Prolog
PROLOG
Suatu
Waktu di Jakarta
23.20. Di sebuah markas pasukan istimewa AD.
“Positif. Mereka bersedia kerjasama. Mereka juga khawatir bila pemberontak bertambah kuat.”
“Apa yang mereka berikan?”
“Info pengiriman senjata oleh jenderal-jenderal Korea Utara yang korup ke wilayah Asia Tenggara. Senjata itu akan diangkut kapal MV Kwang Hung. Ini sejalan dengan informasi yang kita terima dari garis depan, yang melaporkan seorang panglima perang pemberontak pergi ke utara bersama pasukan sewaan. Dipastikan mereka menuju ke pulau itu. Tetapi kita tak dapat mengganggu MV Kwang Hung. Jenderal-jenderal korup itu aset penting tingkat tinggi bagi Barat. Akan sulit bagi kita bila menjadikan kapal itu sebagai sasaran.”
“Kau
yakin emas itu akan ditukar dengan senjata?”
“Ya,
di pulau Kabilat. Bekas pertahanan AU Jepang semasa PD II dan juga bekas
gudang penyelundup senjata, serta tempat latihan pengacau dari
Filipina.“
“Lokasi
penyimpanan?”
“Belum
diketahui. Kita hanya punya satu kepastian. Di pelabuhan. Tepatnya
beberapa jam sebelum Kwang Hung merapat, tetapi tak mungkin melakukan
tindakan langsung ke situ. Pelabuhan akan dijaga kuat. Perkiraan lain, ada
kemungkinan disimpan di sebuah lokasi, di bukit. Di dalam gua 24 F bekas
ruang komando pertahanan Jepang.”
“Kau yakin MV Kwang Hung yang membawa senjata itu?”
“Kapal itu sudah dua tahun dikontrak Blaze&Co anak perusahaan Midasgold Intercontinental. Kita tahu perusahaan itu sering melakukan perbuatan ilegal dalam memperoleh emas. Orang yang bertemu dengan utusan pemberontak di Sidney, adalah Arnold M. Garison, manager Midas untuk Asia, yang banyak memiliki hubungan dengan jenderal-jenderal Korea Utara. Jadi tak diragukan lagi MV Kwang Hung, yang dipakai untuk mengangkut senjata. Kita juga terima laporan dari Pyong Yang, lusa MV Kwang Hung bertolak ke selatan dengan tujuan Hong Kong, Haiphong, Manila. Dari jalur Manila ke Port Moresby, Kwang Hung hanya butuh 27 jam untuk mencapai pulau Kabilat.”
“Ada
kemungkinan merubah rute?”
“Melihat
pola kerja mereka selama ini, kecil kemungkinan hal itu terjadi. Mereka
merasa aman dan tak mungkin disentuh oleh siapa pun.”
“Kita
harus bertindak cermat. Kita beraksi di wilayah yang peka. Sudah siap
semuanya?”
“Beres.
Kita punya waktu 23 hari. Cukup untuk mempersiapkan pasukan. Emas itu harus
dihancurkan 24 jam sebelum MV Kwang Hung tiba. Lebih dari itu, saya khawatir
akan diketahui lawan. Bagaimana dengan MABES?”
“Lampu
hijau, yang kita lakukan adalah pilihan terbaik dalam situasi terburuk.
Kastaf memakluminya, namun tetap ada sangsinya.”
“Apa?”
“Gagal
berarti kita habis.”
“Hm…”
“Siap
untuk risiko itu?”
“Mhhh,
rasanya saya tak punya waktu lagi untuk berpikir besar-kecilnya uang
pensiun.”
“Bagaimana
kondisi medan?”
“Ada
sedikit masalah. Kita butuh seseorang yang tahu seluk beluk Kabilat.”
“Pemecahannya?”
“Intelijen,
mereka memberi satu nama. Bekas bajingan…”
“Bajingan?”
“Nanti
saya serahkan datanya.”
“Dia
bersedia?”
“Dia
harus mau diajak kerja sama.”
“Jika
menolak?”
“Posisinya
terjepit. Dia akan datang besok malam. Mayor Santoso saya perintahkan
menjemput. Menurut saya, ia perlu lebih awal mengenal partnernya.”
“Santoso?
Aku meragukan hal itu bisa berjalan mulus.”
“Santoso
mungkin menemui kesulitan kecil dalam masalah ini, tapi saya tidak
khawatir. Dia prajurit sejati.”
“Santoso
memang harus mengerti dan maklum.”