Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

5. PELURU BEKU

5. PELURU BEKU

“Semua pihak diharapkan menahan di­­ri, dan se­lalu berpijak pada semangat menjaga stabi­litas nasional, demi ke­­utuhan bangsa yang se­dang men­ja­lani pem­bangunan sebagaimana di­ga­­ris­kan GBHN dan UUD 45. Untuk itu, se­tiap ja­­jaran ABRI diwajibkan untuk men­jaga ke­disiplinannya, ser­ta me­ningkatkan ke­waspa­daan agar tujuan dan cita-cita luhur bangsa ter­­capai se­bagaimana di­harapkan ki­ta semua.”

Oskar menutup surat kabar itu.

Selalu dengan hiasan yang indah dan mu­luk. Politik tidak pernah mau ber­­terus terang, dan selalu meng­inginkan hadir dengan citra “pem­­bawa” ke­da­maian. Pada ke­nya­taannya, se­tiap po­litik mereka ga­gal, pihak militer yang selalu kena ge­tah­nya. Ironisnya di kalang­an mi­liter pun banyak yang me­­nyenangi ke­hi­dupan seperti poli­tikus.

Baginya, tak ada istilah me­nung­gu atau me­nahan diri. Setiap pe­rongrong atau penga­cau, di mana pun berada, wa­jib disikat habis. Se­ca­ra cepat dan ju­­ga tuntas.

Tapi dalam masalah itu. Kul­yubi, se­laku atas­annya, akhir-akhir ini kian te­r­asa sering ber­lainan pen­dapat dengannya.

“Pernah aku berpikir, bahwa kita tumbuh di zaman yang ku­rang tepat. Se­hingga begitu banyak pertimbangan non militer yang harus kita miliki. Bah­kan kadang-kadang kita ha­rus membu­nuh hati nurani kita sendiri, se­kadar un­tuk menghindari sebuah kon­­flik. Yang menurut pertimbangan kita sebagai mi­liter, sebuah hal yang tak wajar.”

Pendapat Kulyubi selalu bernada seperti itu. Mengalah. Mengalah, ta­pi de­mi strategi politik.

Sebuah sikap yang dapat mengaburkan eksistensi sebagai mi­li­ter. Sementara bagi Oskar, militer harus lebih aktif dan agresif. Na­mun tetap dalam pro­porsinya. Non politik!

Salah satu langkah pertamanya untuk merealisasikan hal ter­sebut adalah membersihkan kesatuannya dari konsep-konsep yang melemah­kan eksis­tensi mi­liter. Karena itulah ia menaruh ha­rapan besar terhadap keberhasilan misi yang akan dilaksana­kannya.

Tiba-tiba teleponnya berdering.

“Ya.”

“Selamat siang Kolonel. Pusaka di sini. Tahap pertama selesai. Kon­­­disi cukup, dan saya berpendapat semua perkataannya bisa di­per­caya.”

“Bagaimana dengan kesiapannya?”

“Tak ada masalah. Dia memang cukup gila. Lusa, hari ming­gu, ia minta izin un­tuk keluar.”

“Ke mana?”

“Menemui temannya di Kebayoran.”

Oskar terdiam. Harun memang pernah menyebut satu nama yang pa­­ling dekat dengan kehidupannya.

“Izinkan saja.”

“Maksud kolonel?”

“Biarkan dia pergi. Dia bekerja dengan hatinya. Bila kita ba­tasi, ma­lah bi­sa menyulitkan.”

“Baiklah kalau begitu. Selamat siang kolonel.”

“Ya. Beri tahu Santoso tentang hal ini!”

Oskar menarik nafas. Ia berjalan ke dekat jendela. Ia terse­nyum sen­diri se­waktu mengingat sorot mata Santoso kepada Ha­run.

“Bajingan tengik itu memang menyebalkan..,” pikirnya.

 

****

 

“Pasukan istirahat. Geraak!” Peter berteriak memberi aba-aba di tem­pat. “Ka­lian tahu mengapa berkumpul di sini?!”

“Tidakkk!” jawab mereka serempak.

“Kalian di sini karena kalian akan mati. Mengerti! Jawab yang ke­ras!”

“Mengerti!”

“Kalian siap mati?!”

“Braja!”

“Goblok semua! Keledai sombong kalian! Kalian mati sama de­­ngan aib kesatuan. Kalian harus tetap hidup dan bertempur la­gi. Me­ngerti!”

“Mengerti!”

“Tolol! Jika kalian bertempur lagi itu tandanya kalian harus kom­­pak se­­bagai kesatuan. Sebagai satu regu. Satu regu!”

Peter berbalik dan langsung menunjuk ke arah Jajang yang ma­sih mem­­­beri salut pada bendera, dan kemudian kepada Eko dan Gono yang ma­sih la­ri mengitari lapangan dengan beban di pung­gung. “Buk­tinya, ada ti­ga keledai yang kalian biarkan berbuat bo­doh. Itu tandanya ka­lian tidak kompak dan bo­doh seperti belut bo­rokan. Mengertiii!”

“Mengerti!”

Push up limapuluh kali. Mulai!”

“Braja!”

Dan dimulailah push up.

Peter menginjak pantat seorang prajurit yang nampak sulit me­­nger­jakan tu­gasnya. “Ulang lagi. Jumlahnya jadi enampuluh ka­li.”

Kutukan mulai meledak di benak prajurit-prajurit itu, namun tak ter­­de­ngar, karena hanya meledak di dalam hati.

“Kugebuk dia nanti. Dasar si Jajang konyol. Aku yang tak ta­hu apa-apa ja­di kena getahnya,” ucap seorang prajurit yang tak ta­han mengeluarkan um­patan.

Sial. Dia ketahuan bicara.

“Baringin! Kau buka mulut! Yang kuperintahkan bukan itu! Se­­karang ja­di tujuhpuluh kali!”

“Sial. Mati aku…”

“Apa? Kau mengeluh? Itu pantangan! Seratus duapuluh kali! Ji­ka ada yang mati sebelum limapuluh, aku gembira. Ada yang mam­­pus sebelum se­ratus, aku tak peduli!”

Baringin terdiam, tapi hatinya gemuruh.

Jajang yang ikut mendengar, mendadak lupa akan lelahnya, ia ter­tawa, na­mun mata Peter sangat tajam

“Dasar goblok kamu! Ke sini, cepaaat!”

Sekarang Baringin yang ingin mendengar.

Plak! plak! plak! plak! Empat tamparan mendarat di pipi Ja­jang. Di­­su­sul um­patan bengis dalam bahasa yang sungguh kasar.

Eko yang sedang setengah mati kepayahan, tak bisa tinggal diam bi­la me­nyaksikan hal itu.

“No, No, lihat si Jajang…”

“Diam kau, kena kita nanti…”

Terlambat, Peter mengetahuinya.”Kalian juga. Sini. Cepat!”

“Mati kita, No…”

Tetapi mereka tidak mati, hanya tiga perempat mati. Keduanya di­­suruh ber­jalan sambil jongkok.

“Empat puluh putaran!”

Peter mundar mandir mencari-cari peluang kesalahan. Nah, ia da­pat sa­tu lagi. Ia langsung “menerkam” seorang anakbuahnya. “Hei ce­cunguk ba­si! Kau tahu kesalahanmu?!”

Mata Bram alias Ibrahim asal Betawi kedap kedip. Berpikir ke­ras, ta­pi tak satu jawaban pun dimiliki.

“Jawab! Cepat!”

“Tidak tahu, sersan!”

“Yang keras!”

“Tidak tahu, sersaaan!”

“Itulah kesalahanmu yang terbesar. Selalu tidak tahu apa yang te­lah kau lakukan. Ada apa dengan kecepatanmu?!”

Bram menelan ludah. Ia lambat, “Saya sakit !”

“Bodoh! Itu berarti kau tidak bisa menjaga kesehatan! Bagai­mana ji­­­ka nanti siang kita harus menyerang Australia? Diterjunkan di Sidney? Atau ha­rus merebut Istana Merdeka atau Monas yang di­kuasai teroris? Kau pasti mau mungkir. Aku tahu itu. Ulangi se­mua! Satu, dua..tiga! Hei kau be­kicot dang­dut, yang betul pan­tatnya!”

Mansyur Katiri. Anak pedagang kain batik, menahan nafas, dan ba­­las mengutuk dalam hati. ”Kamu sendiri kerbau Jahilliyah. Da­­sar ser­san ter­kutuk!”

Menyaksikan hal tersebut, Risman tertawa geli sendiri.

 

Peter selalu keras, kasar, namun selalu berhasil memo­tivasi pa­­­sukan. Peter Soselisa merupakan pelatih utama di kesatuan. Dan pantas di­beri acungan jempol untuk segala hal yang bersifat ira­­sio­nal maupun ra­sional.

“Prajurit yang baik adalah prajurit yang tidak mengerti mati, te­­­tapi me­ngerti untuk tetap hidup” itulah motonya.

Risman mendadak tertegun. Di depannya, berdiri seorang pra­­­ju­rit bersandar ke tiang sambil menyaksikan adegan di lapang. Per­­­awak­annya tinggi kurus. Wajahnya pucat, berhias bibir sinis me­­nusuk.

Risman mendekat, “Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Tak ada reaksi. Diam, sikapnya dingin. Seakan tanpa warna. Dia hanya me­mandang sejenak, dan kemudian berbalik pergi tanpa pe­­­duli.

Risman menarik nafas. Ia harus bertindak, “Kopral Bertus, ber­­­hen­ti!”

Bertus menghentikan langkahnya. Berbalik perlahan.

Keduanya saling memandang. Risman merasa hatinya seper­ti ter­­ti­kam. Ba­yangan mengerikan selalu hadir bila ia berhadapan de­­ngan Bertus. Si Peluru Beku.

Masa Lalu di Kalimantan Barat.

Gerombolan PGRS/PARAKU berada dalam kondisi tempur­nya yang pa­ling baik. Peletonnya diterjunkan ke daerah sekitar per­­batasan, yang me­­ru­pakan basis terkuat pemberontak. Risman dan Bertus wak­tu itu masih ke­­pala regu. Diterjunkan di wilayah ter­­sebut.

Empat hari patroli menyusuri hutan dan rawa, telah menyita te­­­naga dan kon­sentrasi. Menyebabkan pasukan tersebut begitu ber­­­semangat sewaktu di­perintahkan berhenti di sebuah kampung.

Regu Bertus yang menjadi regu pelopor dari peletonnya, langsung ber­istirahat di sekitar rumah-rumah panggung, sambil me­nik­ma­ti sambutan sajian da­ri penduduk.

Namun keramahan sambutan itu ternyata jebakan. Begitu se­­lesai menyantap makanan. Belasan anggota pasukan muntah-mun­­­tah, dan detik berikutnya adalah pembantaian. Gerombolan pria dan wanita PGRS muncul seperti setan dari tiap sisi ru­mah dan penjuru hutan.

Diberondong dengan AK-47 tanpa ampun, dan yang paling me­­nge­­rikan adalah regu Bertus. Seluruh anak buahnya tewas me­nge­­­rikan. Dibantai secara kejam. 21 prajurit termasuk ko­mandan pe­­leton ma­ti dalam sergapan pertama.

Bertus terhindar dari kematian, karena nasib baik, ketika mi­num­­an dihi­dangkan, ia bertugas meninjau daerah yang akan dilalui­nya, di luar dusun.

Regu Risman datang membantu dan berhasil melumpuhkan se­­­mua ge­rombolan di kampung tersebut.

Di satu sudut kampung, empat belas pemberontak menyerah. Me­­­­reka meng­angkat tangan tinggi-tinggi, tapi satu senjata menya­lak ga­rang, mem­babat tubuh-tubuh itu dengan buas. Jerit me­nge­rikan ber­kumandang, diiringi sua­ra jatuh bagai pohon pisang di­­t­ebas.

Beberapa menit kemudian, di antara bau asap mesiu yang me­­­nusuk, semua me­mandang dengan mata tak berkedip, ke arah Ber­­tus yang berdiri terengah-engah sambil memegang senjata yang pa­­nas.

Semua terdiam. Membisu. Dan terjadilah sebuah kesepakatan ra­­­hasia tak terucap.

Komandan kompi maupun anggota pasukan tak ada yang me­­­lapor. Ju­ga Ris­man selaku sahabat terdekatnya. Semua terjebak da­­lam si­tuasi ser­ba salah. Me­reka tak bisa mengingkari keadaan Ber­­tus saat itu, yang ke­hi­langan hampir se­mua teman dari pele­ton­nya, seca­ra keji dan licik.

Hal ini yang merubah arti pertempuran bagi Bertus. Di dalam ka­­mus hidupnya, pengertian tu­gas sudah berubah menjadi balas den­­dam pribadi.

Desing peluru tak lagi membuatnya menunduk. Dalam setiap kon­­tak sen­­jata. El maut yang seolah lari menjauhi. Ia selalu sela­mat, dan selalu pe­­nuh tindakan irasional.

Ia menyambut maut dengan tarian yang kejam. Peluru-peluru pa­­nas yang menerjangnya selalu luput. Peluru-peluru itu dianggap ti­­dak lebih se­perti air hujan, karena itulah ada yang menganggap bah­­wa maut sendiri sudah ngeri berhadapan dengannya. Peluru-pe­­luru seperti sudah membeku sebelum me­nyentuh tubuhnya.

Hal mengerikan mulai terasa di dalam kesatuan. Tak ada is­tilah ta­wan­an, atau musuh yang hidup bagi Bertus. Musuh yang ber­temu de­ngannya, iba­rat pe­nyerahan diri. Selalu berakhir dengan ke­matian wa­lau tangan me­re­ka sudah ter­angkat tinggi tanda me­nyerah. Ko­mandan ber­tindak hanya se­batas peringat­an, dan penu­runan pangkat se­bagai tebusan indislipliner.

Yang paling sulit dalam hal ini adalah Risman.

Bertus sahabatnya, tetapi ia selalu gagal menyadarkan. Ia se­lalu me­rasa ber­­salah karena tak bisa bertindak menghalangi per­buatan Bertus. Mela­por­kan Ber­tus, berarti membawanya ke mah­kamah mi­liter dengan ancaman hu­­­kuman mati. Mendiamkan, berarti mengha­lalkan pelampiasan dendam yang tak masuk akal.

Suatu hari di bulan April.

Peleton mereka menyerbu satu pos latihan PGRS. Kontak sen­jata ter­­jadi se­lama 4 jam tanpa henti. Musuh kabur dengan me­ninggalkan ba­nyak korban.

Di sebuah gubuk yang terbakar, Risman memergoki Bertus se­dang meng­­gendong seorang anak perempuan berusia sekitar ti­ga ta­hun.

Semula Risman menduga korban yang berada di tempat itu ha­sil ke­ga­nasan Bertus. Tetapi setelah melihat luka mereka, ia m­e­rasa le­ga. Mereka ada­­lah tawanan yang dibunuh PGRS, dan ha­nya anak ke­cil itu yang selamat da­ri tusukan bambu runcing.

Dalam pandangan Risman, waktu itu Bertus bersikap aneh. Ia tam­pak ka­sihan dan ingin melindungi anak kecil itu.

Anak kecil itu tak pernah dilepasnya. Begitu juga ketika me­reka per­gi dari tempat itu, Bertus tetap memutuskan untuk mem­ba­wanya pergi.

“Dengan siapa anak kecil ini tinggal? Seisi kampung sudah ma­ti. Dia akan mati jika ditinggal.” Bertus berkata.

Komandan tak merintanginya. Komandan saat itu merasa per­­cuma jika ha­rus ribut, atau mati gara-gara berkelahi dengan Ber­tus.

Dalam perjalanan pulang, pasukan disergap. Mereka terpaksa meng­­­­hindar ma­suk hutan. Saat dikejar musuh inilah peristiwa itu ter­­­jadi.

Anak kecil yang dibawa Bertus menangis terus, karena keta­kut­an dan juga shock, membuat anggota pa­sukan gelisah.

Bagi telinga PGRS, suara semak terinjak, atau desis seekor ular bi­sa ter­­dengar. Apalagi tangisan seorang anak kecil dilanda de­­mam. Po­sisi bisa di­­ketahui lawan dari jarak puluhan meter.

Anak kecil itu terus menangis, mengiringi gerakan pasukan yang ber­­usaha meloloskan diri.

Bertus sadar akan hal itu. Sorot mata kecemasan dan suara ke­­­takutan te­man-temannya membuat ia memilih sebuah jalan pin­tas yang tak mung­kin bi­sa dilakukan oleh seluruh anggota pasukan, walau logika bisa mema­afkan­nya.

Ia membawa anak kecil itu ke kegelapan.

Tangis anak kecil itu semakin lama semakin jauh, jauh… jauh…

Dan berhenti secara tiba-tiba. Semua termenung dalam ke­su­­nyian.

Risman menggigil dalam kegelapan.

Beberapa saat kemudian Bertus muncul. Sendiri.

Risman merasa tengkuknya ditiup angin dingin. Ia merinding mem­­­ba­yangkan apa yang dilakukan Bertus.

Detik itu juga Risman mengambil keputusan. Ia harus meno­long Ber­tus da­ri kegilaan, dengan cara yang pada saat itu diya­kini­nya be­nar.

Ia harus melaporkan semua kegilaan Bertus.

Bertus memang tidak punya pilihan. Tapi Risman menilai Ber­­tus akan se­makin mengerikan setelah kasus anak kecil ini, ra­­sa salahnya akan se­makin be­sar. Dan bila hal ini dibiarkan, berarti ia mem­biarkan Ber­tus jadi pem­bunuh. Bukan lagi prajurit.

Ia pun melaporkan semua perbuatan Bertus ke komandan ba­­tal­yon. Ber­­­tus diseret ke mahkamah militer, dengan berbagai tu­­duhan, na­mun Ris­­man ke­cewa. Bertus tidak dikenakan hu­ku­man berat, ia ha­nya dikenai sang­­si penurunan dan pe­nundaan ke­­naikan pangkat.

Sejak itu Bertus menaruh dendam, dan menjadi musuh bagi di­ri­­nya. Se­kaligus jadi legenda hidup yang menyeramkan di kesa­­tu­an­nya.

Operasi militer selalu memahat nama Bertus dari dua sisi. Se­bagai pem­­berani dan pelanggar aturan. Dari Timor Timur pun Ber­tus hanya­ mendapat penun­daan ke­naikan pangkat. Sebuah hal yang sudah jadi biasa bagi­nya.

Mendapati kenyataan demikian, Risman semakin terseret da­lam dilema.

Bila sudah berada dalam situasi seperti sekarang ini, dan me­nyak­­sikan si­­kap Bertus, hatinya seperti dipilin, karena ia sadar bah­wa di­rinya yang mem­­buat Bertus seperti ini. Yang membuat se­orang te­man baik jadi musuh, ser­­ta mengubah seorang petarung ber­darah di­ngin yang tak kenal kasihan, men­­jadi seorang prajurit yang selalu ber­nafsu untuk menjagal.

Kini, dipandangnya wajah Bertus yang juga sedang me­natapnya. “Ber­­siap­lah dalam waktu tiga jam. Untuk tugas penting. Ga­bung de­­ngan regu Sersan Peter Soselisa, tunggu intruksi selan­jutnya.”

Bertus menatap tajam.

“Laksanakan!”

“Ya letnan,” Bertus mengangguk, suaranya bergetar, nyaris se­­per­ti de­sis­an. Kemudian ia berjalan meninggalkan Risman.

Risman berusaha menahan guncangan di dadanya. Ia gemas, gu­­­sar, ta­­pi ju­ga tak tahu apa yang harus dilakukannya. Bila sudah ber­­urusan de­­ngannya, ia selalu merasa kalah. Tak mampu mem­per­­lihatkan wiba­wa­ sebagai mi­liter. Tak bisa menindak sikap tanpa hor­­mat, tapi sulit meng­­hukum atau mem­peringatkannya. Sering ia berniat merubah sikap me­nga­lahnya, tapi tetap ga­gal bila sudah ber­ha­dapan seperti ini.

Bertus merupakan persoalan pribadi baginya. Dia adalah anak­buah, te­­man, dan sekaligus musuh utamannya.

 

Bertus menyusuri barak. Orang-orang yang berpapasan de­ngannya selalu meng­hin­dar. Ia masuk kantin dan mengambil tem­pat di sudut.

Yoyoh, janda penguasa kantin, menyapa, “Kopi?”

Bertus mengangguk sambil menatap tajam anak laki-laki ber­­­usia em­pat tahun di pangkuan wanita itu. Ia memejamkan mata sam­­bil ber­­san­dar ke dinding.

****

Di ruangan itu hanya ada meja kerjanya yang selalu bersih, dan dua kur­si yang terbuat dari kayu murahan. Satu untuk dia sendiri, sa­­tunya lagi un­tuk tamu. Selain itu tak ada apa-apa lagi.

Dia tampaknya tak butuh rak atau gambar terpajang. Kalau pun ada yang bisa disebut pemanis ruangan, itu hanya pesawat tel­­pon yang su­dah saat­nya diganti, dan asbak alumunium pe­nam­pung abu ro­kok.

Dua jendelanya ditutup gorden, lampu ruangan yang tidak be­­gitu terang, mung­kin hanya 25 watt, membuat suasana sedikit pe­­­ngap. Apa­lagi dengan asap cerutu yang dihisapnya.

Hamid sudah sering mendengar lelaki ini, namun ba­ru se­ka­rang ia ber­­jumpa dengannya. Ia tak menduga, seorang penting da­­ri In­teli­jen Gugus Tu­­gas K menyenangi tempat seperti ini. Pantas dan tepat bila orang ini di­­kenal dan diberi julukan dengan sebutan Le­­laki Te­maram atau Si Temaram. Ben­derang tapi di tempat re­mang-remang. Je­las tapi juga kabur. Ada tapi tak pernah diketahui asal-usulnya.

“Ini program khusus termasuk prioritas dini. Berdasarkan we­­­wenang ope­­rasional yang kuperoleh, dan perhitungan dari ke­mung­kin­an yang bisa ter­­jadi. Untuk menyelesaikan persoalan ini. Ke­­ahlian dan pengalamanmu me­­mungkinkan untuk pelaksanaannya. Itulah alas­an kau dipanggil lagi un­­tuk men­untaskannya,” ka­ta si Temaram.

Hamid tersenyum, sebuah kehangatan menyelinap di dada. Ia me­­ne­kan rasa tersanjungnya. Sungguh jarang yang seperti di­rinya, se­orang yang sudah bebas dari Seksi Pelaksana I mendapat ke­perca­yaan kembali se­perti ini.

“Kau bertugas tanpa bantuan dari dalam. Semua operasi lapa­ngan di­­se­­rahkan total. Bertanggung jawab langsung padaku, juga t­i­dak ada ko­mu­nikasi se­lain padaku sendiri. Paham?” tambahnya sam­bil menge­pulkan asap cerutu­nya yang wangi.

“Tugasnya?”

“Sebuah misi militer telah digerakkan untuk misi tertentu di uta­­ra. Dalam waktu hampir bersamaan di Jakarta muncul gerakan po­litik yang sa­ngat serius, dan mengarah pada aktivitas yang bisa meng­­guncang sta­­bilitas. Dalam hal ini, divisi berkepentingan untuk men­­cegah adanya ke­­kuatan aktif yang bisa mendukung aksi politik ter­­sebut. Salah satu sumber ke­­kuatan aktif yang bisa mendukung ge­rakan politik itu adalah seorang per­­wira dari para pe­rencana dan pe­laksana operasi ke utara.”

“Apa ini ada hubungannya dengan gerakan jenderal-jendral pur­­nawira­wan kemarin itu?”

Temaram tak menjawab.

“Dia atau teman-temannya yang disingkirkan?”

Temaram menatap tajam. “Kau terlalu verbal. Aku tak suka itu.”

“Supaya jelas dan tepat tujuan,” balas Hamid perlahan sam­bil mem­­betulkan letak kacamatanya.

Sesaat keduanya terdiam. Seakan saling mengintai reaksi ma­sing-ma­sing.

“Bagaimana?” tanya si Temaram.

“Fokusnya?”

“Seorang agen ganda.”

Agen ganda?” Hamid berpikir sejenak sambil melihat pita ce­­rutu Si Te­maram di asbak di depannya. ”The Sailor Express” me­rek ce­rutu itu, pan­tas harumnya khas.

“Hanya dia?”

Si Temaram mengangguk. Ia menjentik ujung cerutu, me­nabur abunya dalam asbak, lalu mulai menerangkan tugas yang mes­ti dilaksanakan Hamid, cukup lama.

Akhirnya…

“Bagaimana jika operasi itu tetap sukses, bukankah usaha meng­­habisi dia jadi sia-sia?” tanya Hamid.

“Aku tidak senang pada orang yang menduga-duga terlalu ba­nyak.”

Hamid tersenyum kecut. “Salah satu alasan untuk menying­kir­kan me­­reka dari posisi saat ini, tentunya dengan kegagalan ope­rasi ter­sebut. Bu­kankah be­gitu?”

Itu urusanku. Kau mulai banyak bicara,” Temaram sedikit ketus.

Hamid menyeringai, berusaha menahan ledakan emosinya. “Orang ini sungguh berbahaya, tetapi itu sangat menarik,” pi­kirnya.

“Semua mempunyai alasan kuat dan penting, karena itu tak ada sa­tu pe­luru pun di dalam tugas ini.”

Main bersih”, pikir Hamid.

“Dan waktumu hanya tujuh hari dari sekarang?”

“Tujuh?” Hamid membuka lagi berkas-berkas yang diterima­nya. Sa­­sar­an­nya sangat ringan, tapi situasi targetnya tidak bisa di­sebut m­u­­dah. Ia mulai merasakan dirinya sedang bermain-main di lidah api.

“Boleh bertanya lebih jauh?”

“Untuk apa?’

“Supaya tahu untuk apa semua ini?”

“Bila semua kubeberkan. Berarti aku salah memilih orang dan ber­buat to­lol, dengan membiarkan kau duduk berhadapan de­nganku,” gumam Si Te­­maram.

Hamid menyeringai, mengambil tisu pembersih dari saku dan mem­bersihkan lensa kacamatanya. Ia tidak bodoh. Operasi mi­li­ter ini pas­ti di­kemudikan tokoh-tokoh penting. Bila tokoh pen­ting sudah main geser. Apa­­lagi kalau bukan permainan politik pa­pan atas? Dan ia muak berpikir pan­­jang lagi. “Baiklah. Aku akan pelajari.”

Hamid mengakhiri obrolan sambil meremas-remas kertas tis­su be­kas, dan membuka berkas-berkas di depannya.

“Sekali lagi kutegaskan. Kerjakan dengan rapi!” ucap Si Te­ma­ram.

Hamid mengangguk. Demit! kutuknya dalam hati. Akan ku­buk­ti­kan sia­pa yang lebih bahaya. Aku atau dia?

Si Temaram membuka laci, dan memencet tombol kecil. “Per­­gilah….”

Pintu di ruang itu terbuka secara otomatis. Hamid tersenyum ma­­sam.

Lelaki di ruang temaram ini sungguh luar biasa.

Begitu pula dengan cerutu “The Sailor Express” yang harum.