6. BERINGIN DAN KIJANG KECIL
Matahari Minggu pagi untuknya selalu terasa berbeda dengan hari-hari biasa. Begitu ringan, hangat, dan ramah. Itu juga yang ia rasakan saat memasuki halaman rumah, yang sudah empat bulan terakhir ini tak pernah dikunjunginya.
Seperti
biasa rumah Sidharta selalu tampak apik dan asri dalam kesederhanaan.
Halamannya
luas dengan rumput gajah tercukur rapi, tanpa pagar. Di tengah halaman, pohon
Flamboyan dan Akinari yang rindang berdiri kukuh. Jalan masuknya penuh kerikil,
dengan jajaran bunga Matahari di sepanjang sisinya.
Jendela-jendelanya
yang besar terbuka lebar menerima sinar matahari. Irama musik terdengar
hingga ke halaman. Harun mengenal gesekan bioLa dan cello dari lagu yang
diputar.
“Hm,
Vivaldi. Sejak kapan dia senang lagu klasik?”
Sidharta,
sahabatnya sejak dari SMA, adalah seorang yang sangat fanatik terhadap jazz.
Ia
masuk tanpa ragu melalui jalan samping. Dekat jendela yang tersorot hangatnya
mentari, seorang lelaki tua berkacamata asyik menekuni TTS. Ketika Harun
melangkah lewat pintu samping, terdengar gumamannya, “Tujuh menurun, nama depan
pengarang Dr Zhivago, lima kotak..”
“Boris.
Boris Pasternak.” kata Harun datar sambil masuk.
Lelaki
tua itu tertegun, kacamatanya diturunkan sedikit. Menyelidik.
“Heh,
kau rupanya. Ke mana saja? Ayo main catur lagi?”
Harun
tersenyum. Pak Mulyawan, ayah Sidharta, memiliki lima kegilaan. Catur,
diskusi, baca buku, bekerja, dan TTS. Rambutnya sudah putih, namun kesan
keceriaannya justru semakin muncul.
Pasti
dia yang memutar lagu Vivaldi.
“Sidharta
mana, Oom?” tanya Harun.
“Betulin
mobil di belakang.”
Sidharta
sibuk di bawah Mercy 190 tahun 64 merah maroon. Dia keluar, tangannya
berlepotan oli, “Heh, katanya ke Bandung? Tolong starter sebentar.”
“Mobil
ini kapan jadi milikmu?” tanya Harun sambil membuka pintu.
“Nilai
mobil ini baginya sudah seperti candi, mana mungkin ayahku…” suara mobil
menenggelamkan kata kata Sidharta. Ayah Sidharta memang aneh dan memungkinkan
hal itu terjadi. Dia fisikawan yang handal.
Darah
puritannya turun ke Sidharta. Harun selalu bersaing dengannya dalam segala
hal. Tapi lambat laun, Harun harus mengakui kelebihan kawannya. Sidharta
diakuinya jauh lebih matang dalam mengambil keputusan. Juga dalam politik,
musik, sastra, agama, bahkan karate.
Terkadang
Harun tersenyum sendiri bila mengingat sewaktu dikalahkan Sidharta dalam
sebuah komite karate. “Kau harus mengaku kalah…” bisiknya ketika dia berhasil
merubuhkannya, tetapi Harun menggeleng. “Belum, aku akan membalasnya. Dalam
segala hal. Kau dengar? Dalam segala hal!” Tetapi hingga saat ini hal itu tak
pernah terlaksana.
Malah
kini sudah semakin sulit.
Sekarang
Sidharta Kapten Polisi. Sedangkan dirinya?
Sewaktu
Sidharta jadi lulusan nomor dua terbaik AKABRI Kepolisian, dirinya masih
luntang-lantung di geladak kapal menyusuri Sungai Mekong. Sidharta sangat
berarti, lebih dari sekedar sahabat. Dialah penolong ketika ia baru keluar
penjara. Mencarikan pekerjaan dan membantu segala kebutuhannya.
“Bagaimana
putusanmu. Kau akan keluar juga dari pekerjaan…?” Sidharta bertanya sambil
mengambil lap.
Harun
mengganguk.
“Selanjutnya
apa rencanamu?”
“Kuikuti
aliran air…” Harun mencoba mengelak. Kemarin ia menelpon Sidharta,
menjelaskan niatnya berhenti bekerja.
Sidharta
melempar lap ke atas meja. “Kau memang gila. Aku tak peduli kau keluar dari
tempat itu, aku pun tak begitu senang menempatkanmu di sana. Tetapi keluar
begitu saja sebelum ada gantinya, dan hidup ngegelandang lagi, aku sungguh tak
mengerti,” katanya sambil masuk ke dalam.
Harun
mengikuti dari belakang.
Mereka
menuju ruang baca yang berjendela menghadap kebun kecil. Buku dan majalah
bertumpuk di sana sini, tak tertampung oleh empat rak jati ukuran besar.
Harun
melirik sekilas. Semakin banyak nama yang asing baginya.
Keluarga
ini benar-benar gila membaca. Benoit B. Mandelbrot, Andre Delachet, Van
Peurseun, Ignas Kleden, Darmanto Djatman, adalah nama-nama baru baginya.
Karena sewaktu di bangku kuliah tahun 70 an, yang dikenalnya hanyalah sekitar
Max Weber, Camus, Jan Romein, Vivekananda, Krishnamurti, Subagio Sastrowardoyo,
Kawabata, Mochtar Lubis, Orwel, dan sebagainya.
Di
sudut dekat peralatan audio, bertumpuk kaset lagu-lagu pop.
Harun
melihat album Vangelis-China, di sampul tertulis nama pemiliknya. Kinanti
Padmasekar
“Kinanti
di sini?” tanya Harun. Perasaannya berdesir, sewaktu menyebut nama adik
Sidharta tersebut.
“Baru
empat hari.”
“Bagaimana
kuliahnya. Kampusnya “ramai” lagi?”
Waktu
itu memang masih ramai menentang pemerintah.
“Mereka
sedang mogok,” kata Sidharta.
“Sebenarnya
apa keinginanmu? Bila ingin pekerjaan yang lebih baik, tunggu beberapa saat.
Aku tak punya koneksi, tapi aku akan mengusahakannya,” sambung Sidharta
sambil mencuci tangan di wastafel.
“Bukan
itu. Juga kalau butuh pekerjaan aku tidak akan minta pertolonganmu. Cukup
sekali saja,” balas Harun sambil tertawa.
Sidharta
membasuh wajahnya dengan air. Ia menyeringai. Itulah keangkuhan Harun,
sekaligus kelemahannya. “Jadi, apa tujuannya? Mencari kesulitan lagi?”
Harun
duduk di sofa, rokoknya dihisap perlahan. Sambil menghembuskan asap ia
menjawab, iramanya datar, “Mungkin…”
“Kalau
begitu aku tak ingin menolongmu.”
“Aku
hanya butuh pengertian…” kata Harun tanpa memandang.
“Pengertian?”
Sidharta tertawa ringan.
Ia
membuka lemari es. Dua botol limun dingin dibukanya. “Kau yakin aku bisa
memberi hal itu?”
Harun
meneguk minuman langsung dari botol. “Karena kesulitan yang kau sebut itu tidak
seperti yang kau perkirakan.”
“Kalau
begitu, apa namanya…?”
“Kehidupan,”
kata Harun, disengaja agak sombong nadanya.
Sidharta
mendengus. Terkadang Harun begitu mudah dibaca, tetapi sangat sulit dilacak
keajegan prinsip hidupnya. Banyak improve.
“Aku
akan ke Kabilat lagi…,” ucap Harun dengan cepat sambil mematikan rokok di
asbak.
Sidharta
batal meneguk.
Dalam
pandangan Harun, wajah Sidharta saat itu persis sewaktu masa SMA dahulu, ketika
Harun menceritakan niatnya untuk memeluk guru goneometri.
Perlahan-lahan
raut wajah Sidharta berubah kembali, punggungnya bersandar ke sofa. Sambil
menatap tajam, ia bertanya. Nadanya datar dan dingin, “Kau pasti ingin
membicarakan sesuatu.”
Harun
mengorek kupingnya meski tak merasa gatal.
Mereka
terlibat pembicaraan serius.
Dua
jam kemudian.
Matahari
makin terasa menyengat.
Pohon
Akinari bergoyang perlahan, daunnya berkilat disentuh terik mentari.
Harun
duduk bersandar sambil menatap langit-langit. Di depannya, Sidharta duduk
sambil memandang keluar jendela.
Agak
lama keduanya terdiam.
Sekadar
mencairkan suasana, Harun mengambil kaset pemusik India, Ravi Shankar. Tak
berapa lama, I Missing You mengalun.
Menyaksikan
ulah sahabatnya seolah tak bermasalah, Sidharta jadi kesal, “Kadangkadang aku
tidak mengerti jalan pikiranmu.”
“Apa
perlu pikiran kita harus selalu dimengerti orang lain?” balas Harun sambil
jongkok mengamati buku-buku di rak paling bawah.
Sidharta
mendengus. Itulah jawaban Harun yang paling sering ia dengar. Jawaban
pamungkas bila mereka bersilang pendapat, “Rasa bangga dirimu yang
menyesatkan rupanya belum juga hilang.”
Harun
tertawa masam. Sidharta terkadang menggurui, namun hal itu membuatnya
terkesan. Sejak dulu, hanya dia yang berani menegur atau memperingatinya. Hal
ini menimbulkan perasaan tertentu yang tak pernah diketemukannya sejak
kecil. Walau sering berbeda pendapat, ia selalu merasa teduh bila sudah
berdialog dan bertukar pendapat dengannya. “Itu kan penilaianmu. Bagiku
bukan kebanggaan, hanya sekadar menjalankan sesuatu yang harus kualami.”
“Dari
dulu kau memang senang bermain api.”
“Bermain
api?” Harun mengangkat bahu. “Kurasa tidak. Karena aku merasa, apinya adalah
aku sendiri,” sambungnya sambil nyengir.
“Kau
memang sombong…”
“Bukannya
aku sombong. Kita memang berbeda Sid,” Harun mengambil sebuah buku. “Dari dulu
kita sudah berlainan.Waktu SMP, kau ingin secerdik Poirot, aku ingin seperti
Winnetou. Kau pilih Kresna, aku senang Gatutkaca. Di SMA, sepulang latihan
karate, kau pergi mengaji, aku nonton film.
Kamarku
penuh gambar Led Zeppelin, kau mengoleksi gambar Ghandi, Kennedy, Luther
King, Moh. Yamin, sampai si Obahorok pun kau senang. Begitu juga sewaktu aku
masih kuliah. Isi suratmu tak pernah ketinggalan dengan pandangan politikmu.
Padahal aku sama sekali tidak menyukai hal itu. Perbedaan itu kukira masih
berlangsung hingga kini. Bahkan kadang-kadang aku punya pikiran, bahwa
aku ditakdirkan harus selalu lain dari kebiasaan yang ada di sekitarku.”
Harun tertawa ringan dan menjatuhkan dirinya ke sofa sambil bergumam.
“Mungkin Tuhan lebih senang bermain denganku, dibanding denganmu.”
“Ahhh,
pola pikirmu memang selalu mengada-ada. Itu yang membuatmu sering
terpuruk.”
“Tidak.
Aku tidak pernah mengada-ada.Contohnya sekarang. Apa aku yang menginginkannya?
Aku sama sekali tidak kenal dengan tentara-tenTara misterius seperti Pusaka,
Oskar, atau Kulyubi. Bahkan dengan yang namanya Santoso, mimpi dalam mimpi
pun aku tidak memimpikannya. Mereka muncul begitu saja di hadapanku.
Mengancam, dan membuatku terjepit. Sama dengan kasus di Medan. Yap Khun Hin
sendiri yang cari gara-gara. Perjalananku tidaklah seperti jalanmu yang
selalu mulus. Aku harus selalu berjuang untuk bisa hidup dalam arti nyata,
dan tak ada cara lain selain menghadapinya.”
“Tetapi
kau memang menyenangi cara hidup seperti itu?”
Harun
terdiam. Ia merasa segan mengeluarkan jawaban. “Kukira itu hanya soal
perbedaan cara dalam menghadapi masalah.”
Sidharta
termenung. Prinsip mereka memang berlainan. Namun bila melihat Harun, diam-diam
ia seperti melihat sesuatu yang diidamkannya. Manusia bebas yang tidak dibatasi
aturan.
Bebas
dalam arti pembebasan diri dari realitas. Menurutnya, Harun mampu eksistensi di
dalam kehidupan yang dianggapnya sebagai bagian dari sebuah permainan. Tidak
sebagaimana umumnya manusia saat ini. Yang selalu ingin tampil dalam pola
kerja keras, sesuai citra prestasi ciptaan dunia konsumtif. Bagi Harun,
pekerjaan adalah gelanggang seluruh potensi kemanusiaannya, bukan sekadar
jalan untuk mengejar kebutuhan. Pikiran, rasa, kepercayaan, atau
keyakinannya, selalu menyatu tanpa batas, tanpa kendali, dan juga terkadang
tanpa mengenal ruang dan waktu. Membuat kehidupannya selalu tampak
kontroversial bagi lingkungannya sendiri.
Namun
dengan adanya prinsip bahwa kehidupan adalah manifestasi kebebasan, di mana
denyut taktisnya ibarat permainan, Harun sering tak pernah peduli apa yang
dikatakan orang lain.
Bagi
Haurn, hidup tidak membutuhkan perhitungan akurat atau strategi dari berbagai
sistem.
Dia
sulit dikendalikan. Liar, tapi bukan liar seperti binatang, dimana sikap dan
tujuan hanya merupakan pelampiasan kebutuhan emosi atau naluri yang dIrasakan.
Seperti halnya ungkapan atau ekspresi karya pelukis pelukis modern Belanda
yang berlandaskan insting. Di mana sapuan kuas dan lelehan catnya lahir hanya
dari spontanitas keliaran.
Liarnya
Harun adalah keliaran impresif. Keliarannya merupakan hasil dari tahap-tahap
pengendapan masalah. Bagi Harun, mengarungi hidup sama seperti imajinasi
Affandi, dari sesuatu obyek yang telah didalaminya lebih dahulu. Mirip
Jackson Pollock ketika menghadapi kanvas kosong. Liar, spontan, intuitif.
Mengandalkan kekuatan motorik. Begitu emosi habis atau persoalan berakhir, ia
baru berhenti dan mengevaluasi.
Di
titik evaluasi inilah ada kelainan. Jika Affandi dan Pollock puas, Harun tidak.
Dan sayangnya, di titik ini Harun lebih banyak menyesali dirinya sendiri.
Hal
itu terjadi karena dalam tahap-tahap tertentu di dalam proses penyelesaian
masalah, Harun sering merasa bahwa ia tidak merencanakan jalan hidup yang
sedang atau harus ditempuhnya.
Dia
bebas, tapi juga tidak merasa bebas, sehingga kebebasaannya pun selalu tak
memuaskannya. Karena itulah, sewaktu menemui benturan, ia baru menyadari bahwa
semua tindakannya (atau kebebasannya itu) tidak punya tujuan. Beda dengan
Affandi dan Pollock yang punya maksud dan tujuan tertentu dengan
spontanitasnya.
Juga
tidak seperti halnya esensi kebebasan yang melandasi seni instalasi, yang
bebasnya memiliki tujuan akhir (sesuai ruang dan waktu) sebagaimana makna
tema. Kebebasan Harun tidak terencana, sehingga tidak memiliki pegangan
atau tujuan yang bersifat konstruktif, yang sesuai keinginannya. Sehingga
kebebasannya selalu terasa berada di ruang dan waktu yang salah.
Gilanya,
Harun selalu begitu dan begitu seterusnya.
Otak
Harun sebenarnya encer, tapi sering bertindak seperti orang bebal. Ini
disebabkan prinsipnya yang terlalu idealis untuk klasifikasi bentuk dan gaya
hidupnya.
“Mungkin
dia terlalu menyenangi tokoh Bu Pun Su (Pendekar Tiada Kepandaian) dari cerita
silat Kho Ping Ho, makanya edan-eling seperti itu,” seorang bekas kawannya
pernah berkomentar.
Sidharta
meneguk minumannya.
Lagu
yang dibawakan Ravi Shankar sudah berganti dengan lagu lain.
Perubahan
irama musik sering menciptakan pergantian suasana. Begitu juga saat lirik dan
irama lagu “Time” dari Alan Parson Project mengalun, Harun dan Shidarta
terpengaruh, terdiam dibuai usapan melodinya yang liris.
Sidharta
melirik jam. Hampir 13.30.
“Berapa
lama kau pergi?” tanya Sidharta sambil tetap memandang keluar.
“Tergantung
keadaan. Perkiraanku tiga minggu. Setelah itu aku akan langsung merintis
jalan baru di dunia usaha. Mudah mudahan saja dapat sedikit duit.”
Sidharta
tertawa masam, “Aku tak percaya itu. Alasan tidak bisa lepas dari cengkeraman
jendral itu sangat sulit diterima. Begitu juga alasan terangsang kemungkinan
diberi imbalan untuk membuka usaha.”
“Sid,
aku tak ingin dipenjara la…”
“Stop!
Kasusmu di Medan tidak seberat yang kau duga. Waktu itu kau memang terjepit.
Bila tidak membunuh, kau yang terbunuh. Saksinya banyak, bahkan ada anggota
polisi yang mau membelamu. Tetapi waktu itu kau bodoh, kalap ketakutan, lari
ke Singapura dan di sana malah terlibat kekonyolan. Aku berusaha memberimu
pengacara untuk menyelesaikan kasusmu sesuai hukum. Tetapi kau menolak dengan
alasan hakimnya tidak akan adil. Kudesak berkali-kali, tetapi kau tetap tak
mau melakukannya. Kau memang egois, arogan dan mudah memvonis,” Sidharta
berubah jadi sengit.
“Ya,
tetapi kau pun tahu, aku tak punya uang untuk membayar pengacara. Aku tak yakin
bisa terhindar dari hukuman.”
“Pengacara
itu saudaraku. Dan dia sudah mempelajari kasusmu. Juga kau tak dituntut sepeser
pun untuk membayarnya. Kau memang bebal. Apakah kau pernah berpikir, bahwa bila
aku berpikir tentang dirimu, aku terkadang merasa bersalah, karena melanggar
sumpahku sendiri sebagai polisi?”
Mendengar
ucapan Sidharta yang terakhir, Harun jadi tersinggung. “Empat bulan yang lalu,
aku sudah pernah berkata, tangkaplah aku bila kau merasa melindungi penjahat.
Sekarang juga aku bersedia, asal kau sendiri yang menangkapnya. Ayo lakukan jika
kau mau,” ucap Harun sambil menyodorkan dua tangannya.
Sidharta
membanting majalah yang ada di dekatnya. “Sialan. Bila aku mau, kau pasti sudah
kuseret sewaktu kau keluar dari penjara Ambon dan muncul di pintu rumah ini.”
“Mengapa
tidak kau lakukan?!”
“Itulah
kedunguanku! Mau saja dimanfaatkan oleh orang sepertimu!” Sidharta tambah
sengit. Nadanya hampir setengah berteriak.
Mendengar
kalimat terakhir, Harun merasa dadanya bergemuruh menahan perasaan, “Kau
menyesal? Katakan terus terang!”
Detik
itu satu hal melintas di pikiran Harun, bila Sidharta mengiyakan, ia akan
segera mengangkat telpon untuk menyerahkan diri! “Aku tak pernah minta
dikasihani. Apalagi berniat menyiksa seseorang karena harus melanggar
sumpahnya!”
Sidharta
bangkit, berdiri sambil memandang ke luar jendela. Wajahnya mengeras. Bibirnya
terkatup rapat.
Matahari
di luar semakin terik.
Bayangan
pohon terlihat kian memendek, tanda posisi matahari kian tegak lurus. Sidharta
mencoba menahan apa yang dirasakannya. Pikiran, perasaan, dan sanubarinya
bergulat ketat.
Pikirannya
mengatakan supaya mengambil jalan yang terbaik. Namun untuk mengambil jalan
yang terbaik itu sungguh sulit.
Secara
hukum, ia memang harus melaporkan Harun. Namun ia tak tega berbuat itu, walau
tahu risikonya bila hal ini terungkap. Baginya, menolong manusia bukanlah
sekadar dengan memberi pelajaran, melainkan juga memberi sebuah kesempatan
untuk merintis kehidupan yang lebih baik.
Ia
tahu Harun. Ia tahu kasusnya. Harun hanyalah manusia yang kebetulan begitu
mudah dipermainkan keadaan. Pada dasarnya Harun seorang lelaki yang berhasrat
besar melakukan kebenaran.
Walau
jalan hidupnya bisa disebut menyimpang, ia tak pernah merugikan orang lain
secara murni. Hanya ombak kehidupan dan tuntutan situasi yang membuatnya selalu
berkelana di seberang hukum. Selain itu, jiwanya yang bernuansa keras selalu
menuntunnya supaya berenang di gelombang lautan, bukan berkecipak di air
kehidupan yang tenang.
Melihat
sahabatnya diam, Harun menghela napas. “Jika hal itu sulit kau jawab, aku akan
mengajukan alternatif lain. Itu pun bila kau tidak keberatan.”
Sidharta
mengalihkan pandangannya ke arah pucuk pohon yang berada di pinggir jalan.
“Apa maksudmu?”
“Akan
kuselesaikan dulu masalah ini. Setelah itu kau boleh temukan aku dengan si
pengacara yang kau maksudkan,” kata Harun dengan datar.
“Aku
tidak bermaksud…”
“Sudahlah.
Kau juga termasuk orang yang senang mengorbankan diri sendiri,” potong
Harun.
“Bukan
begitu, tetapi…”
“Bukan
aku saja yang berpendapat begitu,” kata Harun sambil bangkit.
“Huh,”
desis Sidharta.
Konsentrasi
masalah terasa buyar. Ia mencoba menarik lagi ke dalamnya. “Selesaikan dulu
masalah ini. Aku tidak berniat supaya kau menemui pengacara…”
Tetapi
Harun sudah tak peduli, ia melangkah ke ruang lain.
“Oom,
mana caturnya?” terdengar ia bertanya. Nada suaranya seperti tidak ada
persoalan.
Sidharta
jadi gemas.
Tiba-tiba
muncul suara mobil.
Sebuah
VW beetle putih dengan rusuh berhenti kasar di depan garasi. Sidharta
mengeluh. Suasana tambah tak memungkinkan untuk menyelesaikan masalah Harun.
Adiknya sudah datang.
Terdengar
klakson dan bunyi pintu mobil ditutup seenaknya. Disusul derai tawa gadis
remaja. “Hei, Mas Harun sudah lama? Ke mana saja?”
“Dari
mana, kin?”
“Beli
buku sama kaset.”
“Nggak
ada bosan-bosannya.”
“Duitnya
tak pernah habis sih. Eh, Mas Harun, minggu depan antar ke TIM ya. Ada konser
Leo Kristi.”
“Siapa
dia itu?”
“Asyiklah.
Nih kasetnya,” kata Kinanti memperlihatkan kaset dalam dominasi warna
merah, dan wajah seorang lelaki berkumis memakai topi bulu.
“Ahhh,
ini kan orang Surabaya itu.”
“Mas
Harun tahu…”
“Dari
koran.”
Kinanti
jadi semangat. “Hebat dia, Mas. Di kala banyak orang bernafsu jadi kaya, hanya
dia yang berani miskin, bikin lagu tidak seperti yang lain.”
“Sudah,
sudah. Harun mau main catur denganku. Nanti saja ngobrolnya. Yo, Har…” ayah
Sidharta menyela.
“Ahh…ayah
gitu deh… bener ya mas?”
Sidharta
menggeleng, adiknya sangat cerewet, rusuh, selalu terburu-buru, tapi lincah.
Kinanti,
adiknya memang segesit kijang.
200
meter dari rumah itu, di dalam sebuah mobil, seorang pria tegap melapor melalui
alat komunikasi gelombang pendeknya.
“Dia
masih di dalam. Ada kemungkinan sampai sore. Over.”
