Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

4. ANAK PANAH

 


Udara malam itu terasa gerah

walau waktu sudah pukul 02.00

Di sebuah persimpangan dekat Pasar Pamaeh, Lebak Pati, puluhan kilometer sebelah selatan kota Bandung, suasana begitu lengang. Kendaraan sudah jarang yang liwat.

 Di sudut, tepat di bawah tiang

 

listrik, beberapa orang berkumpul memenuhi bangku pedagang air kopi.

Empat orang di antaranya benar-benar serius. Lagu ''Pandangan Pertama” A. Rafiq yang distel keras tak mengganggu kesibukan mereka.

Dua kartu domino di tangan masing-masing diintip berkali-kali  demi hasrat memiliki setumpuk uang di tengah sehelai surat kabar yangjadi ”meja” permainan mereka.

"Limaribu lagi,” kata yang beŔ tubuh ceking dan berwajah kurus deritaș tetapi punya sorot mata licik.

 

"Akujuga,” ujar yang berkopiah.

"Dan kau?” tanya yang bertubuh tinggi besar pada seorang yang berseragam militer. Si tentara yang ditanya tampak berpikir keras, menaksir kemungkinan.

 

Baretnya ditarik ke bclakang, Pcrawakannya sedang, tetapi cukup tegap, Garis wajahnya jauh dari kategori alim. Bila tak berbaju seragam loreng, serta tak ada pisau komando di pinggang, orang akan mcngira tentara itu sebagai seorang sopir truk yang ugal-ugalan,

"Bagaimana'?" desak si tinggi besar.

Si tentara berpikir sejenak, la menggaruk kepalanya, Kartunya tidak begitu jelek, tetapi uang di sakunya sudah tipis. Bila kalah, berarti sisa gajinya yang sudah dipotong kas-bon koperasi bisa ludes.

lama banget, Masih jauh dari peluru, sudah ciut," komcntar si ceking. la beruntung malam ini. Uang di depannya sudah bcrtumpuk.

Mendcngar komcntar lawan-lawannya, Si tentara jadi nekad. Kakinya dilipat bcrsila di atas bangku, Sambil membanting kartu ia berkata keras, "Emangnya takut!"

"Nah gitu dong."

Yang berkumpul di situ jadi tertawa.

Si ceking tambah bersemangat. Ketika gilirannya tiba, ia memancing taruhan dalam jumlah lebih besar. "Nih aku besarin lima ribu Iagi, hehehe.„ hehe-.!"

"Mampus aku," kutuk si tentara dalam hati. Namun ia merasa gengsi. la mendengus, seolah tak peduli.

Tetapi si kopiah berkomentar, "Mengapa tidak sekalian saja sepuluh ribu...?"

"Sepuluh ribu? Aku sih mau saja, tetapi kasihan orang lain dong. Bisa jadi siang terima gaji, besoknya sudah pailit Iagi... kata si ceking.

Suara ketawa kian riuh. Ibu penjual kopi menghardik, "Diam, jangan ribut! Main sejak Siaran Berita, minum baru segelas, ributnya seperti sudah jajan seratus gelas!"

'Tenang Bu. Kuborong semuajika sudah selesai. Semuanya akan kutraktic Dan khusus untuk dia kuberi dobel," kata si ceking pada si tentara sambil menggaruk pergelangan tangannya yang tertutup jaket.

Suara ketawa saling bersahut kembali.

Si tentara jadi gusar, "Emangnya kamu saja yang punya duit. Sebegitu saja sudah bangga..,"

”Bagałmana kalau duapuluhpuîuh ribu?” potong si kopiah

”Ya..., ya.. duapuluh...duapuluh...,” kata penonton

 

Mainan jadi kian menarik, Rasa kantuk pun raib.

”Sialan!” pikir si tentara. Takala berpikir keras, sekilas ia melihat sesuatu yang tak terduga. Dan tiba-tiba saja hatinyajadi membesar. Ia membuka baretnya. Dua lembar sepuluh ditaruhnya, ”Ayo...!”

Sambil tersenyum si kopiah dan si ceking mengeluarkan

masing-masing.

Begitu juga dengan si tinggi besar.

Kartu mulai dibagi lagi. Keadaan berangsur reda, berganti keseriusan.

Denganperlahan si tentara mengurut kartunya yang terakhir. Wajahnya yang berlagak muram, membuat beberapa orang tersenyum perlahan.

Si ceking mengusap-usap wajahnya sendiri, ”Ayo buka...

”Kamu duluan!”

Si ceking tersenyum, dia membuka dua kartu pertamanya, ”Kyu...,” bisiknya sambil menyeringai.

"Kyu juga ” si kopiah tak mau kalah. Nilai kartunya memang sama dengan temannya.

"Bangsat!” kutuk si tinggi besar. Kartunya dibanting.

 

Si tentara terdiam, ia membuka kartunya yang berangka deJapan dan kosong,

Melihat kartu si tentara, si ceking tertawa, ”Punten, Jang (Maaf, Nak).., kyu lagi. Kyu-kyu !”

Kartu terakhirnya berjumlah sembilan. Si ceking tertawa terbahak.

Si kopiah menggerutu, kartu ketiga dan keempat hanya berangka lima.

”Haahaaa maaf... maaf... hahaha,” kata si ceking sambil mel hat kartu si tentara yang berjumlah delapan. Ia menggerakkan tangan hendak meraup uang, tetapi...

Buk! Ia terjungkal ke belakang.

”hei... !” teriak ibu pemilik warung.

"Gila lu !” kutuk si tinggi besar dan langsung menghantam. Namun ia kalah gesit, sebuah tendangan menghantam selangkangannya. Bruaak! Dia terpelanting ke kaleng krupuk.

"Goblok siah (kau)!" si kopiah ikut berang. la mencabut bclati, tapi si tentara lebih cekatan.Tangan itu dipelintir, pisaunya dircbut, tubuhnya pun langsung dibanting ke tengah dagangan.Gcdubrak!

Tempat itu jadi porak poranda.

Si kopiah mclengking marah, ia bangkit lagi sambil menyambar pikulan, namun sebuah tendangan membuatnya sempoyongan hingga ke dinding kios. la meraung semakin marah dan siap mencrjang lagi. Tapi...

Teb! Sebuah pisau komando menancap beberapa sentimeter dari kupingkanannya.

Tertanam kuat di lapisan kayu yang keras.

Suasana mendadak diam. Tak seorang pun bergerak. Wajah si kopiah pucat pasi, lebih pias dibanding wajah dracula.

Si tentara melangkah perlahan mendekati si ceking. Dengan kasar ia merengut tangan lawannya.SGulungan jaket di bagian lengan dibuka paksa.

Beberapa buah kartu terjatuh.

Si ceking semakin pucat, kecurangannya terbongkar.

Semua yang berada di situ membisu dengan tegang.

"Ampun ..ampun pak, maaf Pak.."

"Ampun ampun lu.. Kupotong hidungmu?"

"Jangan, jangan, ambil saja       si ceking makin panik.

"Ambil apa? Hidungmu?""

"Bukan, bukan, maksud saya ambil uangnya. "

"Itu mah sudah pasti, tolol. Tapi aku ingin tambahanya." "Apa tambahnya Pak?"

"Ini!" terdengar suara gedebak gedebuk, Si ceking merasa kepalanya lepas dari gravitasi. Tapi keadaannya cepat berubah. ketika sebuah tinju masuk ke perutnya, la tidak lagi sekadar merasa lepas dari gravitasi, tapi sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi alias pingsan !

Si tentara belum puas, kini ia mendekati si kopiah dan si tinggi besar yang sudah menggigil ketakutan.

"Hey berhenti! Aduh si Jajang ini bagaimana sih. Kucekik kau!" teriak ibu pedagang kopi.

"Dia main curang, Bu. "

          Tentara ałnburadul! Mau kusiram       air panas,

"Jangan, jangan bu," Aneh, si tentara kini nampak ketakutan " Kalau begitu cepat pergi dari sini. Pergi !.” "Ya,.ya sabar dong bu.

"pergiii!"

si ibu kok jadi marah pada saya," Si tentara jadi terburu-buru.

Panik ia meraih uang serta mengambil pisaunya. punłang ia melepaskan kepenasarannya yang terakhir selangkangan si kopiah diremasnya kuat-kuat, sampai berteriak seperti anjing  keinjak roda stum, Auuuuu.,..!

"Sekali lagi main curang, kucopot habis punyamu si tentara sambil melangkah pergi dan menggerutu tak

"dasar tentara gelo(sinting),” umpat si ibu pedagang kopi sambil bertolak pinggang,

Penonton menahan nafas.

Scorang di antara mereka berbisik "Kok dia takutsama si ibu "

"Pasti takut. Kalau dia melawan, pada siapa lagi dia bisa ngutang.”

Itulah dia, Kopral Dua Jajang Nurjaman!

 

*****

Setelah menjalani tes kesehatan, Harun disuruh menulis semua yang diketahuinya tentang pulau Kabilat menjelaskan  mengenai pengalarnannya

tiga jam berurusan dengn kapten Pusaka, lebih meletihkan dibandłng dua hari berurusan dengan pekerjaannya.

Pertanyaannya berbelit, diulang ulang membuatnya kesal. “Hanya ituyang kau alami di Kabilat?”

"Ya rnemang begitu, kan dari waktu itu juga jelas. saya lari dari Kabilat karena mau lagi terlibat dengan Fabian Ferte.”

" Fabian atau adlknya”

"Dua duanya,” jawab Harun kesal.

“Berapa luas perkebunan kelapa sawit di daerah itu.”

“luas juga hamper tigaperempat perjalanan.”

“Bagaimana mereka memperoleh bahan bakar?”

"Penduduk memperolehnya sebulan sekali, dari kapal antar pulau dari Filipina, Kapal itu biasanya datang terlebih dulu ke pulau Cíbas, baru ke Kabilat,"

"Pulau Cibus? Pulau penghasil minyak milik Filipina itu?"

Harun mengiyakan. "Pulau Cibas memang didatangi banyak Pulau paling dekat ke Kubilat." mana pcnduduk di sana? Di sekitar pelabuhan khusus-

"Pelabuhun itu scbcnarnya sudah tidak berfungsi Iagi. Karena kapal yang datang amat jarang, Mungkin waktu Jepang membuatnya, lebih mementingknn scgi militer, sehingga letaknya terpencil di timur. Penduduk justru banyak bermukim di utara, dekat lapanean 'ctbong Vedija, rclabuhan nyaris kosong. Bila kapal dalung, baru tnercka bcrdatangan, Tapi bcrapa banyak sih penduduk

Jumlahnya sedikit,"

"Kau mengerti bahasanya?' Harun menggeleng, ''Mereka campuran. Menurut orang, dulunya penduduk aslinya adalah turunan bangsa asli Filipina. Sewaktu PD II, jepong banyak membawa Romusha, terjadi campuran

“Di Kabilat banyak mobil?”

“Selain Fabian hanya perusahaan kelapa

sawit yang memiliki kendaraan.”

“Apakah ada cara lain untuk mencapai

lapangan udara dari dermaga, selain jalan

tak beraspal yang kau jelaskan tadi?"

"Saya belum pernah melakukannya

Tetapi melihat kondisinya, kita bisa potong

kompa dari jembatan Bailey yang ada hutan

luar pelabuhun. Saya peenah melihat

beberapa penduduk berjalan di puncak

bukit, yang memisahkan pelabuhan dan

lapangan terbang itu."

"Fabian sering menggunakan lapangan terbang itu?"

"Di bekas pangkalan utama, empat kali saya melihat pengiriman senjata melalui parasut. Militer Filipina sering rnenjual dan mengirimnya melalui udara. Tapi tempat memang tidak bisa lagi digunakan. Sudah hancur, mirip padang  rumput kecuali landasan sebelah timur yang relatif masih bisa digunakan, menurut penduduk, pesawat missionaris dari Saipan, Guam, Palang Merah Internasional, terkadang mendarat di landasan "Untuk apa? Mengirim obat-obatan?"

Harun mengangkat bahu, " Tak begitu jelas. Entah darurat, entah menunggu badai reda."

"Melihat letaknya yang cukup jauh, tak mungkin pesawat kecil." komentar Pusaka.

"Kemungkinan jenis Dakota atau Electra."

Pusaka mengangguk sambil mencatat, "Seandainya kau jadi aku, di mana tempat yang paling tepat untuk menyerang target kita?" Harun menatap Pusaka, "Bukankah tugas saya hanya antar?"

Pusaka balas tncmandang "Aku tak ingin debat kusir dengan mu yang penting, kau ingin selamat atau tidak dalam misi?”

 

Harun tertawa ringan, tangannya langsung mengarah pada peta kasar di atas meja. "Terus terang saja, saya sendiri sulit memastikan. Setiap ruang di situ memiliki kemungkinan untuk dijadikan ruang penyimpanan, begitu juga dermaga. Waktu saya di sana tak ada tempat permanen untuk menyimpan sesuatu barang berharga secara militer. Kalaupun pendapat saya benar, lokasi penyimpanan harusnya tidak jauh dari dermaga. Dan juga harus siap untuk dipindahkan sewaktu-waktu."

"Dipindah?"

"Orde Suci mempunyai pusat di Indonesia Timur, tak masuk akal rasanya memiliki basis tetap di tempat jauh seperti itu. Jika MV Kwang Hung mengirim senjata, mereka harus punyajaringan mobilitas tinggi. Seperti tongkang untuk bongkar muat, danjuga kendaraan dalam jumlah cukup. Apa mereka punya?"

Pusaka mengangguk perlahan. la memandang Harun. Bajingan ini otaknya encer juga.

"Tapi dari mana mereka bisa memiliki kendaraan yang memadai untuk pertimbangan militer? Truk butut di sana, entah masih ada atau tidak," tambah Harun.

"Kecuali...," Pusaka menyela spontan.

"Kecuali apa?" Harun balik bertanya.

"Setelah Fabian diusir, di pulau itu ada kegiatan Iain?" kata Pusaka perlahan.

Harun mengangkat bahu.

Pusaka terrnenung sejenak. Kemudian mengalihkan pembicaraan pada masalah Iain. "Apa peganganmu sewaktu di Volunter Trainee

"M-16, tetapi lebih senang M- 14. Lebih berat, beratnya lebih mantap."

"Apa lagi Yang pernah kau gunakan?"

''Waktu di An Loc saya mulai pakai M-79. " "M-79?"

"Bajingan ini cukup berbahaya," pikir Pusaka. M-79 adalah senjata penghancur yang dapat melontarkan geranat 40 mm dari radius 300 meter. Dan sialnya, saat itu ABRI belum memilikinya.

"Juga M-50.”        Taınbalh Harun, "Biar dia lahu siapa aku pikimya.

Killer Pigs? "

Harun mengangguk, Senapan meşin itü memang     

Pembunuh habis

"Paham peledak?”

"Sedikit,”

Kuno, pikir Harun. Mengapa bertanya tentang peledak, bukannya jebakan. Di sana peledak dianggap mainan "akademi„ tidak merangsang krcativitas.

"Bagaimana HTFF (How To Findş Finc Fightcr) yang kau dapat

"Cukup jadi bekal supaya tetap hidup,” ujar Harun deneti ringan. "Tidak seistimewa sebutannya. Saya hanya tenaga sukarela, Kapten.” sambung Harun sambil tertawa.

"Siapa yang menganggapmu professional? Aku pun tau kau hanya tenaga sewaan.”

Harun menğgarıık pipi. "Terserah kau, yang penting aku masih bisa hidup,” gerutunya dalam hati.

"Siapa pelatihmu '?"

"Special Mission Service.SMS. Kesatuan khusus Vıct-Scl.Tk pi pimpinan instrukturnya dari anggota Unit Kapal Pendukur; SEAL, dari My To).”

"Ceritakan HW mu

HW (Hell Week—-Minggu Neraka) adalah masa tahap pendidikan terberat bagi calon pasukan khusus.

"Kita di sana tidak mengenal HW. Kalau pun ada, mungkin yang disebut pendidikan terakhirnya ya dikirim langsung ke gawat. Bisa kembali dan tetap hidup, berarti untung. Jadi dapat gaji dan tunjangan.”

"Biasanya di kirim ke mana?”

Harun mengusap-ngusap keningnya sambil menunduk natap mejab "Daerah yang sering (dipatroli, dekat Moc Hoa Cai Cai sekitar perbatasan,”

"Berapa kali melakukam misi?”

Harun menatap langit-langit. Bagaimana menjawabnya? hidupnya memang di situ dari hari ke hari. 'Tergantung perintah”

"Katamu, kau mengakhiri kontrak setelah terluka dan dirawat di RS. Mengapa tidak diperpanjang?”

"Saya terluka setelah tugas di dataran tinggi Nui Kto, hampir bersamaan dengan masa akhir kontrak. Setelah itU saya tak ingin memperpanjang lagi, percuma. Saigon sudah dikepung.”

Pusaka memandang siniş, "Apa pangkat di kesatuanmu?'

"Sersan Kepala.”

"Bisa dibuktikan?"

"Saya tidak tahu bagaimana caranya. Semua identitas mus-

 nah, tetapi saya masih ingat nomor di kesatuan. N.V19730056-

 901 .IV, dan ini...” kata Harun sambil memperlihatkan kalung kecil dengan mata berbentuk segi tiga, Berhias gambar delapan arah mata angin, dan tulisan kecil "Numba Ten-bo doğ' "Apa artinya?"

Harun nyengir. Kesatuan itu memang hanya sebuah wadah.

penampungan orang-orang kejepit dan menjepitkan dirinya. Mereka yang di kesatuan sudah dianggap dan menganggap dirinya "mati", dan anehnya semua pun sadar bahwa itu memang pilihan "bodoh." Slogan itu dangkal dan kasar, namun semua anggota senang dan merasa cocok. Mungkin untuk menyadarkan semua orang, termasuk juga para anggotanya, bahwa mereka memang goblok! "Numba Ten-telah mati- Bo doi-bodoh.'i

Pusaka hanya tersenyum siniş. la maklum dan merasa tak aneh. Sewaktu ia ikut kursus Komando Lanjutan, ia pernah mempelajari taktik perang terowongan dan sempat membaca semua yang berkaitan dengan hal itu. Sebuah pasukan terlatih, dan khusus untuk pertarungan hidup/mati di terowongan atau guaş umumnya sudah menganggap nyawanya sendiri sedemikian "murah." Tidak lebih berharga dibanding pantat seekor tikus-Non Gramm Anus Rodentum (Tidak sepadan dengan nilai pantat seekor tikus).

Pusaka mengamati kalung itu. Setelah puas kemudian dikembalikan lagi.

Dan pertanyaan terus bermunculan. Harun merasa kepalanya penat. Di dalam hati berkali-kali ia mengutuk perwira İntel tersebut. "Pakai apa waktu maşuk Filipina?”

"Banyak kapal niaga dicarter dari Subic ke Cham Ranh, dan Saigon untuk mengangkut perbekalan perang. Jumlah kelasi yang biasa membawa penumpang gelap, sepuluh kali lebih banyak dari jumlah kapalnya. Sewaktu Saigon jatuh, harganya berlipat. Tapi untuk sebagian justru gratis, asal punya peluru. Tak boleh naik, peluru bicara.”

 

“Bagaimana sampai bisa bergabung dengan Ferdinand? Kau tahu dia adiknya Fabian, pentolan penyelundup dan agen sewaan Fi­lipina?”

 

Harun menggeleng. “Waktu itu di Manila. Dia dikejar tiga orang ber­­­sen­jata. Saya mengira dia sedang dikejar unit komunis, makanya sa­ya menolongnya. Dari saat itu saya dekat dengannya. Mungkin merasa berutang budi, dia meng­ajak berbisnis.”

 

“Bisnis? Atau jadi tukang pukulnya?’

 

Harun melengos. “Terserah mau disebut apa. Pokoknya saya selalu harus disampingnya.”

 

“Kau tahu bisnisnya.”

 

“Sesudah lima bulan, baru saya tahu bisnisnya. Dan di tahun ke dua saya bekerja, baru saya tahu bahwa dia adiknya Fa­bian Ferte. Itu terjadi ketika Ferdinand ikut berunding dengan orang-orang Jerman di Cebu.”

 

“Apa dia komunis?”

 

“Ferdinand anti komunis, malah jadi target Sparow Unit (aksi gerilya kota-PLA).”

 

“Lalu apa kerjamu di sana?”

 

Harun mengorek kupingnya yang tak gatal. Kesal juga rasa­nya. “Harus berapa kali lagi menjelaskan hal ini?”

 

Pusaka tersenyum lebar, “Tergantung berapa kali kuinginkan.”

 

Harun tertawa masam. Ia terpaksa mengulang lagi apa yang telah dijelaskannya berulang kali.

 

Dua jam kemudian. “Oke, sekarang istirahatlah. Setelah makan siang ki­ta lanjutkan.”

 

Harun menatap serius, “Tak ada lagi yang saya sembunyi­kan.”

 

Pusaka menjawab sambil merapikan map. “Aku yang menentukan. Hal itu pula yang akan jadi bahan pertimbangan layak tidaknya kau dikirim ke Lebakpati di Jajar Batu.”

 

Wajah Harun berkerut, permainan tambah menggila baginya. “Batu Ja­jar maksud kapten?”

 

“Bukan Batu Jajar, tapi Jajar Batu, sebuah tempat yang lebih in­­dah untuk te­tap bisa hidup. The Glorious way to live!”” sahut Pusaka sambil tersenyum.

 

Gila. Hidup Indonesia! teriak Harun dalam hati.

 

****

 

 

 

Matahari belum tinggi di daerah pebukitan dekat Lembang, Ban­dung. Na­mun hawa pegunungan sudah memanas.

 

Hamid Basuki duduk di bawah pohon, sambil melepaskan le­lah se­telah lari pagi. Pemandangan di kaki bukit membuatnya ter­tarik.

 

Mereka itu jelas bukan orang-orang bodoh. Mereka adalah ma­nusia-manusia pintar. Bila bodoh tak mungkin hidupnya sukses dan punya kedu­duk­an penting, tetapi perbuatan mereka benar-benar seperti keledai dungu.

 

Harusnya mereka yang mendirikan bangunan dan memberi per­­izin­annya itu dihukum seumur hidup, paling tidak dihukum subversivkarena mem­bahayakan dan membuat risiko untuk na­sib ba­nyak ma­nusia.

 

Mereka pasti sudah tahu tentang masalah lingkungan. Mereka sarjana dan birokrat, terpelajar, senang seni, baca koran, mata dan te­linga sehat, namun sepak terjangnya persis manusia jadi-ja­dian. Me­reka tahu ke­pu­tusan pemerintah tentang pembangunan di kawasan ini, dan jelas sekali merugikan banyak manusia. Dan geb­legnya lagi, mereka itu sebenarnya sadar-mengerjakan per­buatan yang melanggar aturan.

 

“Siapa lagi yang membangun pemukiman itu?” tanyanya pada temannya.

 

“Yang mana? Yang di utara, belakang atau depan?” jawab Pri­anto, bekas koleganya sewaktu masih dinas.

 

“Depan!”

 

“Punya Ratno Tamara.”

 

“Ratno yang punya pulau Sembilu?”

 

“Ya, juga yang punya Surya Future Education Centre di Ke­ba­yoran.”

 

“Demit! Dasar manusia jadi-jadian.”

 

“Percuma mengutuk. Tidak akan menyelesaikan masalah, ma­lah bi­sa frustasi sendiri.”

 

“Harusnya dia itu ditangkap. Mereka itu tahu tentang kawasan ini.“

 

Prianto tertawa ringan, “Biar kota tenggelam akibat banjir, me­re­ka tak­kan peduli, mereka tetap akan mengupas gunung. Mengapa kau masih su­ka pusing, kalau ada orang yang bisa lelap dalam kepura-pu­raannya?”

 

Hamid mendengus. Kacamatanya dibuka, dengan kertas tisu ia mem­­bersihkan lensanya. Terkadang ia merasa menjadi orang paling bo­doh se-Indonesia bila menemui kenyataan seperti ini.

 

Prianto menarik nafas panjang. “Orang-orang seperti itu makin banyak. Kita saat ini memang bangsa yang senang menyakiti dirinya sendiri. Hampir semua peraturan lini kehidupan diabaikan. Po­la pikir dan tindakan hanya dari sudut ego masing-masing. Me­reka tahu, pa­ham, dan mengerti, tapi bila sudah urusan duit, me­reka jungkir ba­likkan semua itu. Mereka puas dapat duit ibarat or­gasme dengan ca­ra menyiksa orang lain atau dirinya sendiri. Di semua bidang, saat ini masyarakat bangsa kita, adalah masyara­kat “sado-machist”, me­nyakiti diri dan negaranya sendiri!”

 

Hamid mendengus ringan. Tak ingin membantah. Di kejauhan tampak orang-orang itu tertawa lebar. Mereka tak mungkin ta­hu apa yang dimakikan Prianto. Tapi, walau temannya berteriak di depan mu­ka mereka, percuma juga. Mereka mungkin baru akan sadar bila istri atau anaknya kebawa banjir atau tertanam long­sor. Tapi kapan?

 

“Kau ingin melihat orang seperti itu mati?” ia bergumam pelan.

 

Prianto tertegun, “Apa?”

 

“Dia merupakan sasaran empuk dari sini?”

 

Prianto tersenyum kecut. “Kau masih seperti dulu. Kebiasaan itu rupanya sulit hilang.”

 

Hamid tertawa ringan. Tangannya bergerak, seolah membidik de­­ngan pistol, ke arah pria gemuk di depan bangunan yang sedang berdiri depan mobil Mercedesnya. “Tigapuluh ke kiri, limabelas ke bawah. Nah…tepat. Dia telah kukunci. Tinggal kutekan pe­­latuk, dan..tak!” mulutnya berbunyi menirukan suara tembakan.

 

“Habislah dia…,” sambungnya setengah berdesis.

 

Namun gumam meremehkannya menyusul. “Hm, percuma sa­ja me­nyikat orang seperti itu. Dia sama sekali tak berharga. Bagiku, dia ke­coa yang hanya ting­gal diinjak. Tidak ada tantang­annya sama sekali. Dan mungkin aku tak lebih baik darinya.”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Aku rasa sama juga dengan dia. Melanggar aturan. Bedanya, kalau dia, banyak aturan yang dilanggarnya untuk duit. Aku tidak, dan hanya sedikit.”

 

Prianto memandang tak berkedip.

 

“Aku sudah menentukan. Aku ingin aktif lagi.”

 

“Kau bergurau?” sebuah dugaan mengerikan muncul di benak Prianto

 

“Serius. Aku serius.”

 

Prianto menatap temannya. Hamid pintar menyembunyikan apa yang se­dang dipikirkannya. Namun setidaknya ia hafal satu hal. Bila Hamid sudah menyinggung masalah yang berhubungan de­ngan sebuah kematian, itu pertan­da munculnya masalah yang ti­dak bisa dianggap remeh. “Kau ja­di pergi?”

 

Hamid berdiri. Lengannya digerak-gerakan sekedar melancarkan aliran darah, “Kau ingin tahu alasannya?”

 

“Tidak,” balas prianto

 

Hamid tersenyum. Ia duduk kembali. Kacamatanya dibuka dan dibersihkannya lagi.

 

Prianto hapal sikap itu. “Apa ada hubungannya dengan yang me­­nelpon­mu tadi subuh?”

 

“Apa itu penting bagimu?’

 

“Terserah…”

 

Senyum Hamid kian melebar, “Kau pasti tidak percaya bila kuberi tahu?”

 

“Siapa dia?’

 

“Si Temaram.”

 

“Temaram? Bukankah dia sudah berhenti sejak kakinya patah?” Prianto berdebar, tetapi ia cepat menekan perasaannya.

 

“Memangnya kenapa dia itu?”

 

“Dia tertembak. Menurut berita yang pernah kudengar. Dia terpaksa memakai kaki palsu, dan dia sendiri yang minta mengundurkan diri. Kalau sekarang masih aktif, berarti berita pengunduran diri itu tak benar. Untuk apa kau ditarik lagi?”

 

Hamid menggeleng. “Tidak secara resmi. Aku hanya diminta bantuan untuk menyelesaikan masalah kecil.”

 

“Apa tugasmu?”

 

“Kurang lebih sama…”

 

“Statusmu?”

 

“Bebas.”

 

“Kau gila, melakukan pekerjaan tanpa wewenang? Maksudku, kau sudah di luar, tetapi…”

 

“Apa bedanya aku dengan si pengembang atau pejabat itu. Aku pun bisa terbiasa berpurapura tidak tahu,” potong Hamid sam­bil menunjuk si pe­milik vila.

 

Prianto terdiam. Hamid ternyata tak bisa lepas dari pekerjaan yang te­­lah di­gelutinya bertahun-tahun.

 

“Apa targetnya?”

 

Hamid mengangkat bahu.

 

Prianto terdiam. Bagi Hamid, tugas sudah berubah jadi tuntutan.

 

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Hamid sambil menepuk bahu temannya.

 

“Kau sama brengseknya dengan mereka. Senang menyakiti di­ri sen­diri.”

 

Hamid menyeringai. “Ya, tetapi setidaknya yang kuhabiskan adalah cecunguk cecunguk perongrong negara, bukan uangnya.”

 

Prianto menggeram. Diam-diam hatinya lega. Tugasnya dulu se­­waktu ma­­sih di intelijen, tidak membuat dirinya seperti Hamid Basuki alias HB Pemimpin regu 1 dari Unit Pelaksana.

 

Sewaktu Hamid akan pergi dan sudah siap di jip Toyota war­na putihnya, Prianto tak bisa menahan rasa penasarannya. “Seingatku, Temaram sudah dipindah ke Gugus A (luar negeri). Mengapa dia yang menghubungimu, bukannya orang dari B?”

 

“Di biro banyak perubahan sejak kau pensiun. Bisa saja dia pindah lagi. Tapi apa pun yang terjadi, aku tak peduli. Aku sudah la­ma tidak pu­nya kesibukan. Aku pergi dulu. Dan kau, urus saja pemilik dan pem­beri izin mem­­bangun pemukiman itu. Sikat dulu telinga atau ma­tanya. Biar buta dan tuli beneran,” jawabnya sambil melenggang pergi

 

Prianto menghela nafas. Ia bukan Hamid Basuki alias HB.

 

 

 

****

 

 

 

Men­jelang tengah hari di markas pusat Pasukan Istimewa “Braja­mus­ti” yang juga dikenal dengan sandi “Pasukan nomor 011.” Se­buah Batalyon is­timewa. Pasukan komando pemukul terpadu dan me­rupakan sa­lah satu anak pa­nah para Jenderal TNI AD da­lam menjalankan strategi pe­rang­nya.

 

Apel pagi baru saja usai, tetapi seorang prajurit masih berada di te­ngah la­pang, ditinggal rekan-rekannya yang sudah pada bu­bar. Ia tegak bediri dalam sikap hormat bendera.

 

Beberapa meter di hadapannya, Sangsaka berkibar di puncak tiang, mem­­buat ia harus selalu mendongak.

 

Wajah prajurit itu terlihat serius, seolah menghayati yang se­dang dikerjakannya. Namun bila kita dekati, akan tampak bahwa ia men­curi-curi pan­dang kian-kemari melalui sudut matanya. Terkadang mulutnya yang ter­katup itu ber­gerak, seperti menanti se­suatu dengan gelisah.

 

Itulah Kopral dua Jajang Nurjaman!

 

Prajurit bandel, konyol, kurang ajar. Tak pernah mengalami sa­tu bu­lan pe­­nuh tanpa hukuman. Mulai dari hukuman yang pa­ling ringan sam­pai pa­­ling berat sudah dialaminya.

 

Tadi pagi, pedagang kopi mengadu kepada atasannya: tempat dagangannya rusak. Walau bukan sepenuhnya kesalahan Jajang, “biang kerok” ini tetap harus dihukum. Pomeo “Jajang hadir, Ja­jang ru­suh, Jajang dihukum” entah kapan akan berakhir­.

 

Tetapi ada satu hal positif darinya yang harus diakui. Ia tak per­­nah la­ri dari tang­gung jawab. Selalu konsekuen. Ini yang mem­buatnya selalu dihin­dari, te­tapi juga disenangi oleh rekan-rekan­nya.

 

Termasuk oleh Letnan Kepala dalam kesatuan ini, Letnan Risman Zihari.

 

 

 

Risman Zihari. Prajurit tempur berpengalaman. Seorang yang sederhana sebagaimana penampilannya. Orang sering ter­kecoh de­ngan penampil­annya yang ramah, dan rendah hati. Wajahnya da­lam usia hampir empat pu­luh lima tahun selalu tenang, dan le­bih mirip so­sok se­orang ajengan. Sikapnya yang jarang bicara terkadang memancing ang­gap­an ada kemisteriusan di balik se­nyumnya yang cerah.

 

Bagi anak buahnya, ia seorang yang disegani, seorang pemberi dan juga penuntut. Dia rela melakukan apa saja jika dimintai tolong dalam kehidupan, namun dia akan tegas untuk me­minta anak­buahnya mati sebagai prajurit.

 

Julukan “Kyai Guntur” yang diberikan anggota pasukannya, le­bih menyiratkan penghormatan daripada identitas tanah kela­hirannya, Citiis di kaki gunung Guntur, Garut, Jawa Ba­rat.

 

Dia sedang membereskan map di atas meja ketika pintu ruangannya diketuk.

 

“Masuk!”

 

Seorang sersan masuk. Berwajah bulat, perawakannya agak gemuk. Kulitnya putih untuk ukuran Indonesia. Di lihat sekilas, seragam lorengnya ber­hasil menyembunyikan karakter periang yang dimilikinya. Di atas saku dadanya tertulis nama: Peter So­selisa.

 

“Bagaimana, sersan?”

 

“Siap, letnan!” katanya sambil memberi salut.

 

Risman membaca berkas yang diberikan Peter. “Menurutmu ini sudah final?”

 

“Ya. Hanya itu regu yang paling siap untuk saat ini, meskipun ada beberapa orang yang perlu perhatian khusus.”

 

Risman menghela nafas. Ia sendiri baru datang, karena ia dan Mayor Santoso ditarik dari garis depan untuk tugas penting. Pasukan terbaiknya masih bertugas di NTT. Yang dipilih Peter juga terbaik, tapi terbaik dari kondisi terburuk.

 

Beberapa lama dia terdiam. Seakan berpikir tentang sesuatu yang berat. “Mengapa dengan Bertus? Mengapa tidak kau masukkan?”

 

Peter tertegun. Ia merasa serba sulit. “Kukira letnan akan…”

 

“Masukkan saja. Kurasa banyak manfaatnya untuk kita, juga bagi dirinya sendiri,” potong Risman dengan datar dan tenang.

 

Peter mengangguk, diam-diam mengeluh. Sebagai Sersan Kepala yang harus berurusan dengan anggota regu, nama Bertus terasa duri di kerongkongan.

 

“Besok pagi mereka harus siap, sersan!”

 

“Siap, laksanakan!”

 

Tak lama kemudian Peter pun keluar. Langsung menuju bagian belakang markas.

 

Matanya jelalatan mencari seseorang. Beberapa prajurit yang sedang bergurau di dekat undakan bangsal segera berdiri sigap memberi salut khas ke­satuan ketika ia lewat di depan mereka.

 

“Braja!”

 

“Braja!” balas Peter

 

Buldozer lewat, pikir salah seorang dari mereka.

 

Peter terus bergegas ke arah bengkel. Derap langkahnya yang sigap seakan menjadi tanda bahaya untuk beberapa orang yang sedang santai.

 

Di belakang bengkel, terdapat dua kolam milik koperasi. Isi­nya ikan Mas dan Gurame. Peter mengambil jalan memutar le­wat sam­­ping. Ketika hampir di ujung, ia terpaksa harus berhati-hati, karena pinggiran kolam yang licin.

 

Dia terpaksa mencarinya sendiri. Karena ia tahu, bila me­nyuruh seseorang untuk menca­rinya, hasilnya pasti nihil. Entah karena tidak ditemukan, atau mungkin tidak berani memberitahukan.

 

Dua orang yang dicari Peter itu selalu saja membuat ia jengkel. Karena  perintahnya selalu diabaikan. Peter merasa harus menemukan mereka, daripada mesti menunggu waktu apel siang.

 

Ada hal penting yang ingin dibuktikannya. Bahwa tak seorang pun anak buah­nya bisa luput dari pengawasannya.

 

Tapi yang kemudian dilihatnya, justru membuat kejengkelannya makin bertambah.

 

Seorang prajurit bertubuh kecil duduk bersila di tepi kolam, di bawah pohon jambu air. Pandangan penuh tertuju pada umbul-umbul pancing. Baretnya ditarik ke belakang.

 

Suasana sekelilingnya sunyi dan cukup teduh, membuat prajurit itu tenggelam dalam keasyikannya. Suara langkah Peter pun tidak mampu mengusiknya.

 

Peter benar-benar jengkel.

 

Dasar otak cacing pita! Mereka itu kusuruh membetulkan pagar kawat bukannya mancing, kutuknya dalam hati.

 

“Eko! Ke sini kamu!” suaranya menggeledek.

 

Prajurit itu tersentak, mata besar di wajah kecilnya terbelalak. Ia benar-benar kaget, bagai melihat tank AMX 30 muncul tiba-tiba. Dan ia tetap terduduk saking kagetnya…

 

“Sini!”

 

Seruan kedua berhasil menghentak kesadarannya. Ia blingsatan mendekat. “Ya, ya, Pak. Ya sersan.,” ia benar-benar gugup dan baru tersadar setelah beberapa detik.

 

“Braja!” ia memberi salut.

 

“Apa tugasmu?!” mata Peter mendelik.

 

Eko seperti orang gagap. Dia diberi tugas mengganti kawat berduri di sudut utara, tetapi baginya hal itu hanya buang-buang wak­tu, ma­kanya ia memancing…dan saat itu terasa ada sesuatu yang menyumbat di kerongkongannya, sehingga tak bisa menjawab pertanyaan Peter.

 

Detik berikutnya terdengar suara. Plak! Plak!

 

Setelah itu, “Mana Margono?” bentak Peter.

 

Sambil meringis menahan pedas di pipi, Eko menunjuk ke arah bekas gudang.

 

Peter merasa yakin apa yang terjadi di dalam gudang. Ia menunjuk ember usang di dekat situ. “Isi sampai penuh!”

 

Eko tertegun sejenak. Namun pikirannya cepat menangkap maksud Sersan. Dengan semangat ia melakukan perintah itu. Eko tak sudi rugi sendiri…

 

“Siram dia!” Peter kembali memerintah.

 

“Siap laksanakan!” nada Eko ada kesan senang.

 

Beralaskan jok mobil bekas. Margono Priambodo tidur nyenyak. Wajahnya tertutup baret. Tubuhnya yang tinggi besar seperti pegulat terkapar dengan sebelah kaki terjuntai ke lantai. Dua kancing kemeja bagian atas terbuka, memperlihatkan bintik keringat dadanya.

 

Peter berdiri kukuh beberapa langkah di depan pintu gudang.

 

Dari dalam gudang terdengar siraman air, disusul bunyi gaduh berhias sumpah serapah.

 

Diiringi langkahnya yang cepat  Eko keluar lagi dengan ember ko­song. Ma­tanya bersinar.

 

Di belakangnya terdengar Margono mengumpat. “Dasar tikus kecil sialan, aku tampar nanti. Heh mau ke mana kau!?”

 

Tanpa bersuara Eko memberi salut kepada Peter. Berdiri dengan sikap siaga.

 

Tiba-tiba pintu gudang terbuka keras, seperti kena tendangan gajah. “Eko ke ma…”

 

Kutukan Margono berhenti mendadak. Wajahnya yang beringas berubah panik, dan tanpa sadar ia medekat. Tubuhnya basah kuyup oleh air kolam.

 

“Siap, ser…, Braja,” ia memberi salut.

 

Plak! Plak! Plak! dan… Plak!

 

Keadaan membisu sesaat.

 

Gono merasa bumi mendadak miring.

 

Mulut Eko terkatup, namun bergerak menahan senyum. Senang menyaksikan nasib Gono.

 

Peter mendengus melihat sikap Eko, tangannya pun kembali bekerja. Plak! Plak! Plak! Plak!

 

Kini Eko yang merasa bumi berguncang.

 

“Dasar otak kodok sawah! Kalian dengar?! Otak kodok!?” Sua­ra Peter mengguntur, hingga terdengar sampai ke bengkel.

 

“Kena juga mereka…,” desis seorang montir yang sedang mereparasi mobil di bengkel. Kawannya tertawa ringan.

 

Beberapa menit kemudian kedua orang itu tampak berlarian dengan peralatan lengkap. Ransel dipenuhi batu bata, serta M-16 di tangan.

 

“Ini semua gara-gara kamu,” kata Gono dengan geram.

 

“Kamu yang mengajak ke kolam.”

 

“Ya, tapi mengapa kau tidak menolak.”

 

“Itu salahmu. Mengapa aku yang kau ajak.”

 

“Hei! Tutup mulut kalian. 40 keliling, cepat!,” pekik Pe­ter lan­tang.

 

Jajang yang sejak pagi dijemur, masih terus memandang bende­ra.

 

Matahari semakin terik. Pikiran radiksnya terus berjalan, seke­dar ber­usaha tidak “patah.” “Untung saja aku tentara Indonesia. Kalau jadi tentara Arab, dihukumnya pasti di g­u­run pasir. Panasnya pasti berlipat ganda.”

 

Gengsi jika dia kalah bertahan dengan dua temannya yang juga sedang dihukum.

 

 

 

****

 

 

 

Saat itu Mayor Santoso sedang mondar mandir di ruang kerjanya.

 

Informasi tentang Kabilat sangat terbatas. Beberapa peta tua, dan setumpuk data topografi usang, semuanya bikinan Jepang se­waktu mempersiapkan Perang Asia Timur Raya. Semua diperoleh dari biro lain, yang memiliki jalur khusus dengan Departemen Per­tahanan negara negara sahabat di Asia.

 

Kabilat, pulau dengan ukuran seluas DKI Jakarta. Dahulunya merupakan daerah koloni Spanyol, namun setelah Spanyol angkat kaki dari Filipina, karena letaknya tidak begitu strategis, dan merupakan daerah terpencil di luar jalur pelayaran internasional, maka pu­lau ter­sebut seakan ter­lupakan.

 

Menjelang persiapan ekspansi Perang Asia Timur Raya.Walau bermata sipit, Jepang mempunyai pandangan jeli. Mereka melihat arti penting pulau tersebut. Sekiranya Hawaii, Pearl Harbour, dan dae­rah pa­si­fik selatan lainnya bisa dilumpuhkan. Kabilat bisa me­mi­liki nilai strategis un­­tuk angkatan udaranya. Kabilat pun dijadikan sebuah pangkalan rahasia bagi pesawat-pesawatnya.

 

Begitu menguasai Filipina, Jepang membangun dua pangkalan udara dengan diam-diam.

 

Namun sejarah berbicara lain. 1943, setelah pertempuran laut di Midway, Sekutu bangkit dan berhasil memutar balik perang di lautan Pasifik.

 

Dua panglima tertinggi AS, Mac’Arthur dan Nimitz berlomba dalam siasat “loncat katak” di medan perang. Mereka tidak me­lakukan serangan balik secara bertahap, namun langsung memo­tong garis ke­kuasaan Jepang di tengah-tengah menuju Filipina.

 

Kabilat dilewati, tidak dilirik sedikit pun.

 

Kekuatan Jepang di Kabilat yang terdiri dari dua skuadron pem­­bom AU dan 4 batalyon tempur AL menjadi sia-sia. Mereka ter­isolir dan lumpuh.

 

Pesawat tak mengangkasa, karena suplai bahan bakar tak pernah datang. Pasukan yang bertahan menjadi frustasi, lalu di­eva­kuasikan ke Biak dan Papua dengan memakai alat transportasi se­­adanya.

 

Kabilat jadi pulau kosong, dan kembali menjadi milik pendu­duk asli yang hanya berjumlah sekitar 150 keluarga nelayan dan petani yang hidup ter­­belakang.

 

Peralatan militer peninggalan Jepang menjadi rongsokan dan terlupakan.

 

Seusai perang, para penjarah harta karun bertebaran di wilayah Pasifik.

 

Seorang di antaranya adalah Miguel Magsaysay, spekulan asal Ce­bu. Ia mendadak kaya karena besi tua dan perlengkapan pe­rang yang dite­mukannya. Pulau Kabilat secara diam-diam men­jadi tam­bang emasnya.

 

Dua putranya, Fabian Ferte dan Ferdinand, tumbuh dari proses bisnis tersebut.

 

Namun Fabian Ferte, si sulung, memiliki jiwa lebih radikal. Secara perlahan namun pasti, bisnisnya menjurus ke perdagangan senjata gelap.

 

Tahun akhir 70 an dan awal 80 an adalah masa keemasan kaum teroris. Na­ma Fabian terdongkrak sebagai salah satu biang pemasok senjata, dan membuat Interpol mengincarnya hidup atau ma­ti.

 

Ironisnya, saat itu kawasan Kabilat justru mulai dijadikan wilayah sengketa. Empat negara saling mengaku sebagai pemilik­nya.

 

Tahun 1976, setelah melalui perundingan teritorial dan hukum internasional yang disponsori PBB, dicapai persetujuan. Kabilat men­ja­di zona be­bas.

 

Interpol yang ingin menghancurkan jaringan penyelundupan se­­gera ber­­tindak. Kabilat digempur Interpol, saat Harun sudah meringkuk di penjara Ambon.

 

Kini Santoso harus melakukan operasi militer ke wilayah tersebut.

 

Pemerintah Filipina sudah diberi tahu, tetapi mereka tidak peduli karena sedang sibuk menghadapi gerogotan komunis dan Moro.

 

Pemberontak Orde Suci telah memakai pulau itu sebagai tempat penukaran senjata dengan emas yang mereka rampas dari ABRI.

 

Kabilat memang jauh dari pusat pemberontakan mereka yang berpusat di NTT, namun pulau itu strategis kalau melihat jalur hubungannya dengan pedagang senjata dari Korea Utara. Dekat Irian Ti­mur yang bisa mereka per­gunakan sebagai batu loncatan ke NTT.

 

Ada kemungkinan senjata itu nantinya akan dibawa ke kawasan utara Irian Timur, dan dari sana diangkut memakai pesawat uda­ra ke NTT. Hal ini jauh lebih aman daripada mengadakan tukar menukar di kawasan NTT, ka­rena TNI AL dan TNI AU telah me­nutup ce­lah dari barat, utara, dan selatan. Satu-satunya ke­mungkinan memang hanya dari arah timur. Dari Irian Ti­mur atau Australia. Dan bukan rahasia lagi bila dua negara itu bersimpati pa­­da gerakan pemberontak di NTT.

 

Membiarkan pemberontak mendapat senjata di Kabilat dan ke­­mu­dian menyergap­nya di wilayah RI juga bukan pilihan baik. Karena dengan adanya dukungan da­ri dua negeri tetangga, ke­mung­kinan lo­los sangat besar. Karena itu misi ini benar-benar membutuhkan ke­beranian dan kesuksesan, baik segi militer maupun politiknya.

 

“Untuk itu kita tak punya pilihan lagi. Sasaran harus di­hancurkan dalam satu kali pukul. Itu berarti harus menghancurkan mereka di lokasi dalam waktu yang paling dipastikan. Saatnya ada­lah sewaktu MV Kwang Hung merapat di pela­buhan. Dan kita diberi waktu oleh Ma­bes AD sampai ba­tas 24 jam sebelum Ra­pim di­mulai,” begitu Kulyubi pernah berkata.

 

Sebenarnya, hingga saat ini informasi masih terbatas. Tempat pe­­nyim­pa­nan emas belum diketahui secara pasti, sehingga menimbulkan banyak pertimbangan jika hendak melakukan aksi militer.

 

Pasukan Komando bisa saja diterjunkan jauh sebelum kapal Korea Utara itu datang, dan mencari emas yang akan digunakan untuk penukaran senjata. Namun hal ini akan menciptakan ke­sulitan besar bi­la tempatnya belum di­ketahui pasti. Sekali saja sa­lah sasaran, pem­berontak akan langsung menukar jad­wal dan tem­pat. Dan hal ini jelas akan membuat semua persoalan mentah kembali.

 

Menyergap MV Kwang Hung di tengah laut pun tak mungkin, karena akan menimbulkan insiden internasional skala luas.

 

Karena itu, satu-satunya cara menghancurkan rencana pemberontak adalah dengan penyergapan mendadak, pada saat kapal me­rapat di Kabilat, karena di saat itulah emas dan senjata ada di sa­tu lokasi. Dan penyergapan itu pun ha­rus dilakukan oleh ke­kuatan kecil.

 

Kulyubi pun pernah menjelaskan, “Risiko politiknya tinggi, tetapi dengan adanya bukti keterkaitan langsung antara Kwang Hung dan pem­berontak di Kabilat, dan kita hanya menghancurkan un­sur sub­ver­sif yang hendak merongrong negara, mereka yang pro­tes akan lebih memahami tindakan kita, daripada kalau kita me­nyergap Kwang Hung di lautan lepas.”

Tidak mungkin mempergunakan kekuatan penuh. Mengge­rakan pa­sukan dalam jumlah besar akan terdeteksi radar, dan men­ciptakan bibit sengketa dengan negara-negara tetangga yang merasa memiliki kepulauan sekitar wilayah tersebut.

 

Pasukan pemberontak yang ditempatkan di sana, berdasarkan informasi, jumlahnya tidak begitu besar. Mungkin sekitar 40 orang, se­suai kapasitas kapal-kapal kecil yang mereka miliki. Na­mun pasukan itu dipastikan berkualitas tangguh, dan Santoso ti­dak akan ter­kejut bi­la menjumpai lawan setingkat Tropaz yang pernah dihadapinya di medan Timor Timur.

 

Ia pernah merasakan kealotan Tropaz. Sebagian besar ang­gota Tropaz merupakan lulusan perang Angola dan Mozambik. Mereka umumnya merupakan petarung gerilya yang ulung, licin, berani, cerdik dan juga kejam. Tahun lalu mereka telah dilumatkan, tetapi Santoso tidak mengesampingkan sisa-sisa kesatuan itu, masih berbahaya.

 

Satu hal lagi masuk dalam perhitungannya. Berdasarkan la­poran ter­­akhir, pem­berontak telah memiliki perwira-perwira baru, yang me­rupakan tenaga-tenaga militer sewaan. Juga di antara mereka ada perwira-perwira buronan asal Indonesia, yang berasal da­ri kesa­tuan-kesatuan yang pernah ter­libat ke­melut politik.

 

Untuk menghancurkan emas itu ada beberapa cara. Meng­hantam langsung dari laut dengan torpedo, atau memasang peledak, atau menghancurkan emas di tempatnya.

 

“Kita tak peduli terhadap kapal Korea itu, yang penting emas yang dimiliki pem­berontak. Jika emas tak ada senjata tak mungkin diserahkan. Dan pemberontak tak punya lagi kekayaan untuk mem­be­li senjata. Dengan de­mikian tu­juan misi ini adalah mele­dakkan emas ter­sebut. Lebih sulit, na­mun juga le­bih memastikan un­tuk tujuan po­kok misi…” itu alasan Oskar memilih mendaratkan pa­sukan daripada mengirim penyelam.

Gua 24F adalah sasaran utama. Dahulu gua ini merupakan pos komando Jepang, dan juga tempat utama penimbunan senjata Fa­bian Ferte. Gua itu ha­nya ber­jarak 3 km dari pelabuhan dan mem­punyai hubung­an jalan darat langsung ke dermaga.

Memasuki Kabilat pun tidak mudah.

Dari udara dengan melakukan Hello (terjun bebas dari ketinggian 25.000 M) sulit dilakukan, mengingat jarak terbangnya yang jauh. Indonesia tak punya pangkalan di Pasifik. Jika dipak­sakan harus sing­gah dulu di ne­gara te­tangga, ini jelas tidak mung­kin. Kemungkin­an terbesar adalah pen­daratan da­ri kapal selam.

 

Dilihat dari kondisi geografis, posisi paling tepat untuk mema­suki Ka­­bilat adalah dari arah selatan. Pantainya landai dengan ke­­da­laman yang relatif aman. Namun titik-titik itu sangat rawan. Dekat dengan lapangan terbang dan kampung penduduk asli. Dari utara dan timur sangat riskan, karena jauh da­ri sasaran. Celah yang me­mungkinkan hanya dari barat. Namun mem­butuhkan nilai plus untuk melaksanakannya.

 

Pasukan harus masuk melalui laut, mengarungi arus yang cu­kup kuat, dan langsung memanjat tebing batu curam setinggi 42 me­ter.

 

Setelah itu mengambil jalan memutar sejauh 16 kilometer me­lalui hutan dan padang alang-alang. Pukul rata butuh 18 jam untuk gerakan itu, Santoso sudah bertekad untuk memilih jalan tersebut.

 

Tiba-tiba terdengar pintu diketuk.

 

“Masuk!”

 

Risman muncul.

 

“Bagaimana persiapanmu?”

 

“Siap mayor. Tim terdiri dari regu 3, Termasuk Bertus…”

 

“Regu 3?”

 

“Untuk saat ini, yang terbaik yang ada di sini hanya mereka.”

 

Santoso terdiam. Tugas ini kian menyebalkan. Pertama, ia harus menerima seorang bajingan. Kini ia harus menerima kenya­taan, bahwa pasukan untuk misi hanya tersedia pasukan “buangan.”

 

Regu 3 ini memang kelompok urakan, mereka prajurit berpengalaman, tapi tak pernah diminati setiap komandan. Termasuk dirinya.

 

“Setelah Kamil gugur, pimpinan mereka siapa sekarang?

 

“Secara hirarki saya yang pegang,” sahut Risman. Semenjak Letnan Kamil Ridwan meninggal dalam kecelakaan helikopter dua minggu yang lalu, tak seorang pun berminat mengurus unit itu.

 

“Kapan mereka terakhir bertugas?”

 

“Mereka sudah hampir dua bulan ada di sini.”

 

“Berapa orang yang sudah berkeluarga?” tanya Santoso.

 

Risman terdiam sejenak. “Hanya saya, Sersan Peter sudah tidak lagi. Ada masalah dengan itu, mayor?”

 

Santoso mengangguk. “Aku tak mau menyebarkan penderitaan bila terjadi sesuatu yang buruk.”

 

Risman menelan ludah. Tugas kali ini memang lain.

 

Sebagaimana sewaktu ia dan Santoso dipanggil Brigjen Kulyubi dan Kolonel Oskar.

 

“Kita ada tugas penting. Targetnya di luar wilayah RI, statusnya tergolong rahasia utama.”

 

Santoso dan Risman mengerti.

 

Sebagai prajurit pasukan khusus, me­reka sudah sering melakukan  tugas  yang disebut tugas “antisipasi dini.” Suatu aksi untuk mendahului gerakan lawan secara strategis, atau menyelusup ke wilayah musuh dan menghancurkannya dari dalam. Aksi seperti ini ter­kadang lintas wilayah, dan juga lintas dimensi, dalam arti kontra spionase aktif.

 

Tujuannya satu, hancurkan musuh sebelum berkembang.

 

Landasannya satu, keamanan RI.

 

Mekanismenya satu, patuhi komandan.

 

Risikonya lebih dari satu, mati, hilang, dan mungkin tidak diakui.

 

 

 

“Dan mempunyai dampak politis yang cukup besar. Baik untuk luar mau pun dalam negeri,” sambung Kolonel Oskar.

 

Cara pandang militer dan politik terkadang berbenturan. Masing-masing punya dimensi dari perspektif berbeda.

 

Makna keamanan dan perdamaian untuk masing-masing pihak berlainan.

 

Dan itu biasa. Karena itu, bagi Santoso dan Risman, ucapan Ko­­lonel Os­kar hanya ba­sa-basi. Karena mereka tahu. Kolonel Oskar mau pun Brig­jen Kulyubi per­nah me­lakukan hal serupa.

 

Tugas klasifikasi Utama adalah tugas yang memiliki nuansa politik besar. Bila ada anggota misi tertangkap atau terbunuh, keberadaannya akan disangkal dan dianggap tidak pernah ada.

 

Hal ini yang menyebabkan Santoso bertanya status keluarga dari anggota pasukan yang direkrutnya. Untuk tugas seperti ini, membawa anggota yang masih lajang jauh lebih baik daripada membawa anggota yang berkeluarga.

 

Seperti sepele, tapi tidak sederhana. Dan Risman sangat menghargai prinsip tersebut.

 

Risman tersadar sewaktu Santoso menghela nafas. Santoso membaca lagi data pasukan, dan bertanya lagi “Bertus kau ikutkan? Sudah dipikir masak-masak?”

 

“Ya.”

 

“Peter sudah kau beri tahu?”

 

“Menurut dia, dibutuhkan waktu setidaknya dua minggu.”

 

“Beri dia waktu satu minggu.”

 

Begitulah Santoso, tak pernah mau memberi kesempatan bernafas. Risman hanya bisa mengiyakan semua intruksinya. Mayor pemberang ini sulit ditembus bila sudah menggariskan apa yang dipikirkannya.

 

“Kita hanya punya waktu 16 hari mulai besok. Aku tidak ingin melihat waktu yang sempit menjadi sia sia karena ulah regu itu.”

 

Risman tersenyum sekilas. Regu 3 memang istimewa dan begitu sangat ti­dak bermutu dilihat dari peraturan militer yang ketat.

 

“Ada pertanyaan?” Santoso mengakhiri intruksinya.

 

“Tentang orang sipil itu, mayor?”

 

Wajah Santoso sedikit berubah, “Dia memang dilibatkan dalam misi ini. Aku mengharap ini bukan alasan untuk sesuatu yang tidak menyenangkan.”

 

“Apakah ia diikutkan dalam persiapan.”

 

“Mmm…ya. Tanpa sedikit pun dispensasi.”

 

“Bila ia terluka..?”

 

Santoso menjawab tegas, “Bila hal itu terjadi, aku merasa tidak mempunyai kerugian. Sekiranya dia berhasil, mungkin akan membantu untuk tugas kita. Selain itu, aku pun ingin tahu sampai dimana klasifikasinya, sehingga begitu dihargai untuk bertugas menjadi penunjuk jalan.”

 

“Dia pernah tergabung dengan Volunteer Traine, tentunya tidak begitu mengherankan.”

 

“Tetapi aku lebih yakin pada lulusan Batujajar sepertimu, Letnan.”

 

Risman terdiam. Santoso usianya lebih muda darinya. Lulusan Akademi. Selama bertugas dengannya, Risman melihat ada sesuatu yang patut dipuji dari tentara “sekolahan” ini.

 

Risman memberi salut pada Santoso, dan segera keluar.

 

Ia harus menemui Peter Soselisa dan pasukan sintingnya.