part 1 "mata-mata pembunuh”
Part 1 "mata-mata pembunuh ”
Matahari tepat di atas kepala, angin pelan bertiup mengibarkan selebaran nomor kertas di badan jalan, lintas tak begitu padat mengingat beberapa titik jalan yg diblokir aparat kepolisian, yah rencananya hari ini seorang pejabat tinggi daerah itu akan mengunjungi sebuah perpustakaan di pinggir kota kecil ini.
Dia berjalan pelan, sebatang menempel di mulutnya, kedua tangannya terpaut di saku celananya, sebuah ransel lusuh lekat di pundakknya, mengawasi setiap aktivitas di gedung perpustakaan itu, dia terus berjalan memperhatikan gang demi gang, masuk ke salah satu bangunan kosong, menaiki sebuah lift barang kosong, menaiki tangga, terus melangkah dan akhirnyaberhenti di dekat sebuah jendela di lantai 6 bangunan yg terlihat masih dalam tahap pembangunan namun terbengkalai trsebut.
Ia mengeluarkan peralatan
dari dalam ransel lusuhnya, sibuk merakit sesuatu.. sesekali matanya menatap ke
luar jendela masih memperhatikan keadaan luar sebuah perpustakaan sekitar 8
blok atau 400meter lebih dari tempatnya, keriuhan mulai terdengar di luar, para
aparat kepolisian sibuk mengawal sebuah sedan hitam yg berhenti tepat di depan
perpustakaan trsebut, "klak..klak. ,",, ,moncong laras sebuah senapan
muncul di sebuah jendela dari bangunan yg terlihat masih dalam proses
pembangunan , dia sesorang tadi.. tangan kekarnya terampil dan tampak serasi
menggenggam senapan laras panjang itu, matanya mengasah rupa dalam sebuah
bidikan...
Negaranya menugaskan ia
sebagai seorang mata-mata, namun karena berbagai situasi, dia juga di tugaskan
sebagai "Silent Kill person", yg tugasnya memprioritaskan target
negara yg harus dimusnahkan atau di bunuh.. sandi : Elang, begitu pusat taktis
mata-mata negaranya memanggilnya, dan saat ini ia di tugaskan melakukan
pengamatan sampai pembunuhan di sebuah negara tetangga,
Seseorang paruh baya
bertuxedo keluar dari sedan hitam yg di jaga ketat aparat kepolisian, para
aparat terlihat sibuk mengamati sekitar perpustakaan itu, sejenak memperhatikan
tampak beberapa sniper di tempatkan di beberapa gedung sekitar, Namun secara
geometris posisi Elang tak terpantau aparat karena situasi pinggiran kota yg
padat, belum lg massa pro sang pejabat yg menjadi target negaranya karena di
anggap memprovokasi masyarakat global untuk melawan pemerintah dalam setiap
kampanyenya, dan disebut-sebut sebagai pemasok izin senjata gelap ke sejumlah
daerah konflik di negara Elang.
Sang pejabat menebar
senyum sambil melambaikan tangan ke para pendukung setianya yg hadir di
alun-alun, terpancar rasa bangga di raut wajahnya, sementara itu..
Arah angin sudah di
tebak..
sebuah titik bidik telah
terletak..
sebutir peluru telah
mengisi ruang tata sang mesin pemncabut nyawa..
"DASSHHH...!!!"
Sebuah timah panas
meluncur dari sebuah senapan dan mendarat tepat di dada sang pejabat itu,
merobek kulitnya, meremukkan tulangnya, dan mencercah jantungnya, sang
pejabat...roboh bersimbah darah, "whoaaa!!!" teriakan kerumunan panik
melihat apa yg baru terjadi, polisi sibuk mengamankan jasad dan keluarga
pejabat yg ada disana, sisanya mengamati gedung-gedung sekitar, di lain sisi
Elang tengah berjalan santai di sebuah jalan, namun kali ini iy terlihat
berbeda, ia hanya mengenakan kaos hitam dan jeans biru serta kaca mata hitam di
matanya, ransel dan peralatan lainnya di tinggalkan begitu saja, karena eman
begitu prosedur baginya sebagai Sniper yg tengah beroperasi di negara lain.
Elang terus berjalan
santai, sampai di suatu persimpangan yg tak begitu ramai, 2 orang polisi
menghentikannya,
"sorry sir, can you
show your id?" kata salah satu polisi tersebut, tanpa berbicara dan
menundukkan kepalanya Elang menunjukan sebuh kartu identitas, ke 2 polisi
tersebut terlihat berbincang setengah berbisik, tampak salah satu polisi itu
memegang sarung pistol yg di pinggangnya, melihat gelagat itu, Elang segera
melompat melayangkan kaki kirinya tepat di wajah salah satu polisi itu,
kemudian berputar sambil tangannya meraih pistol di pinggang polisi itu dan
mengarahakan ke polisi satunya lagi, "Tashh...Tash!!!"
Elang menghabisi ke 2
polisi tersebut dan segera berlari menuju sebuah mobil yg memang telah ia
persiapkan sebelumnya, dan segera melaju pergi di tengah2 kepanikan orang-orang
yg melihat 2 polisi itu tewas di tangannya.
Meliuk-liuk di jalan kota
kecil itu, Elang berusaha keluar dari jangkauan polisi setempat yg mencarinya,
tak lama ia sampai di sebuah sungai, ia berhenti, membakar sebatang rokok dari
sakunya, kemudian mendorong mobilnya di tenggelamkan di sungai itu, lagi-lagi
prosedur terapannya untuk keamanan dirinya, ia lanjutkan dengan berjalan kaki
menyusuri hutan kecil dekat sungai itu, "apa kau yg membuat negara ini
heboh?" seseorang bermantel hitam tiba-tiba muncul dari balik pohon di
depannya, "bukan aku, aku hanya merampok sebuah toko kecil di ujung
jalan" jawab Elang sambil tetap berjalan, "oh, begitu ya?" sahut
seseorang tadi, "apa urusanmu selalu mengawasiku?" tanya Elang
berhenti tepat di hadapannya, "tentu saja kau juga urusanku, kita bertugas
di negara yg sama, sebagian besar target negaramu adalah target negaraku
juga.."
"benar! tapi negaramu
terlalu munafik untuk kerja sama!" kata Elang memotong kata-kata dari
seseorang yg diketahui adalah seorang agen mata-mata Korea yg ia kenal semenjak
ia di tugaskan disini 2 tahun yg lalu, anehnya agen Korea ini slalu muncul
disetiap Elang slesai menjalankan misi, "hei..tenanglah, akankah lebih
baik kau dan aku bekerja bersama? dan..."
belum selesai agen itu berbicara Elang sudah menodongkan sebuah kecil ke kepala agen