Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

6. BERINGIN DAN KIJANG KECIL


Matahari Minggu pagi untuknya selalu terasa ber­beda dengan hari-hari biasa. Begitu ringan, hangat, dan ramah. Itu juga yang ia rasakan saat memasuki halaman rumah, yang su­dah empat bulan terakhir ini tak pernah dikunjungi­nya.

 

Seperti biasa rumah Sidharta selalu tampak apik dan asri dalam kesederhanaan.

 

Halamannya luas dengan rum­put gajah tercukur rapi, tanpa pagar. Di tengah halaman, pohon Flamboyan dan Akinari yang rindang berdiri kukuh. Jalan masuknya penuh kerikil, dengan jajaran bunga Matahari di sepanjang sisinya.

 

Jendela-jendelanya yang besar terbuka lebar menerima sinar mata­ha­ri. Irama musik terdengar hingga ke ha­laman. Harun mengenal gesek­an bioLa dan cello dari lagu yang dipu­tar.

 

“Hm, Vivaldi. Sejak kapan dia se­­nang lagu klasik?”

 

Sidharta, sahabatnya sejak dari SMA, adalah seorang yang sangat fanatik terhadap jazz.

 

Ia masuk tanpa ragu melalui jalan samping. Dekat jendela yang tersorot hangatnya mentari, seorang lelaki tua berkacamata asyik me­­nekuni TTS. Ketika Harun melangkah lewat pintu samping, terdengar gumamannya, “Tujuh menurun, nama depan pengarang Dr Zhi­vago, lima kotak..”

 

“Boris. Boris Pasternak.” kata Harun datar sam­bil masuk.

 

Lelaki tua itu tertegun, kacamatanya diturunkan sedikit. Menyelidik.

 

“Heh, kau rupanya. Ke mana saja? Ayo main catur lagi?”

 

Harun tersenyum. Pak Mulyawan, ayah Sidharta, memiliki li­ma kegilaan. Catur, diskusi, baca buku, bekerja, dan TTS. Ram­butnya su­dah pu­­tih, namun kesan keceriaannya justru semakin mu­n­cul.

 

Pasti dia yang memutar lagu Vivaldi.

 

“Sidharta mana, Oom?” tanya Harun.

 

“Betulin mobil di belakang.”

 

Sidharta sibuk di bawah Mercy 190 tahun 64 merah maroon. Dia keluar, tangannya berlepotan oli, “Heh, katanya ke Ban­dung? To­long starter sebentar.”

 

“Mobil ini kapan jadi milikmu?” tanya Harun sambil membuka pintu.

 

“Nilai mobil ini baginya sudah seperti candi, mana mungkin ayah­­ku…” sua­ra mobil menenggelamkan kata kata Sidharta. Ayah Si­­dharta memang aneh dan memungkinkan hal itu terjadi. Dia fisikawan yang handal.

 

Darah puritannya turun ke Sidharta. Harun selalu ber­saing dengannya dalam segala hal. Tapi lambat laun, Harun harus meng­akui ke­lebihan kawannya. Si­dharta diakuinya jauh lebih matang dalam mengambil kepu­tusan. Juga dalam politik, musik, sastra, aga­ma, bah­kan karate.

 

Terkadang Harun tersenyum sendiri bila mengingat sewaktu di­kalah­kan Sidharta dalam sebuah komite karate. “Kau harus mengaku kalah…” bisik­nya ke­tika dia berhasil merubuhkannya, tetapi Harun meng­geleng. “Belum, aku akan membalasnya. Dalam se­gala hal. Kau dengar? Dalam segala hal!” Tetapi hingga saat ini hal itu tak pernah ter­laksana.

 

Malah kini sudah semakin sulit.

 

Sekarang Sidharta Kapten Polisi. Sedangkan dirinya?

 

Sewaktu Sidharta jadi lulusan nomor dua terbaik AKABRI Ke­­polisian, diri­nya masih luntang-lantung di geladak kapal menyu­suri Sungai Mekong. Sidharta sangat berarti, lebih dari sekedar sa­habat. Dialah penolong ke­tika ia baru keluar penjara. Mencarikan pe­k­er­jaan dan membantu segala ke­bu­tuhannya.

 

“Bagaimana putusanmu. Kau akan keluar juga dari pekerja­an…?” Sidharta bertanya sambil mengambil lap.

 

Harun mengganguk.

 

“Selanjutnya apa rencanamu?”

 

“Kuikuti aliran air…” Harun mencoba mengelak. Kemarin ia me­­nelpon Si­dharta, menjelaskan niatnya berhenti bekerja.

 

Sidharta melempar lap ke atas meja. “Kau memang gila. Aku tak peduli kau keluar dari tempat itu, aku pun tak begitu senang menempatkanmu di sana. Tetapi keluar begitu saja sebelum ada gantinya, dan hidup ngegelandang lagi, aku sungguh tak menger­ti,” katanya sambil masuk ke dalam.

 

Harun mengikuti dari belakang.

 

Mereka menuju ruang baca yang berjendela menghadap ke­bun kecil. Buku dan majalah bertumpuk di sana sini, tak tertam­pung oleh empat rak jati ukuran besar.

 

Harun melirik sekilas. Semakin banyak nama yang asing bagi­nya.

 

Keluarga ini benar-benar gila membaca. Benoit B. Mandelbrot, An­dre Delachet, Van Peurseun, Ignas Kleden, Darmanto Djatman, ada­lah nama-na­ma baru baginya. Karena sewaktu di bangku kuliah ta­hun 70 an, yang di­kenalnya hanyalah sekitar Max Weber, Camus, Jan Romein, Vivekananda, Krishnamurti, Subagio Sastrowardoyo, Kawabata, Mochtar Lubis, Orwel, dan sebagainya.

 

Di sudut dekat peralatan audio, bertumpuk kaset lagu-lagu pop.

 

Harun melihat album Vangelis-China, di sampul tertulis nama pemiliknya. Kinanti Padmasekar

 

“Kinanti di sini?” tanya Harun. Perasaannya berdesir, sewaktu menyebut na­ma adik Sidharta tersebut.

 

“Baru empat hari.”

 

“Bagaimana kuliahnya. Kampusnya “ramai” lagi?”

 

Waktu itu memang masih ramai menentang pemerintah.

 

“Mereka sedang mogok,” kata Sidharta.

 

“Sebenarnya apa keinginanmu? Bila ingin pekerjaan yang le­bih baik, tunggu beberapa saat. Aku tak pu­nya ko­neksi, tapi aku akan meng­usahakan­nya,” sambung Sidharta sambil mencuci tangan di was­tafel.

 

“Bukan itu. Juga kalau butuh pekerjaan aku tidak akan minta pertolonganmu. Cukup sekali saja,” balas Harun sambil tertawa.

 

Sidharta membasuh wajahnya dengan air. Ia menyeringai. Itulah keangkuhan Harun, sekaligus kelemahannya. “Jadi, apa tujuannya? Mencari kesulitan lagi?”

 

Harun duduk di sofa, rokoknya dihisap perlahan. Sambil menghembuskan asap ia menjawab, iramanya datar, “Mungkin…”

 

“Kalau begitu aku tak ingin menolongmu.”

 

“Aku hanya butuh pengertian…” kata Harun tanpa meman­dang.

 

“Pengertian?” Sidharta tertawa ringan.

 

Ia membuka lemari es. Dua botol limun dingin dibukanya. “Kau yakin aku bisa memberi hal itu?”

 

Harun meneguk minuman langsung dari botol. “Karena kesulitan yang kau sebut itu tidak seperti yang kau perkirakan.”

 

“Kalau begitu, apa namanya…?”

 

“Kehidupan,” kata Harun, disengaja agak sombong nadanya.

 

Sidharta mendengus. Terkadang Harun begitu mudah dibaca, tetapi sangat sulit dilacak keajegan prinsip hidupnya. Banyak improve.

 

“Aku akan ke Kabilat lagi…,” ucap Harun dengan cepat sambil mematikan rokok di asbak.

 

Sidharta batal meneguk.

 

Dalam pandangan Harun, wajah Sidharta saat itu persis sewaktu masa SMA dahulu, ketika Harun menceritakan niatnya untuk memeluk guru goneometri.

 

Perlahan-lahan raut wajah Sidharta berubah kembali, pung­gung­nya bersandar ke sofa. Sambil menatap tajam, ia bertanya. Na­danya datar dan dingin, “Kau pasti ingin membicarakan sesuatu.”

 

Harun mengorek kupingnya meski tak merasa gatal.

 

Mereka terlibat pembicaraan serius.

 

 

 

Dua jam kemudian.

 

Matahari makin terasa menyengat.

 

Pohon Akinari bergoyang perlahan, daunnya berkilat disentuh terik men­tari.

 

Harun duduk bersandar sambil menatap langit-langit. Di de­pannya, Si­dharta duduk sambil memandang keluar jendela.

 

Agak lama keduanya terdiam.

 

Sekadar mencairkan suasana, Harun mengambil kaset pemusik India, Ravi Shankar. Tak berapa lama, I Missing You meng­alun.

 

Menyaksikan ulah sahabatnya seolah tak bermasalah, Sidharta jadi kesal, “Kadangkadang aku tidak mengerti jalan pikir­an­mu.”

 

“Apa perlu pikiran kita harus selalu dimengerti orang lain?” balas Harun sambil jongkok mengamati buku-buku di rak paling bawah.

 

Sidharta mendengus. Itulah jawaban Harun yang paling sering ia dengar. Ja­waban pamungkas bila mereka bersilang pendapat, “Ra­sa bangga dirimu yang me­nyesatkan rupanya belum juga hilang.”

 

Harun tertawa masam. Sidharta terkadang menggurui, namun hal itu mem­buatnya terkesan. Sejak dulu, hanya dia yang berani menegur atau mem­peringatinya. Hal ini menimbulkan perasaan ter­ten­tu yang tak pernah dikete­mukannya sejak kecil. Walau sering ber­be­da pendapat, ia selalu merasa teduh bila sudah berdialog dan bertukar pen­dapat dengannya. “Itu kan penilaianmu. Ba­giku bu­kan kebang­gaan, hanya sekadar menjalankan sesuatu yang harus kualami.”

 

“Dari dulu kau memang senang bermain api.”

 

“Bermain api?” Harun mengangkat bahu. “Kurasa tidak. Ka­rena aku merasa, apinya adalah aku sendiri,” sambungnya sambil nye­ngir.

 

“Kau memang sombong…”

 

“Bukannya aku sombong. Kita memang berbeda Sid,” Harun mengambil se­buah buku. “Dari dulu kita sudah berlainan.Waktu SMP, kau ingin secerdik Poirot, aku ingin seperti Winnetou. Kau pi­lih Kresna, aku senang Gatutkaca. Di SMA, sepulang latihan ka­rate, kau pergi meng­aji, aku nonton film.

 

Kamarku penuh gambar Led Zeppelin, kau mengoleksi gam­bar Ghan­di, Kennedy, Luther King, Moh. Yamin, sam­pai si Obaho­rok pun kau senang. Be­gitu juga sewaktu aku masih kuliah. Isi su­ratmu tak pernah ke­tinggalan de­ngan pandangan politikmu. Pa­dahal aku sa­ma sekali tidak me­nyukai hal itu. Perbedaan itu kukira ma­sih ber­lang­sung hingga kini. Bah­kan kadang-ka­dang aku punya pikir­an, bah­wa aku ditakdirkan harus se­lalu lain dari ke­biasaan yang ada di se­kitarku.” Ha­run tertawa ringan dan menjatuhkan dirinya ke sofa sam­bil bergumam. “Mung­kin Tuhan le­bih senang ber­main de­ngan­ku, dibanding denganmu.”

 

“Ahhh, pola pikirmu memang selalu mengada-ada. Itu yang mem­­buat­mu se­ring terpuruk.”

 

“Tidak. Aku tidak pernah mengada-ada.Contohnya sekarang. Apa aku yang menginginkannya? Aku sama sekali tidak kenal dengan tentara-tenTara misterius seperti Pusaka, Oskar, atau Kul­yubi. Bah­kan de­ngan yang na­manya Santoso, mimpi dalam mimpi pun aku tidak memim­pi­kannya. Me­reka muncul begitu saja di ha­dapan­ku. Mengancam, dan membuatku terjepit. Sa­ma dengan ka­sus di Medan. Yap Khun Hin sendiri yang ca­ri gara-gara. Per­ja­lan­anku tidak­lah seperti jalanmu yang selalu mu­lus. Aku harus se­lalu ber­juang un­tuk bisa hidup dalam arti nyata, dan tak ada ca­­ra lain selain meng­ha­dapinya.”

 

“Tetapi kau memang menyenangi cara hidup seperti itu?”

 

Harun terdiam. Ia merasa segan mengeluarkan jawaban. “Ku­kira itu ha­­nya soal perbedaan cara dalam menghadapi masalah.”

 

 

 

Sidharta termenung. Prinsip mereka memang berlainan. Namun bila melihat Harun, diam-diam ia seperti melihat sesuatu yang diidamkannya. Manusia bebas yang tidak dibatasi aturan.

 

Bebas dalam arti pembebasan diri dari realitas. Menurutnya, Harun mampu eksistensi di dalam ke­hidupan yang di­anggapnya sebagai bagian dari sebuah permainan. Tidak sebagaimana umumnya ma­nu­sia saat ini. Yang selalu ingin tampil da­lam po­la kerja ke­ras, sesuai citra prestasi ciptaan dunia konsumtif. Bagi Harun, pe­kerjaan adalah gelanggang seluruh potensi kemanusiaannya, bukan seka­dar jalan untuk mengejar ke­bu­tuhan. Pikiran, rasa, kepercayaan, atau keyakin­annya, selalu menyatu tan­­pa batas, tan­pa kendali, dan juga terkadang tanpa mengenal ruang dan wa­k­tu. Membuat kehi­dupannya selalu tampak kontrover­sial bagi lingkungannya sendiri.

 

Namun dengan adanya prinsip bahwa kehidupan adalah ma­ni­festasi kebebasan, di mana denyut taktisnya ibarat permainan, Harun sering tak pernah peduli apa yang dikatakan orang lain.

 

Bagi Haurn, hidup tidak membutuhkan perhitungan akurat atau stra­tegi dari berbagai sistem.

 

Dia sulit dikendalikan. Liar, tapi bukan liar seperti binatang, di­ma­na sikap dan tujuan hanya merupakan pelampiasan kebutuhan emosi atau naluri yang dIrasakan. Seperti halnya ungkapan atau ekspresi karya pelukis pelukis mo­­dern Belanda yang berlandaskan ins­ting. Di mana sa­puan kuas dan lelehan catnya lahir hanya dari spon­tanitas keliaran.

 

Liarnya Harun adalah keliaran impresif. Keliarannya me­rupakan hasil dari tahap-tahap pengendapan ma­salah. Bagi Harun, mengarungi hidup sama seperti imajinasi Af­fandi, dari sesuatu obyek yang telah didalaminya lebih dahulu. Mi­rip Jackson Pollock ke­tika menghadapi kanvas kosong. Liar, spon­tan, intuitif. Mengandalkan kekuatan motorik. Begitu emosi habis atau persoalan berakhir, ia baru ber­henti dan mengevaluasi.

 

Di titik evaluasi inilah ada kelainan. Jika Affandi dan Pollock puas, Harun tidak. Dan sayangnya, di titik ini Harun lebih banyak menyesali dirinya sen­diri.

 

Hal itu terjadi karena dalam tahap-tahap tertentu di da­lam proses penyelesaian masalah, Harun sering merasa bahwa ia tidak me­renca­nakan jalan hi­dup yang sedang atau harus ditempuhnya.

 

Dia bebas, tapi juga tidak merasa bebas, sehingga kebebasa­annya pun se­lalu tak memuaskannya. Karena itulah, sewaktu menemui ben­turan, ia baru menyadari bahwa semua tindakannya (atau kebe­basannya itu) ti­­dak punya tu­juan. Beda dengan Affandi dan Pollock yang punya maksud dan tujuan te­r­tentu dengan spon­tanitasnya.

 

Juga tidak seperti halnya esensi kebebasan yang melandasi se­ni instalasi, yang bebasnya memiliki tujuan akhir (sesuai ruang dan wak­tu) se­ba­gai­mana makna tema. Kebebasan Harun tidak te­rencana, se­hingga ti­­dak memiliki pegangan atau tujuan yang ber­sifat konstruk­tif, yang sesuai keinginannya. Sehingga kebebasannya selalu terasa berada di ruang dan wak­­tu yang salah.

 

Gilanya, Harun selalu begitu dan begitu seterusnya.

 

Otak Harun sebenarnya encer, tapi sering bertindak seperti orang bebal. Ini disebabkan prinsipnya yang terlalu idealis untuk kla­sifi­kasi ben­tuk dan gaya hidupnya.

 

“Mungkin dia terlalu menyenangi tokoh Bu Pun Su (Pendekar Tiada Kepandaian) dari cerita silat Kho Ping Ho, makanya edan-eling seperti itu,” seorang bekas kawannya pernah berkomentar.

 

 

Sidharta meneguk minumannya.

 

Lagu yang dibawakan Ravi Shankar sudah berganti dengan la­gu lain.

 

Perubahan irama musik sering menciptakan pergantian sua­sana. Be­gitu juga saat lirik dan irama lagu “Time” dari Alan Parson Project mengalun, Harun dan Shidarta terpengaruh, terdiam di­buai usapan melodinya yang liris.

 

Sidharta melirik jam. Hampir 13.30.

 

“Berapa lama kau pergi?” tanya Sidharta sambil tetap me­man­dang ke­luar.

 

“Tergantung keadaan. Perkiraanku tiga minggu. Setelah itu aku akan lang­­­sung merintis jalan baru di dunia usaha. Mudah mudahan saja dapat sedikit duit.”

 

Sidharta tertawa masam, “Aku tak percaya itu. Alasan tidak bisa lepas dari cengkeraman jendral itu sangat sulit diterima. Begitu ju­ga alas­an terangsang kemungkinan diberi im­balan untuk membuka usaha.”

 

“Sid, aku tak ingin dipenjara la…”

 

“Stop! Kasusmu di Medan tidak seberat yang kau duga. Wak­tu itu kau memang terjepit. Bila tidak membunuh, kau yang terbunuh. Saksinya banyak, bahkan ada anggota polisi yang mau mem­belamu. Tetapi waktu itu kau bodoh, kalap ketakutan, lari ke Singapura dan di sana ma­lah terlibat kekonyolan. Aku berusaha mem­berimu pengacara un­tuk menyelesaikan kasusmu sesuai hu­kum. Tetapi kau menolak dengan alasan hakimnya tidak akan adil. Kudesak ber­kali-kali, tetapi kau tetap tak mau melakukannya. Kau memang egois, arogan dan mudah mem­vonis,” Sidharta ber­ubah jadi sengit.

 

“Ya, tetapi kau pun tahu, aku tak punya uang untuk membayar pengacara. Aku tak yakin bisa terhindar dari hukuman.”

 

“Pengacara itu saudaraku. Dan dia sudah mempelajari kasusmu. Juga kau tak dituntut sepeser pun untuk membayarnya. Kau memang bebal. Apakah kau pernah berpikir, bahwa bila aku ber­pikir ten­tang dirimu, aku terkadang merasa bersalah, karena melanggar sumpahku sendiri sebagai polisi?”

 

Mendengar ucapan Sidharta yang terakhir, Harun jadi tersinggung. “Empat bulan yang lalu, aku sudah pernah berkata, tangkaplah aku bila kau merasa melindungi penjahat. Sekarang juga aku bersedia, asal kau sendiri yang menangkapnya. Ayo lakukan jika kau mau,” ucap Harun sambil menyodorkan dua tangannya.

 

Sidharta membanting majalah yang ada di dekatnya. “Sialan. Bila aku mau, kau pasti sudah kuseret sewaktu kau keluar dari penjara Ambon dan muncul di pintu rumah ini.”

 

“Mengapa tidak kau lakukan?!”

 

“Itulah kedunguanku! Mau saja dimanfaatkan oleh orang sepertimu!” Sidharta tambah sengit. Nadanya hampir setengah berteriak.

 

Mendengar kalimat terakhir, Harun merasa dadanya bergemuruh menahan perasaan, “Kau menyesal? Katakan terus terang!”

 

Detik itu satu hal melintas di pikiran Harun, bila Sidharta mengiyakan, ia akan segera mengangkat telpon untuk menyerah­kan diri! “Aku tak per­nah min­ta dikasihani. Apalagi berniat menyiksa seseorang karena harus me­langgar sum­pahnya!”

 

Sidharta bangkit, berdiri sambil memandang ke luar jendela. Wajahnya mengeras. Bibirnya terkatup rapat.

 

 

 

Matahari di luar semakin terik.

 

Bayangan pohon terlihat kian memendek, tanda posisi matahari kian tegak lurus. Sidharta mencoba menahan apa yang di­rasakannya. Pi­kiran, perasaan, dan sanubarinya bergulat ketat.

 

Pikirannya mengatakan supaya mengambil jalan yang terbaik. Na­mun untuk mengambil jalan yang terbaik itu sungguh sulit.

 

Secara hukum, ia memang harus melaporkan Harun. Namun ia tak te­ga ber­buat itu, walau tahu risikonya bila hal ini terungkap. Ba­­ginya, me­nolong ma­­nusia bukanlah sekadar dengan membe­ri pe­lajaran, me­lainkan ju­ga memberi sebuah kesempatan untuk me­rintis ke­hidupan yang lebih baik.

 

Ia tahu Harun. Ia tahu kasusnya. Harun hanyalah manusia yang kebetulan begitu mudah dipermainkan keadaan. Pada dasarnya Harun se­orang lelaki yang berhasrat besar melakukan kebe­naran.

 

Walau jalan hidupnya bisa disebut menyimpang, ia tak pernah merugikan orang lain secara murni. Hanya ombak kehidupan dan tuntutan situasi yang membuatnya selalu berkelana di seberang hu­kum. Selain itu, jiwanya yang bernuansa keras selalu menuntun­nya su­paya berenang di gelombang laut­an, bukan ber­kecipak di air kehidupan yang tenang.

 

Melihat sahabatnya diam, Harun menghela napas. “Jika hal itu su­lit kau jawab, aku akan mengajukan alternatif lain. Itu pun bila kau tidak keberatan.”

 

Sidharta mengalihkan pandangannya ke arah pucuk po­hon yang ber­ada di pinggir jalan. “Apa maksudmu?”

 

“Akan kuselesaikan dulu masalah ini. Setelah itu kau boleh te­mu­kan aku dengan si pengacara yang kau maksudkan,” kata Ha­run de­ngan datar.

 

“Aku tidak bermaksud…”

 

“Sudahlah. Kau juga termasuk orang yang senang mengor­ban­kan diri sen­diri,” potong Harun.

 

“Bukan begitu, tetapi…”

“Bukan aku saja yang berpendapat begitu,” kata Harun sambil bangkit.

 

“Huh,” desis Sidharta.

 

Konsentrasi masalah terasa buyar. Ia mencoba menarik lagi ke dalamnya. “Selesaikan dulu masalah ini. Aku tidak berniat su­paya kau menemui pengacara…”

 

Tetapi Harun sudah tak peduli, ia melangkah ke ruang lain.

 

“Oom, mana caturnya?” terdengar ia bertanya. Nada sua­ranya seperti tidak ada persoalan.

 

Sidharta jadi gemas.

 

Tiba-tiba muncul suara mobil.

 

Sebuah VW beetle putih dengan rusuh berhenti kasar di depan ga­rasi. Sidharta mengeluh. Suasana tambah tak memungkinkan untuk menyelesaikan masalah Harun. Adiknya sudah datang.

 

Terdengar klakson dan bunyi pintu mobil ditutup seenaknya. Disusul derai tawa gadis remaja. “Hei, Mas Harun sudah lama? Ke mana saja?”

 

“Dari mana, kin?”

 

“Beli buku sama kaset.”

 

“Nggak ada bosan-bosannya.”

 

“Duitnya tak pernah habis sih. Eh, Mas Harun, minggu depan an­tar ke TIM ya. Ada konser Leo Kristi.”

 

“Siapa dia itu?”

“Asyiklah. Nih kasetnya,” kata Kinanti mem­­perlihatkan kaset da­­lam dominasi warna merah, dan wajah seorang le­laki ber­kumis memakai topi bulu.

“Ahhh, ini kan orang Surabaya itu.”

“Mas Harun tahu…”

“Dari koran.”

 

Kinanti jadi semangat. “Hebat dia, Mas. Di kala banyak orang ber­nafsu jadi kaya, hanya dia yang berani miskin, bikin lagu tidak seperti yang lain.”

“Sudah, sudah. Harun mau main catur denganku. Nanti saja ngobrolnya. Yo, Har…” ayah Sidharta menyela.

“Ahh…ayah gitu deh… bener ya mas?”

Sidharta menggeleng, adiknya sangat cerewet, rusuh, selalu ter­­buru-bu­ru, tapi lincah.

Kinanti, adiknya memang segesit kijang.

200 meter dari rumah itu, di dalam sebuah mobil, seorang pria tegap melapor melalui alat komunikasi gelombang pendeknya.

“Dia masih di dalam. Ada kemungkinan sampai sore. Over.”