RAJAWALI
Suatu
malam di Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah. Jakarta.
Waktu
menunjukkan pukul 00.03 WIB ketika pesawat Cassa milik AD itu mendarat.
Santoso
bangkit, lalu melangkah menuju landasan. Ia sudah tak sabar ingin melihat tampang
orang yang membuatnya harus menunggu lebih dari satu jam.
Juga
yang telah membuatnya kesal pada atasannya. Ia ditarik dari Timor untuk tugas
khusus. Tugas berat dan berbahaya adalah biasa, tidak pernah jadi beban. Namun
untuk sekali ini ia merasakan hal yang tidak biasa.
“Dia
lebih tepat disebut bajingan. Kuharap hal itu tidak merusak cara kerjamu,”
kata Kolonel Oskar sewaktu menjelaskan tentang tugas khusus tersebut.
Bajingan?
“Bukannya
aku ragu, atau bermaksud melecehkanmu. Sama sekali tidak. Dia kulibatkan
dalam misi ini demi keakuratan pelaksanaan. Aku yakin, setidaknya ia
akan memberi peluang lebih besar dalam kondisi informasi yang terbatas saat
ini,” tambah Oskar.
Santoso
tersengat hatinya, tapi Oskar tak memberi kesempatan untuk bertanya lebih jauh.
Malah terasa kian menyudutkannya dengan perintah menjemput langsung ke
lapangan terbang.
“Haruskah
saya menjemput?”
“Ya.
Saat ini aku tak ingin mempercayai orang lain,”
kata Oskar dalam sikap tidak ingin dibantah.
Mengingat
hal itu Santoso ingin segera bersua dengan bajingan tersebut.
Hawa
dingin dan hembusan angin malam kian menusuk, membuat wajahnya yang keras
semakin kaku.
Bajingan
itu berjaket hijau lusuh, memakai celana dari kain kasar berwarna sama. Lagaknya
menyebalkan.
Orang
ini sungguh tak pantas berurusan dengan AD, harusnya dengan kepolisian atau
kejaksaan. Sekilas Santoso bisa menyimpulkan, bajingan ini senang
memutarbalikkan keadaan. Menggampangkan persoalan pelik, tetapi membikin pelik
persoalan yang gampang.
Harun
melepas ransel, kemudian menggeliat sekadar melenturkan tulang pinggang. 30
menit naik pesawat militer membuat tubuhnya pegal.
Gendang
telinganya berdenging keras.
Jadi
militer sungguh mengharukan. Perlengkapannya selalu dibawah standar kenyamanan.
Seharusnya mereka protes, agar para perancang menyadari, bahwa dunia militer
bukan dunia yang hanya layak dijejali yang serba keras. Prajurit pun patut
menikmati kenyamanan yang pantas.
Harun
melihat seseorang berdiri membelakangi lampu. Melihat warna baretnya, Harun
yakin perwira itu utusan Kolonel Oskar.
Ia
ingin segera istirahat, tapi mustahil dapat dilakukan. Perwira itu pasti akan
langsung membawanya kepada Kolonel Oskar, dan itu berarti 3 atau 4 jam kemudian
ia baru bisa tidur. Oskar menyenangi obrolan dan petunjuk yang tidak singkat.
Harun
mendekat, “Selamat malam.” Tangannya terulur mengajak salaman. Senyumnya
dipasang lebar.
Santoso
tak bereaksi. Ia hanya menatap tajam, “Kita hanya punya waktu 20 menit. Ikut
aku!” kata Santoso bernada perintah sambil berbalik menuju ke luar gedung.
Heh?
Harun tertegun. Siapa orang ini, kok begitu angker?
Ia
menghampiri seorang pengawal, “Minta api. Siapa dia itu?” tanyanya sambil
menyulut rokok kretek.
“Mayor
Santoso. Jagoan perang.“
Jagoan
perang?
Masuk
akal bila tak memandang sebelah mata padaku, pikirnya.
Sewaktu
ia menghampiri mobil, rasa kagumnya menjadi guncang.
“Matikan
rokokmu.”
Harun
tertegun. Tapi tak membantah. Rokoknya dihisap agak lama lalu dibuangnya.
Sambil menginjak rokok yang masih menyala, ia mengangguk dan berkata
perlahan. “Ya, Pak.”
Di
kendaraan Santoso tetap diam. Akal sehatnya berontak dan tak mengerti. Untuk
apa orang ini harus ambil bagian dalam tugasnya.
Harun
duduk di belakang. Pura-pura tak mengerti situasi, dan mencoba bersikap ramah “
Boleh tahu tujuan kita, mayor?”
“Ke
Komandan Operasi.”
Harun
manggut. “Oskar ada di sana, mayor?” tanyanya lagi, sambil melihat
lampu-lampu Jakarta yang semarak.
Sebuah
mobil muncul dari arah berlawanan, sorot lampunya menyilaukan. Harun
terpejam beberapa detik. Ketika membuka mata, terdengar Santoso bicara
geram, “Bapak Kolonel Oskar…!”
Harun
merasakan getar kekesalan, tapi ia tetap berusaha meramahkan diri.
“Menunggu
dari jam berapa, mayor?”
Tak
ada sahutan.
Harun
mengangkat bahu. Ia merogoh saku. Sial. Sudahlah tak boleh merokok, permen
karetnya juga habis. Akhirnya ia memandang keluar. Sebuah iklan di billboard
ukuran raksasa menarik perhatiannya.
BUKAN
DIA. BUKAN PULA DIA. TAPI INI DIA, MASCOT KITA!
Harun
bersandar dan memejamkan mata, sekedar mencoba melupakan semuanya.
Di
bawah cahaya lampu yang tidak begitu terang. Markas besar yang bergaya arsitektur
Neo-Klasik atau Art Deco Ornamental peninggalan zaman kolonial itu tampak
angkuh.
Pagarnya tinggi, terbuat dari besi dicat hitam. Di gardu jaga tampak pengawal dengan M-16 di tangan.
Dua meriam Howitzer peninggalan PD II berubah fungsi menjadi hiasan di halaman rumput. Menyiratkan keangkeran para penghuninya.
Mobil berhenti di depan bangunan utama. Harun memandang keadaan sekelilinngnya. Sunyi, lenggang.
Bayangan dimensi ornamen gedung nampak tegas, suasana miskin cahaya kian terasa. Beberapa bagian dindingnya berlumut tebal. Pertanda penghuninya lebih sibuk mengurus perang daripada memikirkan cat tembok.
Harun merasa urusannya tidaklah ringan. Pentolan-pentolan militer yang mendiami markas seperti ini tak mungkin merencanakan sesuatu yang kepalang tanggung.
Melihat gaya Harun celingukan kanan-kiri, Santoso bertambah sebal. Dasar keledai! umpatnya dalam hati.
“Cepat!” perintah Santoso setengah membentak.
Harun tertegun. “Hei mengapa dia marah-marah terus. Salah apa aku ini? “
Santoso naik tangga. Harun mengikuti dari belakang sambil berguman tak jelas.
Ruang depan markas itu cukup luas. Berlantai marmer warna coklat. Suara sepatu mereka bergema keras ketika melintasinya.
Mereka
menuju lantai dua. Lalu belok ke kiri menuju sebuah lorong panjang dengan ruang
kantor di kiri-kanannya.
Diam-diam
Harun geli sendiri sewaktu membaca tulisan di pintu pintu sepanjang lorong itu.
Kemahiran tentara membuat singkatan patut diberi acungan jempol. Lugas, polos,
praktis.
Di
ujung lorong, seorang bintara sibuk dengan pekerjaannya. Ketika melihat
Santoso, dengan sigap ia berdiri dan memberi hormat, “Siap…”
Santoso
membalas dengan cepat.
Sewaktu
liwat di dekatnya Harun nyeletuk sambil tersenyum, “Lembur, pak.”
Santoso
berpaling, ”Apa maksudmu?”
“Tid….tidak
apa apa mayor,“ ujar Harun acuh tak acuh.
Dasar
bajingan!
Mereka
naik lagi. Di lantai tiga mereka menuju pintu paling ujung.
Harun
melihat sebuah papan tergantung di daun pintu bertuliskan “Danops” (Komandan
Operasi).
Santoso
mengetuk pintu.
“Siapa
dia, mayor?” tanya Harun sambil menunjuk papan itu.
Santoso berpaling dengan pandangan kesal. Seperti akan menelan Harun.
“Ya, masuk!” terdengar suara dari dalam.
Ada dua orang di situ.
Di belakang meja utama duduk seorang lelaki tegap. Agak gemuk dan tidak terlalu tinggi. Tampak santai sambil mengisap pipa cangklongnya. Rambutnya disisir rapi. Berdahi lebar, dengan bibir tipis yang nampaknya sering dipakai senyum. Pandangannya tajam dengan kesan ramah yang kuat. Karakter intelektualnya terpancar sempurna.
Waktu sudah menunjukam lebih dari tengah malam, tetapi seragamnya masih rapi. Harun punya pikiran lain. Bila orang ini mengenakan baju batik ditambah kopiah, pasti akan lebih disangka anggota MUI daripada seorang perwira Tinggi AD.
Satu bintang emas di pundaknya tampak berkilau. Seorang Brigadir Jenderal. Harun membaca nama di dadanya: Kulyubi.
Satu tokoh asing bagi Harun. Baru saat ini ia berjumpa. Intuisinya berbisik. Jenderal ini seorang yang patut diperhitungkan. Begitu tenang, dan bisa dipastikan mempunyai kecerdikan di atas rata-rata.
Harun merasa sedang berhadapan dengan seorang “Rajawali”. Seorang pejuang. Gung Ho. Pemberani dan juga perintis jalan keras.
Di samping Kulyubi duduk Kolonel Oskar yang sudah dikenalnya.
“Duduklah!” Oskar menyambut.
“Bagaimana mayor, lancar?” Oskar membuka percakapan.
Santoso mengangguk berat.
“Harun, ini Brigjen Kulyubi yang pernah kuceritakan.”
Harun tersenyum seulas sambil mengangguk. Entah mengapa, melihat jenderal ini hatinya jadi sedikit miris.
“Kuharap semua lancar. Begitu juga hendaknya dengan tugas yang akan kau terima,” sambung Oskar.
Tugas?!
Santoso
menelan ludah. Kata-kata itu terlampau mulia bagi seorang bajingan.
Harun
tertawa tapi hatinya mulai tak tenteram.
“Aku
yakin kau akan menyenanginya.” Oskar berkata lagi.
“Hmm…
itu tergantung dari…”
“Dari daya ingatmu tentang pulau Kabilat,” Santoso memotong dengan ketus. Sebenarnya ia tak ingin membuka suara, tetapi melihat gaya bicara Harun ia jadi tak tahan.
Harun tersenyum masam. Ia merasa harus berhati-hati.
“Ya, pulau Kabilat. Tempat petualanganmu yang terakhir.” kata Oskar dengan tenang. Nadanya sedikit berubah dan mulai serius.
Santoso merasa kursi yang didudukinya panas. Ia ingin semuanya cepat berakhir. Namun Oskar sebaliknya. Kolonel ini baru saja mulai.
33 hari yang lalu. Pukul 22.04 di angkasa Indonesia bagian timur.
Sebuah pesawat tua DC TNI AD menembus kegelapan malam.
Di kokpit pesawat, kapten pilot Godi Barna, untuk kesekian kalinya melihat ke luar jendela. Ia merasa tidak tenteram, gelisah, dan diusik rasa was-was. Pesawat yang dikemudikannya memang sudah payah, tetapi bukan itu penyebabnya.
10.30 ia menerima perintah. ”Ini tugas khusus. Jadi tidak perlu banyak pertanyaan, baik mengenai prosedur, apa yang akan dimuat, atau mengenai pesawat yang digunakan. Semua sudah diatur dari atas. Tugasmu hanya membawanya ke Surabaya. Intruksi selanjutnya menyusul di pangkalan. Jelas?” kata komandan Emmanuel Maleala.
Semula Godi menganggap hal ini masalah biasa, tetapi beberapa jam kemudian semuanya berubah.
Sewaktu melapor lagi, Emmanuel tak ditemukan. Hanya sepucuk surat perintah dititipkan untuknya. Ia harus ke Surabaya membawa petipeti yang dikawal pasukan pilihan.
Ketika melihat penampilan pasukan tersebut, Godi berani bertaruh, mereka itu baru lepas dari pertarungan yang keras. Di antara mereka tampak seorang lelaki kulit putih, yang juga lusuh, kumal, dan lelah.
Godi tak tertarik untuk mengetahui isi puluhan peti bawaan mereka. Ia lebih tertarik kepada pimpinan regu itu. Dilihat dari strip di bahunya, pangkatnya adalah kolonel, pangkat yang terlalu berlebihan untuk sekedar mengawal petipeti.
Kondisi
kolonel sama dengan para prajuritnya. Wajah penuh keringat, seragam loreng
kotor, koyak, dan penuh lumpur. Sebagaimana lazimnya tanda mata dari medan
tempur yang berat. Penampilannya garang, tapi tak cukup kuat menyembunyikan
apa yang dideritanya saat itu.
Macan
yang lelah, bisik Godi dalam hati.
“Kapten
Godi?” Kolonel itu bertanya.
“Ya.”
“Aku Rais Arifin. Rupanya kita harus berangkat sekarang.”
“Siap kolonel. Tapi tunggu sebentar, “ Godi pergi ke ruang komando. Di sana, seorang petugas memberikan sepucuk surat, “Dari Komandan.”
Isinya berupa perintah. Ia harus memakai pesawat DC?
Godi terkejut, “Mengapa?”
“C130-nya rusak.”
“Mustahil!”
Pesawat Hercules itu sudah diperiksa dan tidak ada masalah.
“Saya pun tak tahu mengapa …” ujar petugas sambil berlalu.
Brengsek! Apa Emmanuel lupa DC itu harusnya ada di pasar loak? DC tua itu memang masih jalan, tapi hanya untuk keperluan transport daerah pesisir. Itu pun kalau darurat, dan harus diperiksa dulu berulang kali oleh teknisinya. Namun saat ini, hanya pesawat itu yang ada di pangkalannya. Sulit dimengerti, tapi itu kenyataannya.
Ketika hal ini dilaporkan kepada Rais, kolonel itu jadi berang, “Aku tidak peduli pesawat apa yang tersedia. Yang penting cepat berangkat, agar tugas memuakkan ini tuntas. Mengerti kapten!?” ujarnya serak.
“Ya,
kolonel. “
“Siapkan pesawatmu!”
Kolonel itu berbalik dan berbicara dengan lelaki kulit putih berpenampilan lusuh.
Gangguan belum berhenti.
Ketika pesawat sudah siap, muncul sebuah truk berisi satu regu prajurit dalam seragam tempur dan bersenjata lengkap. Dilihat dari badge yang melekat di bahu mereka, pasukan ini tentu berasal dari kesatuan lain.
Seorang letnan bertopi baja turun menghampiri Rais.
Mereka terlibat pembicaraan serius. Rais tampak marah dan menolak permintaan letnan tersebut. Tak lama kemudian keduanya pergi ke ruang komunikasi pangkalan.
10 menit mereka di sana.
Dengan wajah kusam penuh rasa mangkel Rais berseru kepada Godi, “Kep, kita berangkat sekarang! Bawa juga mereka!”
Semua peristiwa itu menyebabkan Godi kurang genah.
Juniarso Irawan, co-pilot, tahu akan hal itu. Ia menawarkan minuman, ”Kopi kep…!”
“Menurutmu, bagaimana para penumpang kita ini?” ujar Godi sambil menerima minuman.
“Apa yang dikhawatirkan?”
Godi terdiam. Ia sulit menjelaskan. Perasaan bukanlah alasan kuat untuk membuktikan sebuah kenyataan. “Tidak. Lupakan saja. Mungkin aku sedang lelah…”
Juniarso diam tak berkomentar. Suasana membisu. Keduanya menatap ke depan, memandang gumpalan awan yang seakan menerjang menghampiri.
Pesawat terus melaju, turun-naik menyiasati gumpalan udara. Suara mesin bergema monoton, seperti erangan seorang tua yang sedang diintai kematian.
Di kabin penumpang terasa pengap. Panas dan suram.
Cahaya lampu di ruang itu sangat terbatas. Membuat suasana yang sudah remang semakin tidak nyaman untuk dinikmati.
Sebagaimana umumnya pesawat angkut militer jenis ini, tempat duduk penumpangnya memanjang di kedua sisi badan pesawat dengan posisi berhadapan.
Delapan orang prajurit Lintas Udara (LINUD) duduk tak teratur di bagian kiri, dekat ruang pilot. Mereka sudah tak mampu menahan penat. Semua tidur pulas. Senjata dan peralatannya bertumpuk di dekat kaki masing-masing. Begitu juga dengan empat temannya di bagian belakang. Bergelimpangan dekat tumpukan peti yang dikawalnya. Dengkur mereka turun-naik.
Di bagian tengah, di seberang mereka, sembilan perajurit dari kesatuan lain yang baru naik nyaris sama. Duduk tak bergeming tanpa suara. Pemimpinnya yang berkumis tipis sesekali melirik sekitar, memperhatikan keadaan.
Rais duduk bersandar. Ia benar-benar lemas dan lelah. Berulang kali ia memejamkan mata. Mencoba tidur, tetapi selalu gagal. Deru mesin sulit diajak kompromi. Kasar dan bising. Akhirnya, ia pun menyerah dan berusaha melupakan hasrat tidurnya dengan memandang ke luar jendela.
Tugas
yang diembannya sekarang ini menguras hampir seluruh potensinya. Begitu keras,
menghancurkan, sekaligus memuakkan dan menyedihkan.
Tiga minggu yang lalu, setelah empatbelas
bulan bertugas, kesatuannya ditarik
dari garis depan. Namun sewaktu pasukannya sudah siap naik kapal untuk kembali
ke pulau Jawa, datang perintah mendadak untuk merebut satu kubu pemberontak
yang sudah dipastikan sebagai tempat penyimpanan barang berharga.
“Kolonel, kita hanya punya sidikit waktu untuk menguasai kubu itu. Lakukan sekarang juga! Bila terlambat sedikit saja, kita akan kehilangan peluang untuk menguasai harta pemberontak yang bernilai tinggi.”
Sambil menahan berbagai perasaan. Ia berhasil menekan ledakan tak puas anakbuahnya, dan langsung menggerakkan peleton terbaiknya untuk melaksanakan tugas tersebut. Hal itu berakibat fatal.
Semangat
pulang kampung sudah merajai hati pasukannya. Gairah juang mereka tinggal
separuh. Tapi mereka berhasil juga merebut basis pemberontak sebagaimana yang
diperintahkan, sekaligus mendapat jawaban tentang pentingnya tugas
merebut basis tersebut.
Pasukan Rais menemukan banyak peti besi, tetapi isinya membuat dia tidak tenteram. Batangan emas murni!
Ia segera menyusul dan datang ke kubu yang direbut itu.
Pemberontak pasti berusaha merebutnya kembali. Ia tak boleh bertahan lama di tempat itu. Perbekalan pasukannya minim. Ia hanya punya waktu terbatas. Rais langsung minta bantuan evakuasi.
Tetapi keadaan tak memungkinkan.
“Ada gerakan pasukan pemberontak di selatan. Kemungkinan besar akan melintas ke tempatmu. Mengirim bantuan lewat udara tak mungkin. Heli sulit mendarat. Medannya penuh pohon tinggi. Melalui jalan darat juga sama, berisiko tinggi. Dalam tempo beberapa jam, musuh akan menutup jalan ke bukit itu. Kalau dipaksakan, berarti harus datang dari arah Barat dan butuh waktu lama. Sebaiknya kau segera keluar sebelum mereka mengisolir daerah itu.”
“Apapun
yang terjadi, kirim heli ke sini!” kata Rais pada Pusat Komando.
“Tak
mungkin, semua sedang dipakai operasi ke Timur. Di sini hanya ada dua heli.
Satu rusak, satunya lagi tak berpilot. Letnan Syafii Anwar sakit malaria…”
Rais
geram. “Mana panglima? Hubungkan dengan dia!”
“Panglima
sedang rapat gabungan. Sekarang ada di KRI Multatuli. Maaf kolonel.”
Rais
berpikir cepat. Ia tak bisa menunggu lagi. Ia harus membawa pasukannya
keluar, membawa puluhan peti rampasan ke pangkalan udara terdekat.
Peristiwa
berikutnya di luar dugaan.
Selama
perjalanan, mereka mendapat sergapan mematikan dari pasukan pemberontak.
Namun pengalaman di medan tempur membuat pasukannya bisa bertahan dan berhasil
lolos dari lubang jarum. Yang membuat Rais berang adalah sikap Pusat Komando.
Berkali kali ia minta bantuan, namun tak pernah terlaksana.
Akibatnya mengerikan. Peleton terbaik yang dimilikinya, yang seharusnya pulang dan berkumpul kembali dengan keluarga setelah masa tugas panjang, menjadi hancur berantakan.
8 prajurit gugur, termasuk seorang letnan yang andal. 7 luka berat, 18 luka ringan.
Sekarang Rais kian tidak mengerti. Dalam keadaan terjepit, bantuan tak pernah muncul. Mengapa di pangkalan udara diberi tambahan pengawal? Mengapa tidak sejak dari gunung?
Ia benar-benar gusar, kesal, dan juga lelah.
Tanpa sadar ia menarik napas sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
Joe Adams yang duduk di sampingnya juga demikian. Orang kulit putih ini adalah tawanan pemberontak. Dia bebas setelah Rais menguasai kubu tersebut.
Rais yakin si bule ini memiliki kaitan erat dengan peti-peti yang ditemukannya. Namun ia merasa terlampau marah untuk mengetahui segala sesuatunya lebih mendalam. Ia sudah muak dengan peti-peti itu!
Joe Adams juga tampak tak bisa tenang. Sibuk mencari cara duduk yang nyaman. Ia menyeringai melihat Rais gagal mengalahkan penat, “Masih berpikir tentang peti-peti itu, Kolonel?”
Rais mendengus kesal, “Aku tak peduli. Nilainya tak sebanding dengan harga pasukanku.”
“Mau diserahkan ke mana?”
Rais mengangkat bahu. Ia tak mau tahu lagi siapa yang akan bertanggung jawab selanjutnya.
“Kurasa aku harus berterima kasih sekali lagi.”
Rais tak menyahut. Bila tak mengingat nyawanya pernah selamat dari sergapan pemberontak karena si bule ini, enggan rasanya ia berbaik baik.
“Bagaimana dengan kakimu?” Rais berbasa-basi.
“Masih sakit. Sungguh sialan mereka itu, lebih licik dari yang kuduga.” Joe terkilir kakinya saat berlindung dari tembakan musuh. “Atau…mungkin juga aku sendiri yang sudah lamban. Bagaimana menurut Anda, kolonel?”
“Kamu sudah menjawabnya.”
Joe tertawa perlahan. Ia benar-benar sadar.
Kecepatan maupun kekuatannya telah banyak berkurang. Semasa aktif di “Air America” dan malang melintang di perbatasan Laos Kamboja Vietnam, kelesuan dan rasa lelah yang dialaminya hanya sebatas fisik. Namun saat ini rasa letih itu terasa hingga ke semangatnya.
Semula ia merasa yakin masih sanggup melakukan tugas aktif. Tapi setelah tugas ini, ia berpikir lain. Beres urusan ini ia akan menghadap komandannya di Manila. Minta pindah pos, bekerja di belakang meja.
Ketika negaranya menarik diri dari Vietnam. Ia dipindah ke Thailand, kemudian ke Filipina. Baru dua tahun ia di Indonesia.
Semula ia merasa jemu bertugas. Karena hanya melakukan tugas rutin yang pasif. Akhirnya ia menyibukkan diri dengan hobinya, fotografi. Kejemuan pun berubah jadi kesibukkan. Ia jelajahi pedalaman Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.
Ketika sedang di puncak kebetahannya. Datang perintah aktif kembali. Ia ditugaskan melacak penyelundupan senjata di Asia Tenggara dan Pasifik Selatan.
Dan itu sungguh melelahkan.
Dimulai dari Lisbon, Amsterdam, hingga Sidney, ia menyamar sebagai seorang makelar senjata. Di Bangkok ia baru berhasil masuk ke dalam jaringan perdagangan senjata gelap. Kemudian di Sidney, Australia, baru ia mendapat kontrak dengan “Orde Suci” yang membutuhkan senjata dalam jumlah besar. Tapi kedoknya terbuka sewaktu ia berhadapan dengan pimpinan gerilya Orde Suci. Ia ditangkap di perbukitan. Nyawanya mungkin tak akan tertolong bila pasukan Rais tidak menggempur basis pemberontak itu.
Rais melihat arloji, kemudian memandang keluar jendela pesawat. Pantai utara Lombok samar-samar membayang di balik mega yang berlarian.
Rais menggeleng, kerongkongannya kering. Ia memandang prajurit prajuritnya yang duduk di seberangnya. Semua nampak tertidur, begitu juga yang menempati bagian belakang.
“Di mana keluarga Anda tinggal, Kolonel?” Joe bertanya.
“Bandung.”
Joe mengangguk-angguk bagai anak ayam mengantuk. “Aku pernah berlibur ke sana.”
“Berapa putramu?” sambung Joe.
“Satu. Putri.“ Rais menjawab datar.
“Cantikkah dia?”
“Persis seperti ibunya.”
“Bahagialah Anda, kolonel,” ucap Joe sambil menghembuskan asap rokoknya dengan nikmat.
Sekilas Rais memandang Joe. Ia pun jadi mengingat sesuatu.
Bayangan istri dan putrinya berkelebat silih berganti, seakan berlomba memperlihatkan senyum keriangan. Pikirannya pun jadi menerawang jauh ke rumahnya.
Bila malam sudah larut dan sulit tidur seperti saat ini, ia sering berjalan-jalan di taman di samping rumahnya untuk menenangkan pikiran. Di taman itu ia benar-benar merasa tenang. Apalagi bila Ningsih, isterinya, bermain piano memainkan ciptaan Chopin. Keheningan kompleks di sekitar jalan Tongkeng jadi kian terasa dan menyejukkan hatinya.
Ningsih memang pandai. Mereka menikah ketika ia pulang tugas dari Kongo. Terkadang muncul rasa bersalah karena harus sering meninggalkannya. Tetapi Ningsih selalu berkata bahwa kesibukannya mengajar di sebuah SMAN bisa mengurangi kesepiannya. “Apalagi sekarang Paka sudah besar.”
Mengingat Cempaka. Rais tersenyum sendiri dalam kegelapan. Ia sebagai seorang komandan pasukan tempur, Ningsih sebagai guru bahasa Jerman, terkadang harus mengakui keunggulan Cempaka dalam bicara dan main catur. Sedang apa Cempaka saat ini?
“Burung Belibis” itu biasanya tidur larut malam. Sekarang dia kuliah di Seni Rupa. Dia semakin dewasa. Sungguh cepat waktu berlalu.
Rais mengusap wajahnya. Dirinya merasa tak beda dengan orang Amerika itu. Makin menua, dan mungkin juga lamban.
Keadaan terasa semakin gelap dan panas. Deru mesin Dakota seakan menjadi personifikasi dirinya saat itu. Meraung dalam sisa zaman. Bergerak ke gerbang terujung dari kehidupan.
“Kolonel,” bisik Joe perlahan, wajahnya serius, “Anda lihat kejanggalan mereka?”
Kening Rais berkerut, tidak paham maksud Joe.
“Anda tadi bilang mereka pasukan bantuan. Tetapi, lihat perlengkapannya! Ingat, kita hanya ke Surabaya?”
Pandangan Rais berusaha menembus keremangan. Memperhatikan prajuritprajurit di depannya. Mereka selalu menyembunyikan wajah. Satu pun tak ada yang bicara keras sebagaimana umumnya prajurit. Malah mereka kelihatan tegang, dan siaga.
Rais mengutuk rasa lelahnya. Harusnya ia berpikir. Mengapa mereka membawa perlengkapan “serbu”. Ransel besar, jumlah magasin banyak, dan juga radio jarak-jauh. “Aku harus menceknya.” bisik Rais.
Rais mendehem keras, dan bertanya pada letnan yang duduk di hadapannya. “Letnan. 700 saat ini bertugas di wilayah tengah. Siapa yang menyuruhmu hingga bisa keluar sejauh ini?”
“Sebaiknya Anda diam saja, kolonel…!”
“Apa?” rasa heran Rais lebih besar dibanding emosi atas jawaban itu.
Ucapan berikutnya membuat Rais semakin tertegun.
“Duduklah dan jangan pindah, supaya aku bisa mengawasi gerak bibir kalian walau dalam gelap sekalipun. “
Rais terkejut!
Klasifikasi orang ini bukan prajurit tempur! Mereka mempunyai kemahiran intelijen.
“Memangnya siapa kalian ini. Berani memerintah. Apa pangkatmu, hah…?!”
Joe berpikir sedetik dan bersiap mengambil senjata, namun indera keenamnya kalah cepat.
Klak! Krak! Klak! Serempak terdengar kokangan senjata.
“Diam, angkat tangan!”
Darah Rais tersirap.
Prajurit-prajurit itu bergerak cepat menodong semua penghuni kabin. Dua orang di antaranya langsung menyerbu kokpit.
Anak buah Rais terbangun, tetapi…
Buk! buk! mereka terjungkal dihantam pukulan keras popor senapan. Dan sebelum mereka sadar sepenuhnya, senjata mereka telah dilucuti.
“Hai, apa yang kalian lakukan?” Rais berseru.
Yang
berkumis tipis mendorongnya hingga ia terduduk, dengan kasar pistol di
pinggangnya dirampas.
“Tugas kecil, kolonel.“ Si letnan berdesis.
“Apa?” Rais masih diliputi keheranan. Ia tidak menduga sama sekali.
Si kumis kecil memandang sinis. “Mengambil alih semuanya.”
“Siapa komandan kalian?” bentak Rais.
"Yang perlu diketahui hanya satu. Aku tidak main-main, kolonel..”
“Hey
jaga mulutmu. Apa pangkatmu…”
“Diam! Aku tembak kalian!”
“Siapa kalian! “
“Sebentar lagi kau akan tahu.”
“Mereka pas…” Joe tak dapat melanjutkan ucapannya. Popor M-16 menghantamnya dengan kuat.
Bruk!
ia pun terpuruk. Sudut mulutnya terasa anyir. Darah.
“Aku
tak mengajakmu bicara, bule keparat.”
Rais
mencoba mencari situasi lain. “Apa yang kalian inginkan?”
Letnan itu medekat, topi bajanya dilepas dan
menggantinya dengan baret berwarna hitam. Melihat simbol tiga halilintar warna emas
dan bintang merah, Joe menelan ludah. Mereka pasukan pemberontak yang dikenal
tangguh. Kesatuan Halilintar.
Entah
setan pengkhianat mana yang membuat mereka bisa ada di sini.
“Peti-peti
itu, kolonel.” Joe berkata perlahan.
“Jangan
harap bisa mengambilnya” bentak Rais.
Dug!
Rais ditinju sampai terhenyak ke belakang.
“Aku
paling tidak suka mendengar ocehan seperti itu. Ingatlah.”
“Binatang,”
desis Rais. Ia mencoba melabrak, tapi sebuah tendangan menghantam perut.
Rais
mengaduh. Leher bajunya ditarik. Sehingga wajah mereka begitu dekat. “Aku
bukan binatang. Aku kolonel dari Angkatan Perang Republik Demokrasi Timur Raya.
Kau akan selamat, tak kurang sesuatu bila bersikap saling menghargai sebagai
sesama militer.”
Rais
merasa dadanya akan meledak, menahan amarah. “Kau bukan prajurit. Aku tahu
siapa kalian sebenarnya! Kalian hanyalah orang-orang bayaran. Kalian…Kalian
pasti bekas pengkhianat.”
Letnan
itu mendengus. ”Bagus. Ingatanmu ternyata jernih, Kolonel. Belasan tahun aku
terpaksa lari dari pihakmu. Sekarang aku akan benarbenar menikmati kejadian
ini. Nama asliku Bolil Syailah, berasal dari kesatuan…”
“Pengkhianat!”
potong Rais.
Buk!
Rais kembali mengaduh. Perutnya dihantam kembali.
“Siliwangi
sialan! Kurobek perutmu!”
Rais
bangkit, tetapi detik berikutnya terdengar salakan senjata api. Anak buah Rais
yang duduk di sekitar peti-peti ditembak dengan gencar.
Tubuh-tubuh
lelah itu pun berjungkalan bagai pohon pisang ditebas parang. Erang kematian dan
lolongan menyayat terdengar menyeramkan. Mereka tumpang tindih di atas
peti-peti!
“Peringatan pertama dariku, kolonel. Mulai sekarang tutup mulutmu!” katanya perlahan. Wajahnya tak berubah.
“Setan!” Rais berteriak.
Tiba-tiba ia menggerakkan lagi senjatanya. Tubuh-tubuh yang sedang sekarat itu kembali disiram peluru!
Keparat! Joe berteriak dalam hati. Ia memejamkan matanya.
Pandangan Rais berkunang-kunang. Ia nekad berontak. Ia menjerit keras. “Berhenti!”
Tapi dia terus menembak!
Dan baru berhenti sewaktu korbannya habis. “Sekali lagi. Kubunuh kalian semua…” desisnya penuh ancaman.
Pandangan Rais berkunang-kunang. Bau anyir dan mesiu menyengat hidung.
“Kalian…biadab!” kata Rais terputus-putus sambil memeluk tubuh anakbuahnya yang sedang meregang nyawa.
Bolil hanya mendengus.
“Siapa di belakang kalian?”
Duk! Rais tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Satu tendangan keras membuatnya terguling.
“Setan!” Rais berteriak.
“Diammm!”
“Pembunuhhh!” teriak Rais keras.
“Diammm!” teriaknya diiringi pukulan M-16.
Sekarang giliran anakbuah Rais yang ada di kursi pesawat dicecar dengan buas dari jarak dekat.
Joe memalingkan wajah, tak tahan melihat tubuh-tubuh tak berdaya disiram timah timah panas secara kejam.
Rais pun memejamkan mata.
Joe menelan ludah, kerongkongannya terasa tersekat. Keringat dinginnya bercucuran, apalagi ketika rambutnya dijambak dengan kasar.
“Nasibmu
juga tidak lebih baik dari yang kau perkirakan, tetapi kalian jangan mengharap
terlalu banyak. Aku membawa hiduphidup, bukan berarti tidak bisa mematahkan
tulang keringmu, paham…!?” Bisik si pemimpin itu.
Joe mengangguk.
Bolil tersenyum.
Setan neraka masih ramah dibanding dia, pikir Joe.
Rais terpaku. Cara kematian anakbuahnya membuat hatinya sakit. Ia menggigit bibir menahan perasaan remuk-redam.
Dengan kasar dua orang merenggut Rais dan membanting tubuhnya ke sudut dekat peti.
“Kau akan kubalas…” Rais berdesis lirih.
Bolil
tersenyum menghina “Bila tidak karena perintah membawamu hiduphidup. Yang
pertama kusikat adalah kau, kolonel”
“Terkutuk …!”
Buk! Rais terjungkal. Ia ditendang kembali.
“Tutup mulutmu. Kusayat bibirmu nanti.” Ia mengancam.
Saat itu pintu kabin terbuka. Dua tubuh penuh darah dilempar dengan kasar.
Pilot Godi dan Juniarso sudah jadi mayat. Mereka ditikam secara jorok.
“Kita sudah dapat hubungan dengan Merah Satu,” terdengar suara dari kabin pilot.
“Bagaimana situasi?”
“Beres. Kemudi di tangan Fernando.”
“Ikuti instruksi Merah Satu. Hubungi Merah Dua. Kabari mereka, kita akan segera mendarat!”
Joe menghela napas. Semua belum berakhir. Ia menghampiri Rais yang masih belum sadar sepenuhnya.
“Bangun kolonel, kurasa mereka tidak main-main.”
“Binatang… mereka itu benar-benar binatang.”
Joe mengangkat Rais dengan tertatih-tatih.
“Dasar bajingan, bunuh aku sekalian!” tiba tiba Rais berontak, Joe mencoba menahan.
“Binatang…!”
Bolil keluar dari kabin pilot. “Ikat mereka, sumbat mulutnya. Hajar bila membandel!”
“Mereka
akan mendarat, kolonel…” Joe berbisik.
Rais sudah tak peduli lagi.
Mereka
pun diikat erat.
Pesawat
Dakota tua itu terlempar dalam sejarah.
Dan
di sebuah tepian pantai utara pulau Lombok. Di sebuah kapal tanpa lampu. “Merah
Dua di sini. Merah Dua di sini, memanggil Merah Satu…”
Beberapa
detik kemudian muncul balasan dari daratan. “Merah Dua, di sini Merah Satu. Di
sini merah satu kepada Merah Dua. Merah Tiga akan mendarat. Ulangi, Merah Tiga
akan mendarat. Landasan telah siap, ulangilandasan telah siap.”
Seorang kelasi langsung memberi kabar kepada nakhoda yang sedang berdiri di anjungan.
“Bolil akan mendarat di pantai. U Te Sam siapkan sekoci untuk menjemput,” kata nakhoda kapal.
Setelah itu, nakhoda masuk ke dalam kabinnya.
Tahap pertama selesai. Ia yakin Fernando Aberoyas, pilot peranakan Portugal, veteran dari medan Angola, akan mendaratkan pesawat dengan mulus.
DC akan berputar dalam radius yang sudah diperhitungkan dan membuang bahan bakar. Lalu mendarat dengan dipandu grup Merah Dua di sebuah padang rumput datar bertanah keras di pantai utara.
Merah Satu saat ini pasti sudah menyalakan api di kedua sisi jalur pendaratan untuk memandu pilot.
Tugasnya adalah menjemput Bolil, kemudian membawanya ke utara laut Jawa. Masuk Selat Makassar dan langsung ke Pasifik Selatan menuju tempat yang sudah direncanakan.
Pulau
Kabilat.
BEBERAPA
JAM KEMUDIAN DI JAKARTA.
Brigjen
Kulyubi menerima laporan dalam bahasa sandi. “Gelas kiriman hilang di atas
Lombok. SAR aktif total. Laporan berikut menyusul.”
Ia terdiam sejenak. Ia memang hemat reaksi. Ia hanya membetulkan letak kacamatanya, mendehem, lalu memanggil bawahannya.
“Panggil Kolonel Oskar. Kirim berita ini ke Pangab!”
“Siap jenderal, laksanakan.”
Kulyubi duduk sambil mengisap cerutu. Mulai berpikir menguliti masalah, mencari arah penyelesaian.
Hari
harinya akan panjang.
Oskar
datang padanya dengan laporan terakhir intelijen.
Pesawat
diketemukan, termasuk mayat awak dan anakbuah Rais. Emas rampasan hilang. Rais
dan Joe Adams tidak ditemukan. Nasibnya belum bisa dipastikan.
“Bagaimana
laporan dari pangkalan udara di sana?” tanya Kulyubi.
“Emmanuel Meliala. Komandan pangkalan ada di belakang semua ini. Terbukti dari copy surat terakhir sebelum ia bunuh diri.“
Kulyubi
membaca singkat.
Musuh berhasil membuat perwira itu tersudut. Tak punya pilihan lain. Mereka akan menghabisi keluarganya bila tak memenuhi perintah. Emmanuel dipaksa untuk mempermudah pemberontak yang menyamar sebagai personil ABRI untuk ikut serta dalam pesawat. Setelah semuanya dikerjakan, Komandan yang malang itu menembak kepalanya sendiri.
“Yang
ini pasti lebih menarik.” Oskar menyerahkan dokumen.
Kulyubi
masih tetap muram sewaktu meneliti data-data tersebut.
Begitu
juga saat membuka permasalahannya. “Duta besar yang baru itu benar-benar licin.
Mereka memberi informasi tentang adanya barter senjata yang dilakukan militer
korup Korea Utara. Tetapi mereka meminta kita yang bertindak.”
“Dia
tahu, bahwa kepentingan kita lebih besar dalam masalah ini,“ balas Oskar.
Kulyubi
mengangguk. Emas itu merupakan hasil tambang di pedalaman utara, yang disembunyikan
pemberontak sejak sebelum pecah revolusi. Mereka menyimpannya di kubu yang
direbut Rais.
“Kau
yakin akan informasi ini?” Kulyubi bertanya.
“Data
tak bisa diragukan. Pemberontak maupun pihak lain akan berpikir tujuh kali
untuk menembus blokade ALRI. Pilihan menukar senjata di pulau itu masuk akal.
Dari Kabilat ke Irian Timur sekitar 90 menit penerbangan. Di Nuigini, Bougenville,
banyak pesawat terbang carteran yang bisa dipakai untuk mengangkut senjata.
Radar AURI maupun ALRI terbatas, tak bisa memantau seluruh daerah secara
terus menerus, membuat jalur Irian Timur ke NTT relatif aman bagi mereka. Di
wilayah itu banyak jalur udara yang tidak bisa kita pantau. Kita harus mengirim
pasukan ke Kabilat. Apa pun risikonya.”
“Mendagri
dan Menlu pasti menentang.”
“Tapi
Pangab maupun Kasad tak akan mau bila pemberontak memiliki lebih banyak
senjata, yang bisa membunuh pasukan kita di front timur.”
Kulyubi
mendesah. “Itu hal mudah, yang sulit adalah legalitasnya. Status zone
internasional pulau itu bisa menyulitkan pemerintah.”
Pulau
Kabilat memang merupakan pulau sengketa. Berdasarkan perundingan di PBB,
untuk sementara pulau Kabilat dijadikan zone Internasional.
“Kita
tak mungkin menunggu dan lapor dahulu ke PBB untuk bisa memasukinya secara
formal. Prosesnya akan lama. Karena itu kita mlakukan aksi terbatas.
Diam-diam dan akurat…” komentar Oskar. “8000 senjata laras panjang berbagai
tipe. 100 buah mortir, ribuan butir peluru, bukan masalah yang harus didiamkan.
Fakta penting yang bisa menguntungkan kita hanya satu, bila AS berkepentingan
dalam hal ini, PBB pasti bungkam. Juga Filipina yang dekat pulau itu tak
akan ribut. Presiden Filipina tidak secerewet PM Malaysia atau PM Singapura.”
Kulyubi
mengangguk.
Namun
latar belakang, proses, pelaku, serta penyelidikan dari kejadian tersebut
tidak sedikit pun diberitakan kepada Harun.
Oskar
telah mewakili peristiwa itu, dengan hanya satu pertanyaan singkat. “Kau mau
balik lagi ke pulau Kabilat?”
Harun
menarik napas.
Nama
tempat yang jadi rahasia dan sudah dilupakannya itu, seminggu terakhir ini
begitu sering terdengar lagi di telinganya.
Sepanjang
yang diketahuinya. Pulau itu di luar jalur pelayaran umum. Jarang dilewati,
namun untuk kepentingan militer global, merupakan sebuah posisi kunci untuk
wilayah luar Pasifik selatan.
Ia
pernah aktif di Kabilat. Sebuah pulau kecil dengan alam yang sulit. Butuh
waktu untuk mengetahui seluk-beluknya. Samar-samar ia mulai menangkap apa
yang diinginkan perwiraperwira itu. “Mengapa tidak langsung saja pada
masalah?”
Oskar
memandang tajam. Brigjen Kulyubi tetap tenang.
“Kita
punya target penting di sana.” kata Oskar.
“Itu
berarti ada musuh…” pikir Harun, “Siapa yang dihadapi?’
“Orde
Suci.”
“Orde
Suci? Bukankah gerakan mereka di Indonesia timur?”
Oskar
menatap serius. “Saat ini Kabilat secara rahasia dimanfaatkan Orde Suci, jadi
basis untuk menampung bantuan dari luar negeri.”
“Itu
di luar wilayah Indone…”
“Ya,
dan jauh dari Indonesia timur, pusat kegiatan mereka. Di Kabilat, mereka
merasa aman untuk melakukan aktifitas pendukung. Pulau itu sulit dicapai.”
“Begitu
juga untuk ABRI?”
Kulyubi
tersenyum.
“Gila,
senyumnya ramah sekali. Tapi, sungguh aku tak menyukainya,” pikir Harun.
Oskar
menukik pada inti persoalan. “Target ada di gua 24F bukit 251. Kamu bisa
mengantar ke sana secara cepat dan tepat.”
Santoso
mengikuti hal itu dengan sudut matanya.
Melihat
Harun terdiam, Oskar kembali berbicara menekan. “Perlu kuingatkan. Buang
pikiranmu untuk berdalih menghindari persoalan ini! Keadaan di luar belum
berubah. Statusmu tetap buronan.”
Harun
mesem, kecut. “Gila,” pikirnya.
Di
sana memang banyak gua dan terowongan, menyesatkan bagi yang tidak mengenalnya.
Gua guanya panjang, gelap, berliku, dengan langitlangit rendah sebagaimana
tinggi badan orang Jepang. Gua 24F adalah gua utama. Bekas markas komando
Jepang, yang juga dijadikan pos utama kegiatan Fabian Ferte, penyelundup Filipina.
“Bagaimana?”
Harun
tersenyum masam. “Mereka mulai main peras. Aku tak mau kalah begitu saja,”
pikirnya. Ia jadi ingin berputar-putar, “Boleh merokok dulu?”
Santoso
menoleh. Gemas.
Tapi
Kulyubi tersenyum dan tanpa ragu mendekatkan asbak.
Harun
mendadak salah tingkah, ia segera mengatasi keadaan.
“Jenderal
ini hanya senyum senyum saja. Belum bicara apa apa dari tadi. Aku harus
waspada, Jenderal ini pintar sekali.” Ia ambil rokok kepunyaan Oskar,
“Terimakasih…” namun pikirannya jadi makin liar.
“Gua
24F punya akses ke pelabuhan. Apa yang harus saya kerjakan?” kata Harun sambil
menyulut rokoknya.
Santoso
memperhatikan gerak geriknya dengan sinis.
“Tugasmu
hanya penunjuk jalan. Dan itu cukup!” tegas Oskar.
Harun
tersenyum kecut. Hatinya seperti dilecut. “Apa tidak ada hal lain yang lebih
penting dari sekadar mengantar?”
“Apa
alasan kau merasa penting dalam urusan ini?” potong Santoso.
“Supaya
bisa berpikir panjang tentang risikonya.”
Mendengar
ucapan itu Santoso tidak bisa menahan diri, ia memotong lagi dengan ketus.
“Sesuatu yang penting bagimu belum tentu dipandang perlu atau pantas untuk
dijelaskan padamu.”
Oskar
mengangguk.
Harun
menyeringai, perutnya mendadak mual. Ia selalu begitu bila merasa tegang.
“Kau
pernah mendengar nama Midas Intercontinental?”
“Tidak.”
bisik Harun.
“MV
Kwang Hung?”
Harun
merasa pahanya bergetar, menahan gejolak. Kini ia mengerti mengapa sampai duduk
berhadapan dengan jenderal ini. Nama kapal itu tidak asing baginya. “Fabian
Ferte sering berhubungan dengan kapal itu,” jawab Harun perlahan.
Kulyubi
lagi lagi hanya tersenyum tipis. Tapi sekarang pakai anggukan kepala.
“Targetnya
senjata?” Harun bertanya. Ia merasa harus mulai berani.
“Itu
bukan urusanmu,” potong Santoso.
“MV
Kwang Hung selalu berhubungan dengan senjata,” kata Harun. Mengapa mayor ini,
kok senewen terus…
“Kau
bebas menduga.” Oskar menyela.
Harun
mengangkat bahu. Gua 24F mempunyai banyak ruangan. Dibutuhkan waktu yang
lumayan untuk mencek setiap ruangannya. Lokasi lain yang memungkinkan untuk
menyimpan barang ukuran besar hanya di pelabuhan Kabilat. Namun dermaga
Kabilat hanya memiliki dua gudang, itu pun tidak bisa dipakai lagi.
Mereka
pasti belum mengetahui secara detail. Aku harus jual mahal, pikir Harun. Ia pun
coba memancing, “Bagaimana sekiranya target ada di tempat lain?”
“Di
tempat lain? Maksudmu, di pelabuhan? Itu akan ditentukan kemudian oleh
komandan misi. Karena itu, kau harus bekerja sama dengan Mayor Santoso yang
akan memimpin misi ini.”
Mendengar
perkataan Oskar, Santoso menelan ludah.
“Berapa
besar sasarannya? Dengan mengetahui jumlah atau jenisnya. Setidaknya bisa
dikira-kira tempat untuk menyembunyikannya.”
Mendengar
perkataan Harun, Kulyubi menarik nafas. Dia tidak tersenyum lagi.
“Kau
akan diberi tahu, tapi tergantung keadaan,” Oskar menimpal.
“Boleh
saya menawar?” pancing Harun.
“Apa
maksudmu?” tukas Oskar.
Wajah
Jenderal Kulyubi mulai serius mendengar itu.
“Saya
buatkan peta, dan…”
“Bila
hanya peta yang kuperlukan, kau tidak akan di sini. Aku tak butuh ingatanmu
untuk membuat peta atau semacamnya. Tapi butuh tenagamu untuk mengantar ke
tempat itu,” suara Oskar semakin tegas.
Santoso
merasa sesak dadanya. Diminta seperti itu, bajingan ini makin besar kepala,
apalagi dipuji demikian rupa.
Harun
berpikir. “Mereka sudah tahu gambaran umum medannya, hingga merasa perlu
seseorang yang paham tempat tersebut. Terowongan dan gua-gua di sana banyak
lika-likunya, jika tidak hafal, bisa tersesat. Ini jelas bisa membuat risiko
tak perlu.” Harun tetap penasaran. “Apa saya punya pilihan lain ?”
“Tidak.”
Kulyubi berkata perlahan.
Harun
terkesiap. Baru sekarang jenderal bintang satu ini buka suara. Singkat, tegas,
dan memvonis. Benar-benar bukan orang sembarangan.
“Masalah
ini sangat berat, jenderal…,” Harun mencobacoba mencari celah.
Kulyubi
tersenyum ramah sekali. Nadanya halus dan tenang. “Kolonel Oskar sudah pernah
membicarakan hal itu. Kamu memang sulit mencari pilihan lain. Tetapi apa
salahnya kamu melakukan yang terbaik, dari dua pilihan yang sama buruknya.
Bukankah demikian, mayor?”
Ditanya
demikian, Santoso yang dari tadi agak tertekan menyahut dengan sedikit serak,
“Ya dan harus!”
Harus?
Enak saja! Mayor ini memang sentimen. “Jelasnya bagaimana…” balas Harun
penasaran.
“Seperti
yang pernah kukatakan. Pilihanmu hanya dua. Terima pekerjaan ini atau
menunggu polisi Medan menjemputmu. Yang terakhir itu jelas, minimal 12 tahun
penjara,” potong Oskar.
“Kalau
saya menerimanya?”
“Kita
hanya akan pura-pura tidak tahu siapa orangnya, yang membunuh Yap Kun Hin.”
Suara Oskar mulai ketus.
Mendengar
ucapan yang terakhir. Harun agak naik. “Saya bukan pembunuh, tetapi…”
“Kau
bisa menjelaskan hal itu pada hakim. Bukan pada kami,” sela Kulyubi.
Harun
melengos. Darahnya mengalir cepat. Pikirannya mengatakan ia harus menerima
kenyataan. Tetapi hatinya berbisik sebaliknya. Solusinya, ia bertanya lagi,
“Hanya itu imbalannya?”
“Ya.
Mungkin nanti bila semua sudah selesai, mungkin kami bisa memikirkan hal yang
lebih baik lagi,” kata Kulyubi dengan tenang. Gayanya menyejukkan, tetapi
kata-katanya tidak menggembirakan.
Apalagi
perkataan Santoso, “Itu pun kalau kamu masih selamat.”
Gila.
Aku tersudut lagi, bisik hati Harun. ”Justru itu. Ini bukan main-main, ini
menyangkut hidup mati saya, makanya saya mempertanyakan hal itu.”
“Sekarang
ini kau sedang berurusan dengan militer. Kamu tidak bisa menuntut di luar apa
yang telah digariskan,“ nada Oskar meninggi.
Ini
pemerasan. Harun ingin berseru, tetapi percikan-percikan kecil di hatinya
melarang untuk bersikap keras. Ia berpaling ke Santoso.
Melihat
gaya Santoso yang selalu ketus, satu sentakan muncul. Harun jadi segan
mengalah. Ia ingin membuat Santoso semakin jengkel. “Boleh minta kopi?”
Oskar
dan Santoso berkerut keningnya. Kulyubi sebaliknya. Ia tersenyum dan menekan
interkom. “Tolong buatkan kopi. Empat.”
Jenderal
ini benar-benar tangguh, pandai membaca situasi dan kondisi seseorang, pikir
Harun. “Berapa lama misi itu?”
“Jadi,
kau sudah punya pilihan?” balas Kulyubi sambil memandangnya.
“Itu
tergantung kesepakatan bersama.”
“Aku
ingin dengar, dari sisi mana kau melihat adanya kesepakatan.” Kulyubi
memotong dengan halus. Harun berdehem, telinganya yang tidak gatal digaruk.
”Mengapa saya yang dipilih?” kata Harun seenaknya. Ia sebenarnya tak punya
tujuan lagi.
Kulyubi
tidak menjawab.
Harun
menarik nafas. Pasti dari Interpol, mereka tahu aku pernah di Kabilat. Namaku
ada di sana. Interpol selalu membuat laporan pelaku kejahatan kriminal internasional
kepada negara bersangkutan. Begitu ada masalah ini, AD pasti mencari informasi
tentang Kabilat. Intelijen pasti memberikan data dirinya pada mereka. Sialan!
Tapi
Harun ingin tahu lebih lanjut, “Apakah selain saya tidak ada yang tahu tentang
Kabilat?”
“Alasan
memilihmu sangat sederhana dan sama sekali tidak istimewa. Kamu mudah dicari,
juga buronan, karena itu dipastikan tidak bisa menolak.” Oskar akhirnya
menyahut.
Schak
maat, mati aku pikir Harun.
“Makanya
kau jangan menilai dirimu terlalu tinggi…” Oskar menimpali.
“Satu hal lagi yang perlu dipahami. Ini bukan pemerasan. Namun satu tawaran kerja sama. Dalam situasi kritis. Militer bebas menentukan dengan pihak mana melakukan kerjasama. Juga ada kemungkinan, ini sebuah kesempatanmu untuk melakukan sesuatu demi…”
“Tanah
Air…” Harun memotong ucapan Oskar.
“Bukan.
Tapi untuk dirimu sendiri.” Kulyubi menyela.
Harun
memandang tak mengerti.
Senyum
jenderal ini sungguh misterius. Keramahannya ibarat keindahan pemandangan
lembah A Shau, Vietnam Selatan. Begitu mempesona tapi berisi ribuan jebakan.
Harun jadi was-was.
Kulyubi
bangkit sambil menunjuk peta Asia Tenggara ukuran besar di dinding. “Kita
tahu kegiatanmu di masa lalu. Begitu juga dengan semua latarbelakangmu. Tidak
banyak orang yang bersedia melakukan hal sia-sia sepertimu. Pasti harus ada
alasannya. Begitu juga denganmu. Pasti ada sesuatu yang kau inginkan dan kau
cari. Sehingga kamu rela berpetualang di sepertiga wilayah Asia Tenggara.”
“Itu
hanya upaya supaya tetap hidup.”
“Logikanya
demikian. Tetapi kurasa hal itu tidak sepenuhnya benar.”
“Maksudnya?”
“Bagimu.
Semua itu adalah gaya hidup.“
Harun
menyeringai. “Tapi saya tetap tak mau mengorbankan nyawa sia-sia. Saya bukan
militer…”
Kulyubi
mengangguk di balik asap tembakaunya. “Ya, betul. Kau memang bukan tipe
patriot. Apalagi nasionalis. Kau hanya debu dari kotoran dunia. Namun satu
hal yang tak bisa kau ingkari. Alasan bahwa semua itu hanya untuk sekedar
hidup, adalah bualan kosong. Sekedar menutupi hal yang lebih esensial dari
pandangan hidupmu. Karena itu, dengan melibatkanmu dalam persoalan ini, Aku
tidak melakukan kesalahan. Karena, aku yakin tawaran ini sesuai dengan
semangat profesimu sendiri.”
Harun
tidak berkomentar.
Rangsangan
kecil yang dirasakannya sejak beberapa hari yang lalu terasa makin bersatu,
namun ia masih sulit menangkap artinya. Hanya getarannya saja yang bisa
ditangkap.
Ucapan Kulyubi, walau arahnya tidak jelas, disambutnya dengan tawa renyah. Menunggu apa yang akan terjadi.
Tetapi bagi Santoso itu sudah lebih dari cukup. Bajingan ini terlalu diberi angin. Kata kata Kulyubi semakin memberi kesempatan kepada bajingan ini untuk merasa lebih benar dalam segala tindakannya.
Santoso bukan tidak mengerti masalah ini. Tapi melakukan misi di mana seorang bajingan turut campur, ia belum bisa menerima. Walau peran bajingan ini hanya sebagai penunjuk jalan. Ingin ia menyatakan pendapat, namun tujuan dan kondisi tidak memungkinkan untuk menentang yang tidak disetujuinya. Apalagi bila mengingat sumpah prajurit. Tak mungkin menolak perintah atasan, gara gara penilaian pribadi semata.
Tetapi
bajingan ini sungguh memuakkan…
“Bukankah
begitu, mayor?” Kulyubi bertanya.
Santoso
mengangguk. Hatinya kesal.
Kopi
datang. Harun belum ingin mengaku kalah. “Kalau saya mati bagaimana?”
tanyanya dengan acuh tak acuh.
“Dunia
tetap berputar,” balas Kulyubi enteng.
“Bila
selamat?”
“Aku
tidak tersinggung seandainya kamu membuang muka bila sekali waktu kita
bertemu lagi.”
Pura-pura
tidak mengenalku? Gila! Mereka akan menyangkal pernah melibatkanku dalam
misi ini! Hal ini pasti mereka lakukan demi keamanan di masa mendatang bila
diriku tertangkap. Bukankah aku buronan? Jadi, apa artinya aku bagi mereka? Apa
lagi yang bisa kuperbuat.
Harun
mulai menakarnakar situasi yang dimilikinya. “Hanya itu? Bagaimana dengan kasus
Medan?”
“Itu
urusan kejaksaan dan polisi.”
“Boleh
mengajukan penawaran lagi?”
Kulyubi
menggeleng. “Ini sudah final.”
“Berarti
pekerjaan ini tidak punya nilai sama sekali untuk masa depan saya?”
“Tergantung
dari sudut penilaianmu sendiri, bila mengharapkan nilai materi, aku akan
menolak karena ABRI pantang memakai serdadu sewaan. Dan sebenarnya, apa kau
punya masa depan?” Kulyubi sambil tersenyum. Harun terdiam.
“Mengenai
kasusmu, tentunya kau berharap kami membebaskanmu. Itu pun mustahil. AD tidak
berhak untuk itu. Seharusnya kami menyeret dan memberikanmu kepada polisi
Medan. Seandainya kau menilai tawaran kami tadi tak ada artinya, itu keliru
besar. Ingat, anggota polisi yang kau bunuh di Medan itu ABRI juga. Pikirlah
baik-baik sebelum kau menyesal.” kata Kulyubi sambil menatap tajam.
Harun
mendengus, ia semakin sadar posisinya. Ia berusaha mempertahankan
eksistensinya, agar tidak terlalu dianggap remeh. Ia ingin sedikit dianggap,
bukan hanya dilihat seperempat mata. Ia melihat sebuah celah untuk membuat
mereka mengakui bahwa dirinya cukup layak untuk mengetahui soal terpenting dari
masalah ini, “Ini pekerjaan penuh risiko. Boleh saya tahu lebih jelas target
dan tujuan misi…”
“Kita
sudah menjelaskan hal itu. Tugasmu hanya mengantar,” sahut Oskar.
“Tetapi
nyawa saya taruhannya. Saya harus tahu untuk apa semua ini? Apa targetnya, dan
mengapa hal ini terjadi?”
“Kau
melangkah terlalu jauh,” Oskar menyela.
“Karena
saya merasa ditekan terlalu dalam,” balas Harun.
“Kau
memang pantas mendapatkannya.”
Kata-kata
Santoso membuat Harun tertegun. Gila, ini benarbenar gila.
Kulyubi
memperlihatkan kebijaksanaannya. “Bila hal itu membuatmu penasaran, hanya
sedikit yang bisa kujelaskan. Pemberontak akan mendapat suplai senjata dan kita
akan mencegahnya.
“Kapan
itu dilaksanakan?”
“Kau
sudah mulai kelewatan,” Oskar mulai berang.
Harun
mengguman. Banyak pertimbangan di benaknya. Tetapi, ada satu hasrat terpendam
yang mulai menari di dalam hatinya.
“Apalagi?”
Kulyubi agak berubah nadanya. Dia mulai kelihatan tak sabar.
Harun
memandang langit-langit. Ia merasa disepelekan sekaligus dibutuhkan. “Apakah
saya diberi waktu untuk berpikir?”
“Tidak.”
Kata Kulyubi sambil mematikan api tembakaunya di asbak.
Gerakannya
cepat, sikapnya berubah.
Jenderal
itu mulai nampak keras. “Cukup, kau tidak usah berputarputar lagi. Aku yakin
kau sudah punya kepastian. Kau sebenarnya sudah tahu, bahwa kau tak punya
pilihan,” katanya.
Dia
menyambung lebih tegas, angkernya mulai nampak. “Ingat. Ini sama sekali tidak
berarti aku tidak punya penggantimu. Dalam misi ini, aku hanya ingin
realistis. Aku butuh seseorang untuk mempersingkat waktu. Selain bisa
mencari jalan, aku pun bisa menghindari beberapa korban dari pasukanku.”
“Risiko
saya juga mungkin sama dengan risiko yang harus dihadapi anakbuah bapak.”
“Memang,
tetapi itu bukan alasan kuat untuk membuatmu manja. Ingat, aku bisa berubah
pikiran. Dalam satu detik kau bisa sangat tidak berarti bagiku. Bahkan untukmu
sendiri.”
“Apa
ini ancaman?”
“Bukan.
Hanya peringatan agar kau berpikir cepat, bahwa belasan tahun dibalik terali
lebih buruk dibanding dikejar peluru. Dan aku bukan termasuk orang yang sabar
dalam urusan seperti ini. Begitu juga dengan Kolonel Oskar dan Mayor Santoso.
Mengerti!” Kulyubi mengakhiri kata katanya dalam sikap garang.
Sikap
Kulyubi seakan isyarat bahwa genderang telah berbunyi.
Ujung
waktu sudah ditentukan.
Harun
membaca situasi. Ia masih ingin hidup bebas. Ia pun mengambil sikap. “Tetapi
dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Status
saya tetap di luar hukum militer.”
Kulyubi
terdiam, begitu juga Santoso dan Oskar. Santoso mengepalkan tinju menahan
amarah.
Namun
jawaban tegas dari Kulyubi semakin mengecilkan Harun, “Tidak. Kau sepenuhnya
ada dalam pengawasan militer. Kau wajib mengikuti semua program misi.
Termasuk yang berhubungan dengan seluruh persiapannya.”
“Apa
itu?” Harun penasaran.
“Menjalani
persiapan fisik,” jelas Oskar.
“Kalau
saya menolak,” balas Harun dengan cepat. Ia tidak sudi lagi dihajar
habis-habisan dalam program latihan. Ia merasa sudah cukup berpengalaman.
“Pilihanmu
hanya satu. Ikuti semua atau batal seluruhnya.”
Harun
terdiam.Tangannya terkepal.
Deru
mobil terdengar sayup-sayup. Mendadak Kulyubi bangkit. Gerakannya gesit. Map
dan surat di mejanya langsung dibereskan.
Suasana
berubah drastis.
“Kolonel.
Perintahkan Biro A bergerak. PO dimulai malam ini. Cabut semua cuti di seksi
VI. Santoso, kerjakan keputusan rapat terakhir. Lanjutkan rencana ke tahap
berikut. Laksanakan!” Perintahnya. Pasti dan tidak ingin dibantah.
“Siap.
Laksanakan!” Oskar dan Santoso menjawab berbarengan sambil berdiri sigap.
Harun
mengisap rokok sambil memandang langit langit.
“Dan
kamu, mulai detik ini ada di bawah pengawasan militer. Aku tak mau ada
keluhan.“ kata Kulyubi masih dalam nada tak ingin dibantah.
Kerongkongan
Harun terasa disumbat. Ia tak tahu harus berbuat bagaimana.
Kulyubi
berjalan cepat meninggalkan ruangan. Harun tertawa masam.
Oskar
mendekatinya, “Kamu ikut dengan Santoso.”
“Ke
mana?”
“Kau
akan tahu nanti.”
Sialan.
“Rajawali
mulai bangkit”
Harun
mulai merasakan ketajaman angin dari kepakan sayapnya. Ia seakan terlempar ke
sebuah ruang. Ruang penuh tanya, tapi tanpa jawab.
Waktu
menujukkan pukul 04.35 WIB.
Aku
akan seperti dulu lagi?
Gila!