B A Y O N E T
3. B A Y O N E T
Kamar
untuknya tidak besar, tetapi cukup nyaman.
Harun
melemparkan perlengkapannya ke lantai dan merebahkan diri di tempat tidur.
Sambil merentangkan kedua tangan, ia memejamkan mata dan berusaha untuk Ielap.
Tetapi instruksi Pusaka, supaya ia bersiap pada pukul enam pagi, membuat
pikirannya terganggu. Dipandangnya langit-langit kamar. Apa lagi yang haruS
dihadapinya?
Semua
alasan yang dikemukakan Kulyubi maupun Oskar terasa wajar dan masuk akal, namun
hati kecilnya merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Mereka hanya bicara tujuan
dan sasaran, tetapi materi sasarannya tidak disinggung sedikit pun.
la
hanya diminta sebagai pengantar, titik. Tak lebih dan tak kurang. Hanya itu.
Harun
merasa ia telah ditaruh dengan sengaja di tengah arena permainan. Membuatnya
penasaran sekaligus merasa diremehkan.
Tiba-tiba
Pintu kamarnya diketuk. Seorang pelayan mengantarkan kopi dan sepiring kecil
pisang goreng yang sudah dingin.
"lHanya
ada ini, ooom..." Biar saja, pokoknya asal untuk ganjal perut. Terima
kasih”
kata
Harun.
la
duduk di tepi raniang satnbil menikmati makanan. sialan, nwrek•a selalu
tnenganggap semua orang harus lapar. Dalam tempo singkat, pisang goreng itu
tinggal beberapa saja.
Sanibil
menikmati rokok, pandangannya menjelajahi ruangan,
Tanpa
sadar matanya tertumbuk se«uatu yang menonjol ranselnya. la mengambil barang
tersebut. Sebuah Bayonet. la melepas bayonet itu dari sarungnya, mengamatinya
dengan seksama. Sudah bertahun-tahun benda ini tak pernah disentuhnya Bajanya
sudah legam.
la
menempelkan bayonet itu ke pipinya. Hm, dingin. Benda ini telah menjadi saksi
sekaligus pembelanya.
Ketika
sedang berkemah di bukit daerah Gunung Masigit. saat dahulu masih menjadi
Pramuka di SMP, tak sengaja ia dar kawan-kawannya masuk sebuah gua, yang ternyata
bekas persembunyian DI/TII. Di situlah bayonet tersebut ditemukannya
Bila
bepergian jauhbayonet itu selalu dibawanya. Ayahnya sering marah, tidak senag.
“Kau ini mau jadi apa bawa pisau segala. Mau jadi jagoan?”
Apalagi
sewaktu kepergok belajar lempar pisau, tiga tamparan langsung mendarat di pipi
kanannya. Karena pohon pohon pisang di kebunnya rusak semua. Tapi ia tak jera
dan terus belajar dengan sembunyi-sembunyi.
Sewaktu
SMA, ia sudah jadi jagoan dibandung pentolan "koboi" BBC, NC, BOX-T,
hingga Dulatip sampai Baros, Cimahi, hampir semua merasa segan padanya. Begitu
juga sewaktu ia terlempar kedunia hitam Bayonet ini merupakan salah satu
penentu jalan hidupnya. Bermula pada tahun kedua kuliah. Ia mengikuti kejuaraan
Karate Internasional di Medan. Babk penyisihan dilalui tanpa rintangan.
Menjelang babak semi ia harus bertanding dengan seorang yang ternyata putra
bandar judi di Medan. Persoalan mulai muncul.
Di
sini ia mengenal satu sisi kehidupan dunia judi kota Medan.Yang kalau
memungkinkan menebak jenis kelamin anak kelinci yang bakal lahir pun, bisa
dijadikan obyek judi. Apalagi pertarungan seorang anak bandar judi dalam sebuah
kejuaraan karate. Bisa dipastikan sangat seru taruhannya.
Harun dan temannya langsung didekati bandar
judi agar mengalah pada anaknya. Selain iming-iming hadiah bila bersedia
melakukan itu, bandar judi itü memberi juga ancaman kekerasan. Harun mengelabui
mereka. la pura-pura patuh.
Namun
sewaktu pertandingan, anak penjudi itü justru disikatnya habis, Di situ
kesalahannya. la tak mengira bahwa gerombolan penjudi itü serius.
Yap
Khun Hin, Si bandar judi, jadi berang. Dia datang ke hotel.
Harun
naik darah, mereka benar-benar menyerangnya. Da lam sebuah pergulatan, karena
terdesak, Harun jadi mata gelap. Jurus
pantangan aliran "Black Panther” dikeluarkan.
Yap
Khun Hin patah lehernya.
Harun panik. la kabur dengan berbekal apa
adanya.
Di
lorong hotel, seorang polisi memergokinya. Mencoba menahannya dengan ancaman
senjata api. Terjadi pergumulan, dan entah mengapa Sersan Johny purba
tersungkur. Senjata api yang dipegangnya
meletus sendiri. Dar! Harun kian lepas
kontrol.
la
bersembunyi hampir dua minggu di Tebingtinggi dan Deliserdang. Saat itu,
bayangan balas dendam dari polisi, lebih menakutkan daripada keadilan hükum
pengadilan.
Kemudian
dengan bantuan uang seorang teman asal Medan,
ia berhasil beli tiket naik kapal "Queen Mary” yang melayani
Tanjung Priok-Singapura-Belawan.
Semula
ia berniat pulang, namun di atas kapal muncul rasa takut. la ngeri polisi akan menangkapnya
begiiu tiba di Tanjung Priok atau
Bandung.
"
Wuaah. Ditangkap polisi? Neraka itü artinya. Kau pasti konyol. Di bawa ke
pengadilan melawan cokinı? Makjang, cantik
nian mimpi kau. Mana mungkin kau bisa menang lawan cokim? Ikut aku punya saran. Larilah ke Singapura.
Setelah dua tiga bulan, baru balik ke Jawa. Tak usalı takut. Banyak rang kita
di kota canlik itu. Pergilah berlayar.
Di taman Raffles sana, banyak yang cari pelaut kontrakan. Senang kau pasti jadi
pelaut bah”, seorang awak kapal memberi
saran.
Berlayar?
Sebuah romantisme amatiran muncul.
la
tambah nekad. la minta informasi lagi. ”lnang! Satu lagi bisa?!” kontan lelaki
itu berteriak
Inang berbaju kuning yang sedang berdagang di
ujung dek itu mengangguk.
Mudah kan. ” lelaki itu tertawa lebar sewaktu
Harun memberi tip
Harun
mengangguk.
Ketika
transit di Pelabuhan Singapura. Inang yang sering berjualan diatas kapal,
menghubungi sebuah sindikat gelap setelah membayar cukup besar. Harun turun
dari kapal dan masuk Singapura secara illegal, melalui Tongkang penjual buah
buahanyang sering merapat ke kapal.
Singapura
waktu itu merupakan kota ke empat
Bangkok, Manila, Hong Kong, yang kecipratan ”arus kotor” perang Vietnam.
Penyelundupan dan sebagainya tumbuh
Subur
Harun
yang berbekal nekad mulai menyesal ditipu buaian konyol calo di kapal itu.
Uangnya habis. Ia pun luntang lantung tanpa tujuan.
Ia
tak punya pilihan. Seorang kenalannya
yang bernasib sama, mengajaknya mencari kerja sebagai pelaut bayaran. Ia pun gentayangan di Taman Raffles yang menjadi “bursa” pelaut gelap.
Harun
sial, karena kurang pengalaman, jarang orang mau memakainya. Ia terpaksa
menentang arus. Jadi penyelundup amatir jalur Singapura-Bangkok, yang cukup
hanya bermodal nekat.
Suatu
saat Lee Kuan Yew menyatakan perang terhadap kejahatan. Bajingan kelas teri ditumpas habis. Imigran gelap
dauber uber. Harun semakin kepepet dan terpaksa terdampar makin jauh. Ke
Bangkok !
Di
Bangkok, Harun tak sudi lagi jadi kelas mau terus-terusan di jalan penjahat. Ia
memilih jalan tengah. Jadi pelaut
bayaran. Selain mendapat uang, dari buruan petugas imigrasi. Namun
kehidupan makin keras.
Nama
"Harun Bayonet” mulai berpijar setelah ia berkelahi dengan komplotan
mucikari yang akan menjual seorang anak gadis
di bawah umur asal Indonesia. Komplotan itu dilabraknya seorang diri. Pemimpinnya diberi tanda mata abadi.
Alat vitalnya dijadikan tak berfungsi.
Akibatnyajadi panjang. Harun mulai tak aman, ia selalu diincar dan diburu.
la
melangkah lagi. Mendaftar di kapal berbendera Panama
untuk
mengantar senjata dan amunisi melalui sungai Mekong dari Bangkok ke Pnomp Penh
yang saat itu sedang dikepung Khmer Merah.
Empat
ekspedisi dilalui dengan selamat. Namun pada pelayaran yang ke lima, kapalnya
hancur akibat roket komunis. Dan karena
itu, selama tiga minggu ia benar-benar masuk ke dalam perang dalam arti
sebenarnya.
Bersama
seorang penumpang kapal yang selamat, yang ter nyata anggota SEAL (pasukan
khusus AL Amerika), ia dikejar pasukan komunis.
Dalam
pelarian itulah mereka tersesat, hingga masuk ke per- batasan Vietnam-Kamboja. Di situ Harun
mengalami pertarungan hidup atau mati dengan unit-unit tempur Vietcong dan NVA.
Sekaligus belajar gratis tentang bagaimana cara untuk tetap hidup dari "Vinegar" Brown, SEAL sinting asal
Seatlle itu. Baik pelajaran bertarung untuk tetap hidup, atau pelajaran
bertahan hidup di alam yang buas.
Keduanya
selamat berkat pertolongan satuan "Harimau Kuning" RARVN (Pasukan
Rangers Vietnam Selatan) yang menemu kan mereka di tengah hutan. Dan membawa mereka
ke Moc Hoa, kota di pinggiran sungai
Mekong.
Di
tempat itu Harun makin bingung. la tak tahu harus ba gaimana. la mandah saja
ketika Brown menganjurkan bergabung dengan Volunteer Traine, sebuah kesatuan
prajurit bayaran yang di koordinir SEAL, yang dipergunakan untuk memenuhi
kebutu han operasi logistik di sungai-sungai.
"Itu
adalah sebuah akademi kehidupan. Kau cocok di situ.
Kau
punya bakat jadi filsuf penting di sana," kata Brown.
Ketika
latihan menjelang usai, Pasukan Vietnam Utara mulai menyerbu ke selatan secara
besar-besaran. Jenderal Nguyen Van Giap mengerahkan seluruh kekuatan, mendobrak
setiap pertahanan pasukan Vietnam Selatan (ARVN) yang sudah ditinggalkan
pasukan
Amerika sesuai Perjanjian Paris.
Anggota
Volunter Trainee dipecah jadi kesatuan kecil, mereka diperbantukan pada pasukan
Vietnam Selatan yang terdesak hebat.
Pertengahan
Agustus, ia termasuk anggota group yang diperbantukan pada Marinir Viet-Sel
yang akan menyelusup ke dataran ilalang, dan berpatroli di daerah Dataran
tinggi Nui Kto, antara Ba Chuc, Ptum Tampo dan Cau Sac. Daerah panas.
Dalam
tugas itu Harun terluka parah akibat perkelahiannya dengan Dac Cong (pasukan
khusus VC) dan harus dirawat di RS.
April
tahun itu. Saigon jatuh.
Bersama
seorang temannya yang berkebangsaan Filipina Harun kabur melalui laut.
Di
tengah laut ia ditolong kapal AS yang kemudian membawanya ke Manila. Setibanya
di penampungan wasan Subic, ia bisa ke luar, bebas atas jaminan temannya itu.
Di Manila ia luntang-lantung lagi. Juga di
daerah “hitam”nya.
Situasi
Manila saat itu sedang panas. Aktivitas
“sparrow Unit", pasukan gerilyawan kota komunis, membuat tegang keadaan.
Dan dalam kondisi itulah secara
kebetulania berkenalan dengan Ferdinand Machalat.
Harun
menyelamatkan jiwa Ferdinand dari sergapan
peluru musuh-musuhnya. Harun yang selalu membawa senjata, melumpuhkan
seorang anggota “gerilya kota” yang berniat membunuh Ferdinand.
Ferdinand
terkesan setelah mengetahui latar belakangnya. la adalah adik kandung sekaligus
kepercayaan Fabian Ferte seorang pemimpin sindikat penyelundup senjata dari
Filipina yang memiliki jaringan luas.
Harun
diangkat menjadi seorang pengawal pribadi Ferdinand,dan itu membuat dirinya
makin terlempar ke sebuah jaan yang tak bisa dielakkannya. la pun seakan
membuta dalam kehidupan. la merasa gelap dan terdesak. Tidak punya pilihan
selain terus mengikuti arus. Panta Rhei, ucap pemikir Yunani kuno.
Secara
langsung ia terlibat dalam pengawalan jual beli senjata. Dari situlah ia
mengenal pulau Kabilat basis utama Fabian Ferte. Sebuah pulau kosong di
perairan internasional, di kawasan Pasifik Selatan.
Sebagaİ
seorang kepercayaan Ferdinand, Harun sering berkunjung ke pulau itu. la mulai
mengenal sudut-suğut pentingnya. Begitu juga namanya, mulai ada di catatan
INTERPOL.
Hingga
tiba suatu waktu, ketika sedang minum-minum di sebuah bar.
TV
setempat menayangkan aksi kekerasan teroris dan kekejaman perang. Mulai
peristiwa di Amerika Latin, Belanda, Filipina Selatan, Angola, hingga
penderitaan Suku Kurdi yang dibantai Saddam Husein.
MenyaksikanTekaman
peristiwa itu Harun terhenyak, la jadi teringat akan apa yang telah
diperbuatnya.
Sebuah
pukulan telak seolah menghujam benak dan hatinya. Tiba-tiba saja ada semacam
kesadaran menyeruak dalam nuraninya. la merasa ikut ambil bagian dalam segala
kekejaman dan kekerasan yang ditayangkan TV tersebut. Sedikit banyak, ia ikut
andil dalam memasok senjata kepada kelompok-kelompok yang bertikai.
Saat
itu ia mulai menyadari bahwa dirinya sudah penuh darah.
Tubuhnya
bergetar, ia mengutuk dirinya sendiri, penyesalan teramat dalam merangkul
secara mendadak.
Tatapan
kosong wajah anak kecil yang terluka karena peluru, yang ditayangkan di TV,
mengiris otot-otot lembut jantungnya. Harun mengeluh. Sloki di tangannya
diremas tanpa sadan Prak! Gelas pecah berkeping-keping.
Telapak
tangannya terkoyak. Tapi tetap tak sebanding dengan apa yang dirasakannya dalam
dada.
"Mengapa
kau?” tanya temannya.
Harun
tertegun. la perhatikan darah di telapak tangannya.
la
mengambil şapu tangan, lalü menyeka telapak tangannya perlahan. Sambil menghela
nafas ia bangkit dari tempat duduknya, "Aku lelah.., jawabnya perlahan.
Unluk
pertama kalinya ia jadi ingat siapa dirinya dan dari mana ia berasal. Sebuah
niat yang tak pernah dibayangkan tercetus secara tiba-tiba.
la
ingin pulang.
Niat
itu bisa diwujudkannya.
Ia
kabur dari Kabilat dan masuk ke perairan Indonesia melalui segepok dollar yang dibayarkan kepada nelayan
Korea, yang mencuri-curi masuk teritorial perairan Indonesia. Dan hal itu pula
yang mernbuatnya tertangkap patroli ALRI di perairan Ambon.
Harun
ditangkap dan dituduh membantu pihak asing mencuri kekayaan negara dan memakai
paspor palsu. Kelambanan sistem informasi dan komunikasi kepolisian waktu itu
membuatnya, bersyukur. Ia 1010s dari jaringan mekanisme Interpol dan kepolisian
Medan. Sehingga ia hanya satu tahun meringkuk di penjara
Ia
bebas pertengahan tahun, dan akhirnya bisa mencapai Jakarta Berkat seorang
sahabatnya, Di Jakarta ia memperoleh pekerjaan sebagai pengemudi alat-alat
berat kontruksi bangunan.
Kini,
setelah ia merasa betah, dan merintis kembali sebuah kehidupan baru, yang
dinilainya begitu tinggi mengingat masa lalunya yang kelam, kehadiran Oskar
ibarat gempa tektonik yang singkat tetapi dahsyat.
Begitu
mudah dan cepat mengubah sebuah kehidupan,
Harun
memperhatikan delapan tanda silang di batang pegangan bayonet. Bulu tengkuknya
meremang dan tanpa sadar ia melempar bayonet itu ke dinding. Buk!
Sialan.
Ia mengumpat dalam hati.
Sungguh
gila! Ia kini berhadapan lagi dengan masalah yang sama.
Ia
selalu berdiri di posisi yang terjepit, di antara dua masalah yang sama
beratnya.
Sekarang
ia harus masuk lagi ke dunia yang telah dihindarinya.
Hal
itu tak mungkin ditolaknya, risikonya sangat mencemaskan.
Terkadang
ia sampai pada pendapat, bahwa Tuhan selaiu nya "permainan" bukan
"cara bermain:" Ia harus selalu rengotak-atik apa yang akan
dipilihnya, dan ini merupakan hal yang sangat berat
Baginya
hidup bukanlah suatu rentetan rencana, melainkan ledakan ledakan spontan.
Menurutnya, bagaimanapun juga manusia tak akan dapat merealisasikan segala keinginannya secara
sempurna
Nuraninya
terkadang mengatakan bahwa pekerjaannya bertentangan dengan nilai-nilai yang
umum, untuk sebuah transaksi, Namun ia Kembali terjepit
Pilihan
yang diajukan Oskar dan Kulyubi sungguh berat.
Harun
jadi pusing sendiri, ia bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Air
dingin membuat wajahnya segar gejolak dalam dadanya mengendur,
sentakan-senlakan kecil yang beberapa waktu lalu tidak jelas kini mulai
menampijkan diri energi itu meresap perlahan ke seluruh wajahnya.
lama
Harun memandang dirinya di cermin,
Perlahan
namun pasti, kata-kata kesenangannya muncul dalam benak, la berbalik dan
kembali memungut bayonetnya,
"Mati
bukan masalah, hidup yang jadi persoalan," gumamnya pendek.
****
Malam
sudah berjalan dua pertiganya, hampir pukuj 02,30, la kembali tak bisa menepati
janjinya, Istrinya ulang tahun, dan ingin merayakannya secara sederhana,
Kemarin ia menyanggupi untuk tiba di rumah sebelum maghrib, dan akan pergi
makan malam
pukul
20.00, Kini istrinya pasti kecewa, Dan seperti biasa, istrinya hanya
mengangguk, Anggukan istri prajurit,
Tapi
harus bagaimana Iagi? Tugasnya begitu banyak dan menyita waktu.
Oskar
menarik nafas, la pun bangkit dan membereskan map map di atas meja. la akan
pulang. Istrinya saat ini pasti sudah tidur. la berharap istrinya akan sedikit
terhibur, mendapati suami berada di sampingnya saat bangun subuh.
Sewaktu
ia sedang membetulkan tali sepatu, telpon terus berdering, Oskar menekan
keinginannya. tepon itu diraihnya.
"Ya."
“selamat
pagi Kolone. Saya Binsar.”
Oskar
menarik nafas, Binsar menghubunginya, berarti ada sesuatu yang istimewa. "Ada apa, letnan?"
"Seperti yang Kita perkirakan.
Mereka berkumpul di jalan
Diponegoro,
Tokoh-tokohnya hadir senmua, termasuk para wirawan yang telah kita duga, besok
mereka pasti mengeluarkan pernyataan."
"Di
antara mereka, ada perwira yang masih aktif?" "Tak ada,"
"Brigjen
Kulyubi sudali tahu?"
"Sebelum
menelpon ke sini. Saya sudah memberi padanya, Pangkomkamtib masih sedang
dihubungi,"
"Laporan
dari daerah'?"
"Hingga
saat ini tidak ada indikasi atau aktifitas yang menrigakan,"
"Apa
lagi?"
"Tak
ada. Selamat pagi, kolonel."
Oskar
terdiam dan terhenyak kernbali di kursinya. Persoalan baru mengguncang
pikirannya lagi,
Situasi
politik saat ini masih labil.
Gerakan
mahasiswa cukup mengguncang dan merepotkan, Pemerintah menduduki beberapa
kampus utama PTN terkemuka. Melarang terbit tujuh suratkabar terkenal. Memecat
beberapa rektor dan memutasikan seorang panglima. Bekas-bekas dari pergolakan
itu belum lagi hilang, kini muncui lagi masalah politik yang baru.
Sekelompok
tokoh mantan militer telah bergabung dengan tokoh-tokoh sipil. Membuat barisan
secara terbuka. hal ini jelas bertentangan dengan kebijaksanaan yang dianut
pemerintah, sudut militer, penggabungan kekuatan itu tidaklah mengkhawa•
tirkan, namun dampak politisnya sangat besar. Apalagi kalau sampai ada kekuatan
aktif dari militer terpancing ke luar, dan secara terang-terangan mendukung
pernyataan politik mereka. Keaclaan bisa gawat, dan ini merupakan potensi
berbahaya untuk keamanan dan stabilitas yang sedang dijalankan. la segera
mengontak Brigjen Kulyubi.
"Aku
rasa, move ini selain bertujuan politis,joga ingin rnenciptakan dampak
strategis. Mereka sedang mernnncing kekuatan militer aktif untuk bergabung.
Terutama dari para panglima dan komandan kesatuan," kata Kulyobi.
Oskar
terdiam. Pikirannya berputar menganalisa situasi, mudian bertanya lagi,
"Tetapi misu jalan tetus kan? Kita tak kan mernbiarkan remberontak
bertambah kuat hanya karcna riak politik seperti ini. Pengiriman senjata itu
tetap harus dihancurkan. Apa pun risikonya. Karena bila hal itu dibiarkan. Akan
banyak pasukan kita yang jadi korban,"
"Ya.
Tetapi masalah ini juga cukup seriu.s, tidak bisa dibiar•
kan."
Kulyubi membalas pcrlahan.
Oskar
terdiam sejenak.
"Ya,
sudahlah. Besok Vita lihat pcrkembangannya." Kulyubi mengakhiri
pembicaraan,
Klik,
telerx»n ditaruh Kulyubi.
Oskar
termenung, lemudian berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya.
la
duduk kembali di kursinya, la jadi malas pulang. la terpaksa membiarkan lagi
isterinya bangun pagi tanpa kehadirannya.
Dia
tak mau membawa persoalan ke rumah.
Kasihan
istrinyabila harus selalu melihat suaminya lebih konsentrasi pada tugas
daripada melayani obrolannya.