Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

GUNUNG BERAPI



2. GUNUNG BERAPI

Mereka keluar.

Langkah Santoso secepat aliran darahnya saat itu.

rasa hormat dan segan pada atasan keduannya. Mereka sejati yang sempurna. Kepemimpinan, dan intelektualitas mereka patut diberi jempol. Tetapi untuk saat ini, saya sungguh kecewa. Hatinya guncang.

Setiap tugas selalu diselesaikan dengan baik dan tepat seperti yang diperintahkan. Kini ia merasa diremehkan. Sudah sering ia melakukan aksi dalam keadaan buta medan. Dan itu bukan masalah besar baginya.

Bila kehadiran Harun hanya menunjukkan kecepatan. Benar-benar suatu aib bagi moto pasukannya yang berbunyi: Kecepatan di dalam Ketepatan!

Apa mereka mulai ragu terhadap dirinya?

kahkah mengagalkan sabotase pernah teroris di anjungan minyak lepas pantai, di kawasan Samudera Indonesia? yang berhasil menumpas pasukan utama pemberontak Orde Suci? telah yang telah doa kota

dari tangan pemberontak dan dirinya yang tak pernah dikalahkan?

Ingin benar-benar berteriak menghindari kekesalannya, namun merasa bukan tipe yang langsung berontak karena alasan emosi ingin menangkap secara rasional. Maka itu, ia hanya mampu mengumpulkan segala unek-uneknya di dalam hati, merasa dan harus selalu berusaha sebagai prajurit sejati. Apapun risikonya. Seperti sumpah prajurit yang diyakininya.

Rasionya berbisik Bajingan yang kini berjalan di belakang, sebenarnya tak pantas untuk disalahkan. Dia hanya pion kecil yang betulan atau mungkin mengambil bagian. Tapi perasaannya sulit berkompromi. Tetap kesal dan gusar. Kian lama bajingan itu menyebalkan. Sikapnya membuat muak.

"Kita ke mana, Mayor?"

"Ikuti aku. Pakai kakimu. Bukan dengan mulut."

Harun terkesiap, "Saya hanya ingin tahu...:"

"Aku tidak ingin ada pertanyaan!" potong santoso.

"Tetapi..."

"Diam!"

Dahi Harun jadi berkerut. Mengapa mayorini? "Mayor, mayor bentar...!"

Santoso terus melangkah.

"Mayor..."

Gigi Santoso gemeretak. la benar-benar kesal. "Apa maumu? Mulai saat ini, jaga tingkah lakumu. Sebelum aku bertindak pada gaya jagoan murahanmu itu. Di sini bukan kaisar mengerti !"

Harun awal, "Saya hanya ingin bicara..." "Cepat katakan !"

Harun jadi serba salah. Tapi ia tak punya cara lain. la berterus terang. "Saya bukan anggota pasukanmu, jadi .

"Kau keberatan dengan sikapku!?" tukas Santoso mulai sengit.

Harun terperangah, Tak menduga mendapat jawaban itu, diam-diam, berusaha menekan perasaannya, "tidak. mungkin mayor sendiri yang demikian..."

Santoso mengepalkan tinju, Ingin sekali ia membikin mulut bajingan receban ini,

Sebaliknya Ilarun, seperti tanpa dosa. la perlahan berbalik menuju ke ruang belakang.

"Bajingan! Bodoh!" umpat santoso dalam hati.

Harun melintasi ruang lengang dan sepi. la tidak ingin menjelaskan masalah lebih jauh.

la pandang langit-langit.

Bangunan kolonial selalu memiliki ciri umum yang disenanginya. Kukuh, angkuh, namun anggun.

Hawa bebas teras. Merdeka. Ruang gerak teras lapangan. nikmati sirkülasi aktivitas yang maksimal. Menurut ukuran zaman kini memang kurang efisien, namun ia lebih senang pada spirit masa lalu. Efisiensi saat ini selalu bermuara pada angka, dan membatasi kebebasan potensi manusiawi.

Zaman kini jauh berbeda. Pertimbangan selalu dengan angka dan prodüktifitas. Bukan dengan roh manusia atau alam. gedung tidak heran bila melihat perbedaan yang mencolok antara gedung Pemda saat ini dengan gedung militer zaman dulu. Gedung Pemda zaman kini, kesannya ringan. Banyak sekat, karakter alam kurang muncul, sehingga terasa kurang membumi. Kesannya "mengambang" di atas tanah,

melihat bangunan kuno. Bangunan seolah mengakar. Masuk tertanam, menyatu dengan tanah, dan dicengkeram dari dalam bumi.

Dahulu ruang gerak manusia begitu dihargai, ruangan selalu luas, bahkan sampai tempat buang hajat, demikian lapang. Lihat saja WC di tempat ini. Besar, berlantai licin, dengan udara yang begitu bebas.

Lamunannya terhenti. Dari satu kamar kecil muncul seorang Binlara.

Bintara kaget melihat orang asing sesubuh ini, "Anda siapa, mau ke mana?"

'Tamunya Pak Kulyubi. Mau ke kamar kecil jawab Harun sambil tertawa sedikil.

Bintara aku itu memandang curiga. berkedip mcngantar langkah Harıın ke kamar kecil.

Itulah milier. Selalu waspada dan bertanya. Bintara itü pasti pusing melihatnya, Ah, peduli amat. Bengong-bengong, deh lo… Harun membasuh muka di wastafel, Wajahnya jadi segar,

rasa kantuknya hilang. Saat bercermin, ia melihat dirinya umpatnya. sekali, "Gila,..." umpatnya

Hatinya terasa ringan.

Harun berjalan lamban menuruni tangga. Sementara Santoso semakin kesal. "Bajingan ini sudah diberi sedikit pelajaran." gumamnya.

"Jalan." perintahnya pada sopir.

Si sopir tertegun, karena Harun belum naik.

"Jalan!" tiba-tiba Santoso membentak, tepat ketika Harun sedang membuka pintu belakang

Si sopir bagai tersengat kalajengking, "Orang itu belum naik...”

"Jalan kataku"

Si sopir tak punya pilihan. Gas diinjak, kopling dilepas dengan cepat. Tubuh Harun akibat mobil. Untung sempat berpegangan dengan kuat.

"Hai. Pelan-pelan!" serunya.

Tetapi sopir sudah menjalankan mobil dengan kasar. Harun tersuruk di kursi belakang.

"Hei, hati-hati Pak!"

Tak ada yang menggubris. Harun sadar situasi. la ingin protes, tetapi sebuah dorongan yang mendorongnya. la memilih diam.

Santoso lebih dari itu.

Jip melaju meninggalkan markas. Berputar dengan kecepatan tinggi, dan melesat ke arah Arah Monumen Nasional. Seterusnya nyusuri jalan Jendral Sudirman.

Di Jembatan Semanggi belok ke kiri. Harun mencoba duga-duga tujuan perjalanan, sambil bertanya sambil memandang lampu jalan. "Kita ke mana,mayor?"

Santoso memandang ke depan. la semakin tidak bersimpati. Seingatnya, baru sekarang ini ia sedang membayangkan kesedihannya seseorang. Dalam hali, ia merasa bahwa hal itu keterlaluan, namun keadaan dan kondisi telafi menenggelamkannya. Semula ada hasrat unluk menerima Harun dengan lapang dada, tetapi kelakuan bajingan ini membuat ia semakin jauh dari hasrat tersebut

Bajingan ini merasa dirinya penting. Dalam padang Santoso, Harun lak lebih darİ seorang korban majalah soldier of Fortune. 

Santoso tak sudi membiarkan seseorang mencoba melihatak perut di hadapannya. Tak sudi dan tak akan pernah mengizinkannya. Apalagi bajingan amatir seperti Harun.

Harun memandang sekilas ke kaca spion depan. Wajah Santoso begitu keras. Tak secuil pun tersisa. Diam. Garang, tak sedikit pun Mencerminkan tanah kelahirannya, Yogya. Santoso saat ituü ibarat gunung Merapi terlihat dari jarak. Kukuh. Menjulang. Tak ingin memiliki.

Lama-lama Harun jadi sebal juga. Karena sejak pertamajumpa, Mayor Santoso selalu sinis penuh amarah. "Apa salahku? Terlibat dalam masalah ini juga bukan keinginanku," pikir Harun.

Berawal dari kejadian tiga hari yang telah lewat.

Doris, gadis favorit di tempat kerjanya, memberi tahu ada dua orang tamu mencarinya.

 

 

"Mana aku tahtı. Kemarin ia kemari, banyak beılanya tentang dirimu. Sekarang ingin bertemu. Katanya sih teman lama kamu?"

"Siapa namanya?" "Sun aku dulu dong." 'Wuah... 

Doris lertawa genit. Harun sering digodanya, namun dia tidak

 

sepetli pria lainnya. Tak pernah bereaksi. Baginya, 'tampang Harun kalah satu slrip dibanding Iwan Fals. Harun lebih jorok, kasar, dan hitam, namun lebih pendiam, meskipun gaya tak acuhnya sama.

Di tempat parkir, dua lelaki itu menunggu sambil membcl•üangi sebuah mobil. Harun dekat. Keduanya tampak cukup ramah, tapi tegas.

“Harun?” seorang di salam sapa.

”Perlu apa Pak'?”

 

"Ada yang ingin bicara."

"Siapal'

Dia tak menjawab, malah menyampiııg, sambill membuka pıntu mobil.

 

"Masuk...", terdengar uara bariton. Singkat dan bernada perintah.

"Apa?' Harun agak gusar.la melongok ke dalam pria berusia sekitar empat puluhan tersenyum.tubuhnya atletis memakai kaos lengan pendek biru muda.

"malam..." Pria itu menyapa sambal dua buah foto. Satu foto orang bermata sipit, dan foto dirinya tiga tahun yang lalu semasa dihukum di Ambon. Harun mulai waspada.

 

"Jangan takut. Aku bukan polisi. Aku datang ke untuk menangkapmu. Lari pun percuma. Sekeliling penemuan.”

Harun melihat sekelilingnya. Beberapa orang memperhatikan dari jauh,

"Apa yang Bapak inginkan?"

“Pulau Kabilat.”

"Kabilat?"

Harun merasa lemas.

Lelaki itu mengajak maşuk ke mobil.

Harun menolak. "Sebenarnya Bapak ini siapa?"

 

Dia meminta kartu nama. Kolonel Oskaryadi.

Kolonel! Apa ini? Harun terkesiap.

"Lebih baik ikut saja. Nanti kau akan mengerti." Harun tak bisa berbuat apa-apa lagi.Dunia terasa secara tiba-tiba.

 

"Tak ada lagi yang harus disembunyikan. Kita semua tentang dirimu. Ambil peta itu dan bacalah." Harun membaca data-data tentang dirinya.

Nama : Harun Suryadilaga alias Harun Bayonet.

Lahir di Bandung. Pendidikan terakhir:Arsitektur/tidak selesai. Maşuk Mahawarman, aktif di organisasi pendaki gunung.

Pemegang sabuk   hitam INKAI. Buron karena membunuh Khun

Hin, bandar judi Medan, dan melukai Sersan polisi Jhony

Purba. Kenıudian terdaftar sebagai awak kapal “South east

Diamond” berbendera Panama, bayaran untuk jalur

Bangkok-Saigon melalui Sungai Mekong. Tahun berikutnya bergabung  dengan kesaîuan bayaran " Volunter Trainee. 'l Setelah Vietnam berakhiı; diketahui sebagai pengawal kepercayaan Ferdinand Machalat—adik Fabian Ferle

Mei 19... diiangkap ALRI karena menyelundup ke wilayah RI dari perairan Kabilat, Dilıukum 9 bulan di penjara Ambon dengan tuduhan mempergunakaıı paspor palsu,

Tinggi 172 cm, kulit sawomatang, mata hitan, rambut berombak.

Ada cacat bekas luka di bawah kuping kiri, akibat goresan pisau.

Hasil Analisis psikis menujukkan: rasio danjiwa stabil. ntelektualitas: sedang. Orientasi politik: tidak.

Pengalanıan kemiliieran: Mahawarman, Relawan Trainee 909 Chu Lai Vietnanı.

Mahir menggunakan berbagai senjata laras Panjang dan pendek.

Kategori : Dicari

Sumber : n8 Inter Pol -HKDB

Data ini dikualifikasikan rahasia.

Harun menarik nafas, ia pasrah campur nekad. "Sekarano bagaimana?"

"Diam dan turuti perintah!" Gila, pikir Harun.

Mengapa jadi dengan ABRI?

la dibawa ke suatu tempat. Dua hari diadakan dengan ketat di sebuah rumah. Dua hari ia ditanya ini-itu, tetapi tak mencari pangkal. Semua keinginan Harun selalu dipenuhi. Bahkan niat mencari masalah pun disetujui Harun tidak mengerti. "Sialan, apa tujuan mereka?" Namun setelah mencari dan menduga, Harun jadi lelah sendiri.

l a pun tak mau lagi ambil pusing. mulai seperti air, mengikuıi arus. lingga pada suatu saat, seorang berpakaian preman talk show, "Kamu ditunggu di Jakarta pukul

"Mustalıil, Sckarang pukul 22.30, Bandung-Jakarta minimal liga scctcngall jarn."

"Kau ditunggu Kolonel Oskar dan Jenderal Kulyubi di Jakana."

Keadaan tambah penuh tanda tanya. la dibawa ke pangkalan Husein Sastranegara, tempat sebuah Cassa AD sudah menunggu untuk berangkat ke Jakarta.

"Mimpi apa aku ini?" hatinya mulai tersinggung. la diperlakukan sebagai benda mati Sebuah gejolak yang terlupakan muncul. la jadi nekad, juga bersiap. Yang terjadi, terjadilah.

Itu awalnya:

Untuk saat ini, sikap antipati Santoso akan ia anggap kecil yang tak perlu dirisaukan.

Bukankah aku sudah biasa disepelekan dan dilecehkan. Santoso kepadaku juga bisa dipastikan demikian. Aku pasti anggap bajingan rendah.

Berpikir ke arah itu, Harun merasa terangsang untuk Iagi bersikap formal. "Supaya mayor itu tahu, siapa aku ini sebenarnya," bisiknya dalam hati.

Harun merogoh saku, ingin merokok. Sial, rokok kreteknya habis. la pun mengunyah permen karet.

Mobil mulai masuk kawasan Jatinegara. Suasana subuh kota mulai terlihat.

Harun melihat sebuah kios. "Pak, pinggir dulu. Kiri,

Sopir menginjak rem. Kaget karena permintaan Harun san terburu-buru.

Santoso berpaling, "Ada apa?"

Harun tak menyahut ia terus ke luar. Menuju kios rokok pinggirjalan,

Sungguh brengsek bajingan itu, pikir Santoso.

... dua bungkus, Pak," kata Harun pada penjual rokok,

Santoso mengutuk dalam hati. Hal-hal remeh seperti ini membuatnya selalu kesal.

"Permen karet yang ini sekalian...

Mendengar itu Santoso kian sebal. Dasar manusia Yang diurusnya juga yang remeh-remeh!

Mobil melesat Iagi ke arah timur Jakarta. Menuju komplek militer. Di halaman sebuah rumah besar mobil

Harun celingukan membaca situasi. la merasa tak perlu turun mengikuti Santoso. Di papan nama dekat pintu tertulis “mess Perwira Brajamusti.”

Santoso tampak mengobrol dengan seorang perwira tegap. "Turun. Kau tinggal di sini untuk sementara.”

Hanın menatap Santoso sekilas. Akal sehatnya berbisik untuk tidak kurangajar. la pun turun.

 

"Ikuti semua intruksi Kapten Pusaka!” kata Santoso singkat.

"Jadi...”

"Tak ada pertanyaan. Mengerti?!” tukas Santoso.

Harun menggigit permen karetnya keras-keras. Entah mengapa ia merasa senang kalau melihat Santoso maralı. Naluri main-mainnya makin mencuat. "Ada lagi yang ingin kau katakan, mayor?”

 

Mata Santoso menyipit. Gaya Harun sudah menyentuh puncak toleransinya. "Jaga mulutmu baik-baik. Sekali lagi bertingkah

 

tak patut, kuhajar kau sampai habis.Tak peduli siapa yang berdiri di belakangmu. Petualang korban majalah murahan sepertimu,

 

tak ada harganya bagiku.”

Pandangan Santoso begitu menusuk. Tanpa basa-basi lagi ia berbalik dan kambali naik mobil. "Balik ke markas terdengar

 

perintahnya kepada sopir. Mobil berderam cepat dan dengan gemuruh meninggalkan halaman.

Harun mengikuti mobil itü dengan pandangan matanya.

"Apa yang kamu pikirkan?” tanya Pusaka.

Harun menyeringai sambil memandang, "Saya punya nasib baik karena tidak jadi tentara.”

Pusaka tersenyum ringan tapi siniş. "Militer memang tidak akan pernah menerima orang sepertimu.” Tetapi butuh orang seperti saya.”

"Memang dibutuhkan. Dibutuhkan untuk patuh!” Nada bi cara Pusaka berubah. "Kamu tinggal di sini bukan untuk diam, tetapi unluk mematuhi. Semua hubungan ke luar harus sepengetahuanku, itü yang ke dua. Dan yang pertama, besok kau sudah harus siap pukul enam pagi lepat!”

Harun terhenyak, "Apa?”

"Kau hanya bertanya bila kuperintah. Sekarang kau boleh maşuk kaman” bukan anak buah...”

"Kau berada di daerah militer dan di bawah pengawasan

militer,”

Harun terkesiap. Kepintaran Kulyubi mulai terbukti.

sungguh bodoh, amatir.

Di luar hukum militer, namun berada di bawah pengawasan

militer.

Permainan kata-kata memang bisa membuat dunia

balik.

Gila.