cepat,
tak jauh dari situ tampak PM Ghoydee tengah tertidur pulas.
"Sial...pak Ghoydee
tak menjawab telponku..",
Houn, seorang mata-mata
langsung dibawah perintah PM Ghoydee tampak cemas ketika sang Perdana Mentri tak
menjawab telpon satelitnya, sesekali ia melihat ke atas langit..
"Tidak salah lagi..,
ini penyerangan..!!", gumam Houn setelah melihat sejumlah pesawat tampak
mengarah ke negaranya,
"...oh ya, pusat
militer!..", Houn berniat menghubungi markas militer negaranya.
Perbatasan
Thailand-Malaysia, Laut Selatan tak jauh dari teluk
Beberapa saat lagi...
Dua buah kapal perang
Singapura yaitu RSS Endurance 207 dan RSS Resolution 208 telah bergabung dengan
KRI Oswald Siahaan 354, KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355, dan KRI Karel
Satsuit Tubun 356, tak jauh dari situ di hamparan gelapnya langit 8 buah jet
tempur berformasi mengawal 2 buah Hercules yang terlihat sudah membuka pintu
kabin penerjunan.
"Kau mendengar
itu..?", tanya Elang kepada Jim, "iya aku mendengarnya... Seperti
suara gemuruh mesin atau sejenisnya..", jawab Jim ho,
"Bukan...itu suara
Flanker! Kau dan aku benar,
Lautan pesisir,khao lak.
13 jam setelah
KRI-KRI sudah menurunkan
pasukan Marinir Dengan kapal-kapal kecil dari lambung mereka, sekitar 200
marinir di turunkan, tak berapa lama para Jet tempur telah berganti ke formasi
menyerang, Hercules-hercules terus mendekati bangkok dan langsung menerjunkan
tak kurang dari 300 prajurit, sekilas tampak payung parasut bundar para
prajurit menghiasi langit thailand.
"Ngeeeennngggg...ngeeeeeenggg!"
Sirine meraung dari sejumlah markas militer
"Cepat..! Kerahkan
semua pasukan..! Beri sinyal penuh kepada skuadron udara dan juga angkatan
laut..!!!", Panglima Katsuun terlihat sibuk mengatur proses penanganan
serangan yang datang tiba-tiba ini, "panglima, di kabarkan pesawat-pesawat
musuh telah menurunkan pasukannya di sekitar bangkok..!", Jendral Tedoo
melapor,
"Segera kirim semua
pasukan darat ke
Dan Mueang, Royal Thai
"Wuuuuummmmmppppp...",
Sukhoi dan F-16 berputar-putar di langit thailand, gemuruh jet tempur itu
membuat kepanikan di kawasan Lanud Dan mueang, tampak beberapa Jet tempur
bersiap untuk lepas landas menyadari serangan telah datang secara tiba-tiba.
"Garuda 1,Target
terlihat, bentuk formasi penghancuran..!", Letn.Yudha memberi arahan dari
kokpit SU-27nya,
Ke 4 F-16 berputar dan
segera menukik dengan formasi berurutan,
"Wussshhhhh...wushhhhhhmmm..!!!
Wussshhhhh",
Masing-masing F-16 itu
melepaskan Rudalnya ke Lanud Dan mueang tersebut.
"DUAAAARRRRRRRR...DUUARRRRRR!!!"
Pangkalan jet tempur
"Lapor panglima...
Markas Dan mueang telah di serang, dilaporkan tak ada yang tersisa..!",
seorang petugas memberitahu sang panglima bahwa pangkalan udara mereka telah
hancur,
"....Sialllll..!!!!",
Pang.Katsuun memukul meja, ia tak menyangka serangan musuh begitu terkoodinir
menghancurkan daerah Vital mereka, sehingga musuh akan mudah menyerang dengan
tidak adanya dukungan Udara.
sementara itu...
"Sudah
dimulai,sebaiknya kita menjauh.., akan sangat lucu jika kau di tembak oleh
prajurit dari negaramu..", kata Jim ho sambil melihat kawasan pantai yang
tak jauh dari mereka sudah di penuhi ratusan Marinir.
"Baiklah,
ayo..", jawab Elang sambil meraih senjata juga ranselnya.
Di pinggir pantai tak
jauh dari posisi Jim dan Elang berada, tampak 4 orang prajurit bergerak memisah
dari para marinir,
"Ingat, tugas kita
menemukan dan membawa pulang agen kita dengan sandi;Elang..kita mulai dari
sini..", Letnan Mahda, komandan tim kecil itu menjelaskan.
"Siap ndan!!!", sahut ke tiga anak buahnya kompak.