Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

RAJAWALI



1. RAJAWALI

Suatu malam di Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah. Jakarta.

Waktu menunjukkan pukul 00.03 WIB ke­­tika pesawat Cassa milik AD itu mendarat.

Santoso bangkit, lalu melangkah menu­ju landasan. Ia sudah tak sa­bar ingin melihat tam­pang orang yang membuatnya harus menunggu lebih dari satu jam.

Juga yang telah membuatnya kesal pada atasannya. Ia ditarik dari Timor untuk tugas khusus. Tugas berat dan berbahaya adalah biasa, tidak pernah jadi beban. Na­mun untuk se­ka­li ini ia merasa­kan hal yang ti­dak biasa.

“Dia lebih tepat disebut bajing­an. Ku­­harap hal itu tidak merusak ca­ra ker­jamu,” ka­ta Ko­lonel Oskar se­wak­tu menjelaskan ten­tang tugas khusus tersebut.

Bajingan?

“Bukannya aku ragu, atau ber­maksud melecehkanmu. Sama sekali tidak. Dia kulibat­kan da­lam misi ini demi keakuratan pe­­­­­laksana­an. Aku ya­kin, setidaknya ia akan memberi peluang lebih besar dalam kon­disi informasi yang terbatas saat ini,” tambah Oskar.

Santoso tersengat hatinya, tapi Oskar tak memberi kesempatan untuk bertanya lebih jauh. Malah terasa kian menyudutkan­nya de­ngan perintah menjemput langsung ke lapang­an ter­bang.

“Haruskah saya menjemput?”

“Ya. Saat ini aku tak ingin mempercayai orang lain,”  kata Os­kar da­­lam si­kap tidak ingin di­bantah.

Mengingat hal itu Santoso ingin segera ber­sua dengan ba­jingan ter­­se­but.

Hawa dingin dan hembusan angin malam kian menusuk, membuat wajahnya yang keras semakin kaku.

Bajingan itu berjaket hijau lusuh, memakai celana dari kain kasar berwarna sa­ma. Lagaknya menyebalkan.

Orang ini sungguh tak pantas berurusan dengan AD, harusnya dengan kepolisian atau kejaksaan. Sekilas Santoso bisa menyimpulkan, bajingan ini se­­nang memutarbalikkan keadaan. Menggampangkan persoalan pelik, tetapi membikin pelik persoalan yang gampang.

Harun melepas ransel, kemudian menggeliat sekadar melen­turkan tulang pinggang. 30 menit naik pesawat militer membuat tu­buhnya pe­gal.

Gendang telinganya berdenging keras.

Jadi militer sungguh mengharukan. Perlengkapannya selalu dibawah standar kenyamanan. Seharusnya mereka protes, agar para pe­rancang me­­nyadari, bahwa dunia militer bukan dunia yang hanya layak dijejali yang serba keras. Prajurit pun patut menikmati ke­nya­manan yang pantas.

Harun melihat seseorang berdiri membelakangi lampu. Melihat war­­­na baretnya, Harun yakin perwira itu utusan Kolonel Oskar.

Ia ingin segera istirahat, tapi mustahil dapat dilakukan. Perwira itu pasti akan langsung membawanya kepada Kolonel Oskar, dan itu berarti 3 atau 4 jam kemudian ia baru bisa tidur. Oskar menyenangi obrolan dan petunjuk yang tidak singkat.

Harun mendekat, “Selamat malam.” Tangannya terulur meng­ajak sala­m­an. Senyumnya dipasang lebar.

Santoso tak bereaksi. Ia hanya menatap tajam, “Kita hanya pu­nya waktu 20 menit. Ikut aku!” kata Santoso bernada perintah sam­bil berbalik menuju ke luar gedung.

Heh? Harun tertegun. Siapa orang ini, kok begitu angker?

Ia menghampiri seorang pengawal, “Minta api. Siapa dia itu?” tanyanya sambil menyulut rokok kretek.

“Mayor Santoso. Jagoan perang.“

Jagoan perang?

Masuk akal bila tak memandang sebelah mata padaku, pikirnya.

Sewaktu ia menghampiri mobil, rasa kagumnya menjadi gun­cang.

“Matikan rokokmu.”

Harun tertegun. Tapi tak membantah. Rokoknya dihisap agak la­ma lalu di­­buangnya. Sambil menginjak rokok yang masih menyala, ia meng­ang­guk dan berkata perlahan. “Ya, Pak.”

Di kendaraan Santoso tetap diam. Akal se­­hatnya berontak dan tak mengerti. Untuk apa orang ini ha­­rus ambil bagian dalam tu­­gasnya.

Harun duduk di belakang. Pura-pura tak mengerti situasi, dan mencoba bersikap ramah “ Boleh tahu tujuan kita, mayor?”

“Ke Komandan Operasi.”

Harun manggut. “Oskar ada di sana, mayor?” tanyanya lagi, sam­­bil me­­­­­lihat lampu-lampu Jakarta yang semarak.

Sebuah mobil muncul dari arah berlawanan, sorot lampunya me­­nyilau­kan. Harun terpejam beberapa detik. Ketika membuka mata, ter­dengar San­­­toso bicara geram, “Bapak Kolonel Oskar…!”

Harun merasakan getar kekesalan, tapi ia tetap berusaha mera­mahkan diri.

“Menunggu dari jam berapa, mayor?”

Tak ada sahutan.

Harun mengangkat bahu. Ia merogoh saku. Sial. Sudahlah tak boleh me­­­ro­kok, permen karetnya juga habis. Akhirnya ia memandang keluar. Se­­buah ik­lan di billboard ukuran raksasa menarik perhatiannya.

BUKAN DIA. BUKAN PULA DIA. TAPI INI DIA, MASCOT KITA!

Harun bersandar dan memejamkan mata, sekedar mencoba melupakan semuanya.

Di bawah cahaya lampu yang tidak begitu terang. Markas besar yang bergaya arsitektur Neo-Klasik atau Art Deco Ornamental peninggalan za­man kolonial itu tampak angkuh.

Pagarnya tinggi, terbuat dari besi dicat hitam. Di gardu jaga tampak pengawal dengan M-16 di tangan.

Dua meriam Howitzer peninggalan PD II berubah fungsi men­jadi hiasan di ha­laman rumput. Menyiratkan keangkeran para peng­huninya.

Mobil berhenti di depan bangunan utama. Harun memandang keadaan sekelilinngnya. Sunyi, lenggang.

Bayangan dimensi ornamen gedung nampak tegas, suasana miskin ca­haya kian terasa. Beberapa bagian dindingnya berlumut tebal. Pertanda peng­huninya lebih sibuk mengurus perang daripada memikirkan cat tembok.

Harun merasa urusannya tidaklah ringan. Pentolan-pentolan militer yang mendiami markas seperti ini tak mung­kin merencana­kan se­suatu yang kepalang tanggung.

Melihat gaya Harun celingukan kanan-kiri, Santoso bertam­bah se­bal. Dasar keledai! umpatnya dalam hati.

“Cepat!” perintah Santoso setengah membentak.

Harun tertegun. “Hei mengapa dia marah-marah terus. Salah apa aku ini? “

Santoso naik tangga. Harun mengikuti dari belakang sambil berguman tak jelas.

Ruang depan markas itu cukup luas. Berlantai marmer warna coklat. Suara sepatu mereka bergema keras ketika melintasinya.

 

Mereka menuju lantai dua. Lalu belok ke kiri menuju sebuah lorong panjang dengan ruang kantor di kiri-kanannya.

 

Diam-diam Harun geli sendiri sewaktu membaca tulisan di pintu pintu sepanjang lorong itu. Kemahiran tentara membuat sing­katan patut diberi acungan jempol. Lugas, polos, praktis.

 

Di ujung lorong, seorang bintara sibuk dengan pekerjaannya. Ke­tika melihat Santoso, dengan sigap ia berdiri dan memberi hormat, “Siap…”

 

Santoso membalas dengan cepat.

 

Sewaktu liwat di dekatnya Harun nyeletuk sambil tersenyum, “Lembur, pak.”

 

Santoso berpaling, ”Apa maksudmu?”

 

“Tid….tidak apa apa mayor,“ ujar Harun acuh tak acuh.

 

Dasar bajingan!

 

Mereka naik lagi. Di lantai tiga mereka menuju pintu paling ujung.

 

Harun melihat sebuah papan tergantung di daun pintu bertuliskan “Danops” (Komandan Operasi).

 

Santoso mengetuk pintu.

 

“Siapa dia, mayor?” tanya Harun sambil menunjuk papan itu.

 

Santoso berpaling dengan pandangan kesal. Seperti akan menelan Harun. 

“Ya, masuk!” terdengar suara dari dalam.

Ada dua orang di situ.

Di belakang meja utama duduk seorang lelaki tegap. Agak gemuk dan tidak terlalu tinggi. Tampak santai sambil mengisap pipa cang­klongnya. Rambutnya disisir rapi. Berdahi lebar, dengan bibir tipis yang nampaknya sering dipakai senyum. Pandangannya tajam dengan kesan ramah yang kuat. Karakter intelektualnya terpancar sempurna.

Waktu sudah menunjukam lebih dari tengah malam, tetapi seragamnya masih rapi. Harun punya pikiran lain. Bila orang ini mengenakan baju batik ditambah kopiah, pasti akan lebih disangka anggota MUI daripada seorang perwira Tinggi AD.

Satu bintang emas di pundaknya tampak berkilau. Seorang Brigadir Jenderal. Harun membaca nama di dadanya: Kulyubi.

Satu tokoh asing bagi Harun. Baru saat ini ia berjumpa. Intuisinya berbisik. Jenderal ini seorang yang patut diperhitungkan. Begitu tenang, dan bisa dipas­tikan mempunyai kecerdikan di atas rata-rata.

Harun merasa sedang berhadapan dengan seorang “Raja­wali”. Se­­orang pejuang. Gung Ho. Pemberani dan juga perintis ja­lan keras.

Di samping Kulyubi duduk Kolonel Oskar yang sudah dike­nalnya.

“Duduklah!” Oskar menyambut.

“Bagaimana mayor, lancar?” Oskar membuka percakapan.

Santoso mengangguk berat.

“Harun, ini Brigjen Kulyubi yang pernah kuceritakan.”

Harun tersenyum seulas sambil mengangguk. Entah menga­pa, me­lihat jenderal ini hatinya jadi sedikit miris.

“Kuharap semua lancar. Begitu juga hendaknya dengan tugas yang akan kau terima,” sambung Oskar.

 

Tugas?!

 

Santoso menelan ludah. Kata-kata itu terlampau mulia bagi se­orang bajingan.

 

Harun tertawa tapi hatinya mulai tak tenteram.

 

“Aku yakin kau akan menyenanginya.” Oskar berkata lagi.

 

“Hmm… itu tergantung dari…”

“Dari daya ingatmu tentang pulau Kabilat,” Santoso memotong dengan ketus. Sebenarnya ia tak ingin membuka suara, tetapi melihat gaya bicara Harun ia jadi tak tahan.

Harun tersenyum masam. Ia merasa harus berhati-hati.

“Ya, pulau Kabilat. Tempat petualanganmu yang terakhir.” ka­ta Os­kar dengan tenang. Nadanya sedikit berubah dan mulai se­rius.

Santoso merasa kursi yang didudukinya panas. Ia ingin se­muanya ce­pat berakhir. Namun Oskar sebaliknya. Kolonel ini baru saja mulai.

33 hari yang lalu. Pukul 22.04 di angkasa Indonesia bagian timur.

Sebuah pesawat tua DC TNI AD menembus kegelapan ma­lam.

Di kokpit pesawat, kapten pilot Godi Barna, untuk kesekian ka­linya melihat ke luar jendela. Ia merasa tidak tenteram, gelisah, dan diusik rasa was-was. Pesawat yang dikemudikannya memang su­dah payah, tetapi bukan itu penyebabnya.

10.30 ia menerima perintah. ”Ini tugas khusus. Jadi tidak perlu banyak pertanyaan, baik mengenai prosedur, apa yang akan di­muat, atau mengenai pesawat yang digunakan. Semua sudah diatur dari atas. Tugasmu hanya membawanya ke Surabaya. In­truksi selanjutnya menyusul di pangkalan. Jelas?” kata komandan Emmanuel Maleala.

Semula Godi menganggap hal ini masalah biasa, tetapi beberapa jam kemudian semuanya berubah.

Sewaktu melapor lagi, Emmanuel tak ditemukan. Hanya se­pucuk surat perintah dititipkan untuknya. Ia harus ke Surabaya membawa petipeti yang dikawal pasukan pilihan.

Ketika melihat penampilan pasukan tersebut, Godi berani ber­­taruh, mereka itu baru lepas dari pertarungan yang keras. Di an­tara mereka tampak seorang lelaki kulit putih, yang juga lusuh, kumal, dan lelah.

Godi tak tertarik untuk mengetahui isi puluhan peti bawaan mereka. Ia lebih tertarik kepada pimpinan regu itu. Dilihat dari strip di bahunya, pangkatnya adalah kolonel, pangkat yang terlalu berlebihan untuk sekedar mengawal petipeti.

Kondisi kolonel sama dengan para prajuritnya. Wajah penuh keringat, seragam loreng kotor, koyak, dan penuh lumpur. Se­bagaimana lazimnya tanda mata dari medan tempur yang berat. Penampilannya garang, ta­pi tak cukup kuat menyembunyikan apa yang dideritanya saat itu.

 

Macan yang lelah, bisik Godi dalam hati.

 

“Kapten Godi?” Kolonel itu bertanya.

 

“Ya.”

“Aku Rais Arifin. Rupanya kita harus berangkat sekarang.”

“Siap kolonel. Tapi tunggu sebentar, “ Godi pergi ke ruang komando. Di sana, seorang petugas memberikan sepucuk surat, “Dari Komandan.”

Isinya berupa perintah. Ia harus memakai pesawat DC?

Godi terkejut, “Mengapa?”

“C130-nya rusak.”

“Mustahil!” Pesawat Hercules itu sudah diperiksa dan tidak ada ma­salah.

“Saya pun tak tahu mengapa …” ujar petugas sambil berlalu.

Brengsek! Apa Emmanuel lupa DC itu ha­rusnya ada di pasar loak? DC tua itu memang masih jalan, tapi hanya untuk keperluan transport daerah pesisir. Itu pun kalau darurat, dan harus diperiksa dulu berulang kali oleh teknisinya. Namun saat ini, hanya pesawat itu yang ada di pang­kalannya. Sulit dimengerti, tapi itu kenyataan­nya.

Ketika hal ini dilaporkan kepada Rais, kolonel itu jadi berang, “Aku tidak peduli pesawat apa yang tersedia. Yang penting cepat berangkat, agar tugas memuakkan ini tuntas. Me­­ngerti kapten!?” ujar­nya serak.

 

“Ya, kolonel. “

“Siapkan pesawatmu!”

Kolonel itu berbalik dan berbicara dengan lelaki kulit putih berpenampilan lusuh.

Gangguan belum berhenti.

Ketika pesawat sudah siap, muncul sebuah truk berisi satu re­gu pra­jurit da­­lam se­­­ragam tempur dan bersenjata lengkap. Dilihat da­ri  badge yang melekat di bahu mereka, pasukan ini tentu berasal da­ri kesatuan lain.

Seorang letnan bertopi baja turun menghampiri Rais.

Mereka terlibat pembicaraan serius. Rais tampak marah dan me­­nolak permintaan letnan tersebut. Tak lama kemudian keduanya pergi ke ruang komunikasi pangkalan.

10 menit mereka di sana.

Dengan wajah kusam penuh rasa mangkel Rais berseru ke­pada Godi, “Kep, kita berangkat sekarang! Bawa juga mereka!”

Semua peristiwa itu menyebabkan Godi kurang genah.

Juniarso Irawan, co-pilot, tahu akan hal itu. Ia menawarkan minuman, ”Kopi kep…!”

“Menurutmu, bagaimana para penumpang kita ini?” ujar Godi sambil menerima minuman.

“Apa yang dikhawatirkan?”

Godi terdiam. Ia sulit menjelaskan. Perasaan bukanlah alasan kuat untuk membuktikan sebuah kenyataan. “Tidak. Lupakan sa­ja. Mung­kin aku sedang lelah…”

Juniarso diam tak berkomentar. Suasana membisu. Keduanya menatap ke depan, memandang gumpalan awan yang seakan menerjang menghampiri.

Pesawat terus melaju, turun-naik menyiasati gumpalan udara. Sua­ra mesin bergema monoton, seperti erangan seorang tua yang sedang diintai ke­matian.

Di kabin penumpang terasa pengap. Panas dan suram.

Cahaya lampu di ruang itu sangat terbatas. Membuat suasana yang sudah remang semakin tidak nyaman untuk dinikmati.

Sebagaimana umumnya pesawat angkut militer jenis ini, tempat duduk penumpangnya memanjang di kedua sisi badan pesawat dengan posisi berhadapan.

Delapan orang prajurit Lintas Udara (LINUD) duduk tak teratur di bagian kiri, dekat ruang pilot. Mereka sudah tak mampu menahan penat. Semua tidur pulas. Senjata dan peralatannya bertumpuk di dekat kaki masing-masing. Begitu juga dengan empat temannya di bagian be­lakang. Bergelim­pangan dekat tumpukan peti yang dika­walnya. Deng­kur mereka turun-naik.

Di bagian tengah, di seberang mereka, sembilan perajurit da­ri kesatuan lain yang baru naik nyaris sama. Duduk tak bergeming tanpa suara. Pemimpinnya yang berkumis tipis sesekali melirik sekitar, memperhatikan keadaan.

 Kolonel Rais duduk berdampingan dengan si lelaki kulit putih.

 Penampilan mereka sama berantakan. Rasa lelah dan sisa sisa ketegangan terpahat kuat di wajah masing-masing.

Rais duduk bersandar. Ia benar-benar lemas dan lelah. Ber­ulang kali ia memejamkan ma­ta. Men­­­coba tidur, tetapi selalu gagal. De­ru mesin sulit diajak kom­promi. Ka­­­­sar dan bising. Akhirnya, ia pun menyerah dan berusa­ha melupakan hasrat tidurnya dengan me­mandang ke luar jendela.

 

Tugas yang diembannya sekarang ini menguras hampir seluruh potensinya. Begitu keras, menghancurkan, sekaligus memuakkan dan menyedihkan.

 

Tiga minggu yang lalu, setelah empatbe­­las bulan bertugas,  ke­satuan­nya ditarik dari garis depan. Namun sewaktu pasukannya su­dah siap naik kapal untuk kembali ke pulau Jawa, datang perin­tah men­dadak untuk merebut satu kubu pemberontak yang sudah dipastikan sebagai tempat pe­nyimpanan barang berharga.

“Kolonel, kita hanya punya sidikit waktu untuk menguasai kubu itu. Lakukan sekarang juga! Bila terlambat sedikit saja, kita akan ke­hilangan peluang untuk menguasai harta pemberontak yang bernilai tinggi.”

Sambil menahan berbagai perasaan. Ia berhasil menekan le­dakan tak puas anakbuahnya, dan langsung menggerakkan peleton terbaiknya untuk melaksanakan tugas tersebut. Hal itu berakibat fatal.

Semangat pulang kampung sudah merajai hati pasukannya. Gairah juang mereka tinggal separuh. Tapi mereka berhasil juga me­rebut basis pem­berontak sebagaimana yang diperintahkan, se­ka­li­gus men­da­pat jawaban ten­tang pentingnya tu­gas merebut basis tersebut.

Pasukan Rais menemukan banyak peti besi, tetapi isinya membuat dia tidak tenteram. Batangan emas murni!

Ia segera menyusul dan datang ke kubu yang direbut itu.

Pemberontak pasti berusaha merebutnya kembali. Ia tak boleh bertahan lama di tempat itu. Perbekalan pasukannya minim. Ia hanya punya waktu terbatas. Rais langsung minta bantuan eva­kuasi.

Tetapi keadaan tak memungkinkan.

“Ada gerakan pasukan pemberontak di selatan. Kemungkinan be­­sar akan me­lintas ke tempatmu. Mengirim bantuan lewat udara tak mungkin. Heli su­lit mendarat. Medannya penuh pohon tinggi. Melalui jalan darat ju­ga sama, berisiko tinggi. Dalam tempo be­be­rapa jam, musuh akan menutup jalan ke bukit itu. Kalau dipaksa­kan, berarti harus datang da­ri arah Ba­rat dan butuh waktu lama. Sebaiknya kau segera keluar sebelum me­­reka mengisolir daerah itu.”

 

“Apapun yang terjadi, kirim heli ke sini!” kata Rais pada Pusat Komando.

 

“Tak mungkin, semua sedang dipakai operasi ke Timur. Di si­ni ha­nya ada dua heli. Satu rusak, satunya lagi tak berpilot. Let­nan Sya­fii Anwar sa­kit malaria…”

 

Rais geram. “Mana panglima? Hubungkan dengan dia!”

 

“Panglima sedang rapat gabungan. Sekarang ada di KRI Multatuli. Maaf kolonel.”

 

Rais berpikir cepat. Ia tak bisa menunggu lagi. Ia harus mem­ba­wa pasukannya keluar, membawa puluhan peti rampasan ke pang­kal­an udara terdekat.

 

Peristiwa berikutnya di luar dugaan.

 

Selama perjalanan, mereka mendapat sergapan mematikan da­ri pa­sukan pem­­berontak. Namun pengalaman di medan tempur mem­buat pasukannya bisa bertahan dan berhasil lolos dari lubang jarum. Yang membuat Rais berang adalah sikap Pusat Komando. Berkali kali ia minta bantuan, namun tak pernah terlaksana.

Akibatnya mengerikan. Peleton terbaik yang dimilikinya, yang se­harus­nya pulang dan berkumpul kembali dengan keluarga se­telah masa tugas panjang, menjadi hancur berantakan.

8 prajurit gugur, termasuk seorang letnan yang andal. 7 luka berat, 18 luka ringan.

Sekarang Rais kian tidak mengerti. Dalam keadaan terjepit, ban­tuan tak per­nah muncul. Mengapa di pangkalan udara di­beri tam­bahan penga­wal? Mengapa tidak sejak dari gunung?

Ia benar-benar gusar, kesal, dan juga lelah.

Tanpa sadar ia menarik napas sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan.

Joe Adams yang duduk di sampingnya juga demikian. Orang kulit pu­tih ini adalah tawanan pemberontak. Dia bebas setelah Rais me­nguasai kubu ter­­sebut.

Rais yakin si bule ini memiliki kaitan erat dengan peti-peti yang ditemukannya. Namun ia merasa terlampau marah untuk mengetahui segala sesuatunya lebih mendalam. Ia sudah muak de­ngan peti-pe­ti itu!

Joe Adams juga tampak tak bisa tenang. Sibuk mencari cara du­­duk yang nyaman. Ia menyeringai melihat Rais gagal menga­lahkan pe­nat, “Masih berpikir tentang peti-peti itu, Kolonel?”

Rais mendengus kesal, “Aku tak peduli. Nilainya tak seban­ding de­ngan harga pasukanku.”

“Mau diserahkan ke mana?”

Rais mengangkat bahu. Ia tak mau tahu lagi siapa yang akan bertanggung jawab selanjutnya.

“Kurasa aku harus berterima kasih sekali lagi.”

Rais tak menyahut. Bila tak mengingat nyawanya pernah se­lamat da­ri sergapan pemberontak karena si bule ini, enggan rasanya ia berbaik baik.

“Bagaimana dengan kakimu?” Rais berbasa-basi.

“Masih sakit. Sungguh sialan mereka itu, lebih licik dari yang ku­­duga.” Joe terkilir kakinya saat berlindung dari tembakan mu­suh. “Atau…mungkin juga aku sendiri yang sudah lamban. Bagai­mana menurut Anda, kolonel?”

“Kamu sudah menjawabnya.”

Joe tertawa perlahan. Ia benar-benar sadar.

Kecepatan maupun kekuatan­nya telah banyak berkurang. Semasa aktif di “Air America” dan malang melintang di perbatas­an Laos Kamboja Vietnam, kelesuan dan rasa lelah yang dialaminya hanya sebatas fisik. Namun saat ini rasa letih itu terasa hingga ke semangatnya.

Semula ia merasa yakin masih sanggup melakukan tugas ak­tif. Tapi setelah tugas ini, ia berpikir lain. Beres urusan ini ia akan menghadap komandannya di Manila. Minta pindah pos, be­kerja di belakang me­ja.

Ketika negaranya menarik diri dari Vietnam. Ia dipindah ke Thailand, kemudian ke Filipina. Baru dua tahun ia di Indonesia.

Semula ia merasa jemu bertugas. Karena hanya melakukan tu­gas rutin yang pasif. Akhirnya ia menyibukkan diri dengan ho­binya, fo­tografi. Kejemuan pun berubah jadi kesibukkan. Ia jelajahi pedalaman Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.

Ketika sedang di puncak kebetahannya. Datang perintah aktif kembali. Ia ditugaskan melacak penyelundupan senjata di Asia Tenggara dan Pasifik Selatan.

Dan itu sungguh melelahkan.

Dimulai dari Lisbon, Amsterdam, hingga Sidney, ia menyamar sebagai seorang makelar senjata. Di Bangkok ia baru berhasil ma­suk ke dalam ja­ringan perdagangan senjata gelap. Kemudian di Sidney, Aus­tralia, baru ia mendapat kontrak dengan “Orde Suci” yang mem­bu­tuhkan senjata dalam jum­lah besar. Tapi kedoknya terbuka sewaktu ia berhadapan dengan pim­pinan gerilya Orde Su­­­ci. Ia ditangkap di per­bukitan. Nyawanya mung­kin tak akan terto­long bila pasukan Rais tidak menggempur basis pemberontak itu.

Rais melihat arloji, kemudian memandang keluar jendela pesawat. Pantai utara Lombok samar-samar membayang di balik mega yang berlarian.

 “Kolonel?” Joe menawarkan rokok.

Rais menggeleng, kerongkongannya kering. Ia memandang prajurit prajuritnya yang duduk di seberangnya. Semua nampak ter­tidur, begitu juga yang menempati bagian belakang.

“Di mana keluarga Anda tinggal, Kolonel?” Joe bertanya.

“Bandung.”

Joe mengangguk-angguk bagai anak ayam mengantuk. “Aku per­­nah berlibur ke sana.”

“Berapa putramu?” sambung Joe.

“Satu. Putri.“ Rais menjawab datar.

“Cantikkah dia?”

“Persis seperti ibunya.”

“Bahagialah Anda, kolonel,” ucap Joe sambil menghembus­kan asap rokoknya dengan nikmat.

Sekilas Rais memandang Joe. Ia pun jadi mengingat sesuatu.

Bayangan istri dan putrinya berkelebat silih berganti, seakan ber­­lomba memperlihatkan senyum keriangan. Pikirannya pun jadi menerawang jauh ke rumahnya.

Bila malam sudah larut dan sulit tidur seperti saat ini, ia sering ber­jalan-jalan di taman di samping ru­mahnya untuk menenangkan pi­kiran. Di taman itu ia benar-benar merasa tenang. Apalagi bila Ningsih, isterinya, bermain piano memainkan ciptaan Chopin. Keheningan kompleks di sekitar jalan Tongkeng jadi kian terasa dan menyejukkan hatinya.

Ningsih memang pandai. Mereka menikah ketika ia pulang tugas dari Ko­ngo. Terkadang muncul rasa bersalah karena harus sering meninggalkannya. Te­­tapi Ningsih selalu berkata bahwa kesibukannya meng­ajar di sebuah SMAN bisa mengurangi kesepi­annya. “Apalagi se­karang Paka sudah besar.”

Mengingat Cempaka. Rais tersenyum sendiri dalam kege­lapan. Ia se­bagai seorang komandan pasukan tempur, Ningsih se­bagai guru ba­hasa Jer­­man, terkadang harus mengakui keung­gulan Cempaka da­lam bicara dan main catur. Sedang apa Cempaka saat ini?

“Burung Belibis” itu biasanya tidur larut malam. Sekarang dia ku­liah di Seni Rupa. Dia semakin dewasa. Sungguh cepat waktu berlalu.

Rais mengusap wajahnya. Dirinya merasa tak beda dengan orang Amerika itu. Makin menua, dan mungkin juga lamban.

Keadaan terasa semakin gelap dan panas. Deru mesin Dakota seakan menjadi personifikasi dirinya saat itu. Meraung dalam sisa za­man. Bergerak ke gerbang ter­ujung dari kehidupan.

“Kolonel,” bisik Joe perlahan, wajahnya serius, “Anda lihat kejanggal­an mereka?”

Kening Rais berkerut, tidak paham maksud Joe.

“Anda tadi bilang mereka pasukan bantuan. Tetapi, lihat perlengkapannya! Ingat, kita hanya ke Surabaya?”

Pandangan Rais berusaha menembus keremangan. Memperhatikan prajuritprajurit di depannya. Mereka selalu menyembunyikan wajah. Satu pun tak ada yang bicara keras sebagaimana umumnya prajurit. Malah mereka kelihatan tegang, dan siaga.

Rais mengutuk rasa lelahnya. Harusnya ia berpikir. Mengapa mereka membawa perlengkapan “serbu”. Ransel besar, jumlah magasin banyak, dan juga radio jarak-jauh. “Aku harus menceknya.” bisik Rais.

Rais mendehem keras, dan bertanya pada letnan yang duduk di ha­dap­an­nya. “Letnan. 700 saat ini bertugas di wilayah tengah. Siapa yang menyuruhmu hingga bisa keluar sejauh ini?”

 Letnan itu mengangkat wajahnya. “Mengapa menanyakan hal itu, kolonel?”

 “Siapa Dan Yonmu?”

“Sebaiknya Anda diam saja, kolonel…!”

“Apa?” rasa heran Rais lebih besar dibanding emosi atas jawaban itu.

Ucapan berikutnya membuat Rais semakin tertegun.

“Duduklah dan jangan pindah, supaya aku bisa mengawasi ge­rak bibir kalian walau dalam gelap sekalipun. “

Rais terkejut!

Klasifikasi orang ini bukan prajurit tempur! Mereka mempunyai kemahiran intelijen.

“Memangnya siapa kalian ini. Berani memerintah. Apa pangkatmu, hah…?!”

Joe berpikir sedetik dan bersiap mengambil senjata, namun indera keenamnya kalah cepat.

Klak! Krak! Klak! Serempak terdengar kokangan senjata.

“Diam, angkat tangan!”

Darah Rais tersirap.

Prajurit-prajurit itu bergerak cepat menodong semua penghuni kabin. Dua orang di antaranya langsung menyerbu kokpit.

Anak buah Rais terbangun, tetapi…

Buk! buk! mereka terjungkal dihantam pukulan keras popor se­napan. Dan sebelum mereka sadar sepenuhnya, senjata mereka telah dilucuti.

“Hai, apa yang kalian lakukan?” Rais berseru.

 

Yang berkumis tipis mendorongnya hingga ia terduduk, de­ngan kasar pistol di pinggangnya dirampas.

“Tugas kecil, kolonel.“ Si letnan berdesis.

“Apa?” Rais masih diliputi keheranan. Ia tidak menduga sama sekali.

Si kumis kecil memandang sinis. “Mengambil alih semuanya.”

“Siapa komandan kalian?” bentak Rais.

"Yang perlu diketahui hanya satu. Aku tidak main-main, kolonel..”

 

“Hey jaga mulutmu. Apa pangkatmu…”

“Diam! Aku tembak kalian!”

“Siapa kalian! “

“Sebentar lagi kau akan tahu.”

“Mereka pas…” Joe tak dapat melanjutkan ucapannya. Popor M-16 menghantamnya dengan kuat.

Bruk! ia pun terpuruk. Sudut mulutnya terasa anyir. Darah.

 

“Aku tak mengajakmu bicara, bule keparat.”

Rais mencoba mencari situasi lain. “Apa yang kalian inginkan?”

 

 Letnan itu medekat, topi bajanya dilepas dan menggantinya dengan baret berwarna hitam. Melihat simbol tiga halilintar warna emas dan bintang merah, Joe menelan ludah. Mereka pasukan pemberontak yang dikenal tangguh. Kesatuan Halilintar.

 

Entah setan pengkhianat mana yang membuat mereka bisa ada di sini.

 

“Peti-peti itu, kolonel.” Joe berkata perlahan.

 

“Jangan harap bisa mengambilnya” bentak Rais.

 

Dug! Rais ditinju sampai terhenyak ke belakang.

 

“Aku paling tidak suka mendengar ocehan seperti itu. Ingatlah.”

 

“Binatang,” desis Rais. Ia mencoba melabrak, tapi sebuah tendangan menghantam perut.

 

Rais mengaduh. Leher bajunya ditarik. Sehingga wajah mere­ka be­gitu de­kat. “Aku bukan binatang. Aku kolonel dari Angkatan Perang Republik Demokrasi Timur Raya. Kau akan selamat, tak ku­rang sesuatu bila bersikap saling menghargai sebagai sesama militer.”

 

Rais merasa dadanya akan meledak, menahan amarah. “Kau bukan pra­ju­rit. Aku tahu siapa kalian sebenarnya! Kalian hanyalah orang-orang bayaran. Kalian…Kalian pasti bekas pengkhianat.”

 

Letnan itu mendengus. ”Bagus. Ingatanmu ternyata jernih, Kolonel. Belasan tahun aku terpaksa lari dari pihakmu. Sekarang aku akan benarbenar menikmati kejadian ini. Nama asliku Bolil Syailah, berasal dari kesatuan…”

 

“Pengkhianat!” potong Rais.

 

Buk! Rais kembali mengaduh. Perutnya dihantam kembali.

 

“Siliwangi sialan! Kurobek perutmu!”

 

Rais bangkit, tetapi detik berikutnya terdengar salakan senjata api. Anak buah Rais yang duduk di sekitar peti-peti ditembak dengan gencar.

 

Tubuh-tubuh lelah itu pun berjungkalan bagai pohon pisang ditebas parang. Erang kematian dan lolongan menyayat terdengar menyeramkan. Mereka tumpang tindih di atas peti-peti!

“Peringatan pertama dariku, kolonel. Mulai sekarang tutup mu­­lutmu!” katanya perlahan. Wajahnya tak berubah.

“Setan!” Rais berteriak.

Tiba-tiba ia menggerakkan lagi senjatanya. Tubuh-tubuh yang sedang sekarat itu kembali disiram peluru!

Keparat! Joe berteriak dalam hati. Ia memejamkan matanya.

Pandangan Rais berkunang-kunang. Ia nekad berontak. Ia men­­jerit keras. “Berhenti!”

Tapi dia terus menembak!

Dan baru berhenti sewaktu korbannya habis. “Sekali lagi. Kubunuh kalian semua…” desisnya penuh ancaman.

Pandangan Rais berkunang-kunang. Bau anyir dan mesiu menyengat hidung.

“Kalian…biadab!” kata Rais terputus-putus sambil meme­luk tubuh anak­buahnya yang sedang meregang nyawa.

Bolil hanya mendengus.

“Siapa di belakang kalian?”

Duk! Rais tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Satu ten­dangan keras membuatnya terguling.

“Setan!” Rais berteriak.

“Diammm!”

“Pembunuhhh!” teriak Rais keras.

“Diammm!” teriaknya diiringi pukulan M-16.

Sekarang giliran anakbuah Rais yang ada di kursi pesawat dicecar dengan buas dari jarak dekat.

Joe memalingkan wajah, tak tahan melihat tubuh-tubuh tak berdaya disiram timah timah panas secara kejam.

Rais pun memejamkan mata.

Joe menelan ludah, kerongkongannya terasa tersekat. Ke­ringat di­nginnya ber­­cucuran, apalagi ketika rambutnya dijambak de­ngan ka­sar.

“Nasibmu juga tidak lebih baik dari yang kau perkirakan, tetapi ka­lian jangan mengharap terlalu banyak. Aku membawa hiduphidup, bu­kan berarti tidak bisa mematahkan tulang keringmu, paham…!?” Bisik si pemimpin itu.

Joe mengangguk.

Bolil tersenyum.

Setan neraka masih ramah dibanding dia, pikir Joe.

Rais terpaku. Cara kematian anakbuahnya membuat hatinya sakit. Ia menggigit bibir menahan perasaan remuk-redam.

Dengan kasar dua orang merenggut Rais dan membanting tubuhnya ke sudut dekat peti.

“Kau akan kubalas…” Rais berdesis lirih.

Bolil tersenyum menghina “Bila tidak karena perintah membawamu hiduphidup. Yang pertama kusikat adalah kau, kolonel”

“Terkutuk …!”

Buk! Rais terjungkal. Ia ditendang kembali.

“Tutup mulutmu. Kusayat bibirmu nanti.” Ia mengancam.

Saat itu pintu kabin terbuka. Dua tubuh penuh darah dilempar dengan kasar.

Pilot Godi dan Juniarso sudah jadi mayat. Mereka ditikam secara jorok.

“Kita sudah dapat hubungan dengan Merah Satu,” terdengar suara dari kabin pilot.

“Bagaimana situasi?”

“Beres. Kemudi di tangan Fernando.”

“Ikuti instruksi Merah Satu. Hubungi Merah Dua. Kabari mereka, kita akan segera mendarat!”

Joe menghela napas. Semua belum berakhir. Ia menghampiri Rais yang masih belum sadar sepenuhnya.

“Bangun kolonel, kurasa mereka tidak main-main.”

“Binatang… mereka itu benar-benar binatang.”

Joe mengangkat Rais dengan tertatih-tatih.

“Dasar bajingan, bunuh aku sekalian!” tiba tiba Rais beron­tak, Joe mencoba menahan.

“Binatang…!”

Bolil keluar dari kabin pilot. “Ikat mereka, sumbat mulutnya. Hajar bila membandel!”

“Mereka akan mendarat, kolonel…” Joe berbisik.

Rais sudah tak peduli lagi.

Mereka pun diikat erat.

Pesawat Dakota tua itu terlempar dalam sejarah.

 

Dan di sebuah tepian pantai utara pulau Lombok. Di sebuah kapal tanpa lampu. “Merah Dua di sini. Merah Dua di sini, memanggil Merah Satu…”

 

Beberapa detik kemudian muncul balasan dari daratan. “Merah Dua, di sini Merah Satu. Di sini merah satu kepada Merah Dua. Merah Tiga akan mendarat. Ulangi, Merah Tiga akan mendarat. Landasan telah siap, ulangilandasan telah siap.”

Seorang kelasi langsung memberi kabar kepada nakhoda yang se­dang berdiri di anjungan.

“Bolil akan mendarat di pantai. U Te Sam siapkan sekoci un­­tuk menjemput,” kata nakhoda kapal.

Setelah itu, nakhoda masuk ke dalam kabinnya.

Tahap pertama selesai. Ia yakin Fernando Aberoyas, pilot peranakan Portugal, veteran dari medan Angola, akan mendaratkan pe­sa­wat dengan mulus.

DC akan berputar dalam radius yang sudah diperhitungkan dan membuang bahan bakar. Lalu mendarat dengan dipandu grup Merah Dua di sebuah pa­­dang rumput datar bertanah keras di pantai utara.

Merah Satu saat ini pasti sudah menyalakan api di kedua sisi jalur pendaratan untuk memandu pilot.

Tugasnya adalah menjemput Bolil, ke­­mudian membawanya ke uta­ra laut Jawa. Masuk Selat Makassar dan langsung ke Pasifik Selatan menuju tempat yang sudah direncanakan.

 

Pulau Kabilat.

 

BEBERAPA JAM KEMUDIAN DI JAKARTA.

 

Brigjen Kulyubi menerima laporan dalam bahasa sandi. “Gelas kiriman hilang di atas Lombok. SAR aktif total. Laporan berikut menyusul.”

Ia terdiam sejenak. Ia memang hemat reaksi. Ia hanya mem­be­tulkan letak kacamatanya, mendehem, lalu memanggil bawah­an­nya.

“Panggil Kolonel Oskar. Kirim berita ini ke Pangab!”

“Siap jenderal, laksanakan.”

Kulyubi duduk sambil mengisap cerutu. Mulai berpikir menguliti masalah, mencari arah penyelesaian.

 

Hari harinya akan panjang.

 

 8 HARI setelah kejadian.

 

Oskar datang padanya dengan laporan terakhir intelijen.

 

Pesawat diketemukan, termasuk mayat awak dan anakbuah Rais. Emas rampasan hilang. Rais dan Joe Adams tidak ditemu­kan. Nasibnya belum bisa dipastikan.

 

“Bagaimana laporan dari pangkalan udara di sana?” tanya Kulyubi.

“Emmanuel Meliala. Komandan pangkalan ada di belakang se­mua ini. Terbukti dari copy surat terakhir sebelum ia bunuh di­ri.“

 

Kulyubi membaca singkat.

Musuh berhasil membuat perwira itu tersudut. Tak punya pi­lihan lain. Mereka akan menghabisi keluarganya bila tak me­menuhi pe­rintah. Em­manuel di­­paksa untuk mempermudah pembe­rontak yang me­nyamar se­bagai personil ABRI untuk ikut serta da­lam pesawat. Se­telah semuanya di­kerjakan, Komandan yang malang itu menembak ke­palanya sendiri.

 

“Yang ini pasti lebih menarik.” Oskar menyerahkan dokumen.

 

Kulyubi masih tetap muram sewaktu meneliti data-data tersebut.

 

Begitu juga saat membuka permasalahannya. “Duta besar yang baru itu benar-benar licin. Mereka memberi informasi ten­tang ada­nya barter senjata yang dilakukan militer korup Korea Utara. Tetapi me­reka meminta kita yang bertindak.”

“Dia tahu, bahwa kepentingan kita lebih besar dalam masalah ini,“ balas Oskar.

Kulyubi mengangguk. Emas itu merupakan hasil tambang di pedalaman utara, yang disembunyikan pemberontak sejak se­belum pecah revolusi. Mereka menyimpannya di kubu yang di­­re­but Rais.

“Kau yakin akan informasi ini?” Kulyubi bertanya.

“Data tak bisa diragukan. Pemberontak maupun pihak lain akan ber­pikir tujuh kali untuk menembus blokade ALRI. Pilihan menukar senjata di pulau itu masuk akal. Dari Kabilat ke Iri­an Ti­mur sekitar 90 menit pe­nerbangan. Di Nuigini, Bougenville, banyak pesawat terbang carteran yang bisa dipakai untuk meng­ang­kut senjata. Ra­dar AURI maupun ALRI ter­batas, tak bisa memantau selu­ruh daerah se­cara terus menerus, membuat ja­lur Irian Timur ke NTT relatif aman bagi mereka. Di wilayah itu banyak jalur udara yang tidak bisa kita pantau. Kita harus mengirim pa­sukan ke Ka­bilat. Apa pun risikonya.”

“Mendagri dan Menlu pasti menentang.”

“Tapi Pangab maupun Kasad tak akan mau bila pemberontak memiliki lebih banyak senjata, yang bisa membunuh pasukan kita di front timur.”

 

Kulyubi mendesah. “Itu hal mudah, yang sulit adalah legali­tas­nya. Status zone internasional pulau itu bisa menyulitkan pemerintah.”

Pulau Kabilat memang merupakan pulau sengketa. Berdasar­kan pe­rundingan di PBB, untuk sementara pulau Kabilat dijadikan zone Internasional.

“Kita tak mungkin menunggu dan lapor dahulu ke PBB untuk bisa memasukinya secara formal. Prosesnya akan lama. Ka­rena itu kita mlakukan ak­si terbatas. Diam-diam dan akurat…” ko­mentar Oskar. “8000 senjata laras panjang berbagai tipe. 100 buah mortir, ribuan butir peluru, bukan masalah yang ha­rus didiamkan. Fakta penting yang bisa menguntungkan kita hanya sa­tu, bila AS ber­kepentingan dalam hal ini, PBB pas­­ti bungkam. Ju­­ga Filipina yang dekat pu­lau itu tak akan ribut. Presiden Filipina tidak secerewet PM Malaysia atau PM Singapura.”

 

Kulyubi mengangguk.

Namun latar belakang, proses, pelaku, serta penye­lidikan dari kejadian tersebut tidak sedikit pun diberitakan kepada Harun.

Oskar telah mewakili peristiwa itu, dengan hanya satu perta­nya­an singkat. “Kau mau balik lagi ke pulau Kabilat?”

Harun menarik napas.

Nama tempat yang jadi rahasia dan sudah dilupakannya itu, seminggu terakhir ini begitu sering terdengar lagi di telinganya.

Sepanjang yang diketahuinya. Pulau itu di luar jalur pelayaran umum. Jarang dilewati, namun untuk kepentingan militer global, merupakan sebuah posisi kun­­ci untuk wilayah luar Pasifik selatan.

Ia pernah aktif di Kabilat. Sebuah pulau kecil dengan alam yang su­lit. Bu­tuh waktu untuk menge­ta­hui seluk-beluknya. Samar-sa­mar ia mulai me­nangkap apa yang diinginkan perwiraperwira itu. “Mengapa tidak lang­sung saja pada masalah?”

Oskar memandang tajam. Brigjen Kulyubi tetap tenang.

“Kita punya target penting di sana.” kata Oskar.

“Itu berarti ada musuh…” pikir Harun, “Siapa yang dihadapi?’

“Orde Suci.”

“Orde Suci? Bukankah gerakan mereka di Indonesia timur?”

Oskar menatap serius. “Saat ini Kabilat secara rahasia dimanfaatkan Orde Suci, jadi basis untuk menampung bantuan dari luar negeri.”

“Itu di luar wilayah Indone…”

“Ya, dan jauh dari Indonesia timur, pusat kegiatan mereka. Di Ka­bilat, mereka merasa aman untuk melakukan aktifitas pendukung. Pulau itu sulit dicapai.”

“Begitu juga untuk ABRI?”

Kulyubi tersenyum.

“Gila, senyumnya ramah sekali. Tapi, sungguh aku tak menyukainya,” pikir Harun.

Oskar menukik pada inti persoalan. “Target ada di gua 24F bukit 251. Kamu bisa mengantar ke sana secara cepat dan tepat.”

Santoso mengikuti hal itu dengan sudut matanya.

Melihat Harun terdiam, Oskar kembali berbicara menekan. “Perlu kuingatkan. Buang pikiranmu untuk berdalih menghindari persoalan ini! Keadaan di luar belum berubah. Statusmu tetap buronan.”

 

Harun mesem, kecut. “Gila,” pikirnya.

Di sana memang banyak gua dan terowongan, menyesatkan bagi yang tidak mengenalnya. Gua guanya panjang, gelap, berliku, de­ngan langitlangit rendah sebagaimana tinggi badan orang Jepang. Gua 24F adalah gua utama. Bekas markas komando Jepang, yang ju­ga dijadikan pos utama kegiatan Fabian Ferte, penyelundup Filipina.

“Bagaimana?”

Harun tersenyum masam. “Mereka mulai main peras. Aku tak mau kalah begitu saja,” pikirnya. Ia jadi ingin berputar-putar, “Boleh merokok dulu?”

 

Santoso menoleh. Gemas.

Tapi Kulyubi tersenyum dan tanpa ragu mendekatkan asbak.

Harun mendadak salah tingkah, ia segera mengatasi keadaan.

“Jenderal ini hanya senyum senyum saja. Belum bicara apa apa dari tadi. Aku harus waspada, Jenderal ini pintar sekali.” Ia ambil rokok kepunyaan Oskar, “Terimakasih…” namun pikirannya jadi makin liar.

“Gua 24F punya akses ke pelabuhan. Apa yang harus saya kerjakan?” kata Harun sambil menyulut rokoknya.

Santoso memperhatikan gerak geriknya dengan sinis.

“Tugasmu hanya penunjuk jalan. Dan itu cukup!” tegas Oskar.

Harun tersenyum kecut. Hatinya seperti dilecut. “Apa tidak ada hal lain yang lebih penting dari sekadar mengantar?”

“Apa alasan kau merasa penting dalam urusan ini?” potong Santoso.

“Supaya bisa berpikir panjang tentang risikonya.”

Mendengar ucapan itu Santoso tidak bisa menahan diri, ia me­mo­tong lagi dengan ketus. “Sesuatu yang penting bagimu be­lum tentu di­pandang perlu atau pantas untuk dijelaskan padamu.”

Oskar mengangguk.

Harun menyeringai, perutnya mendadak mual. Ia selalu be­gitu bila merasa tegang.

“Kau pernah mendengar nama Midas Intercontinental?”

“Tidak.” bisik Harun.

“MV Kwang Hung?”

Harun merasa pahanya bergetar, menahan gejolak. Kini ia mengerti mengapa sampai duduk berhadapan dengan jenderal ini. Nama kapal itu tidak asing baginya. “Fabian Ferte sering berhubungan dengan kapal itu,” jawab Harun perlahan.

Kulyubi lagi lagi hanya tersenyum tipis. Tapi sekarang pakai anggukan kepala.

“Targetnya senjata?” Harun bertanya. Ia merasa harus mulai berani.

“Itu bukan urusanmu,” potong Santoso.

“MV Kwang Hung selalu berhubungan dengan senjata,” kata Harun. Mengapa mayor ini, kok senewen terus…

“Kau bebas menduga.” Oskar menyela.

Harun mengangkat bahu. Gua 24F mempunyai banyak ruangan. Dibutuhkan waktu yang lumayan untuk mencek setiap ruangannya. Lokasi lain yang memungkinkan untuk me­­nyimpan barang ukuran be­sar hanya di pelabuhan Kabilat. Namun dermaga Kabilat hanya memiliki dua gudang, itu pun tidak bisa dipakai la­gi.

Mereka pasti belum mengetahui secara detail. Aku harus jual mahal, pikir Harun. Ia pun coba memancing, “Bagaimana seki­ranya target ada di tempat lain?”

“Di tempat lain? Maksudmu, di pelabuhan? Itu akan ditentu­kan kemudian oleh komandan misi. Karena itu, kau harus bekerja sa­ma de­ngan Mayor Santoso yang akan memimpin misi ini.”

Mendengar perkataan Oskar, Santoso menelan ludah.

“Berapa besar sasarannya? Dengan mengetahui jumlah atau jenisnya. Setidaknya bisa dikira-kira tempat untuk menyembunyi­kannya.”

Mendengar perkataan Harun, Kulyubi menarik nafas. Dia ti­dak tersenyum lagi.

“Kau akan diberi tahu, tapi tergantung keadaan,” Oskar menimpal.

“Boleh saya menawar?” pancing Harun.

“Apa maksudmu?” tukas Oskar.

Wajah Jenderal Kulyubi mulai serius mendengar itu.

“Saya buatkan peta, dan…”

“Bila hanya peta yang kuperlukan, kau tidak akan di sini. Aku tak butuh ingatanmu untuk membuat peta atau semacamnya. Tapi butuh tenagamu untuk mengantar ke tempat itu,” suara Oskar semakin tegas.

 

Santoso merasa sesak dadanya. Diminta seperti itu, bajingan ini ma­kin besar kepala, apalagi dipuji demikian rupa.

 

Harun berpikir. “Mereka sudah tahu gambaran umum medan­nya, hingga merasa perlu seseorang yang paham tempat tersebut. Te­ro­wongan dan gua-gua di sana banyak lika-likunya, jika tidak hafal, bisa tersesat. Ini jelas bisa membuat risiko tak perlu.” Harun tetap penasaran. “Apa saya pu­nya pilihan lain ?”

“Tidak.” Kulyubi berkata perlahan.

Harun terkesiap. Baru sekarang jenderal bintang satu ini buka suara. Singkat, tegas, dan memvonis. Benar-benar bukan orang sem­barangan.

 

“Masalah ini sangat berat, jenderal…,” Harun mencobacoba mencari celah.

 

Kulyubi tersenyum ramah sekali. Nadanya halus dan tenang. “Kolonel Oskar sudah pernah membicarakan hal itu. Kamu memang sulit mencari pilihan lain. Tetapi apa salahnya kamu melaku­kan yang ter­baik, dari dua pilihan yang sama buruknya. Bukankah de­mikian, mayor?”

 

Ditanya demikian, Santoso yang dari tadi agak tertekan menyahut dengan sedikit serak, “Ya dan harus!”

 

Harus? Enak saja! Mayor ini memang sentimen. “Jelasnya bagaimana…” balas Harun penasaran.

“Seperti yang pernah kukatakan. Pilihanmu hanya dua. Te­rima pe­kerjaan ini atau menunggu polisi Medan menjemputmu. Yang terakhir itu jelas, minimal 12 tahun penjara,” potong Oskar.

“Kalau saya menerimanya?”

“Kita hanya akan pura-pura tidak tahu siapa orangnya, yang membunuh Yap Kun Hin.” Suara Oskar mulai ketus.

Mendengar ucapan yang terakhir. Harun agak naik. “Saya bu­­kan pembunuh, tetapi…”

“Kau bisa menjelaskan hal itu pada hakim. Bukan pada kami,” se­­la Kulyubi.

Harun melengos. Darahnya mengalir cepat. Pikirannya mengata­kan ia harus menerima kenyataan. Tetapi hatinya berbisik se­baliknya. Solusinya, ia bertanya lagi, “Hanya itu imbalannya?”

“Ya. Mungkin nanti bila semua sudah selesai, mungkin kami bi­sa memikirkan hal yang lebih baik lagi,” kata Kulyubi dengan tenang. Gayanya menyejukkan, tetapi kata-katanya tidak meng­gembirakan.

Apalagi perkataan Santoso, “Itu pun kalau kamu masih selamat.”

Gila. Aku tersudut lagi, bisik hati Harun. ”Justru itu. Ini bu­kan main-main, ini menyangkut hidup mati saya, makanya saya mempertanyakan hal itu.”

“Sekarang ini kau sedang berurusan dengan militer. Kamu tidak bisa me­­nuntut di luar apa yang telah digariskan,“ nada Oskar meninggi.

Ini pemerasan. Harun ingin berseru, tetapi percikan-percikan ke­­cil di hatinya melarang untuk bersikap keras. Ia berpaling ke San­­toso.

Melihat gaya Santoso yang selalu ketus, satu sentakan mun­cul. Harun jadi segan mengalah. Ia ingin membuat Santoso sema­kin jeng­kel. “Boleh minta kopi?”

Oskar dan Santoso berkerut keningnya. Kulyubi sebaliknya. Ia ter­se­nyum dan menekan interkom. “Tolong buatkan kopi. Empat.”

Jenderal ini benar-benar tangguh, pandai membaca situasi dan kon­disi seseorang, pikir Harun. “Berapa lama misi itu?”

“Jadi, kau sudah punya pilihan?” balas Kulyubi sambil memandangnya.

“Itu tergantung kesepakatan bersama.”

“Aku ingin dengar, dari sisi mana kau melihat adanya kesepa­kat­an.” Kulyubi memotong dengan halus. Harun berdehem, telinganya yang tidak gatal digaruk. ”Me­ngapa sa­ya yang dipilih?” kata Harun seenaknya. Ia sebenarnya tak punya tujuan lagi.

Kulyubi tidak menjawab.

Harun menarik nafas. Pasti dari Interpol, mereka tahu aku per­nah di Kabilat. Namaku ada di sana. Interpol selalu membuat la­poran pe­laku ke­ja­hat­an kriminal internasional kepada negara ber­sangkutan. Begitu ada masalah ini, AD pasti mencari informasi tentang Kabilat. In­telijen pasti memberikan data dirinya pada me­reka. Sialan!

Tapi Harun ingin tahu lebih lanjut, “Apakah selain saya tidak ada yang ta­­hu tentang Kabilat?”

“Alasan memilihmu sangat sederhana dan sama sekali tidak istimewa. Kamu mudah dicari, juga buronan, karena itu dipastikan ti­dak bi­sa menolak.” Oskar akhirnya menyahut.

Schak maat, mati aku pikir Harun.

“Makanya kau jangan menilai dirimu terlalu tinggi…” Oskar menimpali.

“Satu hal lagi yang perlu dipahami. Ini bukan pemerasan. Na­mun sa­tu tawaran kerja sama. Dalam situasi kritis. Militer bebas menentukan dengan pihak mana melakukan kerjasama. Juga ada kemungkinan, ini se­buah kesempatanmu untuk melakukan sesuatu demi…”

“Tanah Air…” Harun memotong ucapan Oskar.

“Bukan. Tapi untuk dirimu sendiri.” Kulyubi menyela.

Harun memandang tak mengerti.

Senyum jenderal ini sungguh misterius. Keramahannya ibarat keindahan pemandangan lembah A Shau, Vietnam Selatan. Begitu mempesona tapi berisi ribuan jebakan. Harun jadi was-was.

Kulyubi bangkit sambil menunjuk peta Asia Tenggara ukuran be­­sar di din­­ding. “Kita tahu kegiatanmu di masa lalu. Begitu juga de­­ngan semua latarbelakangmu. Tidak banyak orang yang ber­sedia melakukan hal sia-sia sepertimu. Pasti harus ada alasannya. Be­gitu ju­ga denganmu. Pasti ada sesuatu yang kau inginkan dan kau cari. Sehing­ga kamu rela berpetualang di sepertiga wilayah Asia Tenggara.”

“Itu hanya upaya supaya tetap hidup.”

“Logikanya demikian. Tetapi kurasa hal itu tidak sepenuhnya benar.”

“Maksudnya?”

“Bagimu. Semua itu adalah gaya hidup.“

Harun menyeringai. “Tapi saya tetap tak mau mengorbankan nya­wa sia-sia. Saya bukan militer…”

Kulyubi mengangguk di balik asap tembakaunya. “Ya, betul. Kau me­­mang bukan tipe patriot. Apalagi nasionalis. Kau hanya de­bu dari ko­toran dunia. Namun satu hal yang tak bisa kau ingkari. Alas­an bah­wa se­­­mua itu hanya untuk sekedar hidup, adalah bualan ko­song. Se­kedar me­nutupi hal yang lebih esensial dari pandangan hi­dup­mu. Ka­rena itu, dengan melibatkanmu dalam persoalan ini, Aku tidak melakukan kesalahan. Karena, aku yakin tawaran ini se­suai dengan se­mangat profesimu sendiri.”

Harun tidak berkomentar.

Rangsangan kecil yang dirasakannya sejak beberapa hari yang lalu terasa makin bersatu, namun ia masih sulit menangkap artinya. Hanya getarannya saja yang bisa ditangkap.

Ucapan Kulyubi, walau arahnya tidak jelas, disambutnya dengan ta­wa renyah. Menunggu apa yang akan terjadi.

Tetapi bagi Santoso itu sudah lebih dari cukup. Bajingan ini terlalu diberi angin. Kata kata Kulyubi semakin memberi kesem­pat­an kepada ba­jing­an ini untuk merasa lebih benar dalam segala tin­dak­annya.

Santoso bukan tidak mengerti masalah ini. Tapi melakukan mi­si di mana seorang bajingan turut campur, ia belum bisa mene­rima. Wa­lau peran ba­­jingan ini hanya sebagai penunjuk jalan. Ingin ia menya­takan pen­dapat, na­­mun tujuan dan kondisi tidak memung­kinkan untuk menen­tang yang tidak disetujuinya. Apalagi bila meng­ingat sumpah prajurit. Tak mung­kin menolak perintah atasan, gara gara penilaian pribadi semata.

Tetapi bajingan ini sungguh memuakkan…

“Bukankah begitu, mayor?” Kulyubi bertanya.

Santoso mengangguk. Hatinya kesal.

Kopi datang. Harun belum ingin mengaku kalah. “Kalau saya ma­­ti ba­gaimana?” tanyanya dengan acuh tak acuh.

“Dunia tetap berputar,” balas Kulyubi enteng.

“Bila selamat?”

“Aku tidak tersinggung seandainya kamu membuang muka bi­­la sekali waktu kita bertemu lagi.”

 

Pura-pura tidak mengenalku? Gila! Mereka akan me­­nyang­kal per­nah melibatkanku dalam misi ini! Hal ini pasti mereka la­ku­kan demi keamanan di masa mendatang bila diriku tertangkap. Bukankah aku buronan? Jadi, apa artinya aku bagi mereka? Apa lagi yang bisa kuperbuat.

Harun mulai menakarnakar situasi yang dimilikinya. “Hanya itu? Bagaimana dengan kasus Medan?”

“Itu urusan kejaksaan dan polisi.”

“Boleh mengajukan penawaran lagi?”

Kulyubi menggeleng. “Ini sudah final.”

“Berarti pekerjaan ini tidak punya nilai sama sekali untuk ma­sa de­pan saya?”

“Tergantung dari sudut penilaianmu sendiri, bila mengharap­kan ni­­­lai materi, aku akan menolak karena ABRI pantang memakai serdadu sewaan. Dan sebenarnya, apa kau punya masa depan?” Kulyubi sam­bil terse­nyum. Harun terdiam.

“Mengenai kasusmu, tentunya kau berharap kami membebas­kanmu. Itu pun mustahil. AD tidak berhak untuk itu. Seharusnya ka­­mi menyeret dan memberikanmu kepada polisi Medan. Seandai­nya kau menilai ta­waran kami tadi tak ada artinya, itu keliru besar. Ingat, ang­gota polisi yang kau bunuh di Medan itu ABRI juga. Pi­kirlah baik-baik sebelum kau menye­sal.” kata Kulyubi sambil me­natap tajam.

 

Harun mendengus, ia semakin sadar posisinya. Ia berusaha mempertahankan eksistensinya, agar tidak terlalu dianggap remeh. Ia ingin sedikit dianggap, bukan hanya dilihat seperempat mata. Ia me­lihat sebuah celah untuk membuat mereka mengakui bahwa dirinya cukup layak untuk mengetahui soal terpenting dari masalah ini, “Ini pekerjaan penuh risiko. Boleh saya tahu lebih jelas target dan tujuan misi…”

“Kita sudah menjelaskan hal itu. Tugasmu hanya mengantar,” sahut Oskar.

“Tetapi nyawa saya taruhannya. Saya harus tahu untuk apa semua ini? Apa targetnya, dan mengapa hal ini terjadi?”

“Kau melangkah terlalu jauh,” Oskar menyela.

“Karena saya merasa ditekan terlalu dalam,” balas Harun.

“Kau memang pantas mendapatkannya.”

Kata-kata Santoso membuat Harun tertegun. Gila, ini benarbenar gila.

Kulyubi memperlihatkan kebijaksanaannya. “Bila hal itu mem­buat­­mu pe­­nasaran, hanya sedikit yang bisa kujelaskan. Pemberontak akan mendapat suplai senjata dan kita akan mencegah­nya.

“Kapan itu dilaksanakan?”

“Kau sudah mulai kelewatan,” Oskar mulai berang.

Harun mengguman. Banyak pertimbangan di benaknya. Tetapi, ada satu hasrat terpendam yang mulai menari di dalam hatinya.

“Apalagi?” Kulyubi agak berubah nadanya. Dia mulai kelihatan tak sabar.

Harun memandang langit-langit. Ia merasa disepelekan sekaligus dibutuhkan. “Apakah saya diberi waktu untuk berpikir?”

“Tidak.” Kata Kulyubi sambil mematikan api tembakaunya di asbak.

Gerakannya cepat, sikapnya berubah.

Jenderal itu mulai nampak keras. “Cukup, kau tidak usah berputarputar lagi. Aku yakin kau sudah punya kepastian. Kau sebenarnya sudah tahu, bahwa kau tak punya pilihan,” katanya.

Dia menyambung lebih te­­gas, angkernya mulai nampak. “Ingat. Ini sama sekali tidak berarti aku tidak punya penggantimu. Da­­­lam misi ini, aku hanya ingin realistis. Aku butuh seseorang untuk mem­per­sing­kat waktu. Selain bisa mencari jalan, aku pun bisa meng­hi­n­dari beberapa korban dari pasukanku.”

“Risiko saya juga mungkin sama dengan risiko yang harus dihadapi anakbuah bapak.”

“Memang, tetapi itu bukan alasan kuat untuk membuatmu man­­ja. Ingat, aku bisa berubah pikiran. Dalam satu detik kau bisa sangat tidak berarti bagiku. Bahkan untukmu sendiri.”

“Apa ini ancaman?”

“Bukan. Hanya peringatan agar kau berpikir cepat, bahwa belasan tahun dibalik terali lebih buruk dibanding dikejar peluru. Dan aku bukan termasuk orang yang sabar dalam urusan seperti ini. Begitu juga dengan Ko­lonel Oskar dan Mayor Santoso. Mengerti!” Kulyubi mengakhiri kata katanya dalam sikap garang.

Sikap Kulyubi seakan isyarat bahwa genderang telah berbunyi.

Ujung waktu sudah ditentukan.

Harun membaca situasi. Ia masih ingin hidup bebas. Ia pun mengambil sikap. “Tetapi dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Status saya tetap di luar hukum militer.”

Kulyubi terdiam, begitu juga Santoso dan Oskar. Santoso mengepalkan tinju menahan amarah.

Namun jawaban tegas dari Kulyubi semakin mengecilkan Harun, “Tidak. Kau sepenuhnya ada da­lam pengawasan militer. Kau wajib mengikuti semua program misi. Ter­masuk yang berhu­bungan dengan seluruh persiapannya.”

“Apa itu?” Harun penasaran.

“Menjalani persiapan fisik,” jelas Oskar.

“Kalau saya menolak,” balas Harun dengan cepat. Ia tidak sudi lagi dihajar ha­­bis-habisan dalam program latihan. Ia me­rasa sudah cukup berpengalaman.

“Pilihanmu hanya satu. Ikuti semua atau batal seluruhnya.”

Harun terdiam.Tangannya terkepal.

Deru mobil terdengar sayup-sayup. Mendadak Kulyubi bangkit. Gerakannya gesit. Map dan surat di meja­nya lang­­sung dibereskan.

Suasana berubah drastis.

“Kolonel. Perintahkan Biro A bergerak. PO dimulai malam ini. Cabut semua cuti di seksi VI. Santoso, kerjakan keputusan ra­pat terakhir. Lanjutkan rencana ke tahap berikut. Laksanakan!” Perintahnya. Pasti dan tidak ingin dibantah.

“Siap. Laksanakan!” Oskar dan Santoso menjawab berba­rengan sambil berdiri sigap.

Harun mengisap rokok sambil memandang langit langit.

“Dan kamu, mulai detik ini ada di bawah pengawasan militer. Aku tak mau ada keluhan.“ kata Kulyubi masih dalam nada tak ingin di­bantah.

Kerongkongan Harun terasa disumbat. Ia tak tahu harus berbuat bagaimana.

Kulyubi berjalan cepat meninggalkan ruangan. Harun tertawa masam.

Oskar mendekatinya, “Kamu ikut dengan Santoso.”

“Ke mana?”

“Kau akan tahu nanti.”

Sialan.

“Rajawali mulai bangkit”

Harun mulai merasakan ketajaman angin dari kepakan sayapnya. Ia seakan terlempar ke sebuah ruang. Ruang penuh tanya, ta­pi tanpa ja­wab.

Waktu menujukkan pukul 04.35 WIB.

Aku akan seperti dulu lagi?

Gila!