5. PELURU BEKU
“Semua pihak
diharapkan menahan diri, dan selalu berpijak pada semangat menjaga stabilitas
nasional, demi keutuhan bangsa yang sedang menjalani pembangunan
sebagaimana digariskan GBHN dan UUD 45. Untuk itu, setiap jajaran ABRI
diwajibkan untuk menjaga kedisiplinannya, serta meningkatkan kewaspadaan
agar tujuan dan cita-cita luhur bangsa tercapai sebagaimana diharapkan kita
semua.”
Oskar menutup surat
kabar itu.
Selalu dengan hiasan
yang indah dan muluk. Politik tidak pernah mau berterus terang, dan selalu
menginginkan hadir dengan citra “pembawa” kedamaian. Pada kenyataannya,
setiap politik mereka gagal, pihak militer yang selalu kena getahnya.
Ironisnya di kalangan militer pun banyak yang menyenangi kehidupan
seperti politikus.
Baginya, tak ada
istilah menunggu atau menahan diri. Setiap perongrong atau pengacau, di
mana pun berada, wajib disikat habis. Secara cepat dan juga tuntas.
Tapi dalam masalah
itu. Kulyubi, selaku atasannya, akhir-akhir ini kian terasa sering berlainan
pendapat dengannya.
“Pernah aku berpikir,
bahwa kita tumbuh di zaman yang kurang tepat. Sehingga begitu banyak
pertimbangan non militer yang harus kita miliki. Bahkan kadang-kadang kita harus
membunuh hati nurani kita sendiri, sekadar untuk menghindari sebuah konflik.
Yang menurut pertimbangan kita sebagai militer, sebuah hal yang tak wajar.”
Pendapat Kulyubi
selalu bernada seperti itu. Mengalah. Mengalah, tapi demi strategi politik.
Sebuah sikap yang
dapat mengaburkan eksistensi sebagai militer. Sementara bagi Oskar, militer
harus lebih aktif dan agresif. Namun tetap dalam proporsinya. Non politik!
Salah satu langkah
pertamanya untuk merealisasikan hal tersebut adalah membersihkan kesatuannya
dari konsep-konsep yang melemahkan eksistensi militer. Karena itulah ia
menaruh harapan besar terhadap keberhasilan misi yang akan dilaksanakannya.
Tiba-tiba teleponnya
berdering.
“Ya.”
“Selamat siang
Kolonel. Pusaka di sini. Tahap pertama selesai. Kondisi cukup, dan saya
berpendapat semua perkataannya bisa dipercaya.”
“Bagaimana dengan
kesiapannya?”
“Tak ada masalah. Dia
memang cukup gila. Lusa, hari minggu, ia minta izin untuk keluar.”
“Ke mana?”
“Menemui temannya di
Kebayoran.”
Oskar terdiam. Harun
memang pernah menyebut satu nama yang paling dekat dengan kehidupannya.
“Izinkan saja.”
“Maksud kolonel?”
“Biarkan dia pergi.
Dia bekerja dengan hatinya. Bila kita batasi, malah bisa menyulitkan.”
“Baiklah kalau begitu.
Selamat siang kolonel.”
“Ya. Beri tahu Santoso
tentang hal ini!”
Oskar menarik nafas.
Ia berjalan ke dekat jendela. Ia tersenyum sendiri sewaktu mengingat sorot
mata Santoso kepada Harun.
“Bajingan tengik itu
memang menyebalkan..,” pikirnya.
****
“Pasukan istirahat.
Geraak!” Peter berteriak memberi aba-aba di tempat. “Kalian tahu mengapa
berkumpul di sini?!”
“Tidakkk!” jawab
mereka serempak.
“Kalian di sini karena
kalian akan mati. Mengerti! Jawab yang keras!”
“Mengerti!”
“Kalian siap mati?!”
“Braja!”
“Goblok semua! Keledai
sombong kalian! Kalian mati sama dengan aib kesatuan. Kalian harus tetap
hidup dan bertempur lagi. Mengerti!”
“Mengerti!”
“Tolol! Jika kalian
bertempur lagi itu tandanya kalian harus kompak sebagai kesatuan. Sebagai
satu regu. Satu regu!”
Peter berbalik dan
langsung menunjuk ke arah Jajang yang masih memberi salut pada bendera, dan
kemudian kepada Eko dan Gono yang masih lari mengitari lapangan dengan beban
di punggung. “Buktinya, ada tiga keledai yang kalian biarkan berbuat bodoh.
Itu tandanya kalian tidak kompak dan bodoh seperti belut borokan.
Mengertiii!”
“Mengerti!”
“Push up limapuluh
kali. Mulai!”
“Braja!”
Dan dimulailah push
up.
Peter menginjak pantat
seorang prajurit yang nampak sulit mengerjakan tugasnya. “Ulang lagi.
Jumlahnya jadi enampuluh kali.”
Kutukan mulai meledak
di benak prajurit-prajurit itu, namun tak terdengar, karena hanya meledak di
dalam hati.
“Kugebuk dia nanti.
Dasar si Jajang konyol. Aku yang tak tahu apa-apa jadi kena getahnya,” ucap
seorang prajurit yang tak tahan mengeluarkan umpatan.
Sial. Dia ketahuan
bicara.
“Baringin! Kau buka
mulut! Yang kuperintahkan bukan itu! Sekarang jadi tujuhpuluh kali!”
“Sial. Mati aku…”
“Apa? Kau mengeluh?
Itu pantangan! Seratus duapuluh kali! Jika ada yang mati sebelum limapuluh,
aku gembira. Ada yang mampus sebelum seratus, aku tak peduli!”
Baringin terdiam, tapi
hatinya gemuruh.
Jajang yang ikut
mendengar, mendadak lupa akan lelahnya, ia tertawa, namun mata Peter sangat
tajam
“Dasar goblok kamu! Ke
sini, cepaaat!”
Sekarang Baringin yang
ingin mendengar.
Plak! plak! plak!
plak! Empat tamparan mendarat di pipi Jajang. Disusul umpatan bengis dalam
bahasa yang sungguh kasar.
Eko yang sedang
setengah mati kepayahan, tak bisa tinggal diam bila menyaksikan hal itu.
“No, No, lihat si
Jajang…”
“Diam kau, kena kita
nanti…”
Terlambat, Peter
mengetahuinya.”Kalian juga. Sini. Cepat!”
“Mati kita, No…”
Tetapi mereka tidak
mati, hanya tiga perempat mati. Keduanya disuruh berjalan sambil jongkok.
“Empat puluh putaran!”
Peter mundar mandir
mencari-cari peluang kesalahan. Nah, ia dapat satu lagi. Ia langsung “menerkam”
seorang anakbuahnya. “Hei cecunguk basi! Kau tahu kesalahanmu?!”
Mata Bram alias
Ibrahim asal Betawi kedap kedip. Berpikir keras, tapi tak satu jawaban pun
dimiliki.
“Jawab! Cepat!”
“Tidak tahu, sersan!”
“Yang keras!”
“Tidak tahu, sersaaan!”
“Itulah kesalahanmu
yang terbesar. Selalu tidak tahu apa yang telah kau lakukan. Ada apa dengan
kecepatanmu?!”
Bram menelan ludah. Ia
lambat, “Saya sakit !”
“Bodoh! Itu berarti
kau tidak bisa menjaga kesehatan! Bagaimana jika nanti siang kita harus
menyerang Australia? Diterjunkan di Sidney? Atau harus merebut Istana Merdeka
atau Monas yang dikuasai teroris? Kau pasti mau mungkir. Aku tahu itu. Ulangi
semua! Satu, dua..tiga! Hei kau bekicot dangdut, yang betul pantatnya!”
Mansyur Katiri. Anak
pedagang kain batik, menahan nafas, dan balas mengutuk dalam hati. ”Kamu
sendiri kerbau Jahilliyah. Dasar sersan terkutuk!”
Menyaksikan hal
tersebut, Risman tertawa geli sendiri.
Peter selalu keras,
kasar, namun selalu berhasil memotivasi pasukan. Peter Soselisa merupakan
pelatih utama di kesatuan. Dan pantas diberi acungan jempol untuk segala hal
yang bersifat irasional maupun rasional.
“Prajurit yang baik
adalah prajurit yang tidak mengerti mati, tetapi mengerti untuk tetap hidup”
itulah motonya.
Risman mendadak
tertegun. Di depannya, berdiri seorang prajurit bersandar ke tiang sambil
menyaksikan adegan di lapang. Perawakannya tinggi kurus. Wajahnya pucat,
berhias bibir sinis menusuk.
Risman mendekat, “Ada
yang ingin kubicarakan denganmu.”
Tak ada reaksi. Diam,
sikapnya dingin. Seakan tanpa warna. Dia hanya memandang sejenak, dan kemudian
berbalik pergi tanpa peduli.
Risman menarik nafas.
Ia harus bertindak, “Kopral Bertus, berhenti!”
Bertus menghentikan
langkahnya. Berbalik perlahan.
Keduanya saling
memandang. Risman merasa hatinya seperti tertikam. Bayangan mengerikan
selalu hadir bila ia berhadapan dengan Bertus. Si Peluru Beku.
Masa Lalu di
Kalimantan Barat.
Gerombolan PGRS/PARAKU
berada dalam kondisi tempurnya yang paling baik. Peletonnya diterjunkan ke
daerah sekitar perbatasan, yang merupakan basis terkuat pemberontak.
Risman dan Bertus waktu itu masih kepala regu. Diterjunkan di wilayah tersebut.
Empat hari patroli
menyusuri hutan dan rawa, telah menyita tenaga dan konsentrasi. Menyebabkan
pasukan tersebut begitu bersemangat sewaktu diperintahkan berhenti di
sebuah kampung.
Regu Bertus yang
menjadi regu pelopor dari peletonnya, langsung beristirahat di sekitar
rumah-rumah panggung, sambil menikmati sambutan sajian dari penduduk.
Namun keramahan
sambutan itu ternyata jebakan. Begitu selesai menyantap makanan. Belasan
anggota pasukan muntah-muntah, dan detik berikutnya adalah pembantaian.
Gerombolan pria dan wanita PGRS muncul seperti setan dari tiap sisi rumah dan
penjuru hutan.
Diberondong dengan
AK-47 tanpa ampun, dan yang paling mengerikan adalah regu Bertus. Seluruh
anak buahnya tewas mengerikan. Dibantai secara kejam. 21 prajurit termasuk
komandan peleton mati dalam sergapan pertama.
Bertus terhindar dari
kematian, karena nasib baik, ketika minuman dihidangkan, ia bertugas
meninjau daerah yang akan dilaluinya, di luar dusun.
Regu Risman datang
membantu dan berhasil melumpuhkan semua gerombolan di kampung tersebut.
Di satu sudut kampung,
empat belas pemberontak menyerah. Mereka mengangkat tangan tinggi-tinggi,
tapi satu senjata menyalak garang, membabat tubuh-tubuh itu dengan buas.
Jerit mengerikan berkumandang, diiringi suara jatuh bagai pohon pisang ditebas.
Beberapa menit
kemudian, di antara bau asap mesiu yang menusuk, semua memandang dengan
mata tak berkedip, ke arah Bertus yang berdiri terengah-engah sambil memegang
senjata yang panas.
Semua terdiam.
Membisu. Dan terjadilah sebuah kesepakatan rahasia tak terucap.
Komandan kompi maupun
anggota pasukan tak ada yang melapor. Juga Risman selaku sahabat
terdekatnya. Semua terjebak dalam situasi serba salah. Mereka tak bisa
mengingkari keadaan Bertus saat itu, yang kehilangan hampir semua teman
dari peletonnya, secara keji dan licik.
Hal ini yang merubah
arti pertempuran bagi Bertus. Di dalam kamus hidupnya, pengertian tugas
sudah berubah menjadi balas dendam pribadi.
Desing peluru tak lagi
membuatnya menunduk. Dalam setiap kontak senjata. El maut
yang seolah lari menjauhi. Ia selalu selamat, dan selalu penuh tindakan
irasional.
Ia menyambut maut
dengan tarian yang kejam. Peluru-peluru panas yang menerjangnya selalu luput.
Peluru-peluru itu dianggap tidak lebih seperti air hujan, karena itulah ada
yang menganggap bahwa maut sendiri sudah ngeri berhadapan dengannya.
Peluru-peluru seperti sudah membeku sebelum menyentuh tubuhnya.
Hal mengerikan mulai
terasa di dalam kesatuan. Tak ada istilah tawanan, atau musuh yang hidup
bagi Bertus. Musuh yang bertemu dengannya, ibarat penyerahan diri. Selalu
berakhir dengan kematian walau tangan mereka sudah terangkat tinggi tanda
menyerah. Komandan bertindak hanya sebatas peringatan, dan penurunan
pangkat sebagai tebusan indislipliner.
Yang paling sulit
dalam hal ini adalah Risman.
Bertus sahabatnya,
tetapi ia selalu gagal menyadarkan. Ia selalu merasa bersalah karena tak
bisa bertindak menghalangi perbuatan Bertus. Melaporkan Bertus, berarti
membawanya ke mahkamah militer dengan ancaman hukuman mati. Mendiamkan,
berarti menghalalkan pelampiasan dendam yang tak masuk akal.
Suatu hari di bulan
April.
Peleton mereka
menyerbu satu pos latihan PGRS. Kontak senjata terjadi selama 4 jam tanpa
henti. Musuh kabur dengan meninggalkan banyak korban.
Di sebuah gubuk yang
terbakar, Risman memergoki Bertus sedang menggendong seorang anak perempuan
berusia sekitar tiga tahun.
Semula Risman menduga
korban yang berada di tempat itu hasil keganasan Bertus. Tetapi setelah
melihat luka mereka, ia merasa lega. Mereka adalah tawanan yang dibunuh
PGRS, dan hanya anak kecil itu yang selamat dari tusukan bambu runcing.
Dalam pandangan
Risman, waktu itu Bertus bersikap aneh. Ia tampak kasihan dan ingin
melindungi anak kecil itu.
Anak kecil itu tak
pernah dilepasnya. Begitu juga ketika mereka pergi dari tempat itu, Bertus
tetap memutuskan untuk membawanya pergi.
“Dengan siapa anak
kecil ini tinggal? Seisi kampung sudah mati. Dia akan mati jika ditinggal.”
Bertus berkata.
Komandan tak
merintanginya. Komandan saat itu merasa percuma jika harus ribut, atau mati
gara-gara berkelahi dengan Bertus.
Dalam perjalanan
pulang, pasukan disergap. Mereka terpaksa menghindar masuk hutan. Saat
dikejar musuh inilah peristiwa itu terjadi.
Anak kecil yang dibawa
Bertus menangis terus, karena ketakutan dan juga shock, membuat
anggota pasukan gelisah.
Bagi telinga PGRS,
suara semak terinjak, atau desis seekor ular bisa terdengar. Apalagi
tangisan seorang anak kecil dilanda demam. Posisi bisa diketahui lawan
dari jarak puluhan meter.
Anak kecil itu terus
menangis, mengiringi gerakan pasukan yang berusaha meloloskan diri.
Bertus sadar akan hal
itu. Sorot mata kecemasan dan suara ketakutan teman-temannya membuat ia
memilih sebuah jalan pintas yang tak mungkin bisa dilakukan oleh seluruh
anggota pasukan, walau logika bisa memaafkannya.
Ia membawa anak
kecil itu ke kegelapan.
Tangis anak kecil itu
semakin lama semakin jauh, jauh… jauh…
Dan berhenti secara
tiba-tiba. Semua termenung dalam kesunyian.
Risman menggigil dalam
kegelapan.
Beberapa saat kemudian
Bertus muncul. Sendiri.
Risman merasa
tengkuknya ditiup angin dingin. Ia merinding membayangkan apa yang
dilakukan Bertus.
Detik itu juga Risman
mengambil keputusan. Ia harus menolong Bertus dari kegilaan,
dengan cara yang pada saat itu diyakininya benar.
Ia harus melaporkan
semua kegilaan Bertus.
Bertus memang tidak
punya pilihan. Tapi Risman menilai Bertus akan semakin mengerikan setelah
kasus anak kecil ini, rasa salahnya akan semakin besar. Dan bila hal ini
dibiarkan, berarti ia membiarkan Bertus jadi pembunuh. Bukan lagi
prajurit.
Ia pun melaporkan
semua perbuatan Bertus ke komandan batalyon. Bertus diseret ke mahkamah
militer, dengan berbagai tuduhan, namun Risman kecewa. Bertus tidak
dikenakan hukuman berat, ia hanya dikenai sangsi penurunan dan penundaan
kenaikan pangkat.
Sejak itu Bertus
menaruh dendam, dan menjadi musuh bagi dirinya. Sekaligus jadi legenda
hidup yang menyeramkan di kesatuannya.
Operasi militer selalu
memahat nama Bertus dari dua sisi. Sebagai pemberani dan pelanggar aturan.
Dari Timor Timur pun Bertus hanya mendapat penundaan kenaikan pangkat.
Sebuah hal yang sudah jadi biasa baginya.
Mendapati kenyataan
demikian, Risman semakin terseret dalam dilema.
Bila sudah berada
dalam situasi seperti sekarang ini, dan menyaksikan sikap Bertus, hatinya
seperti dipilin, karena ia sadar bahwa dirinya yang membuat Bertus seperti
ini. Yang membuat seorang teman baik jadi musuh, serta mengubah seorang
petarung berdarah dingin yang tak kenal kasihan, menjadi seorang prajurit
yang selalu bernafsu untuk menjagal.
Kini, dipandangnya
wajah Bertus yang juga sedang menatapnya. “Bersiaplah dalam waktu tiga jam.
Untuk tugas penting. Gabung dengan regu Sersan Peter Soselisa, tunggu
intruksi selanjutnya.”
Bertus menatap tajam.
“Laksanakan!”
“Ya letnan,” Bertus
mengangguk, suaranya bergetar, nyaris seperti desisan. Kemudian ia
berjalan meninggalkan Risman.
Risman berusaha
menahan guncangan di dadanya. Ia gemas, gusar, tapi juga tak tahu apa
yang harus dilakukannya. Bila sudah berurusan dengannya, ia selalu merasa
kalah. Tak mampu memperlihatkan wibawa sebagai militer. Tak bisa menindak
sikap tanpa hormat, tapi sulit menghukum atau memperingatkannya. Sering ia
berniat merubah sikap mengalahnya, tapi tetap gagal bila sudah berhadapan
seperti ini.
Bertus merupakan
persoalan pribadi baginya. Dia adalah anakbuah, teman, dan sekaligus musuh
utamannya.
Bertus menyusuri
barak. Orang-orang yang berpapasan dengannya selalu menghindar. Ia masuk
kantin dan mengambil tempat di sudut.
Yoyoh, janda penguasa
kantin, menyapa, “Kopi?”
Bertus mengangguk
sambil menatap tajam anak laki-laki berusia empat tahun di pangkuan wanita
itu. Ia memejamkan mata sambil bersandar ke dinding.
****
Di ruangan itu hanya
ada meja kerjanya yang selalu bersih, dan dua kursi yang terbuat dari kayu
murahan. Satu untuk dia sendiri, satunya lagi untuk tamu. Selain itu tak ada
apa-apa lagi.
Dia tampaknya tak
butuh rak atau gambar terpajang. Kalau pun ada yang bisa disebut pemanis
ruangan, itu hanya pesawat telpon yang sudah saatnya diganti, dan asbak
alumunium penampung abu rokok.
Dua jendelanya ditutup
gorden, lampu ruangan yang tidak begitu terang, mungkin hanya 25 watt,
membuat suasana sedikit pengap. Apalagi dengan asap cerutu yang dihisapnya.
Hamid sudah sering
mendengar lelaki ini, namun baru sekarang ia berjumpa dengannya. Ia tak
menduga, seorang penting dari Intelijen Gugus Tugas K menyenangi tempat
seperti ini. Pantas dan tepat bila orang ini dikenal dan diberi julukan
dengan sebutan Lelaki Temaram atau Si Temaram. Benderang tapi
di tempat remang-remang. Jelas tapi juga kabur. Ada tapi tak pernah diketahui
asal-usulnya.
“Ini program khusus
termasuk prioritas dini. Berdasarkan wewenang operasional yang kuperoleh,
dan perhitungan dari kemungkinan yang bisa terjadi. Untuk menyelesaikan
persoalan ini. Keahlian dan pengalamanmu memungkinkan untuk pelaksanaannya.
Itulah alasan kau dipanggil lagi untuk menuntaskannya,” kata si Temaram.
Hamid tersenyum,
sebuah kehangatan menyelinap di dada. Ia menekan rasa tersanjungnya. Sungguh
jarang yang seperti dirinya, seorang yang sudah bebas dari Seksi Pelaksana I
mendapat kepercayaan kembali seperti ini.
“Kau bertugas tanpa
bantuan dari dalam. Semua operasi lapangan diserahkan total. Bertanggung
jawab langsung padaku, juga tidak ada komunikasi selain padaku sendiri.
Paham?” tambahnya sambil mengepulkan asap cerutunya yang wangi.
“Tugasnya?”
“Sebuah misi militer
telah digerakkan untuk misi tertentu di utara. Dalam waktu hampir bersamaan
di Jakarta muncul gerakan politik yang sangat serius, dan mengarah pada
aktivitas yang bisa mengguncang stabilitas. Dalam hal ini, divisi
berkepentingan untuk mencegah adanya kekuatan aktif yang bisa mendukung
aksi politik tersebut. Salah satu sumber kekuatan aktif yang bisa mendukung
gerakan politik itu adalah seorang perwira dari para perencana dan pelaksana
operasi ke utara.”
“Apa ini ada
hubungannya dengan gerakan jenderal-jendral purnawirawan kemarin itu?”
Temaram tak menjawab.
“Dia atau
teman-temannya yang disingkirkan?”
Temaram menatap tajam.
“Kau terlalu verbal. Aku tak suka itu.”
“Supaya jelas dan
tepat tujuan,” balas Hamid perlahan sambil membetulkan letak kacamatanya.
Sesaat keduanya
terdiam. Seakan saling mengintai reaksi masing-masing.
“Bagaimana?” tanya si
Temaram.
“Fokusnya?”
“Seorang agen ganda.”
“Agen ganda?”
Hamid berpikir sejenak sambil melihat pita cerutu Si Temaram di asbak di
depannya. ”The Sailor Express” merek cerutu itu, pantas
harumnya khas.
“Hanya dia?”
Si Temaram mengangguk.
Ia menjentik ujung cerutu, menabur abunya dalam asbak, lalu mulai menerangkan
tugas yang mesti dilaksanakan Hamid, cukup lama.
Akhirnya…
“Bagaimana jika
operasi itu tetap sukses, bukankah usaha menghabisi dia jadi sia-sia?” tanya
Hamid.
“Aku tidak senang pada
orang yang menduga-duga terlalu banyak.”
Hamid tersenyum kecut.
“Salah satu alasan untuk menyingkirkan mereka dari posisi saat ini,
tentunya dengan kegagalan operasi tersebut. Bukankah begitu?”
“Itu urusanku.
Kau mulai banyak bicara,” Temaram sedikit ketus.
Hamid menyeringai,
berusaha menahan ledakan emosinya. “Orang ini sungguh berbahaya, tetapi itu
sangat menarik,” pikirnya.
“Semua mempunyai
alasan kuat dan penting, karena itu tak ada satu peluru pun di dalam tugas
ini.”
“Main bersih”,
pikir Hamid.
“Dan waktumu hanya
tujuh hari dari sekarang?”
“Tujuh?” Hamid membuka
lagi berkas-berkas yang diterimanya. Sasarannya sangat ringan, tapi
situasi targetnya tidak bisa disebut mudah. Ia mulai merasakan dirinya
sedang bermain-main di lidah api.
“Boleh bertanya lebih
jauh?”
“Untuk apa?’
“Supaya tahu untuk apa
semua ini?”
“Bila semua
kubeberkan. Berarti aku salah memilih orang dan berbuat tolol, dengan
membiarkan kau duduk berhadapan denganku,” gumam Si Temaram.
Hamid menyeringai,
mengambil tisu pembersih dari saku dan membersihkan lensa kacamatanya. Ia
tidak bodoh. Operasi militer ini pasti dikemudikan tokoh-tokoh penting.
Bila tokoh penting sudah main geser. Apalagi kalau bukan permainan politik
papan atas? Dan ia muak berpikir panjang lagi. “Baiklah. Aku akan pelajari.”
Hamid mengakhiri
obrolan sambil meremas-remas kertas tissu bekas, dan membuka berkas-berkas di
depannya.
“Sekali lagi
kutegaskan. Kerjakan dengan rapi!” ucap Si Temaram.
Hamid
mengangguk. Demit! kutuknya dalam hati. Akan kubuktikan siapa
yang lebih bahaya. Aku atau dia?
Si Temaram membuka
laci, dan memencet tombol kecil. “Pergilah….”
Pintu di ruang itu
terbuka secara otomatis. Hamid tersenyum masam.
Lelaki di ruang
temaram ini sungguh luar biasa.
Begitu pula dengan
cerutu “The Sailor Express” yang harum.
